Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pendekar Kumbang Hitam


"Jangan banyak bicara lagi. Aku sudah muak melihat wajahmu yang seperti orang bodoh itu," orang tersebut sudah benar-benar marah.


Begitu ucapannya selesai, dia langsung melancarkan serangannya lagi. Kali ini, ia sudah mencabut sebatang golok dari pinggang sebelah kanannya.


Bacokan golok datang bagaikan petir yang menyambar. Namun Zhang Fei kembali menghindari bacokan itu dengan mudah.


Melihat usahanya kembali menemui kegagalan, orang tersebut semakin penasaran. Dia ingin tahu, sebenarnya sampai di mana kemampuan anak muda itu sebenarnya.


Dia menyerang lebih gencar. Goloknya bergerak dengan bebas. Tetapi, hal itu tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Sebab lima jurus kemudian, tahu-tahu gerakannya berhenti.


Golok yang tadi bergerak dengan bebas, kini sudah terjepit di antara dua jemari Zhang Fei.


"Sebenarnya, secara tidak langsung aku sudah memberikan peringatan. Sayang sekali, kau kelewat bodoh sehingga tidak mengerti akan hal tersebut," katanya dengan dingin.


Clangg!!!


Golok itu langsung patah. Tanpa membuang waktu, Zhang Fei segera melemparkan kutungan golok tadi ke arahnya.


Slebb!!!


Kutungan golok menancap dengan telak di dadanya. Orang itu berteriak menahan sakit. Satu tarikan nafas berikutnya, dia langsung ambruk ke tanah dengan kondisi tidak bernyawa.


Melihat rekannya tewas hanya dalam beberapa gebrakan saja, lima orang bawahan yang lain merasa tidak terima. Begitu pula dengan pemimpinnya sendiri.


Tanpa mendapatkan perintah, mereka langsung melompat secara bersamaan. Orang-orang itu mencabut goloknya di tengah udara. Mereka kemudian mengirimkan bacokan golok dari sisi berbeda.


Melihat situasi sudah tidak bisa lagi dikendalikan, dengan segera Zhang Fei pun mencabut Pedang Raja Dewa.


Dia tidak ingin mempermainkan lawan seperti biasanya. Ia sadar, waktu yang tersisa saat ini tidak banyak. Zhang Fei harus melaksanakan tugas-tugas secepatnya.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wushh!!!


Tubuhnya langsung bergerak. Pedang pusaka itu berputar menciptakan deru angin kencang. Lima batang golok yang tadi mengarah ke tubuhnya, kini tidak bisa bergerak lebih jauh lagi.


Zhang Fei menangkis kelima senjata itu dengan mudah. Benturan nyaring terdengar beberapa kali.


Selesai dengan usaha pertama, ia segera bergerak lagi. Pedang Raja Dewa meluncur ke arah dua orang lawan. Dia mengirimkan serangan pedangnya dengan sangat cepat.


Srett!!!


Robekan kain langsung terdengar. Dua dari lima orang itu berteriak ngeri. Mereka langsung tewas ketika dadanya dirobek oleh ujung Pedang Raja Dewa.


Tiga orang sisanya mulai merasa takut. Apalagi setelah kini mereka menyadari setinggi apa kemampuan anak muda yang sedang dihadapinya.


Sementara di sisi lain, terlihat pemimpin mereka sedang memperhatikan dengan seksama. Dia sepertinya kagum dengan anak muda itu. Terhadap kematian anak buahnya, ia seakan tidak memperdulikannya sama sekali.


"Kemampuan anak muda ini sangat hebat. Sayangnya dia berada di jalan yang berbeda dengan kita," katanya memuji kehebatan Zhang Fei.


"Benar. Ilmu pedangnya juga tidak main-main. Jurus yang dia keluarkan itu adalah jurus kelas atau. Bisa kau lihat sendiri, betapa hebatnya jurus tersebut," ujar Pendekar Pedang Perpisahan.


"Ehmm ... aku setuju. Lagi pula, pedang yang dia gunakan pun bukan pedang biasa,"


"Itu adalah pedang pusaka yang mempunyai ketajaman dan kekerasan sangat tinggi. Senjata biasa pasti akan langsung patah apabila berbenturan dengan pedangnya,"


Tokoh sesat itu manggut-manggut beberapa kali. Dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Pendekar Pedang Perpisahan. Apalagi dirinya sudah melihat dengan mata kepala sendiri.


