Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kedatangan Partai Panji Hitam


Waktu masih menunjukkan pagi-pagi buta. Semburat cahaya kemerahan memancar luas ke empat penjuru mata angin.


Udara masih terasa sejuk. Di musim kemarau seperti ini, udara di malam sampai pagi hari memang terasa lebih dingin dari biasanya.


Kabut masih menyelimuti muka bumi. Embun yang putih dan suci pun masih menetes di atas daun-daun pohon atau tangkai bunga.


Zhang Fei bersama para tokoh dunia persilatan sudah bangun. Saat ini mereka sedang berada di halaman belakang. Orang-orang tersebut sedang menikmati teh hangat yang dibuatkan oleh pelayan.


Di antara mereka belum ada yang berbicara. Masing-masing sedang memandang ke tempat-tempat tertentu.


Seperti contohnya Zhang Fei. Sejak awal, dia terus menatap ke sebelah timur. Melihat indahnya cahaya merah dan menunggu munculnya matahari terbit.


Semua orang sedang bergelut dengan lamunannya masing-masing.


Memang, pada saat itu, keadaan di sekitar masih terhitung sepi sunyi. Sehingga waktu tersebut sangat cocok untuk menenangkan diri.


Suara teh yang diseruput secara halus dan perlahan terdengar. Suara itu memecahkan keheningan yang ada di sana.


"Pagi yang cerah, teh hangat yang nikmat. Aku benar-benar merasa bahagia," gumam Zhang Fei sambil tersenyum lembut.


Dia kemudian menyeruput lagi teh hangat tersebut.


Waktu terus berlalu kembali. Akhirnya mentari pagi sudah menampakkan dirinya. Cahaya kemerahan tadi, seketika berubah menjadi cahaya kuning keemasan.


Ketika sedang menikmati pemandangan alam yang sangat nikmat tersebut, tiba-tiba dari arah lain terlihat ada seorang petugas yang datang sambil berlari.


Wajah petugas itu pucat pasi. Fis terlihat sangat panik sekali.


Menyaksikan hal tersebut, buru-buru Zhang Fei bertanya kepadanya.


"Ada apa? Mengapa di pagi hari begini, kau sudah terlihat cemas?"


Zhang Fei segera merasa heran. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Anu, Ketua. Anu ..."


"Anu apa? Coba jelaskan. Bicaralah yang benar,"


"Tenangkan dulu dirimu. Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang secara perlahan," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada petugas itu.


Ia segera menurut. Petugas tersebut langsung mempraktekkan apa yang baru saja dikatakan oleh Datuk Dunia Persilatan itu.


Setelah merasa tenang, dia kembali melanjutkan bicaranya.


"Di depan sana ... ada ratusan orang yang sedang menuju kemari, Ketua. Sebagian berlari dengan senjata lengkap, sebagiannya lagi datang sambil menaiki seekor kuda,"


"Apa? Kau tidak salah bicara?" tanya Zhang Fei sangat terkejut.


"Tidak, Ketua Fei. Bahkan aku dan penjaga yang lain melihatnya dengan mata kepala sendiri,"


Ketua Dunia Persilatan memandang ke arah yang lain. Namun, semua orang menggelengkan kepalanya. Pertanda bahwa mereka pun tidak tahu siapakah orang-orang tersebut.


"Mungkinkah mereka adalah prajurit Kekaisaran yang sengaja di kirim kemari?" tanya Zhang Fei lebih jauh.


Dia masih berusaha bersikap tenang dan santai. Tujuannya adalah supaya pikiran Zhang Fei tidak pecah.


Zhang Fei dan para tokoh yang lain langsung kaget setengah mati. Melihat dari ekspresi wajah si petugas yang sangat serius itu, rasanya apa yang dia sampaikan bukan omong kosong.


"Kau yakin bahwa itu adalah orang-orang Partai Panji Hitam?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan memastikan.


"Ya, aku yakin sekali, Tuan," jawab petugas itu tetap merasa yakin dengan apa yang dilihat oleh sepasang matanya.


Orang-orang di dalam ruangan saling pandang. Mereka sepertinya masih merasa sanksi akan laporan tersebut.


