
Dia sangat marah terhadap Zhang Fei. Terlebih karena anak muda itu telah berani mencampuri urusannya.
"Anak muda, lebih baik kau segera pergi. Atau kalau tidak ..."
"Kalau tidak apa?" tanyanya dengan cepat.
"Kalau tidak, hidupmu akan segera berakhir di tempat ini," kata orang tua yang satunya.
Zhang Fei tersenyum dingin saat mendengar ucapan itu. Dengan ringan ia segera berkata," Aku justru ingin tewas di tangan kalian,"
"Kau sungguh-sungguh?"
"Apakah kau mengira, aku sedang bercanda?"
"Hemm, baik. Baiklah kalau begitu," orang tua tersebut menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Kalau itu kemauanmu, sekarang juga aku akan mengabulkannya,"
Ia segera mengangkat golok panjang miliknya. Sesaat kemudian dirinya langsung menerjang ke depan dan melancarkan serangan pertama.
Bacokan golok datang dari atas. Orang tua itu berniat untuk membelah kepala Zhang Fei.
Gerakannya cukup cepat. Tapi kalau untuk membunuh murid dari Lima Malaikat Putih itu, rasanya masih belum cukup. Bahkan jauh dari kata cukup.
Wutt!!!
Hanya dengan memiringkan tubuh, Zhang Fei telah bisa menghindari serangan itu. Golok si orang tua hanya menebas angin.
Serangan pertamanya gagal!
Mengetahui hal tersebut, kemarahannya semakin memuncak. Golok itu kembali bergerak. Kali ini dia langsung mengeluarkan jurus golok yang hebat.
Sayangnya semua jurus itu berhasil dihindari oleh Zhang Fei. Semua yang dia lakukan sia-sia.
Tepat pada saat jurus ketujuh, pemuda tersebut mendadak menggerakkan tangan kanannya dengan cepat.
Bukk!!!
Telapak tangan kanannya memukul dada si orang tua dengan telak. Dia langsung terlempar mundur ke belakang dan muntah darah.
"Apakah hanya ini saja kemampuanmu?" tanya Zhang Fei meremehkan lawannya.
"Bocah keparat!" maki orang tua itu
"Mari kita serang dia bersama-sama," ia mengajak tiga rekannya yang lain.
Setelah semua setuju, empat orang tua tersebut kemudian membentuk sebuah formasi. Mereka berdiri di empat penjuru mata angin.
Dengan satu kali komando, keempatnya segera menyerang secara serempak. Tusukan dan bacokan senjata tajam datang dengan cepat bagaikan kilat.
Mereka berpikir bahwa usahanya ini akan membuahkan hasil yang maksimal. Apalagi, masing-masing dari empat orang tua itu sudah mengeluarkan kemampuannya sampai ke titik tertinggi.
Pertarungan segera terjadi di jalanan sepi itu. Empat orang tua berusaha membunuh Zhang Fei dengan segenap tenaga dan kemampuan mereka.
Serangan datang silih berganti. Kadang kala pula secara bersamaan. Cahaya keperakan berkelebat tiada henti.
Zhang Fei tidak mau tinggal diam. Ia segera mencabut sebatang pedang andalannya dan langsung melayani serangan musuh.
Benturan lima senjata terdengar. Percikan api membumbung tinggi, suara bentakan nyaring mengiringi pertarungan tersebut.
Dalam waktu sepuluh jurus pertama, keempat orang tua itu mulai menguasai jalannya pertarungan.
Tahu bahwa usahanya membuahkan hasil, semangat mereka segera berkobar lebih hebat lagi. Tenaga yang dikeluarkan makin besar. Seranganya bertambah berbahaya.
Mereka yakin, kalau situasinya terus seperti sekarang, niscaya dalam waktu dua puluhan jurus saja, mereka sudah bisa mengalahkan, bahkan membunuh si anak muda.
Sayangnya, apa yang mereka rasakan tadi tak lain hanya karena Zhang Fei bersikap sengaja. Dia sengaja membuat lawannya merasa berada di atas angin. Tujuannya adalah untuk membuat mereka merasa terlalu yakin.
Andai saja mereka tahu seperti apa kemampuan Zhang Fei yang sebenarnya, niscaya empat orang tua itu tidak akan bersikap gegabah.
