Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bayangan Hitam I


Tung Pek mengangguk. Dia segera melesat ke arah yang lain. Dia mencoba untuk mengalihkan beberapa penjaga yang terdapat di sana. Sesuai dengan perintah Zhang Fei.


Hanya dalam waktu singkat, Tung Pek sudah tiba di depan para penjaga yang sedang berpatroli itu. Dia tidak melakukan sesuatu apapun.


Tung Pek hanya menampakkan diri. Berdiri di hadapan para penjaga dengan sorot mata setajam pedang.


Melihat kehadiran orang asing, sontak saja sepuluh penjaga itu kaget. Mereka sudah bersiap untuk melancarkan serangan mematikan kepada orang asing itu. Hanya saja, sebelum serangan bisa dilancarkan, si orang asing malah sudah berkelebat pergi.


"Cepat kejar penyusup itu!" kata seorang pemimpin penjaga seraya menunjuk dengan jarinya.


Sembilan penjaga mengangguk. Mereka langsung mengejar ke arah perginya Tung Pek barusan.


Orang tua itu pintar, dia tidak lari ke dalam. Melainkan keluar dari kediaman Hartawan Wang.


Suara kentongan yang merupakan tanda bahaya segera terdengar mengalun di tengah udara. Teriakan penyusup atau maling juga mengikuti ramainya malam itu.


Sekarang, para penjaga yang mengejar Tung Pek semakin bertambah banyak. Tadi hanya sepuluh orang, saat ini sudah berjumlah tiga puluhan orang.


Semua penjaga itu setara dengan pendekar kelas rendah.


Dengan kemampuan Tung Pek yang setara dengan pendekar kelas satu, rasanya tidak sulit untuk menghadapi puluhan penjaga itu. Karenanya, dia tidak merasa gentar walau nanti harus berhadapan dengan mereka.


Alasan kenapa dia berlari sampai saat ini adalah untuk melancarkan rencana yang akan dijalankan oleh Zhang Fei dan lainnya.


Para penjaga masih mengejar. Mereka pun masih terus berteriak tanpa berhenti.


Hanya karena satu orang penyusup, kediaman Hartawan Wang telah dibuat geger. Terutama sekali di halaman luar.


Untunglah kejadian ini tidak sampai terdengar ke dalam. Hal itu mungkin terjadi karena betapa luasnya kediaman Hartawan Wang.


Tung Pek terus berlari. Dia menuju ke luar halaman.


"Hadang penyusup itu,"


Seorang kepala penjaga berteriak keras. Beberapa orang penjaga diluar langsung bergerak untuk menangkap Tung Pek. Sayangnya mereka kalah beberapa langkah, sehingga orang tua itu masih bisa bebas bergerak.


Sementara di tempat lain, berbarengan dengan kejadian barusan, Zhang Fei dan yang lain sudah berhasil masuk ke dalam.


Para penjaga yang tadi tampak banyak, sekarang mulai berkurang. Mungkin mereka pun ikut mengejar Tung Pek.


Akibatnya, keadaan di dalam menjadi lengang. Tidak lagi ketat seperti sebelumnya.


"Kerja yang bagus, Paman Tung," gumam anak muda itu memuji.


Tiga orang tua di sisinya tersenyum. Mereka pun memuji langkah yang diambil oleh Zhang Fei.


"Situasi mulai aman, mari kita masuk. Jangan sia-siakan perjuangan Paman Tung," ujarnya memberikan semangat.


"Baik," jawab mereka secara serempak.


Empat bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam. Karena tidak mau membuang waktu, maka mereka langsung bergerak menuju ke kamar pribadi Hartawan Wang.


Tidak memerlukan waktu yang lama, hanya beberapa kejap saja, keempat orang itu sudah tiba di bagian dalam.


Saat ini, Zhang Fei dan lainnya sedang bersembunyi di balik tiang besar. Mereka mengawasi lebih dulu keadaan sekitar sebelum bertindak lebih jauh.


"Tuan Muda, kau lihat ruangan besar itu?" tanya Lien Hua kepadanya.


"Ya, aku melihatnya," jawab Zhang Fei sambil memandang ke ruangan yang dimaksud.


"Nah, itu adalah kamar pribadi Hartawan Wang. Aku yakin, sekarang pun dia ada di dalam sana,"


"Baiklah. Mari kita ke sana,"


Wushh!!!