"Biar aku yang memeriksanya keluar," ucap Pendekar Tombak Angin.


Selesai bicara seperti itu, dia langsung bangkit berdiri dari posisinya. Kemudian segera keluar dari ruangan untuk melakukan pemeriksaan.


Pendekar Tombak Angin melesat dengan sangat cepat. Baru beberapa kejap saja, dia sudah berada di halaman luar. Datuk Dunia Persilatan tersebut kemudian naik ke atas gapura yang tinggi.


Sepasang matanya menatap ke kejauhan sana. Begitu melihat kenyataan, dia segera memperlihatkan ekspresi terkejut.


Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung turun dari atas gapura dan kembali ke dalam ruangan.


"Bagaimana, Tuan Cao?" tanya Zhang Fei setelah dia tiba di sana.


"Benar apa yang dilaporkannya, Ketua. Orang-orang yang datang itu, berasal dari Partai Panji Hitam. Bukan hanya anggotanya saja, bahkan para petinggi, termasuk Ketuanya juga ikut hadir,"


Degg!!!


Jantung para tokoh dunia persilatan berdetak sedikit lebih kencang. Jujur saja, mereka tidak menyangka akan kejadian ini.


"Pasti mereka datang untuk bertempur sampai titik darah penghabisan," ucap Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba bicara.


Dewa Arak Tanpa Bayangan dan yang lainnya menoleh. Walaupun mulutnya tidak terbuka, tetapi sepasang mata mereka sudah mengajukan pertanyaan.


"Seperti yang kita ketahui, kekuatan Partai Panji Hitam saat ini sudah mengalami penurunan drastis. Agaknya, Dewa Sesat Tiada Tanding telah mengambil keputusan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan," katanya berbicara kembali.


Mendengar penjelasan tersebut, para tokoh itu segera mengangguk. Apalagi, sebelumnya mereka telah mendengar terkait hal tersebut dari laporan mata-mata.


"Baiklah. Kalau begitu, kita sambut saja kedatangan mereka," tegas Zhang Fei mengambil keputusan.


"Ketua, para pendekar aliansi kebanyakan telah pergi ke medan pedang. Bagaimana mungkin kita akan menyambut kedatangan mereka?" tanya Dewi Rambut Putih.


"Kalau tidak begitu, lalu langkah apa yang akan kita ambil, Nyonya Ling? Bukankah tidak ada lagi?" Zhang Fei mengangkat kedua alis sambil memandang ke arah Dewi Rambut Putih.


Setelah berhenti sebentar, dia kembali melanjutkan, "Lagi pula, walaupun kebanyakan para pendekar aliansi sudah pergi, di sini masih ada orang-orang kita. Ada cukup banyak pendekar-pendekar tangguh yang bersembunyi dan bertugas menjadi mata-mata. Belum lagi kalau ditambah dengan kita sendiri. Aku rasa, keadaan ini saja sudah lebih daripada cukup,"


"Betul. Sebenarnya kedatangan mereka kemari, hal itu tidak lebih dengan bunuh diri," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Mereka berpikir bisa membunuh beberapa tokoh penting di Gedung Ketua Dunia. Setidaknya, dendam dan sakit hati yang selama ini dirasakan bakal sedikit terbalas," ucap Pendekar Pedang Perpisahan itu nimbrung. "Sayang sekali, Dewa Sesat Tiada Tanding terlalu bodoh. Dia begitu ceroboh karena telah berani mengambil keputusan di saat pikirannya tidak tenang,"


Yang lainnya segera menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Begitu juga dengan Dewi Rambut Putih sendiri.


Sekarang, mereka telah mempunyai pikiran yang sama. Semua orang sudah setuju dan sudah siap untuk menyambut kedatangan Partai Panji Hitam.


"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku rasa lebih baik kita segera keluar dan menyambut mereka," kata Yao Mei sambil memandangi orang-orang di sana secara bergantian.


"Setuju," sahut Zhang Fei dengan cepat. "Sekarang, mari kita sambut rombongan 'tamu istimewa' itu,"