
Tidak lama setelah itu, Pengemis Tua Tanpa Pamrih pun menoleh ke belakang. Persis ke tempat di mana tadi Zhang Fei berdiri.
Sayang sekali, pada saat ia menoleh, ternyata di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Anak muda itu telah pergi. Pergi tanpa diketahui sama sekali.
Ke mana perginya? Kapan pula ia pergi? Kenapa dirinya tidak bisa mengetahui?
Berbagai macam pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya, terus berputar-putar tiada hentinya.
Sayang sekali, dari semua pertanyaan tersebut, tidak ada satu pun yang bisa ia temukan jawabannya.
Selain hanya perasaan kagum terhadap sosok Zhang Fei, tidak ada lagi perasaan lainnya.
Malam semakin larut. Tidak lama lagi, fajar akan segera menampakkan dirinya.
Pengemis Tua Tanpa Pamrih masih ada di sana. Ia belum pergi. Perasaannya sekarang sedang berkecamuk.
"Bocah itu benar-benar hebat. Selain ilmu pedangnya sudah mumpuni, ilmu meringankan tubuhnya tinggi, pun ia juga mempunyai sifat dan karakter yang berbeda daripada para pendekar lainnya,"
Orang tua itu bergumam seorang diri sambil mengawasi tempat di mana tadi Zhang Fei berdiri.
"Kagum, sungguh kagum," lanjutnya sambil menggelengkan kepala. "Aii ... kenapa dia malah pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku?"
Lama, lama sekali dia termenung di sama. Ketika pagi benar-benar akan tiba, barulah Pengemis Tua Tanpa Pamrih pun mengangkat kakinya.
###
Peristiwa berdarah di markas cabang Partai Panji Hitam itu sudah lewat tiga hari. Tepat di hari ketiga itulah, beritanya langsung menyebar luas dan diketahui oleh banyak orang.
Tidak sedikit manusia yang datang. Bukan hanya dari kalangan biasa, bahkan orang-orang dari kalangan dunia persilatan pun tanpa terkecuali.
Terlebih lagi, puluhan mayat itu segera diurus oleh anggota Partai Panji Hitam lainnya.
Sementara di sisi lain, berita tentang siapakah pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut juga segera menyebar luas.
Nama Pengemis Tua Tanpa Pamrih yang tadinya sempat 'tenggelam', sekarang tiba-tiba muncul ke permukaan lagi. Tidak sedikit tokoh persilatan aliran putih yang memuji keberaniannya dalam menumpas kejahatan.
Bukan cuma itu saja, bahkan nama Zhang Fei yang tadinya tidak dikenal pun, sekarang tiba-tiba menjadi bahan perbincangan hangat dalam dunia persilatan.
Ada banyak tokoh rimba hijau yang ingin bertemu. Baik itu hanya ingin melihat wajahnya, atau bahkan sampai berkenalan dengannya.
Sayang sekali, walaupun ada banyak orang yang membicarakannya, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bertemu muka secara langsung.
Maka dari itu, pada saat ini, pendekar muda yang bernama Zhang Fei, masih menjadi misteri dalam dunia persilatan Tionggoan.
###
Waktu sudah menunjukkan sore hari. Sebentar lagi, malam akan menjelang tiba. Kegelapan pasti menyapa jagat raya.
Zhang Fei sedang berjalan dengan langkah perlahan namun pasti. Semenjak peristiwa berdarah itu, ia tidak pernah berhenti di tempat ramai.
Pemuda itu takut kehadirannya akan menciptakan atau bahkan menambah masalah yang ada. Karena itulah, ia sengaja menghindar dari orang-orang untuk sementara waktu ini.
Saat ini, Zhang Fei sudah dekat dengan sebuah kampung. Kampung yang sepi, seperti kampung mati. Tapi walaupun demikian, di kampung tersebut, justru berdiam puluhan ekor naga dan harimau.
Kampung yang kecil. Tapi justru lebih berbahaya dari kampung di mana pun juga.
Kalau bukan Kampung Hitam, lantas kampung apa lagi?
Di dunia ini hanya ada satu Kampung Hitam. Kampung yang hampir merenggut nyawanya pada saat dua tahun lalu.
Zhang Fei tiba-tiba menghentikan langkah kaki. Ia memandang dulu ke depan sana. Memandangi Kampung Hitam yang dingin dan menyeramkan itu.
