
Ketiga orang itu segera berjalan ke pinggir arena. Mereka menghampiri para tokoh dunia persilatan yang sejak tadi ada di sana.
"Tua bangka, kau harus menepati janjimu itu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap tajam.
"Tenang saja. Aku bukan orang yang ingkar janji," ia menjawab sambil tertawa.
"Bagus. Tepati dengan segera janji itu,"
Mereka kemudian berjalan ke arah Gedung Ketua Dunia Persilatan kembali. Setelah tiba di ruang pertemuan, para tokoh tersebut segera melanjutkan kegiatannya tadi.
Sedangkan Zhang Fei dan Yao Mei, keduanya segera pergi ke ruangan masing-masing untuk beristirahat barang sejenak dan mengganti pakaiannya.
"Tua bangka, aku tahu, alasanmu memberikan syarat ini adalah karena ingin menguji mereka berdua," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah selesai minum air kata-kata.
Yao Shi tersentak sedikit. Tapi sedetik kemudian dia langsung tersenyum ringan sambil menganggukkan kepala.
"Ternyata kau sudah tahu apa maksudku, setan arak,"
"Hahaha ... aku bukan orang bodoh. Jadi, sudah tentu aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Dan aku rasa, yang lain pun juga sudah mengetahuinya. Bukankah begitu?" Dewa Arak Tanpa Bayangan melirik kepada Datuk Dunia Persilatan yang lain.
Dan mereka pun langsung menganggukkan kepala seketika.
"Lalu, bagaiamana tanggapanmu tentang mereka berdua?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan setelah yang lain terdiam.
Yao Shi minum arak terlebih dahulu. Setelah sampai habis tiga cawan, ia baru menjawab pertanyaan tersebut.
"Menurutku, mereka berdua sudah pantas untuk turun ke lapangan. Zhang Fei pantas menjadi Ketua Dunia Persilatan. Dan Mei'er juga sudah pantas membantunya," katanya menjawab dengan jujur.
Setelah mengambil nafas, dia kembali melanjutkan. "Hanya saja benar kata kalian, Mei'er masih kekurangan tenaga dalam dan tenaga sakti. Sebelum turun dan membantu perjuangan kalian, aku rasa dia harus menerima saluran tenaga dalamku lebih dulu,"
"Memang begitu yang seharusnya. Maka dari itu, secepat mungkin kau harus segera menyalurkan tenaga kepadanya. Sebab keberadaan mereka berdua sangat dibutuhkan oleh banyak orang," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Baiklah. Aku akan segera melakukannya," tukas Yao Shi.
Para Datuk Dunia Persilatan itu melanjutkan pembicaraannya dengan membahas hal-hal lain. Mereka baru berhenti bicara panjang lebar setelah Zhang Fei dan Yao Mei kembali hadir di dalam ruang pertemuan.
Baru saja mereka datang, tiba-tiba pintu diketuk orang. Seorang petugas datang dengan membawa sepucuk surat.
Dengan cepat Zhang Fei membacanya. Dan ternyata, isi dari surat itu hampir sama dengan surat sebelumnya.
"Kita harus turun tangan sekarang. Kota Jiang Nan telah diserbu oleh pasukan dari Kekaisaran Zhou dan Partai Iblis Sesat. Para pendekar aliansi sudah ada yang menjadi korban. Menurut laporan, peperangan ini termasuk ke dalam skala besar. Sebab hampir semua daerah telah dimasuki oleh pasukan musuh," kata Zhang Fei berbicara dengan nada serius kepada mereka yang hadir di sana.
"Kalau memang begitu kenyataannya, kita harus segera pergi ke sana untuk membantu para pendekar, Ketua Fei," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Benar, Tuan Kai. Sekarang juga, kita akan berangkat,"
"Bagaimana dengan aku?" tanya Yao Mei tiba-tiba.
"Nona Mei, kau harus pergi dahulu bersama Ayahmu untuk menerima saluran tenaga dalam darinya. Kalau proses itu sudah selesai, maka kau boleh menyusul kami," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Lalu, bagaiamana dengan Ayah? Apakah setelah menyalurkan tenaga dalam kepadaku, Ayah akan ikut turun tangan dan melawan para perusuh itu?"
