
Ketika Zhang Fei tiba di tempat di mana terdapat Yin Yin yang sedang bersembunyi, saat itu ia bisa melihat kalau wajah gadis tersebut sudah pucat pasi. Keringat dan peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.
Sepertinya dia benar-benar takut. Zhang Fei bisa merasakan itu semua. Karenanya dia segera menenangkan Yin Yin.
"Jangan takut lagi, Nona Yin. Mereka semua sudah mampus," katanya dengan serius.
"Kau ... kau sungguh-sungguh?" tanya Yin Yin seperti tidak percaya terhadap ucapannya.
"Kalau bercanda, bagaiamana mungkin aku bisa kemari dan menemuimu lagi?"
Yin Yin berpikir sebentar. Ia kemudian mengangguk perlahan satu kali.
"Sekarang mari kita keluar dan pergi dari sini,"
Sambil berkata, tangannya mulai merangkul gadis itu dan membantunya keluar dari tempat persembunyian. Tanpa banyak bicara lagi, Zhang Fei langsung membawa Yin Yin keluar dari dalam bangunan kuno.
Karena kondisi gadis itu masih belum pulih, maka terpaksa mereka harus berjalan dengan sangat lambat. Dari dalam ruangan sampai ke depan pintu utama pun, rasanya membutuhkan waktu yang lama sekali.
Namun walaupun begitu, dengan penuh kesabaran Zhang Fei terus menuntunnya.
Ketika sudah tiba di depan, saat ia memandang ke tengah halaman, Yin Yin langsung terkejut setengah mati. Terutama sekali setelah dirinya melihat ada banyak mayat manusia yang bergelimpangan seperti domba yang mati kelaparan.
"Apakah ... apakah kau yang telah membunuh mereka semua?" tanya Yin Yin sambil melirik sekilas ke arah Zhang Fei.
"Tentu saja. Kalau bukan aku, siapa lagi?" dia menjawab seraya tertawa ringan.
Keduanya mulai menuruni anak tangga yang jumlahnya tidak begitu banyak. Mereka kemudian terus melangkah ke depan, melewati para korban yang bergelimpangan tersebut.
"Nona Yin, apakah tenagamu masih belum pulih?" tanya Zhang Fei mengusir kesepan di antara keduanya.
"Sudah, tapi belum sepenuhnya pulih,"
"Apakah kau sudah bisa mengeluarkan ilmu meringankan tubuh?"
"Aku rasa sudah. Tapi mungkin hal itu percuma. Karena aku paling-paling hanya bisa bertahan sebentar,"
"Hemm ... apakah kau menderita keracunan?" tanya Zhang Fei penasaran.
"Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu, tubuh ini terasa sangat lemah. Untuk mengeluarkan tenaga pun harus berusaha keras,"
Yin Yin tersenyum getir. Dia menyadari akan kondisinya sendiri. Dengan keadaan sekarang, menurutnya butuh waktu yang cukup lama supaya dia bisa benar-benar sembuh seperti sedia kala.
Setidaknya dibutuhkan waktu tujuh atau sepuluh hari supaya pulih dari semua luka tersebut.
Dia sendiri sebenarnya tidak mengerti, mengapa dirinya bisa sampai seperti ini. Padahal seingatnya, Yin Yin tidak terkena racun apapun.
Dia hanya ingat bertarung dengan Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu, itu saja. Dia tidak ingat apa-apa lagi. Karena setelah dikalahkan, Yin Yin langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Zhang Fei menghela nafas. Sebenarnya dia sangat ingin cepat-cepat pergi dari daerah sekitar bangunan kuno. Tapi rasanya hal itu terlalu tidak mungkin. Apalagi dengan keadaan Yin Yin yang seperti sekarang.
"Zhang Fei ..." tiba-tiba gadis itu berbicara lagi.
"Ada apa, Nona Yin?"
"Apakah kau sempat bertemu dengan Yu Yuan?"
"Ya, aku sempat bertemu dengannya," Zhang Fei menjawab dengan suara perlahan. Ketika nama gadis itu disebut lagi, kemarahan dalam dirinya kembali berkobar.
Tetapi dengan cepat ia menutupi semua itu. Untuk sekarang, ia harus fokus memikirkan dulu bagaimana caranya supaya bisa keluar dari Rawa Iblis ini.
