Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran di Kuil Seribu Dewa I


Waktu terus berlalu. Mentari pagi semakin berada di titik yang lebih tinggi. Hari ini cuaca sangat cerah. Di atas langit tidak ada awan. Pancaran sinar mentari telah menyinari alam mayapada.


Burung-burung penghuni hutang terbang bebas dari sarangnya masing-masing. Para warga kota sekitar juga sudah bangun dan mulai menjalankan aktivitasnya sehari-hari.


Suara riuh orang-orang di jalan raya terdengar cukup jelas. Di jalan-jalan itu terdapat banyak orang yang berlalu-lalang.


Dari kejauhan, Gunung Thai San tampak begitu indah seolah-olah hendak menembus langit yang tinggi. Indahnya gunung itu sudah tidak bisa dilukiskan lagi dengan kata-kata.


Sayangnya, keindahan tersebut tidak bisa dirasakan. Setidaknya untuk hari ini. Khususnya lagi bagi para anggota Kuil Seribu Dewa.


Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu, tiba-tiba lonceng besar yang berada di puncak tebing terdengar dibunyikan.


Tengg!!! Tengg!!! Tengg!!!


Lonceng yang terbuat dari Kuningan itu dibunyikan sebanyak tiga kali. Suaranya begitu nyaring. Sama halnya seperti suara pekikan burung rajawali di tengah angkasa.


Semua murid yang akan terlibat dalam pertempuran tadi langsung meningkatkan kewaspadaannya.


Hal itu terjadi karena bunyi lonceng tiga kali pertanda adanya bahaya!


Itu artinya, pihak penyerang sudah tiba dan sebentar lagi akan memasuki wilayah Kuil Seribu Dewa!


"Ketua Fei, mereka sudah datang," kata Pendekar Pedang Perpisahan sambil memandang jauh ke bawah sana.


"Ya, aku juga bisa melihatnya, Tuan Wu," jawab Zhang Fei dengan nada serius.


Kedua tokoh kelas atas dunia persilatan itu terus memandang ke depan. Mereka tidak saling bicara seperti biasanya.


Lewat beberapa waktu kemudian, Pendekar Pedang Perpisahan berkata lagi.


"Rupanya yang datang sedikit lebih banyak dari perkiraanku, Ketua Fei,"


"Ya, kau benar, Tuan Wu. Tujuh orang yang paling belakang itu, sepertinya adalah sebagian petinggi dari Partai Panji Hitam,"


"Kalau pun bukan, mereka pasti adalah murid-murid inti dari para petingginya. Aku bisa mengenal dua dari tujuh orang itu," ucap Pendekar Pedang Perpisahan.


Jangan lupa, dia adalah tokoh sesat. Bahkan menjabat sebagai Datuk Dunia Persilatan. Pengalaman dan pengetahuannya juga sangat luas. Orang-orang rimba hijau yang dia kenal juga tidak perlu diragukan lagi.


Jadi wajar kalau Pendekar Pedang Perpisahan bisa mengenal beberapa dari mereka. Terlebih karena orang itu berasal dari golongan yang sama.


"Ketua Fei, kapan kita akan turun tangan?" tanyanya lebih lanjut.


"Tunggu dulu, Tuan Wu. Aku rasa, murid-murid kelas atas dari Kuil Seribu Dewa bisa menahan pasukan yang dibawa musuh. Lebih baik kita pilih saja lawan yang sepadan," kata Zhang Fei.


"Baik, Ketua Fei. Aku setuju,"


Mereka kembali terdiam sambil diam-diam mempersiapkan dirinya.


Sedangkan di bawah sana, pertempuran sudah mulai berlangsung. Begitu pasukan musuh memasuki kawasan Kuil Seribu Dewa, murid-murid kelas atas dari kuil itu sudah langsung menyambut kedatangannya.


Tongkat yang terbuat dari kayu pilihan dan tombak bermata golok sudah berterbangan di atas udara dengan bebas. Suara teriakan yang mendatangkan semangat membara mulai terdengar.


Satu-persatu dari para murid Kuil Seribu Dewa mulai mendapatkan lawannya masing-masing. Benturan antara tongkat, tombak bermata golok dan senjata lainnya semakin terdengar nyaring di telinga.


Pasukan dari kedua belah pihak mulai terlihat dalam perempuan sengit yang mempertaruhkan nyawa.


Tidak lama setelah itu, para pemimpin dari kedua belah pihak yang terlibat juga mulai mendapat lawannya tersendiri.


