
Tanpa terasa waktu sudah berjalan selama lima tahun. Selama lima tahun itu, banyak sekali perubahan yang terjadi di Tionggoan. Kekaisaran masih dipegang oleh Kaisar Song Kwi Bun.
Namun, semuanya telah berbeda jauh. Jauh sekali daripada lima tahun yang lalu.
Kalau dulu kekacauan hanya baru terjadi di dunia persilatan, sekarang kekacauan itu malah sudah merembet ke mana-mana. Dunia orang-orang awam juga dilanda kehancuran.
Tindak kriminal terjadi setiap saat. Para pejabat negara yang ada di setiap daerah selalu melakukan berbagai macam hal yang tidak terpuji. Pemerasan terhadap rakyat, perampasan hak, bahkan kejahatan berupa korupsi pun sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat.
Setiap hari, hanya itu-itu saja yang mereka dengar. Setiap saat, hanya pemandangan berupa kehancuran saja yang dapat mereka saksikan.
Sudah terlalu sering masyarakat berusaha melaporkan hal ini kepada Kaisar lewat orang-orang yang dapat dipercaya. Sayangnya, semua usaha yang mereka lakukan itu sia-sia semata.
Surat ataupun sejenisnya sudah disampaikan kepada Kekaisaran. Tapi seiring berjalannya waktu, tidak pernah ada yang namanya balasan.
Hal-hal seperti yang dijelaskan di atas masih terus berlangsung. Bahkan sampai saat ini.
Kondisi Tionggoan saat itu benar-benar memprihatinkan. Negeri besar yang dipenuhi dengan kedamaian dan kemakmuran itu, sekarang sudah menjelma menjadi neraka dunia.
Kemiskinan di mana-mana. Kelaparan sudah menjadi kebiasaan yang tidak terlewatkan.
Setiap hari, selalu saja bertambah yang namanya pengemis. Jumlah pengemis di setiap penjuru kota sangatlah banyak. Mungkin enam puluh dari seratus persen warganya, sekarang telah berubah menjadi pengemis jalanan yang sudah tidak mempunyai harga diri.
Sebenarnya para warga itu tidak sudi menjadi seorang pengemis. Mereka tidak mau dihina oleh manusia-manusia lainnya.
Tapi apa daya? Kenyataan telah berkata lain.
Setiap pekerjaan yang mereka lakukan, tidak mendapatkan hasil yang sesuai. Mereka yang kaya hanya menyuruhnya bekerja, tanpa mau membayarnya. Kalau pun dibayar, pasti bayarannya sangat kecil.
Para pedagang yang lima tahun lalu sukses, sekarang telah mengalami penurunan ekonomi yang sangat signifikan. Usaha mereka sepi. Yang mampu bertahan sampai saat ini, hanyalah mereka yang mempunyai modal ataupun mereka yang mau menyogok pejabat setempat agar usahanya tidak ditutup.
Singkatnya, lima tahun sekarang ini, yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin miskin. Yang bahagia semakin bahagia. Yang sengsara bertambah sengsara.
Coba bayangkan, kalau kau bisa menyaksikan langsung pemandangan seperti itu di zaman sekarang, kira-kira bagaimana tanggapanmu? Apa pula yang akan kau lakukan?
Perasaan kasihan, sedih, belasungkawa, semua pasti akan ada di dalam benakmu.
Namun kalau bicara secara keseluruhan, itu semua belum apa-apa. Jika membahas dunia persilatan, sekarang di dalamnya sedang terjadi pergolakan hebat. Perebutan wilayah dan perebutan benda-benda pusaka selalu terjadi setiap waktunya.
Orang-orang rimba hijau selalu disibukkan dengan hal-hal semacam itu. Mau itu mereka yang berasal dari aliran putih, aliran tengah, bahkan aliran hitam. Semuanya sama. Mereka menghadapi masalah yang serupa.
Karenanya, jangankan menguruskan dunia orang awam, dunia mereka sendiri pun sedang kacau balau.
Entah kenapa hal-hal menyedihkan itu bisa menimpa negeri Tionggoan. Entah sejak kapan pula awal mula dari semua ini. Karena sampai sekarang, belum ada satu pun orang yang berhasil mengetahuinya secara pasti.
Sepertinya, ini adalah awal dari kehancuran negeri yang besar tersebut. Rakyat sudah menderita, dunia persilatan juga sama. Bahkan Kekaisaran pun tidak jauh berbeda.