Yin Yin bertanya lebih jauh lagi. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan kondisi Yu Yuan.
Dalam hati, Zhang Fei dibuat bingung sendiri. Sebab dia tahu bahwa sebelumnya kalau bertemu, kedua gadis itu seperti orang yang sedang bermusuhan. Siapa nyana, sekarang justru salah satu dari mereka malah seperti terikat dengan suatu hubungan erat.
"Sekarang dia sudah berada di tempat yang sangat aman. Aman sekali. Aku jamin tidak akan ada orang lagi yang bisa mengganggunya," Zhang Fei menjawab dengan tegas. Tapi ketika sampai di pertengahan, tiba-tiba nada suaranya menjadi melemah. Ketegasan itu berubah menjadi kesedihan.
Yin Yin seketika menoleh ke arahnya. Dia merasa ada sedikit keanehan dalam nada ucapan Zhang Fei barusan.
"Maksudmu? Apakah Yu Yuan ..."
"Dia telah tewas dalam pertempuran itu, Nona Yin," ucapnya sambil menundukkan kepala. "Sebelum kematiannya, Nona Yuan sempat memberikan petunjuk kepadaku. Sayangnya petunjuk tersebut tidak terlalu jelas, karena pada saat itu dirinya sudah tidak kuat lagi menaha luka yang dierita,"
"Apa? Dia ... dia sudah mati?" tanpa sadar Yu Yuan bicara sedikit berteriak. Dia benar-benar kaget mendengar berita tersebut.
Zhang Fei tidak menjawabnya lagi. Ia hanya memandangi gadis di depannya dengan tatapan kosong.
"Keparat! Tua bangka itu ..."
"Nona Yuan, kita harus secepatnya pergi dari sini. Keadaan kita sudah tidak aman lagi," tukas Zhang Fei memotong pembicaraannya.
"Tapi bagaimana? Keadaanku saja sedang seperti ini. Kalau begitu, kau saja yang pergi. Biar aku tetap di sini,"
"Tidak. Kau harus pergi denganku," tegasnya.
"Lalu? Apakah aku harus menggunakan ilmu meringankan tubuhku sampai benar-benar tidak kuat dan pada akhirnya tewas karena kelelahan?"
"Aku punya cara. Dan ini adalah satu-satunya cara supaya kita bisa cepat keluar," kata Zhang Fei.
"Apa cara itu?"
Tanpa bicara lagi, tiba-tiba saja Zhang Fei langsung memangku tubuh Yin Yin. "Maaf kalau aku sudah berlaku kencang. Tapi tidak ada cara lain lagi, selain hanya cara ini," katanya mengulangi ucapan.
Wushh!!!
Zhang Fei langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya. Meskipun sedang memangku seseorang, tapi rupanya kecepatan yang ia miliki masih bisa diandalkan.
Dalam beberapa tarikan nafas saja, mereka berdua sudah tiba di tepi Rawa Iblis.
Sampai di sini, Zhang Fei menghentikan langkahnya sebentar. Ia sedang berpikir terkait bagaiamana cara melewati rawa itu.
"Nona Yin, apakah tidak ada jalan lain lagi?"
"Aku rasa tidak," jawabnya lemah.
"Aih. Baiklah, kalau begitu kau turun dulu," Zhang Fei kemudian menurunkan Yin Yin dari pangkuannya.
Setelah itu, ia langsung menebang beberapa batang bambu yang berukuran panjang. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia sudah datang lagi sambil membawa bambu tersebut.
Saat tiba di tepi Rawa Iblis, Zhang Fei langsung menancapkan bambu-bambu itu sampai ke dasar rawa. Hingga beberapa waktu kemudian, bambu yang tertancap sudah lumayan banyak. Malah sudah lebih dari setengahnya.
Maksud Zhang Fei, nantinya semua bambu tersebut akan digunakan sebagai pijakan kakinya. Meskipun dia sendiri tidak tahu apakah cara itu akan berhasil atau tidak, tapi dia tetap harus mencobanya.
Begitu sudah selesai, ia langsung memangku Yin Yin dan mulai menginjak ujung bambu yang sedikit menyembul ke permukaan air.
Dengan sedikit mengandalkan ilmu meringankan tubuh, akhirnya usaha itu membuahkan hasil. Zhang Fei benar-benar berhasil menyeberangi Rawa Iblis tersebut.