
Malam ini sangat cerah. Cahaya kuning keemasan menyorot ke muka bumi. Rembulan telah menampakkan diri sepenuhnya. Ribuan bintang-bintang bertaburan di tengah angkasa raya.
Semilir angin malam yang sejuk, berhembus secara perlahan. Bunga-bunga yang sedang bermekaran tertiup angin dengan syahdu. Membawa aroma wangi, mendatangkan ketenangan bagi siapa saja yang mencium harumnya.
Di depan sana, terlihat ada sebuah gedung. Gedung itu sangat megah dan mewah. Dari kejauhan saja, siapa pun bisa melihat keangkeran dan wibawa dari gedung tersebut.
Gedung yang dimaksud itu, bukan lain adalah Gedung Ketua Dunia Persilatan!
Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, Ketua Dunia Persilatan Beng Liong telah mengundang Empat Datuk Dunia Persilatan untuk bertemu di tempatnya tepat pada malam bulan purnama.
Dan pada saat ini, adalah saat-saat yang sudah dinantikan.
Di sekitar gedung terdapat banyak sekali para pendekar yang berjaga. Mereka adalah orang-orang pilihan, sebab tidak semua pendekar bisa betugas di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Para pendekar tersebut bukan hanya berasal dari perguruan ternama. Malah ada pula yang merupakan perorangan.
Terlepas dari mana asal-usul mereka, ada satu hal yang pasti.
Orang-orang itu adalah para pendekar aliran putih yang siap mempertaruhkan nyawanya demi menjaga nama baik Ketua Dunia Persilatan dan negerinya!
Di dalam gedung tersebut, ada satu ruangan besar yang dijaga ketat oleh sepuluh orang pendekar. Ruangan itu adalah tempat khusus bagi Ketua Dunia Persilatan untuk membicarakan hal-hal penting.
Dan pada saat ini, di sana sudah ada lima orang yang duduk di kursinya masing-masing. Empat orang tersebut adalah para Datuk Dunia Persilatan, dan satu lagi adalah seorang pendekar muda.
Siapa lagi kalau bukan Zhang Fei?
Keadaan di dalam ruangan benar-benar membuat dirinya terpukau. Di setiap sudut terdapat benda antik yang tak ternilai harganya. Bukan hanya itu saja, bahkan di dinding ruangan juga terlihat ada banyak lukisan sejarah dan sejenisnya.
Semua lukisan itu seperti mempunyai nyawanya tersendiri.
Zhang Fei baru pertama kali masuk ke dalam ruangan semewah ini. Karenanya tidak heran apabila dia dibuat terbuai untuk beberapa saat.
Suasana di dalam sana masih sepi sunyi. Empat Datuk Dunia Persilatan belum ada yang berbicara, kecuali hanya sedikit. Mereka lebih memilih tengelam bersama arak dan makanan lezat yang sebelumnya sudah banyak tersedia di atas meja.
Di antara keempat orang itu, ada satu orang wanita yang usianya paling banyak baru mencapai enam puluhan tahun. Meskipun sudah terbilang tua, namun nyatanya ia masih terlihat cantik. Keriput yang muncul di wajahnya justru menambah kecantikan tersebut.
Nama wanita itu adalah Giok Ling. Dalam dunia persilatan, dia mempunyai julukan Dewi Rambut Putih.
Ia diberi julukan demikian karena rambutnya yang panjang terurai itu memang berwarna putih. Putih seperti salju. Tidak ada selembar pun rambutnya yang berwarna hitam.
Menurut cerita yang dulu pernah beredar, konon katanya Giok Ling pernah berlatih sebuah ilmu bertenaga im (dingin) yang sangat dahsyat sehingga membuat rambutnya memutih secara menyeluruh.
Jadi singkatnya, warna putih di rambut wanita itu bukan karena umur. Melainkan karena efek dari sebuah ilmu yang ia pelajari.
Di samping Dewi Rambut Putih Giok Ling, ada satu orang lagi pria yang usianya tidak berbeda jauh dari dia sendiri.
Menurut apa yang didengar oleh Zhang Fei sebelumnya, pria itu bernama Cao Ping dan berjuluk si Pendekar Tombak Angin.