Ditanya demikian, Yao Shi tidak memberikan jawaban sama sekali. Ditunggu beberapa saat pun, dia tetap membungkam mulutnya.
"Sudahlah, Nona Mei. Jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Yang terpenting, Ayahmu sudah bersedia untuk menyalurkan tenaga,"
"Baiklah. Aku mengerti," katanya dengan nada kesal.
Mereka kemudian mempersiapkan dirinya masing-masing. Setelah semuanya selesai, para tokoh tersebut segera pergi dari sana.
###
Lima ekor kuda jempolan telah berlari kencang menerjang hembusan angin. Para tokoh dunia persilatan itu menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa.
Mereka harus segera turun tangan. Sebab kalau sampai terlambat, niscaya Kota Jiang Nan akan dikuasai oleh pihak musuh.
Menurut perkiraan, jarak untuk menuju ke sana membutuhkan waktu sekitar satu hari. Namun karena lima ekor kuda jempolan itu berlari secara maksimal, sepertinya jarak tempuh tersebut bisa sedikit lebih singkat.
Sementara itu, Yao Shi dan Yao Mei juga sudah pergi dari Gedung Ketua Dunia Persilatan. Entah ke mana mereka pergi. Sebab tiada seorang pun yang mengetahuinya.
Yang jelas, Yao Shi pasti akan menepati janjinya!
###
Malam telah datang menyelimuti muka bumi. Rembulan juga sudah menggantung di atas langit. Bintang-bintang bertaburan melengkapi kegelapan malam.
Lima ekor kuda yang ditunggangi oleh para tokoh dunia persilatan sudah tiba di perbatasan Kota Jiang Nan.
Baru saja sampai, mereka sudah disuguhkan dengan keadaan perbatasan yang kacau balau. Di sana sini terdapat mayat warga yang tergelatak secara berserakan.
Mereka ada yang menggeletak di tengah jalan, pinggir jalan, di bawah pohon, bahkan di parit-parit kecil juga ada.
Bau amis darah tercium dengan sangat jelas. Malam terang bulan yang harusnya dipenuhi oleh aroma bunga bermekaran, sekarang malah dipenuhi oleh bau darah para warga pribumi.
Melihat semua itu, Zhang Fei menggertak giginya dengan kencang. Ia sangat marah melihat apa yang dilakukan oleh pihak musuh.
Pada saat itu, mereka belum lagi melanjutkan perjalanannya. Namun tiba-tiba, dari kegelapan mengacak terdengar kuda yang berlari kencang.
Sesaat kemudian segera terlihat ada satu orang prajurit Kekaisaran yang datang dengan terburu-buru.
"Tuan-tuan, pertempuran sudah terjadi. Pihak kita mengalami kekalahan yang cukup telak. Pasukan musuh ternyata mempunyai kemampuan tinggi. Prajurit Kekaisaran kewalahan. Para pendekar aliansi juga tidak bisa berbuat banyak," ujar prajurit itu memberikan laporan singkatnya.
"Di mana pertempuran yang kau maksudk?" tanya Zhang Fei dengan cepat.
"Di sana, Ketua,"
"Antarkan kami ke sana,"
"Baik,"
Prajurit itu membalikkan arah kudanya. Setelah itu dia kembali menyuruh kuda tersebut untuk berlari lebih kencang dari sebelumnya.
Walaupun di beberapa bagian tubuhnya sudah terdapat luka akibat semata tajam, namun dia tidak menghiraukannya sama sekali.
Rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit para warga Kota Jiang Nan yang dihancurkan kebahagiaan serta kedamaiannya!
Enam ekor kuda berlari kencang. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar lima menit kemudian, mereka sudah tiba di lokasi.
Wushh!!!
Pendekar Pedang Perpisahan langsung melompat dari punggung kuda yang ditungganginya. Ia melesat ke depan sana dengan kecepatan kilat.
Pedang pusaka yang selama ini telah merenggut banyak nyawa manusia, seketika dicabut keluar.
Ia kemudian ikut melibatkan diri dalam pertempuran sengit yang sedang berlangsung itu.
Tidak hanya dia saja, bahkan Zhang Fei dan yang lainnya juga segera ikut turun tangan ke lapangan.