Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Biksu Merah


Orang yang berbicara itu seorang pria tua. Usianya paling banyak sudah mencapai tujuh puluh tahun. Ia berpenampilan seperti biksu. Warna kain yang dililitkan di tubuhnya berwarna merah hati. Di tangan kanannya ada tasbih yang berukuran besar.


Sekilas pandang, dia memang terlihat sangat mirip dengan biksu pada umumnya.


Namun yang membedakannya, kalau biksu diluar sana mempunyai sinar mata menenangkan dan membawa hawa agung, justru biksu di depan Zhang Fei ini malah sebaliknya.


Pancaran matanya sangat tajam dan dipenuhi oleh dendam. Dari setiap inci tubuhnya juga keluar hawa sesat.


Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut pun, Zhang Fei sudah tahu bahwa saat ini dirinya sedang berhadapan dengan biksu sesat. Biksu yang sudah menyimpang dari ajaran kebenaran.


Tapi yang menjadi pertanyaannya sampai saat ini, siapa biksu itu sebenarnya? Kenapa dia bisa mengetahui dirinya? Sedangkan Zhang Fei sendiri, justru merasa tidak kenal sama sekali.


Jangankan begitu, malah bertemu pun rasanya baru pertama kali ini.


"Maaf, Tuan, apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Jangan banyak bicara lagi, kau pasti pemuda yang bermarga Zhang dan bernama Fei itu, bukan?"


"Benar, itu memang aku," jawabnya jujur. "Tapi, Tuan ini siapa?" tanyanya Zhang Fei lebih jauh lagi. Sampai saat ini dia masih berusaha sopan, apalagi ia belum tahu siapa orang tua di depannya tersebut.


"Kau akan tahu nanti,"


Bersamaan dengan ucapan tersebut, ia langsung melancarkan serangan pertamanya. Tasbih besar itu tiba-tiba diayunkan ke depan. Gulungan angin tajam menderu dengan kencang ke arah Zhang Fei.


Saking besarnya tenaga yang terkandung, sampai-sampai dedaunan kering yang terdapat di sana dibuat berterbangan dan membentuk pusaran.


Anak muda itu tercekat. Buru-buru dia melayang mundur ke belakang. Karena merasakan firasat yang tidak enak, dengan cepat ia menuju ke arah di mana kudanya berada.


Setelah berhasil, Zhang Fei kemudian melarikan diri sambil menunggangi si Putih.


"Jangan pernah berpikir kau bisa lepas dariku," kata biksu itu sambil berusaha mengejarnya.


Dua tokoh itu segera menjadi pusat perhatian. Para pendekar menyaksikan peristiwa singkat barusan dengan kening berkerut. Untunglah di antara mereka tidak ada yang ingin tahu lebih lanjut, mereka lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya masing-masing.


Sementara itu, Zhang Fei bersama si Putih saat ini sudah berada di sebuah hutan belantara. Di sana tidak ada siapa pun kecuali dirinya.


Tidak lama kemudian, dari arah belakang mendadak terasa ada segulung angin yang bergerak dengan sangat cepat. Hanya sesaat saja sudah tiba di sisi Zhang Fei.


Si biksu sesat tadi rupanya sudah berhasil menyusulnya!


Wutt!!! Plakk!!!


Ia mengayunkan tasbihnya lagi. Tasbih yang besar itu menghantam batok kepala si Putih dengan telak. Pada detik itu juga, kuda perkasa yang sedang berlari tersebut langsung ambruk ke tanah.


Kepalanya retak. Darah segar mengalir dari lubang mulut, hidung dan telinganya.


Masih untung Zhang Fei tidak sampai ikut jatuh tersungkur. Dia keburu melompat dan berjumpalikan di tengah udara.


"Sudah aku katakan, kau tidak akan bisa lepas dariku," katanya kembali mengulangi ucapan yang sama.


Zhang Fei masih diam. Ia tidak menghiraukan ucapan si biksu sesat itu. Saat ini dia masih memandangi mayat kuda kesayangannya dengan perasaan sedih bercampur marah.


Lewat beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Zhang Fei memandang ke arah biksu itu.


"Kau telah membunuh kuda milikku," katanya dingin.


"Aku tahu," jawab si biksu acuh tak acuh.


"Kau tahu apa akibatnya?"


"Aku tidak tahu,"


"Karena kau sudah membunuh kuda kesayanganku, maka kau harus membayarnya dengan nyawamu sendiri,"


Wushh!!!


