Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Usaha Mempermudah Penyerangan


Rombongan Zhang Fei dan Lima Malaikat Putih sudah semakin masuk ke dalam hutan. Saat itu, matahari sudah tenggelam. Sehingga keadaan di sana pun sangat gelap.


Untunglah tidak lama kemudian, rembulan mulai muncur menggantung di langit. Kegelapan yang sebelumnya menyelimuti hutan itu, sekarang sedikit berkurang.


"Tunggu dulu!"


Di tengah-tengah perjalanan, Pek Ma tiba-tiba menyuruh agar semua orang berhenti.


"Ada apa, Ketua?" tanya Pek Ji kebingungan.


"Markas itu tidak jauh dari sini. Aku sudah bisa mencium bau dan merasakan kehadiran orang lain," katanya menjelaskan.


"Benarkah?"


"Tentu saja,"


Orang tua itu segera melesat menurut indera penciumannya. Sekitar sepuluh tombak kemudian, ia berhenti lagi.


"Sini! Lihat itu,"


Semua orang mendekat. Mereka segera memandang ke tempat yang dimaksud olehnya.


Tenyata di sana, dalam jarak sekitar dua puluh tombak dari tempatnya berdiri sekarang, ada sebuah bangunan yang cukup besar. Bangunan itu seperti bekas kuil yang sudah tua dan tidak dipakai lagi.


Walaupun demikian, tapi keadaan di sana terdapat banyak cahaya. Setelah diteliti, ternyata cahaya itu berasal dari obor yang dipasang di setiap penjuru.


"Markasnya sudah terlihat. Mari kita ke sana,"


Zhang Fei langsung bergerak. Baru saja dia berjalan sepuluh langkah, tiba-tiba Pek Ma berseru kembali.


"Anak Fei, mundur!" teriaknya cukup keras.


Anak muda itu kaget, dia langsung melompat mundur ke belakang. Tidak lama setelah itu, mendadak tanah yang tadi dia injak amblas ke dalam.


Ternyata itu adalah jebakan!


"Sepertinya di sini banyak jebakan yang sudah mereka siapkan," ujar Pek Gi sambil memandang ke tempat di sekelilingnya.


"Benar. Kita harus menemukan semua jebakan ini agar nanti para penyerang bisa dengan mudah untuk tiba ke sana," tukas si Telapak Tangan Kematian Pek Ma.


"Kalau begitu, kami akan membereskan mainan anak kecil ini," seru Pek Ciu.


Empat rekannya yang lain mengangguk. Mereka segera bergerak menyusuri tempat-tempat yang kemungkinan akan dilewati oleh para penyerang nantinya.


Perlu diketahui, Lima Malaikat Putih dulunya terkenal sebagai ahli dalam membuat jebakan atau tipu muslihat. Maka dari itu, mereka bisa tahu di mana saja jebakan yang dipasang oleh pihak musuh.


Serapat dan serapi apapun jebakan yang dibuat, mereka tetap bisa mengetahuinya dengan cukup mudah.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, satu persatu dari mereka sudah kembali lagi ke tempat semula.


"Bagaimana?" tanya Pek Ma begitu empat anak buahnya tiba.


"Semua jebakan sudah diatasi. Orang-orang Partai Gunung Pedang bisa menuju ke tempat tujuan dengan mudah," jawab Pek Ji.


"Baiklah. Mari kita bergerak lagi,"


Enam orang itu melanjutkan perjalanannya kembali. Begitu hampir tiba di markas utama Organisasi Bulan Tengkorak, Pek Ma menyuruh agar mereka berpencar.


Hal itu bertujuan supaya mereka membereskan para penjaga yang kemungkinan ada di setiap penjuru.


Dan ternyata apa yang dia curigai terbukti. Di setiap penjuru markas, khususnya di daerah-daerah sekitarnya, memang terdapat penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi keadaan.


Para penjaga itu jumlahnya lumayan banyak. Setiap penjuru minimal dijaga oleh dua atau tiga orang.


Di sebelah timur ada Zhang Fei. Walaupun dalam keadaan remang-remang, tapi dia sudah terbiasa dengan hal ini. Dulu pun waktu berlatih, ia selalu berada dalam kegelapan.


Karenanya anak muda itu tidak terlalu kesulitan dalam menemukan posisi para penjaga.


Tidak jauh dari tempatnya sekarang, ia melihat ada dua orang penjaga. Kebetulan mereka berdiri berdekatan.


