Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Merebut Kotak Kecil Rahasia


"Hemm ... aku tidak mempunyai informasi apa-apa," jawab orang tersebut dengan tegas.


"Jadi, kau tidak mau jujur?" tanya Zhang Fei sambil mengangkat kedua alisnya.


"Aku memang tidak mempunyai informasi apapun. Aku hanya disuruh untuk menjalankan tugas. Itu saja," orang itu bicara dengan nada tinggi. Seolah dia sengaja melakukan hal tersebut supaya Zhang Fei bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tugas apa yang diberikan kepada kalian?"


"Itu bukan urusanmu,"


"Hemm ... apakah tugas untuk mengambil kotak kecil rahasia milik Ketua Perguruan Kera Sakti?"


Ditanya demikian, dia tidak menjawab. Pendekar aliran sesat itu langsung menutup mulut seribu bahasa.


"Diam tandanya iya," kata Zhang Fei bicara lagi. "Sekarang? Di mana kotak kecil rahasia itu?"


Ia masih diam. Tidak menjawab barang sepatah kata pun.


Zhang Fei mulai kesal. Dia sudah tidak sabar ingin menyelesaikan semua ini. Tetapi baru saja Zhang Fei berniat untuk menurunkan serangan terakhir, tiba-tiba dia mendengar sebuah jeritan.


Jeritan dari Yan Zi!


Dengan cepat ia menoleh ke asal suara. Tanpa membuang waktu lagi, Zhang Fei segera melesat menuju ke sana.


Pada saat itu, ternyata posisi Wakil Ketua Perguruan Kera Sakti tersebut sudah diujung tanduk. Tiga orang yang mengeroyoknya menyerang dengan brutal.


Luka-luka sudah terlukis di setiap bagian tubuh. Darah segar yang tadi banyak keluar, sekarang mulai mengering akibat terlalu lama.


Kebetulan, Zhang Fei datang tepat pada waktunya. Saat itu ketiganya berniat untuk melancarkan serangan terakhir. Mereka bahkan sudah berada di tengah jalan.


Tinggal menunggu sesaat saja, nyawa orang tua bernama Yan Zi itu pasti akan melayang.


Untunglah sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi dan menimpanya, Ketua Dunia Persilatan tahu-tahu sudah ada di hadapannya. Pedang Raja Dewa yang ka genggam langsung melintang di atas dada.


Tiga macam serangan pamungkas itu, semuanya ditangkis oleh Zhang Fei. Dia bergerak dengan lincah dan cekatan. Pedang Raja Dewa menari-nari di tengah serbuan jurus lawan. Tubuh pemiliknya sendiri berputar bagaikan gasing.


Benturan antar senjata pusaka terdengar nyaring. Setiap benda pusaka yang bertemu dengan Pedang Raja Dewa, pasti akan langsung patah menjadi dua bagian.


Kutungan senjata itu terlempar ke beberapa arah. Berhasil dengan usaha tersebut, Zhang Fei langsung melanjutkan lagi gerakannya.


Dia menurunkan jurus Murka Pedang Dewa yang dibarengi dengan satu jurus tangan kosong lainnya.


Dua jurus berbeda, datang dalam waktu yang bersamaan.


Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!


Srett!!!


Kilatan pedang bagaikan kilat menyambar. Tubuh Zhang Fei sendiri seolah-olah menjadi setan gentayangan. Beberapa kali dia bergerak, dua orang pendekar sesat yang tadi membantu Ouw Yang Pek, kini telah terkapar di atas tanah dengan kondisi tanpa nyawa.


Semua rangkaian kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Siapa pun tidak ada yang mampu melihat bagaimana dia melakukan semua itu.


Yan Zi yang berada di sana pun tidak bisa menyaksikannya dengan jelas. Padahal, jaraknya sangatlah dekat. Walaupun di seluruh tubuhnya terdapat banyak luka, tetapi matanya masih normal. Pandangannya masih jelas.


Sayang sekali, ia tidak bisa melihat bagaimana Zhang Fei beraksi.


"Kemampuannya benar-benar mengerikan. Rasanya, dia memang sangat pantas menjadi Ketua Dunia Persilatan. Walaupun usianya masih muda, tetapi kemampuan yang dimilikinya tidak perlu diragukan lagi," gumam Yan Zi sambil memandangi Zhang Fei yang berdiri tepat di depannya.