Di depan sana, tampak sepuluh orang petinggi Kuil Seribu Dewa mulai bertarung. Begitu turun tangan, kedua belah pihak langsung menurunkan jurus-jurus kelas atas.


Biksu Bian Ji Hung tidak mau kalah dari yang lain. Dia langsung memilih dua orang musuh. Bedanya, orang tua itu tidak langsung bertarung seperti yang lain.


Dia justru lebih dulu menahan langkah kaki kedua tokoh sesat tersebut.


"Mau ke mana kalian? Mengapa seperti terburu-buru seperti itu?" tanya Biksu Bian Ji Hung sambil tersenyum lembut ke arahnya.


Kedua orang pendekar kelas satu yang sudah berdiri dalam jarak lima langkah itu, seketika merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Untuk sesaat mereka tidak dapat menjawab.


Seolah-olah telah terkena ilmu sihir!


"Hemm ... siapa kau?" tanya salah satu dari mereka setelah berhasil menguasai dirinya.


"Yang harusnya bertanya adalah aku, kalian ini siapa? Ada maksud apa sehingga datang kemari?"


"Hemm ... apakah kau buta, biksu tua? Kedatangan kami kemari tentu saja untuk menyerang kuil ini. Dan tujuan utamanya adalah untuk mencari Ketua dari Kuil Seribu Dewa," jawab rekannya dengan nada sengit.


"Oh, mengapa kalian mencari Ketuanya? Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan?"


"Ya, ada," jawabnya sambil mengangguk.


"Apa itu?"


"Kami akan mengatakan kepadanya bahwa Malaikat Kematian sudah tiba. Umurnya hanya sampai hari ini saja. Dia tidak akan bisa melihat matahari besok,"


"Oh, terimakasih. Tapi yang aku tahu, umur setiap manusia itu berada di tangan para Dewa. Manusia tidak punya hak untuk menentukan umur manusia lainnya,"


"Hemm ..." tokoh sesat yang berada di sisi sebelah kanan memandangi Biksu Bian Ji Hung dengan tatapan sinis. Setelah beberapa saat kemudian, dia bertanya lagi. "Siapa kau sebenarnya, biksu tua?"


"Aku adalah orang yang sedang kalian cari," Biksu Bian Ji Hung menjawab sambil memberikan senyuman lembutnya kembali.


"Maksudmu, kau adalah Ketua Kuil Seribu Dewa?"


"Kalau kau sudah tahu, mengapa masih bertanya?"


"Hemm ..."


Dua orang itu tidak bicara lagi. Mereka hanya saling pandang sesaat. Tiga tarikan nafas kemudian, tiba-tiba saja keduanya melompat dan menerjang ke depan.


Empat pasang tangan siap menggempur Biksu Bian Ji Hung. Mereka langsung menurunkan jurus-jurus tangan kosongnya.


Wutt!!! Wushh!!!


Serangan mereka berdua gagal menemui sasaran. Biksu Hung berhasil menghindari serangan mereka dengan mudah. Dia tidak melakukan banyak gerakan. Hanya menggeser kakinya saja, semua serangan tadi lewat di depan mata.


"Bagus. Rupanya kau punya sedikit kemampuan juga,"


Wutt!!!


Jurus pukulan keras dilayangkan kembali. Mereka menyerang secara bersamaan.


Kali ini, Biksu Hung tidak ada niatan untuk menghindar. Dia menyambut jurus mereka dengan kedua tangannya.


Plakk!!!


Benturan tangan terjadi. Kedua tokoh sesat itu kaget setengah mati ketika merasakan tangannya seperti masuk ke dalam lautan yang begitu dalam.


Jurusnya tidak memberikan akibat apa-apa. Tenaga dalam dan tenaga sakti yang telah mereka keluarkan barusan, hilang lenyap begitu saja.


Sekarang, tangan mereka menempel di telapak tangan Biksu Hung. Mereka tidak bisa menariknya. Walaupun sudah mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan, tapi tangan itu tetap menempel.


Bahkan semakin besar tenaga yang dikeluarkan, maka semakin sulit juga mereka menarik tangannya.


"Mundur kalian!" kata Biksu Hung sambil mendorong keduanya.


Wushh!!!


Tubuh dua orang tokoh sesat tersebut terlempar cukup jauh ke belakang. Mereka terhuyung-huyung dan hampir jatuh tersungkur ke atas tanah.