Mereka berpencar sembari mengawasi keadaan. Begitu tiba di depan pintu ruangan, keempat orang itu sudah siap untuk mendobrak pintu dengan paksa.


Sepuluh bayangan itu, begitu muncul langsung mengepung Zhang Fei dan yang lainnya.


"Hehehe ... ternyata ada sekumpulan manusia yang sudah bosan hidup, sehingga berani masuk kemari," seorang di antara mereka berkata sambil tersenyum menyeramkan.


Suasana di sana langsung mencekam. Walaupun belum ada pihak yang bergerak, tapi ketegangan sudah bisa dirasakan dengan sangat jelas.


"Apakah mereka ini adalah orang-orang yang dijuluki Bayangan Hitam?" tanya Zhang Fei kepada Lien Hua.


"Benar. Mereka adalah Bayangan Hitam," jawabnya membenarkan.


Zhang Fei melirik kepada sepuluh orang tersebut. Sepuluh orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan wajah sangar. Melihat kenyataan tersebut, rasanya tidak terlalu salah apabila mereka dijuluki Bayangan Hitam.


Apalagi gerakannya pada saat muncul tadi sangat cepat.


Waktu terus berlalu. Zhang Fei dan yang lain masih belum juga mengambil tindakan. Mereka justru mundur secara perlahan.


Kebetulan, ruangan itu cukup besar sehingga mereka bisa bergerak dengan bebas.


"Kalian ini siapa dan mau apa?" tanya salah seorang dari Bayangan Hitam secara tiba-tiba.


"Siapa kami tidak penting. Dan apa mau kami juga bukan urusan kalian," jawab Zhang Fei dengan cepat.


"Hemm ..." orang itu mendengus dingin. Dia langsung memandang ke arahnya. Sorot matanya persis seperti seekor serigala yang ingin menelan mangsanya bulat-bulat.


"Kalau dari suara, agaknya kau paling muda di antara mereka. Tapi, mengapa mulutmu begitu berani? Apakah kau sudah bosan hidup, bocah ingusan?"


"Jangan banyak omong kosong. Kalau kalian ingin bergerak, lakukan saja sekarang," tantang anak muda itu.


"Kau kira kami takut?"


Seseorang menjawab dengan cepat. Ia juga bergerak dengan pesat.


Dalam satu kedipan mata saja, dia sudah berada di hadapan Zhang Fei. Satu pukulan keras langsung dilancarkan ke arah wajahnya. Tapi dengan sigap anak muda itu menghindarinya.


Si penyerang belum menyadari bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang hebat. Ia mengira kejadian barusan hanya kebetulan belaka.


Maka dari itu, dia mencoba melancarkan serangan susulan dengan tenaga yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Kali ini, lima pukulan beruntun diberikan secara bersamaan.


Tapi lagi-lagi, serangan itu tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Malah Zhang Fei masih mampu menghindarinya dengan cukup mudah.


"Bocah setan. Ternyata kemampuanmu lumayan juga," katanya mulai kesal.


Ia menarik langkah mundur. Orang itu melakukan persiapan sesaat, begitu siap, dia langsung menerjang kembali.


Wushh!!!


Jurus tangan kosong segera dikerahkan. Sebelum pukulannya tiba, hawa panas sudah bisa dirasakan dengan jelas oleh Zhang Fei.


Plakk!!!


Benturan terjadi. Anak muda itu menahan pukulan lawan dengan sebelah tangannya.


Sementara di pemukul terdorong mundur setengah langkah. Bukan cuma itu saja, dia bahkan merasakan lengan kanannya kesemutan. Seolah-olah ada aliran listrik di dalamnya.


Semua peristiwa barusan berjalan dengan singkat. Sehingga semua orang yang ada di ruangan itu pun tidak ada yang menyangkanya.


"Serang manusia-manusia rendahan ini!"


Dia memberikan perintah kepada sembilan orang rekannya. Begitu seruan terdengar, sepuluh bayangan manusia langsung menyerang secara serempak.


Pukulan dan tendangan berterbangan di tengah udara hampa. Hawa panas dan hawa pembunuh segera memenuhi seisi ruangan.


Zhang Fei tidak mau tinggal diam. Dia dan yang lainnya juga langsung mengambil tindakan.