Sayang sekali, mereka tidak tahu apa-apa terkait lawannya.
Wushh!!!
Ketika pertarungan sudah berjalan selama dua puluh jurus, mendadak Zhang Fei berkelebat dengan cepat. Bersamaan dengan itu pedangnya juga ikut bergerak.
Suara dentingan nyaring langsung terdengar ke empat penjuru mata angin. Hanya satu sekali. Karena detik berikutnya, masing-masing senjata dari empat orang tua itu sudah patah menjadi dua bagian.
Bukk!!!
Selesai mematahkan senjata lawan, dengan segera Zhang Fei pun memberikan serangan susulan menggunakan tangan kirinya.
Ia melayangkan pukulan yang mengarah ke ulu hati. Empat orang tua itu langsung terlempar beberapa langkah. Mereka jatuh tersungkur dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Setelah selesai mengalahkan lawan, Zhang Fei segera berjalan dan menghampiri si pendekar wanita tadi.
Saat tiba di sisinya, ternyata keadaan wanita itu sudah semakin parah. Kulit yang putih mulus itu bertambah hijau. Wajahnya yang sekarang juga tidak jauh berbeda seperti mayat.
"Gawat. Racunnya sudah menyebar luas," gumam pemuda itu merasa panik.
Karena mengetahui situasinya genting, akhirnya dengan menahan malu, ia segara memangku si pendekar wanita dan langsung melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Zhang Fei berniat untuk membawanya ke tengah hutan.
Tidak lama setelah menemukan hutan, ia segera masuk ke dalamnya dan mencari tempat yang cocok untuk mengobati si pendekar wanita.
Pemuda itu memilih halaman hutan yang cukup luas. Kebetulan di sana ada sebuah batu yang berbentuk seperti meja. Ia langsung membaringkan tubuh si pendekar wanita di atasnya.
Sebelum bertindak lebih jauh, Zhang Fei lebih dulu mengamati seluruh tubuh si wanita yang sudah makin hijau itu.
"Kalau aku tidak salah, wanita ini pasti telah terkena racun Serbuk Hijau,"
Meskipun dirinya bukan ahli racun dan tidak banyak tahu tentangnya, tapi selama menyembunyikan diri di tengah hutan selama lima tahun, kelima orang gurunya telah memberikan sedikit pelajaran terkait beberapa racun yang tersebar luas dalam dunia persilatan.
Mulai dari namanya, jenisnya, bahkan cara pengobatannya.
Dan menurut apa yang ia pelajari, pendekar wanita itu telah terkena racun Serbuk Hijau.
Racun Serbuk Hijau termasuk ke dalam jenis racun tingkat menengah. Racun tersebut menyerang sistem syaraf di tubuh manusia. Kalau tidak diobati dengan segera, maka hanya dalam waktu setengah jam saja, korban pasti akan tewas dengan kondisi seluruh tubuh menghijau.
"Hemm, sepertinya masih ada waktu,"
Ia segera mengamati keadaan di sekitarnya. Setelah dipastikan aman, Zhang Fei pun langsung pergi ke dalam hutan lagi.
Dia mulai mencari tanaman liar yang bisa digunakan sebagai obat penawarnya.
Untunglah semua bahan-bahan yang diperlukan, bisa ditemukan dengan cukup mudah. Sekitar lima belas menit kemudian, Zhang Fei sudah berhasil mengumpulkan semua bahannya.
Pemuda itu kemudian mulai membuat api dan mencampurkan tanaman liar tadi. Ia langsung merebus tanaman liar tersebut dengan alat seadanya.
Sepuluh menit telah berlalu. Tanaman yang tadi direbus sudah mendidih. Zhang Fei langsung menuangkan ramuan itu dan dimasukkannya ke dalam cangkir yang ia buat dari bambu.
Saat ramuan sudah dingin, sedikit demi sedikit dirinya mulai menyuapi si pendekar wanita.
"Semoga saja nyawanya masih bisa diselamatkan," katanya penuh harap.
Ia terus menyuapi si pendekar wanita dalam beberapa waktu. Setelah dirasa cukup, Zhang Fei pergi lagi untuk mencari makanan. Ia berburu ayam hutan.
Ketika berhasil mendapatkan hewan buruannya, Zhang Fei segera kembali dan mulai mengolahnya.