Walaupun ia belum pernah melihat mereka turun tangan secara serius, tapi diam-diam dirinya yakin bahwa kemampuan orang-orang itu tentunya sudah mencapai taraf sangat tinggi.
Apalagi mereka adalah para Datuk Dunia Persilatan.
Tepat sekali, Datuk Dunia Persilatan yang berada di posisi pertama, bukan lain adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Ceng. Yang kedua, Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo. Disusul kemudian oleh Dewi Rambut Putih Giok Ling dan yang terakhir adalah Pendekar Tombak Angin Cao Ping.
Setelah mengetahui siapa sebenarnya dua orang tua yang sempat mengembara bersama, tiba-tiba muncul perasaan bersalah dalam hatinya.
Zhang Fei sungguh tidak enak hati, sebab dia sering berlaku terlampau berani kepada keduanya. Walaupun memang semua itu hanya candaan belaka, tapi dirinya tetap merasa bersalah.
'Kalau sudah keluar dari sini, aku akan meminta maaf kepada keduanya,' batinnya berkata.
Pada saat semua orang sedang sibuk bersama pikirannya masing-masing, tiba-tiba pintu yang tertutup rapat itu mendadak terbuka.
Setelah itu muncul seorang pria yang mengenakan jubah putih. Ia mempunyai tubuh tinggi kekar, wajahnya sangat tampan. Dari setiap inci tubuhnya keluar sebuah wibawa yang membuat siapapun akan segan terhadapnya.
Melihat kemunculannya, tiba-tiba Empat Datuk Dunia Persilatan bangkit berdiri secara serempak. Zhang Fei segera mengikutinya. Mereka kemudian membungkukkan badan memberikan hormat kepadanya.
"Salam hormat kepada Ketua Beng Liong, semoga Ketua panjang umur dan sehat selalu," ujar keempatnya secara bersamaan.
Degg!!!
Jantung anak muda itu berdegup lebih kencang. Keringat tiba-tiba membasahi seluruh punggungnya.
Jadi, inikah Ketua Dunia Persilatan Beng Liong itu?
"Terimakasih Tuan sekalian, silahkan kalian kembali ke tempat masing-masing," jawabnya dengan nada halus namun penuh wibawa.
Setalah mendengar ucapan itu, Empat Datuk Dunia Persilatan segera duduk kembali.
Zhang Fei memandang sekilas ke arah Beng Liong. Ternyata, orang yang sangat dihormati dalam dunia persilatan itu umurnya masih cukup muda. Mungkin ia belum mencapai lima puluhan.
Kalau tidak menyaksikan sendiri, mungkin dirinya tidak akan percaya dengan kenyataan ini.
Namun karena sudah melihatnya secara langsung, mau tidak mau, Zhang Fei harus tetap mempercayainya.
Keadaan di dalam ruangan kembali dicekam keheningan. Ketua Beng Liong belum berbicara apa-apa, kecuali hanya mengajak semua tamunya bersulang arak.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan terdengar gemericik. Secawan demi secawan, air kata-kata mulai masuk ke dalam perut mereka.
Beberapa waktu kemudian, setelah pejamuan sederhana itu selesai, tiba-tiba terdengar Ketua Dunia Persilatan berkata.
"Sebelumnya mohon maaf apabila undanganku ini sudah mengganggu waktu kalian," katanya mengawali pembicaraan.
Ia memandangi semua tamunya secara bergantian. Setelah itu, dirinya kembali melanjutkan. "Sebenarnya aku terpaksa melakukan ini, sebab ada beberapa hal penting yang harus kita diskusikan bersama,"
Empat Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala berulang kali. Mereka cukup mengerti akan hal tersebut.
"Tetapi sebelum bicara lebih jauh, aku ingin bertanya ... siapa saudara muda ini?" tanyanya kepada Zhang Fei.
Ketua Beng Liong memandangnya dengan serius. Seketika Zhang Fei merasakan firasat tidak enak. Anak muda itu tidak berani membalas pandangan matanya. Sebab baginya, sepasang mata itu benar-benar menakutkan.
Bahkan mungkin lebih menakutkan daripada mata harimau yang sedang marah besar sekalipun!