Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dugaan Pendekar Pedang Perpisahan ll


Zhang Fei mengangguk beberapa kali. "Jadi, itulah alasan mengapa kau menyebut Partai Iblis Sesat dan Partai Panji Hitam?"


"Benar, Ketua Fei," jawabnya membenarkan. "Lagi pula, Kekaisaran lain tidak akan berani melakukan perbuatan rendahan ini. Karena secara tidak langsung, mereka telah bertindak seperti sekelompok manusia pengecut,"


"Setuju. Hanya manusia-manusia pengecut saja yang berani mengambil tindakan seperti ini,"


Pendekar Pedang Perpisahan seketika tertawa lantang. Ia kemudian bangkit berdiri dan menoleh ke semak belukar di seberang jalan.


Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat cepat sekali, ia mencabut pedang pusaka di punggungnya. Setalah itu, pedang tersebut langsung dilemparkan ke arah yang ia tuju.


Wushh!!!


Pedang meluncur bagaikan kilat. Kejadian ini tidak pernah diduga oleh Zhang Fei. Maka dari itu dia langsung mengajukan pertanyaan.


"Ada apa, Tuan Wu? Mengapa kau melemparkan pedangmu?"


"Ada orang yang sedang mencuri dengar pembicaraan kita," jawabnya dengan nada sedingin es.


Dan tepat setelah dia selesai berbicara, tiba-tiba saja dari semak belukar tadi, mendadak terdengar jeritan seseorang.


Jeritan itu terdengar keras dan memilukan. Seolah-olah jeritannya juga telah merobek langit dan mengejutkan penghuni seisi hutan.


Zhang Fei kaget, buru-buru dia melesat ke arah sumber suara. Dalam beberapa tarikan nafas, ia sudah berada di sana.


Ternyata, senjata milik Pendekar Pedang Perpisahan telah menancap tepat di jantung seseorang!


Orang itu mengenakan cadar. Sehingga wajahnya sangat sulit untuk dikenali.


Sepasang bola matanya melotot besar. Seolah-olah dia tidak menyangka dirinya bisa tewas secara mendadak.


Zhang Fei langsung berjongkok. Dia membuang cadarnya. Ternyata korban adalah seorang pria tua. Hanya saja, ia tidak merasa mengenalnya.


Begitu matanya melirik ke bagian dada sebelah kiri, di sana terdapat lambang kepala iblis.


Partai Iblis Sesat!


"Siapa dia, Ketua Fei?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan yang pada saat itu sudah berada persis di belakangnya.


"Dia adalah anggota dari Partai Iblis Sesat," jawab Zhang Fei sambil bangkit berdiri. "Ternyata dugaanmu benar, Tuan Wu. Sekarang aku semakin yakin, tujuh puluh persen, dalang dibalik kejadian ini adalah Partai Iblis Sesat!"


Pendekar Pedang Perpisahan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dingin saja.


"Aku sudah memeriksanya, tetapi tidak berhasil menemukan petunjuk apapun," kata Zhang Fei melanjutkan bicara.


"Tentu saja, Ketua Fei. Ketua mereka adalah orang-orang yang penuh perhitungan. Setiap apa yang dilakukan olehnya, pasti tidak akan mudah untuk diketahui,"


Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Satu tarikan nafas kemudian, ia tampak terkejut setelah menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu! Maksudmu, apakah Ketua Partai Iblis Sesat, juga ikut andil dalam masalah ini?"


"Kemungkinan besar seperti itu. Mengingat bahwa kekuatan mereka sudah banyak berkurang. Jadi mau tidak mau, para tokoh utamanya juga harus ikut tampil ke lapangan,"


"Hemm ... masuk akal juga. Tetapi kalau begini ceritanya, kemungkinan di Kota Sichuan ini akan terjadi pertempuran cukup besar yang melibatkan banyak orang,"


"Ya, itu sudah pasti,"


"Aih ... kalau begitu, aku harus menghimbau kepada para warga supaya bisa lebih berhati-hati lagi,"


Zhang Fei langsung khawatir setelah berhasil membaca situasi saat ini. Jika semua yang dibicarakan dengan Pendekar Pedang Perpisahan terbukti, itu artinya, pertempuran tidak akan bisa dihindarkan lagi.


"Kau tenang saja, Ketua Fei. Urusan itu, lebih baik kita serahkan kepada prajurit Kekaisaran. Biar mereka yang mengurusnya," ucap datuk sesat tersebut.


