
Dua orang tokoh sesat itu tiba-tiba tertawa lantang setelah mendengar ucapan Zhang Fei barusan. Suara tawanya sangat keras, bahkan sampai membuat dedaunan kering berterbangan.
Mereka menganggap perkataan anak muda itu terlampau sombong. Kelewat mustahil.
Zhang Fei sendiri membiarkan keduanya menyelesaikan tawa. Setelah mereka berhenti, ia baru bertanya lagi.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanyanya dengan tenang.
"Dirimu," jawab si Ketua Cabang sambil menunjuk Zhang Fei.
"Aku? Memangnya ada yang lucu dalam diriku?"
"Ada, tentu saja ada,"
Ketua Cabang berhenti sebentar. Ia tertawa mengejek, kemudian berkata. "Kami justru sedang mentertawakan kebodohanmu,"
"Oh?"
"Anak muda, apakah kau tidak salah bicara? Menurutku, perkataanmu itu sudah berlebihan," tukas Wakil Ketua lalu kemudian tertawa lagi.
"Hemm ... menurut kalian, bagaimana kemampuan sepuluh pasukan khusus yang ada di markas ini?" tanya Zhang Fei mengalihkan pembicaraan.
"Mereka adalah orang-orang berbakat. Selama ini, pasukan khusus yang kami miliki, telah banyak menyumbangkan tenaga untuk berdirinya partai ini," kata Ketua Cabang penuh rasa bangga.
Ternyata sampai sekarang, dua orang itu belum menyadari kejadian yang sebenarnya. Hingga kini, rupanya mereka berdua masih belum tahu bahwa pasukan musuh yang dimaksud itu, telah berubah menjadi mayat yang tidak berguna.
"Benar, aku setuju dengan pendapatmu. Sayang sekali, sekarang pasukan khusus yang kau banggakan tersebut, sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi,"
Dua orang pria tua yang ada di depannya langsung memandang tidak mengerti. Wakil Ketua Cabang segera mengajukan pertanyaan.
"Apa maksudmu? Kenapa mereka tidak bisa melakukan apa-apa?"
"Karena mereka sudah menjadi mayat. Memangnya, di dunia ini ada mayat yang bisa melakukan sesuatu?"
Mendengar ucapan tersebut, sontak saja dua orang itu langsung berubah wajahnya. Mereka memandang ke tempat sekitarnya.
Betapa kagetnya kedua pimpinan tersebut ketika melihat bahwa sepuluh pasukan khusus yang dibanggakan, ternyata kini telah terkapar tanpa nyawa.
"Keparat! Siapa yang telah membunuh mereka?"
Si Ketua Cabang bertanya sambil memandang Zhang Fei dan Pengemis Tua Tanpa Pamrih. Matanya saat itu melotot besar. Seolah-olah bola matanya hendak melompat keluar.
"Yang bertarung melawan mereka adalah anak muda ini. Jadi aku rasa, tentu kau sudah tahu siapa yang telah membunuhnya," ucap Pengemis Tua Tanpa Pamrih sebelum Zhang Fei menjawab.
"Kau? ..."
Dua orang itu kembali mengalami kekagetan untuk yang kesekian kalinya.
Meskipun awalnya tidak percaya, tapi kini mereka tetap harus mempercayainya.
"Bocah, sebenarnya atas dasar apa kau melakukan semua ini? Bukankah di antara kita tidak pernah ada permusuhan?"
Ketua Cabang itu bertanya lagi. Sekarang dia sudah bisa mengingat siapakah pengemis yang datang bersamanya. Karena itulah, ia hanya bertanya kepada Zhang Fei.
Seingatnya, Partai Panji Hitam tidak mempunyai masalah apapun dengan pemuda itu.
Jangankan memiliki masalah, bahkan bertemu saja, rasanya baru sekarang ini.
Tetapi, kenapa ia justru malah membunuh semua anggotanya?
Ditanya demikian, Zhang Fei tersenyum dingin lebih dulu. Setelah mengambil nafas beberapa kali, dia segera menjawab.
"Pertama, adalah karena Partai Panji Hitam merupakan partai sesat. Pengacau dunia persilatan. Dan alasan yang kedua, karena kalian telah membantai Keluarga Hartawan Cong Lai," katanya dengan tegas.
"Omong kosong! Mampus saja kau!"
Wakil Ketua yang sejak tadi menahan amarahnya, sekarang dia sudah tidak bisa lagi menguasai diri.