Tanpa banyak berkata lagi, ia langsung melesat menuju ke arah medisnya. Zhang Fei segera menarik tangan mereka lalu masuk ke dalam hutan.


Srett!!!


Pedang Raja Dewa dicabut keluar dengan cepat. Dua orang penjaga yang setara dengan pendekar kelas dua itu, langsung tewas seketika.


Ia kemudian membuang mayatnya ke balik semak belukar.


Hanya beberapa saat saja, semua penjaga sudah pergi ke alam baka. Keadaan di sekitar makes Organisasi Bulan Tengkorak sudah cukup aman.


Yang tersisa hanya para penjaga yang bertugas di depan markas saja.


"Pek Ji ..." seru di Telapak Tangan Kematian Pek Ma.


"Aku, Ketua,"


"Kau pergi ke kota mumpung masih ada waktu. Lalu buat sepucuk surat dan kirimkan kepada Ketua Partai Gunung Pedang," ujarnya memberikan perintah.


"Apa yang harus aku tulis, Ketua?"


"Buat peta untuk menuju ke markas Organisasi Bulan Tengkorak. Beritahu juga kepada mereka bahwa keadaan sudah aman,"


"Baik, perintah akan segera dilaksanakan,"


"Tapi ingat, jangan kau beritahu bahwa kita yang mengirim surat itu,"


"Lalu kalau mereka tidak percaya, bagaimana?"


"Mereka pasti percaya. Lakukan saja tugasmu dengan cepat,"


"Baik. Sekarang juga aku akan berangkat,"


Pek Ji langsung pergi. Ia adalah orang yang ahli dalam ilmu meringankan tubuh. Maka dari itu, hanya sekejap saja dirinya sudah menghilang dibalik gelapnya malam.


Setelah kepergian Pek Ji, yang lain pun langsung bersembunyi di tempat yang aman. Tempat yang dirasa cocok untuk mengawasi keadaan sekitar.


Baik itu keadaan Organisasi Bulan Tengkorak, maupun keadaan para penyerang nantinya.


"Guru, kenapa kau tidak mau memberitahu kepada Partai Gunung Pedang?" tanya Zhang Fei yang merasa penasaran.


"Karena mereka tidak akan percaya. Kau masih ingat bahwa orang-orang kita sudah tidak saling mempercayai?"


"Oh, baiklah. Aku mengerti," jawab anak muda itu menganggukkan kepala.


Tentu saja Zhang Fei masih ingat tentang ucapan gurunya yang mengatakan bahwa empat partai besar sudah tidak saling percaya.


Karena itulah dia tidak banyak bertanya lagi.


Sementara itu, beberapa waktu kemudian, Pek Ji sudah berlari lagi memasuki hutan. Tidak sulit baginya untuk menemukan rekan yang lain.


"Bagaimana, Pek Ji?" tanya Pek Ma setelah ia tiba di sana.


"Beres, Ketua. Sekarang pihak Partai Gunung Pedang sudah menuju kemari,"


"Kerja yang bagus," serunya menuju.


Pek Ji menganggukkan kepala. Ia bicara lagi. "Tapi yang datang kemari hanya Wakil ketua dan beberapa petinggi saja,"


"Kenapa Ketua partai tidak ikut?"


"Aku tidak tahu,"


"Hemm. Baiklah. Lupakan saja hal ini,"


Pek Ma tidak mau banyak bicara lagi. Meskipun hatinya merasa ada yang aneh karena Ketua partai tidak ikut serta dalam penyerangan ini, namun ia tidak mau mengatakan hal itu.


Setidaknya untuk saat ini, orang tua tersebut memilih untuk fokus terhadap masalah yang akan segera dihadapinya.


Keadaan di sana sepi sunyi. Mereka tinggal menunggu kedatangan para penyerangnya.


Sekitar setengah jam kemudian, tepat pada saat rembulan sudah berada di atas kepala, dari luar hutan mulai terdengar langkah kaki manusia.


Walaupun langkah itu sangat perlahan, tapi Pek Ma bisa mengetahuinya.


"Mereka sudah datang," katanya kepada yang lain.


Lima orang menganggukkan kepala. Mereka mulai menambah segala macam persiapannya.


###


Jangan heran apabila di novel ini akan banyak adegan pertarungan. Sebab tema utamanya adalah huru-hara dalam dunia persilatan yang dipenuhi oleh intrik. Hehehe ...


Novel ini terinspirasi dari penulis wuxia seperti KPH, GL, dan lain-lain.