Segulung angin berhembus cukup kencang. Hawa pembunuh tiba-tiba keluar dari setiap inci tubuhnya. Sorot mata Zhang Fei berubah tajam.


"Hahaha ..." si biksu tiba-tiba tertawa lantang sampai suaranya menggema di seluruh isi hutan. "Ucapanmu itu terlalu tinggi, anak muda,"


"Kenapa kau begitu ingin tahu siapa aku?"


"Karena aku ingin semuanya jelas,"


"Hahaha ... baiklah, baiklah. Kau masih ingat dengan pendekar yang berjuluk si Mata Serigala?" tanyanya.


"Ya, aku masih ingat," jawabnya dengan cepat.


Tentu saja Zhang Fei masih ingat dengan si Mata Serigala. Bukankah dia adalah Ketua dari Kelompok Bunga Merah? Bukankah dia pula yang membunuhnya?


Jadi, bagaiamana mungkin dia bisa melupakannya?


"Bagus. Asal kau tahu saja, aku mempunyai julukan si Biksu Merah," katanya memperkenalkan diri. "Aku adalah guru si Mata Serigala,"


Zhang Fei cukup terkejut ketika mengetahui siapa biksu sesat itu. Namun dengan cepat keterkejutannya ia tutupi.


"Oh, jadi kau gurunya?" tanyanya seolah-olah sedang memastikan.


"Benar,"


"Pantas saja. Ternyata guru dan murid sama-sama iblis,"


"Keparat! Mulutmu tajam juga,"


"Untuk apa kau datang menemuiku?" tanya Zhang Fei tanpa mengindahkan perkataan si Biksu Merah.


"Tentu saja untuk membalaskan dendam muridku. Aku ingin kau menyusulnya ke neraka,"


"Bagus. Aku juga sudah lama ingin bertemu denganmu,"


"Untuk apa?"


"Aku pun ingin mencabut nyawamu, supaya kau bisa menemani muridmu itu di neraka,"


"Hahaha ... benarkah? Kalau begitu, mari kita buktikan siapa yang akan pergi ke neraka,"


Wushh!!!


Si Biksu Merah langsung menyerang. Tubuhnya meluncur ke depan dengan cepat. Tasbih besar itu kembali diayunkan. Sekarang sampai beberapa kali sehingga menimbulkan deru angin yang menggulung-gulung seperti ombak di tepi pantai.


Deru angin itu mengandung tenaga besar. Seperti halnya angin badai.


Menyadari lawan yang ia hadapi merupakan tokoh kelas atas, Zhang Fei tidak mau bercanda lagi. Dengan cepat dia menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni ke seluruh tubuhnya.


Tepat sebelum serangan si Biksu Merah benar-benar mengenai tubuhnya, Zhang Fei sudah menyelesaikan persiapan awal.


Wutt!!!


Tubuhnya ikut meluncur ke depan. Dia berniat untuk menyambut serangan lawan. Berbarengan dengan itu, Pedang Raja Dewa pun langsung dicabut keluar dari sarungnya.


Dia tahu bahwa si Biksu Merah itu adalah lawan yang tangguh. Dulu saat menghadapi muridnya saja, yaitu si Mata Serigala, ia hampir mati. Kalau kemampuan muridnya sudah begitu hebat, lalu bagaimana dengan kemampuan gurunya sendiri?


Meskipun Zhang Fei tidak yakin bisa menang darinya, tapi dia pun tidak berniat untuk melarikan diri!


"Pedang Menghancurkan Langit!"


Wutt!!!


Jurus kelima dari Kitab Pedang Dewa langsung ia gelar. Kilatan cahaya pedang seketika menggulung, menyambut tasbih besar yang siap untuk meremukkan batok kepalanya itu.


Trangg!!! Trangg!!!


Suara nyaring akibat benturan kedua benda pusaka seketika terdengar. Kedua belah pihak yang terlibat tidak berhenti. Mereka terus melanjutkan serangannya.


Pertempuran yang terjadi segera berlangsung sengit. Si Biksu Merah tidak mau membuang waktu. Maka dari itu dia langsung mengerahkan sembilan bagian tenaga dalamnya.


Jurus-jurus dahsyat sudah ia keluarkan. Tasbih itu seolah-olah telah berubah menjadi Malaikat Maut yang siap mencabut nyawa manusia kapan pun itu.