Sementara itu, setelah berhasil membunuh dua orang pendekar sesat, tanpa banyak bicara lagi Zhang Fei juga langsung mengambil tindakan.


Dia melancarkan serangan telapak tangan kepada Ouw Yang Pek. Serangan itu dengan telak mengenai dadanya sampai membuat dia terlempar sejauh tujuh langkah.


Ouw Yang Pek bergulingan di atas tanah. Dia tidak bisa melakukan pembelaan apapun juga. Apalagi pada saat itu, dia sendiri tidak mampu melihat gerakan Zhang Fei.


Anak muda itu langsung muntah darah. Wajahnya pucat pasi. Ouw Yang Pek merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Tenaganya hilang entah ke mana.


Saat itu, ia mirip seperti sebuah kapas yang direndam di dalam air.


Luka-luka yang sebelumnya mengeluarkan banyak darah segar, kini langsung berhenti setelah ditotok olehnya. Gerakan Zhang Fei pada saat itu juga cepat, Yan Zi lagi-lagi tidak mampu melihatnya dengan jelas.


"Ketua Fei, apakah semua orang sudah tewas?" tanya orang tua itu setelah selesai ditotok.


"Tinggal satu orang yang tersisa," jawabnya dengan cepat. "Sekarang, aku akan membereskan orang itu,"


Wushh!!!


Dia bergerak lagi dengan kecepatan tinggi. Rupanya orang tua tadi telah pergi entah ke mana. Dia sudah tidak da di tempat sebelumnya.


Zhang Fei berdiri termenung sesaat. Sekedar mencari jejak ke manakah perginya.


"Ke sana!"


Wushh!!!


Dia melesat. Zhang Fei menuju ke depan sana, ke arah di mana terdapat jejak kaki manusia. Untuk beberapa saat dia melakukan pengejaran.


Untunglah Zhang Fei tidak sampai benar-benar kehilangan jejak. Setelah beberapa saat mengejar, akhirnya sosok orang tua tadi sudah bisa terlihat lagi.


Wutt!!!


Zhang Fei melepaskan serangan jarak jauh. Segulung angin melesat ke arah target.


Orang yang dituju merasa adanya ancaman dari arah belakang. Buru-buru dia menghindar dan menghentikan langkahnya.


Blarr!!!


Ledakan keras terdengar. Satu batang pohon langsung tumbang setelah terkena jurus itu.


"Ternyata kau seorang pengecut," kata Zhang Fei setelah dia tiba di hadapannya.


Orang tua itu menggertak gigi dan mengepalkan kedua lengannya. Dia memandang Zhang Fei dengan tatapan marah.


"Serahkan kotak kecil rahasia itu secara sukarela, atau aku yang harus memaksamu?"


"Omong kosong? Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya,"


Dia berteriak nyaring. Setelah itu langsung menurunkan serangan. Pilihan jarum hitam melesat ketika kedua tangannya dikibaskan ke depan. Belum tiba jarum-jarum tersebut, dia sudah menyusul dari belakangnya.


Sringg!!!


Sebatang pedang dicabut kembali. Dia melancarkan tebasan beruntun yang dibarengi dengan jurus pedang andalannya.


Orang itu yakin usahanya kali ini akan berhasil. Apalagi tenaga yang dikeluarkan sudah mencapai titik maksimal.


Sayangnya, dia tidak mengetahui siapakah orang yang sedang dihadapinya saat ini.


Wutt!!!


Zhang Fei mendorong tangan kiri ke depan. Gelombang angin datang cukup besar. Jarum-jarum hitam yang dilemparkan oleh lawannya langsung berhamburan ke segala arah.


Selesai dengan itu, dia langsung menerjang dan menyambut datangnya lawan. Benturan antar pedang terjadi beberapa kali.


Namun sekitar tiga jurus kemudian, semuanya langsung berubah. Posisi orang itu menjadi berada di bawah angin.


Pedang Raja Dewa terus mencecar setiap inci tubuhnya.


Srett!!!


Darah segar menyembur deras. Dia berteriak dengan suara dalam. Pedang di tangannya langsung jatuh ke tanah. Disusul kemudian dengan jatuhnya tubuh orang tua itu sendiri.


Zhang Fei tersenyum sinis. Setelah dipastikan lawannya tewas, ia segera mendekat dan mengambil beberapa sesuatu dari balik saku bajunya.