"Ah, benar. Baiklah, sore hari nanti, aku akan membuat surat untuk Jenderal yang ditugaskan di kota ini,"


"Baik, Ketua Fei mengurus hal itu, dan aku akan mengurus hal lain. Tiga hari berikutnya, aku minta supaya para Datuk Dunia Persilatan harus berkumpul di persimpangan jalan ini, tepat pada saat matahari akan tenggelam,"


"Nanti, Ketua juga akan tahu sendiri,"


Pendekar Pedang Perpisahan kemudian berjalan tiga langkah ke depan. Ia mencabut pedang yang menancap di jantung orang bernasib malang tersebut.


Setelah itu, ia lalu pergi sambil membawa jasadnya.


Zhang Fei tidak banyak bicara lagi. Dia pun tidak mengikuti kepergiannya.


Ketua Dunia Persilatan hanya memandangi kepergian Pendekar Pedang Perpisahan dengan tatapan penuh tanda tanda.


Tapi berselang beberapa saat kemudian, tiba-tiba Zhang Fei tersenyum.


"Aku mengandalkanmu, Tuan Wu," gumamnya perlahan.


Zhang Fei langsung membalikkan tubuh dan kembali berjalan ke tempat kudanya berada. Ia langsung naik ke atas punggung kuda, dan kuda yang tadi ditunggangi oleh Pendekar Pedang Perpisahan, sekarang sedang digiring oleh Zhang Fei untuk berjalan ke arah yang sama.


###


Sore hari telah tiba kembali. Sang Surya sebentar lagi akan tenggelam di balik bukit-bukit hijau yang tinggi dan jauh di sana.


Zhang Fei datang berada di sebuah posko prajurit Kekaisaran. Saat ini, dia berada di dalamnya.


Ketua Dunia Persilatan sedang duduk sambil minum teh hangat. Di seberang mejanya, ada seorang pria tua berusia kisaran enam puluhan tahun.


Pria tua itu bukan Jenderal. Melainkan adalah kepala prajurit yang ditugaskan di tempat sekitar.


"Aku benar-benar berterimakasih karena Ketua Fei sudah sudi datang kemari," kata kepala prajurit yang biasa dipanggil Tuan Ho itu.


"Tuan Ho jangan terlalu berlebihan. Aku jadi merasa tidak enak mendengarnya," sahut Zhang Fei sambil tersenyum.


Kedua orang itu kemudian bersulang teh. Setelahnya, Zhang Fei segara melanjutkan pembicaraan. "Tuan Ho, sebenarnya kedatanganku kemari karena ingin meminta sedikit bantuanmu,"


"Bantuan apa, Ketua Fei?"


"Kalau boleh tahu, siapa Jenderal yang memimpin semua prajurit di Kota Sichuan ini?"


"Beliau adalah Jenderal Cen Ming, Ketua Fei," jawabnya memberitahu.


"Baiklah. Aku ingin minta tolong kepada Tuan Ho supaya menyampaikan surat kepada Jenderal Ming,"


"Dengan senang hati, Ketua Fei," jawab orang tua itu sambil tersenyum.


Mendapat perintah dari seorang tokoh terkenal seperti Ketua Dunia Persilatan adalah suatu 'anugerah' bagi sebagian orang.


Maka dari itu, wajar apabila dirinya merasa senang.


"Terimakasih sebelumnya, Tuan Ho. Ngomong-ngomong, apakah Tuan Ho mempunyai alat tulis?"


"Ada, Ketua Fei. Tunggu sebentar,"


Ia kemudian bangkit berdiri lalu mengambil alat tulis. Setelah mendapatkannya, orang tua itu segera memberikannya kepada Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan langsung membuat suratnya. Zhang Fei menyampaikan tentang hal-hal yang kemungkinan akan terjadi di Kota Sichuan dalam waktu dekat ini.


Begitu selesai, dia langsung melipat dan memberikannya kepada kepala prajurit itu.


"Maaf kalau aku harus merepotkanmu, Tuan Ho," kata Zhang Fei merasa tidak enak.


"Ketua Fei jangan bicara seperti ini. Bisa menjadi orang yang kau percaya, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri. Aku akan mengantarkan surat ini secepat mungkin,"


"Baiklah, Tuan Ho, sekali lagi terimakasih,"


Mereka sempat berbincang-bincang barang sebentar. Setalah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Zhang Fei segera pamit pergi dari posko tersebut.