
Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan tiba di sekitar Gedung Ketua Dunia Persilatan tepat pada hari ke tujuh. Mereka tiba di sana pagi-pagi sekali.
Mentari baru muncul. Udara sudah terasa hangat. Suara riuhnya burung terdengar merdu di telinga. Puluhan macam burung terbang dari sarangnya masing-masing untuk mencari nafkah.
Keadaan di kota sudah mulai ramai. Beberapa toko yang menyediakan makanan sudah buka. Begitu juga dengan toko-toko kelontongan atau toko yang menyediakan barang-barang lainnya.
Sebelum berjalan lebih jauh, Zhang Fei sempat mampir di toko pakaian. Dia membeli lagi satu buah topeng penutup yang terbuat dari bahan batu giok untuk diberikan kepada Pendekar Pedang Perpisahan.
Ia menyuruh orang tua itu untuk memakainya. Bukan karena apa, melainkan tujuannya adalah supaya tidak banyak orang yang menaruh rasa curiga.
Dengan mengenakan topeng itu, setidaknya tidak semua orang bisa mengenali Pendekar Pedang Perpisahan.
Topeng penutup wajah yang ia beli juga berwarna kelabu. Zhang Fei sengaja memilih warna itu supaya serasi dengan warna pakaian yang digunakan oleh datuk sesat tersebut.
Pendekar Pedang Perpisahan sendiri tidak banyak komentar. Begitu Zhang Fei memberikan topeng tersebut, dia langsung mengenakannya.
"Ketua Fei, aku rasa topeng ini sangat cocok denganku. Lagi pula, warna yang dihasilkan juga sangat serasi," katanya ketika melangkah di tengah jalan raya yang mulai ramai itu.
Zhang Fei tertawa mendengarnya. Kemudian dia bicara, "Tentu saja, Tuan Wu. Sebab aku sengaja memilih warna itu supaya lebih pantas saat dipakai olehmu," katanya menerangkan.
"Dengan demikian, aku rasa tidak banyak lagi orang-orang persilatan yang akan mengenalimu. Sehingga, kau akan terhindar dari masalah,"
"Kau benar, Ketua Fei,"
"Sekarang, mari kita mencari rumah makan. Aku merasa lapar,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk, mereka berdua kemudian berjalan lebih jauh dan mencari rumah makan yang sudah buka. Ketika menemukannya, tanpa banyak bicara lagi, mereka segera masuk ke sana.
Sekitar sepuluh menit kemudian, dua orang tokoh itu sudah kembali keluar. Sekarang, mereka hanya tinggal menuju ke Gedung Ketua Dunia.
Jarak yang tersisa untuk tiba di sana, sebenarnya tidak terlalu jauh. Maka dari itu, beberapa saat berikutnya, mereka sudah berhasil tiba di pintu gerbang.
Begitu sampai, Zhang Fei segera membuka topeng penutup wajah yang selama ini digunakan. Ia memasukkan topeng itu ke dalam saku bajunya.
"Ketua Fei," dua orang penjaga gerbang segera membungkukkan badan ketika mengetahui siapa yang datang. "Selamat pagi, Ketua. Semoga Ketua panjang umur dan sehat selalu,"
"Selamat pagi," sahut Zhang Fei sambil tersenyum. "Terimakasih. Ngomong-ngomong, apakah Empat Datuk Dunia Persilatan sudah tiba di sini?"
"Sudah, Ketua. Mereka tiba di Gedung Ketua Dunia dua hari yang lalu,"
"Oh, syukurlah. Kalau begitu, sekarang juga aku akan masuk dan menemui mereka,"
"Silahkan, Ketua. Silahkan," penjaga itu langsung memberikan jalan.
Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan masuk ke dalam. Ternyata, halaman depan Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah mengalami perubahan yang cukup banyak.
Taman bunga di sana telah bertambah dua. Begitu juga dengan kolam-kolam kecil yang berisi ikan-ikan besar.
Semerbak harum bunga yang sedang mekar segera tercium menusuk hidung. Beberapa ekor lebah terlihat sedang menghisap madu yang terdapat di bunga-bunga itu.
Tiga ekor Kupu-kupu terbang di sekitarnya. Mereka kemudian hinggap di bunga yang tercepat di sana.