Peperangan antar Kekaisaran terjadi di mana-mana. Perebutan kekuasaan tidak pernah menemukan akhir.
Kalau leluhur mereka tahu tentang keadaan negerinya sekarang, niscaya saat ini mereka pun sedang menangis tersedu-sedu.
Perlu diketahui, ratusan tahun lalu, Tionggoan hanya dikuasai oleh satu orang Kaisar. Setiap penjuru negeri damai dan tenteram.
Tapi sekarang? Sekarang Tionggoan telah dikuasai oleh empat orang Kaisar. Masing-masing Kaisar menguasai satu wilayah. Seperti Timur, Selatan, Barat, dan Utara.
Tetapi meksipun begitu, dahulu di antara para Kaisar masih ada kata damai. Tapi lima tahun belakangan ini, di antara mereka tidak ada yang mau damai.
Setiap Kaisar ingin menguasai empat penjuru mata angin.
Karena keadaan inilah, hampir semua orang mempunyai pikiran dan pertanyaan yang sama.
Sampai kapan semua ini terjadi? Apakah kedamaian dan kemakmuran yang dulu pernah dirasakan oleh rakyat Tionggoan, kelak bisa dirasakan lagi?
###
Saat itu masih pagi hari. Suara burung nuri berkicau dengan merdu. Semua jenis burung yang ada mulai keluar dari sarangnya masing-masing. Mereka mulai terbang ke angkasa menuju ke berbagai tempat untuk mencari makan.
Kabut masih menutupi jalan raya yang besar itu. Embun suci masih menetes di dedaunan yang hijau.
Kehidupan baru telah dimulai. Warga yang masih berusaha bertahan dengan mengandalkan ladang mereka, sudah pergi berladang. Berharap hari ini ada makanan yang bisa dibawa ke rumah untuk disantap dengan anak isterinya.
Mereka yang menjadi pengemis, berharap bertemu dengan orang kaya maupun orang-orang baik yang mau mendermakan sedikit rezekinya.
Sedangkan para pedagang, tentu saja berharap hari ini ada banyak pembeli supaya barang dagangan mereka bisa laku terjual.
Setiap pagi, masing-masing dari mereka selalu mempunyai harapannya tersendiri.
Lantas, bagaimana denganmu sendiri, apa yang selalu kau harapkan setiap harinya?
Di tengah suasana pagi yang damai oleh suara binatang, mendadak terdengar sebuah suara nyaring yang tidak pernah berhenti.
Suara nyaring itu seperti berasal dari beradunya benda pusaka. Seolah-olah di sana sedang terjadi pertarungan sengit.
Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata suara-suara itu berasal dari ujung kota kecil.
Kebetulan, di ujung kota kecil itu terdapat sebuah bangunan kuno yang cukup luas. Siapa pun tahu, bangunan tersebut tak lain adalah sebuah perguruan.
Dan ternyata memang benar. Di atas papan yang tergantung di depan gerbang, ada sebuah tulisan.
"Perguruan Sabuk Biru".
Perguruan itu tidak besar. Hanya berupa perguruan kecil yang baru berdiri beberapa tahun saja. Jumlah muridnya juga tidak terlalu banyak. Paling kurang dari lima puluh orang.
Namun, siapa para penyerang yang jumlahnya hampir mencapai tiga puluh orang tersebut?
Tiada yang bisa mengetahui jawabannya.
Yang jelas, semua penyerang itu menggunakan seragam serba hitam. Mereka mengenakan cadar dengan warna yang sama pula.
Di tengah pagi itu, pertarungan yang terjadi sudah berlangsung sengit. Anak murid Perguruan Sabuk Biru sudah banyak yang menjadi korban.
Mereka terkapar di atas tanah dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi.
Darah segar mengalir seperti genangan air hujan. Suara raungan kesedihan terdengar menyayat hati.
"Hahaha ... inilah akibatnya bagi kalian yang membantah Partai Panji Hitam,"
Seseorang tiba-tiba bicara sambil tertawa lantang. Dia terlihat senang. Tidak tampak adanya rasa bersalah, apalagi kesedihan yang tergambar di wajahnya.
Seolah-olah, pemandangan seperti sekarang sudah biasa ia lihat dan lakukan.
"Hajar mereka sampai mampus. Jangan berhenti sebelum manusia-manusia rendahan ini tewas," lanjutnya memberikan perintah.