Berbagai macam perasaan tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Kejadian dua tahun lalu, di mana pada saat itu ia akan mampus di tangan para penjahat, kini terlintas kembali. Bayangan itu terlihat dengan jelas.
"Aku telah kembali," gumamnya dengan suara dalam.
Ya, dia memang telah kembali. Kembali ke Kampung Hitam!
Melainkan untuk membalas dendam! Untuk membayar hutang dua tahun lalu!
Ia akan membayar kekalahannya. Ia akan mengganti darah yang dulu keluar dari tubuhnya, dengan darah dari penghuni di sana.
Wushh!!!
Zhang Fei melesat dengan sangat cepat. Ia tiba-tiba berubah menjadi bayangan. Ia seperti angin, bisa dirasakan, tapi tidak bisa dilihat.
Dalam waktu yang sangat singkat, anak muda itu telah berada jauh dari tempatnya semula.
Pemuda itu tiba di perbatasan Kampung Hitam tepat ketika malam hari saja datang menyapa bumi.
Dulu, dia pun tiba di Kampung Hitam tepat ketika matahari baru tenggelam dibalik gunung. Sekarang juga sama.
Waktu yang sama, tapi bekal yang berbeda!
Kalau dulu kemampuannya masih biasa-biasa saja, maka sekarang justru sebaliknya!
Zhang Fei melangkah dengan ringan. Begitu memasuki Kampung Hitam, dia pun langsung masuk ke warung arak yang dulu pernah ia singgahi.
Keadaan di sana masih sama. Tidak ada yang berubah sama sekali. Kecuali hanya pemilik warung arak.
Ia sudah bertambah tua. Bahkan berjalan pun sudah terlihat kesulitan.
"Paman, pesan arak dua guci," ujarnya sambil mengangkat tangan.
Pemilik warung arak itu mengangguk. Ia segera membawa dua guci arak keras yang masih tersegel dan menyimpannya di depan meja Zhang Fei.
"Terimakasih," katanya sambil tersenyum hangat.
Pemilik warung arak itu tidak menjawab apa-apa. Dia tetap menutup mulutnya. Seolah-olah ia adalah orang bisu.
Zhang Fei segera membuka segel arak. Ia menenggaknya langsung beberapa kali.
"Hemm ... ke mana orang-orang yang dulu memaksa agar aku membayarkan araknya, ya? Bagaimana kabarnya? Kenapa dia tidak duduk dan minum arak di sini lagi?"
Ia berbicara seorang diri dengan suara yang cukup keras.
Pemilik warung arak yang mendengarnya, segera mengerutkan kening. Karena merasa penasaran, maka dia memutuskan untuk bertanya.
"Anak muda, apakah sebelumnya, kau pernah berkunjung kemari?" tanyanya sambil menatap wajah Zhang Fei.
"Ehmm, tidak salah," jawabnya membenarkan. "Bukan hanya berkunjung ke warung arak ini, aku bahkan sempat membuat onar juga,"
Ia lalu tertawa. Tertawa seolah-olah dirinya tidak bersalah.
"Ah, tapi itu hanya kejadian lalu saja, Paman. Bukankah yang berlalu, biarkan saja berlalu?"
Zhang Fei kembali menenggak arak dengan tenang dan santai. Ia memejamkan mata. Tidak memperhatikan sama sekali keadaan di sekitarnya.
Bersamaan dengan hal tersebut, wajah si pemilik warung arak justru tiba-tiba berubah. Berubah dengan hebat.
'Tidak salah lagi, dia pasti pemuda yang dulu hampir tewas di tangan kami," batinnya berkata sambil terus mengawasi Zhang Fei dengan seksama.
Setelah merasa yakin dengan hal itu, tanpa sepengetahuan Zhang Fei sendiri, ia langsung pergi keluar dari warung arak.
Begitu tiba di halaman depan, ia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya.
Saat itu, sebenarnya Zhang Fei sendiri tahu terhadap semua kejadian tersebut. Hanya saja dia bersikap seolah-olah tidak tahu.
Ia sengaja membiarkan si pemilik warung arak pergi. Karena memang itulah yang dia inginkan sejak awal!
###
Satu lagi nanti nyusul, ya. Soalnya masih ada urusan di dunia nyata, hehe ...