Maka dari itu, sebelum orang lain menyerang, ia malah sudah memulainya lebih dulu.
Pedang kembar yang semula ia genggam di kedua tangan, kini telah menusuk ke depan.
Serangannya benar-benar cepat dan sulit diikuti mata. Kemampuan orang itu terhitung tinggi. Hal tersebut bisa dilihat dari cara bagaimana dia bergerak dan melakukan serangan.
Trangg!!!
Percikan api segera tercipta. Wakil Ketua Cabang terkejut.
Ternyata serangan yang ia lancarkan tiba-tiba, bisa ditahan dengan mudah oleh lawannya. Padahal, barusan dia sudah mengeluarkan delapan bagian tenaga dalam.
Dan kini, ia mulai sadar bahwa pemuda itu memang bukan lawan yang mudah untuk dihadapi.
Detik berikutnya, ia sudah menyerang lagi. Tapi kini ia telah belajar dari pengalaman pertama.
Serangannya yang kedua tidak sembrono. Dia mengeluarkan jurus pedang kembar yang selama ini sudah banyak merenggut nyawa manusia.
Kedua batang senjata itu seperti mempunyai nyawa sendiri. Mereka mencari sendiri titik lemah di tubuh lawan.
Sayangnya, Zhang Fei seakan-akan tidak memiliki kelemahan. Ke mana pun lawan menyerang, bagaiamanapun serangannya, ia tetap bisa menahannya dengan cukup mudah.
Sementara di sisi lain, si Ketua Cabang juga tidak bisa lagi berdiam diri. Dia berniat untuk membantu rekannya.
Naas, sebelum ia berhasil, ada Pengemis Tua Tanpa Pamrih yang telah menghadangnya.
"Jangan lupakan aku. Walaupun sudah tua, tapi aku bisa menemanimu bermain-main barang sebentar,"
Tongkat bambu bergerak. Bayangan tongkat segera memenuhi halaman depan itu.
Dua pertarungan berlangsung lagi. Kali ini, kedua pertarungan tersebut adalah yang terakhir.
Pertempuran penentuan!
Zhang Fei tidak segan-segan untuk memberikan serangan balasan. Setiap serangan yang ia gelar, selalu berhasil mendesak lawannya.
Bagaimanapun si Wakil Ketua Cabang berusaha, kenyataannya ia tetap tidak mampu membalikkan keadaan.
Jurus pedang kembar yang selalu dia banggakan, kini terlihat seperti mainan anak-anak. Padahal biasanya, semua jurus yang ia miliki itu mampu mencabut nyawa manusia tanpa berkedip.
Siapa sangka, sekarang semua pamornya justru telah hilang!
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia terus beradu satu sama lain. Senjata mereka kadang-kadang berbenturan dalam waktu yang cukup lama.
Belasan jurus telah berlalu. Zhang Fei tidak mau membuang waktu.
Karenanya, ketika mendapatkan kesempatan, dia pun kembali mengeluarkan Jurus Pedang Menghancurkan Langit.
Begitu jurus itu keluar, keadaannya semakin unggul. Beberapa saat kemudian, pertarungan seketika berhenti!
Ujung Pedang Raja Dewa, tahu-tahu telah menusuk jantung lawannya.
"Kau terlalu memandang rendah diriku," kata Zhang Fei sambil mencabut pedangnya.
Pada saat itu, si Wakil Ketua Cabang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Sayangnya, ia sudah tidak mempunyai tenaga lagi.
Brukk!!!
Tubuhnya ambruk. Ia langsung tewas pada saat itu juga!
Di sisinya, Pengemis Tua Tanpa Pamrih juga sedang bertempur sengit. Kalau tadi terlihat seimbang, sekarang justru malah sebaliknya.
Dia selalu di atas angin. Hal itu terjadi mungkin karena lawannya sudah tidak lagi dua orang. Melainkan hanya satu orang saja.
Tongkat bambu menyapu ke atas dan ke bawah. Seluruh tubuh lawan menjadi incarannya.
Beberapa waktu kemudian, dengan nekad ia menangkap senjata lawan menggunakan tangan kirinya. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya segera menyapu ke depan.
Prakk!!!
Suara berat terdengar. Karena sebelumnya ia sudah menyalurkan tenaga ke tongkat bambu hijau, maka pada akhirnya, senjata itu sanggup menghantam kepala Ketua Cabang sampai remuk.
Orang itu pun langsung tewas menyusul yang lainnya.