Zhang Fei memperhatikan semua itu. Meskipun bagi orang lain, pemandangan tersebut tidaklah berarti sama sekali. Namun bagi dirinya justru berbeda.
"Sepertinya orang-orangnya di sini sangat serius dalam merawat Gedung Ketua Dunia Persilatan," gumam Pendekar Pedang Perpisahan.
"Ya, aku rasa begitu. Apalagi, yang menggantikan tugasku belakangan ini adalah seorang perempuan. Jadi, kita tidak perlu heran kalau perubahannya cukup banyak," sahut Zhang Fei sambil tertawa.
"Oh, Apakah yang menggantikan tugas Ketua untuk sementara waktu, adalah Dewi Rambut Putih Giok Ling?"
"Benar, tepat sekali,"
"Pantas saja," Pendekar Pedang Perpisahan juga tertawa. Namun tawanya tampak sedikit kaku.
Maklum, selama ini, dia memang hampir atau bahkan tidak pernah tertawa sama sekali. Terhadap siapa pun, dia selalu memasang wajah dingin. Tatapan matanya juga selalu sama. Kosong namun mengandung ancaman yang tidak bisa diungkapkan.
Di dunia ini, mungkin yang mampu membuatnya tertawa hanya Zhang Fei seorang. Bahkan yang mampu mengubah tatapan mata kosong sehingga menjadi hangat pun, mungkin hanya dia sendiri.
Pendekar Pedang Perpisahan tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu.
Yang jelas, ia menganggap bahwa Zhang Fei berbeda dari manusia pada umumnya.
Tanpa terasa, akhirnya mereka bisa tiba juga di pintu utama. Para penjaga di sana kembali memberikan hormat. Setelah berbincang-bincang sebentar, kedua orang itu pun langsung berjalan masuk ke dalamnya.
Zhang Fei selalu berjalan berdampingan dengan Pendekar Pedang Perpisahan. Ia tidak menyuruh orang tua itu untuk berjalan di belakang.
Hal tersebut berarti bahwa Zhang Fei menganggap Pendekar Pedang Perpisahan mempunyai kedudukan yang setara dengannya.
Lagi-lagi, bagi orang lain mungkin hal ini sangat sepele, bukan?
Namun bagi orang-orang yang selalu dipandang rendah oleh manusia lain, hal ini tentu sangat berarti. Rasa bahagia yang didapat juga tidak bisa diukur dengan apapun.
Dalam dunia persilatan, pendekar-pendekar aliran hitam pasti dianggap rendah oleh orang lain. Terutama sekali oleh para pendekar aliran putih.
Itu karena pada umumnya, pendekar aliran sesat tak jarang mau melakukan tindakan yang bahkan setan sendiri tidak pernah melakukannya.
Sementara itu, saat ini keduanya sudah tiba di pintu masuk ruangan pertemuan. Di sana ada satu orang penjaga yang sudah berusia tua. Mungkin umurnya sekitar lima puluhan tahun.
Ia bertubuh tinggi kekar dengan wajah gagah seperti perwira kerajaan. Ketika melihat Zhang Fei, orang tua itu langsung memberikan hormat.
"Maaf, Ketua Fei, siapa orang yang kau bawa ini?" tanyanya sambil menoleh sekilas ke arah Pendekar Pedang Perpisahan.
"Oh, dia adalah sahabat lama. Kami bertemu di tengah perjalanan. Karena kebetulan dia sedang tidak ada pekerjaan, maka aku memutuskan untuk membawanya kemari,"
Penjaga itu memandang lagi, tatapan matanya sangat selidik. Sepertinya dia menaruh curiga, mungkin juga orang tua itu bisa merasakan hawa pembunuh yang keluar dari tubuh Pendekar Pedang Perpisahan. Sehingga terpaksa dirinya mengajukan pertanyaan seperti barusan.
"Jangan terlalu curiga. Dia masih orang sendiri. Aku yang akan menjamin semuanya," kata Zhang Fei berusaha meyakinkannya.
Melihat keseriusan di wajah Zhang Fei, mau tak mau penjaga itu harus menurutinya juga.
"Buka pintu,"
"Baik, Ketua,"
Pintu itu langsung terbuka. Dengan segera, terlihat bahwa di dalam sana sudah ada tokoh-tokoh utama dunia persilatan yang sedang duduk berhadapan sambil minum arak.