"Aku harus mendapatkan pedang itu," ia berkata lagi dengan tekad kuat.


"Dengan cara apa kau akan melakukannya?"


"Tentu saja dengan cara kekerasan,"


"Apakah kau yakin bisa mengalahkannya?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan lebih lanjut.


"Dengan adanya dirimu, aku yakin bisa mengalahkan anak muda itu,"


Pendekar Pedang Perpisahan tidak bicara lagi. Dia langsung terbungkam seribu bahasa.


Ketiganya hanya mampu bertahan. Itu pun sepertinya tidak akan berlangsung lama.


"Sekarang saatnya," tokoh sesat itu berteriak. Ia kemudian melompat tinggi dan meluncur ke arah Zhang Fei dengan cepat.


Kebetulan pada saat yang bersamaan, Ketua Dunia Persilatan sudah berhasil membereskan tiga orang sisanya. Meskipun yang tiga orang itu tidak sampai tewas, hanya saja mereka pun mengalami luka yang tidak bisa dibilang ringan.


Plakk!!!


Tokoh sesat itu mengirimkan serangan telapak tangan. Zhang Fei menggerakkan tangan kirinya dengan cepat. Benturan telapak tangan terjadi seketika.


Lawannya terdorong mundur satu langkah ke belakang. Dia memperlihatkan ekspresi terkejut.


Tidak lama setelah itu, Pendekar Pedang Perpisahan juga sudah melompat. Dia mendarat tepat di sisinya.


"Anak muda, hebat juga kemampuanmu. Aku kagum dengan ilmu pedang yang kau kuasai itu," katanya seolah-olah memberikan pujian.


"Terimakasih. Tapi aku tidak butuh pujian darimu," jawab Zhang Fei dengan singkat.


"Siapa namamu?" tanya tokoh sesat itu tidak mengindahkan jawaban Zhang Fei barusan.


"Apalah artinya nama. Bagiku, nama itu tidak begitu penting,"


Orang tua itu mengangguk-angguk beberapa kali. Dia tidak heran dengan jawaban tersebut. Apalagi dalam dunia persilatan, tidak sedikit pula para pendekar yang merahasiakan namanya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," katanya melanjutkan.


"Apa itu?"


"Maukah kau bergabung dengan kami?"


Zhang Fei mengerutkan kening. Dia pura-pura tidak mengerti. "Bergabung untuk apa?"


"Tentu saja untuk menguasai Kekaisaran Song ini," katanya dengan jujur.


"Memangnya, Tuan ini berasal dari mana?"


Sebelum menjawab, dia sempat melirik dulu ke arah Pendekar Pedang Perpisahan. Begitu mendapat anggukan kepala, ia baru berkata lagi.


"Aku berasal dari Kekaisaran Jin. Datang kemari karena mendapat perintah dari Kaisar. Kedatanganku ini, tentu saja dengan tujuan yang telah aku sebut barusan. Kalau kau mau bergabung denganku, niscaya kau akan mendapat imbalan yang besar dari Kaisar,"


Zhang Fei seolah-olah berpikir sebentar. Setelah tiga tarikan nafas kemudian, ia segera menjawab. "Terimakasih, Tuan. Tapi aku tidak ingin bergabung denganmu. Walau bagaimanapun juga, Kekaisaran Song ini adalah tanah airku. Aku tidak akan mengkhianati negeri sendiri,"


"Hahaha ..." tokoh sesat itu tertawa cukup lantang. Suara tawanya mengandung tenaga dalam yang telah disalurkan lewat gelombang suara.


Dari hal ini, Zhang Fei menilai bahwa orang itu pasti setidaknya merupakan pendekar pilih tanding.


"Bagus, bagi sekali. Aku, si Pendekar Kumbang Hitam sangat senang terhadap pemuda yang mencintai tanah airnya sendiri. Sayang sekali, pemuda sepertimu justru selalu berumur pendek," lanjut orang tua itu sambil memberitahukan julukannya.


"Oh, benarkah?"


"Tentu saja,"


"Dari mana Tuan mengetahui akan hal tersebut?"


"Karena aku sudah mengalaminya beberapa kali,"


"Untung saja aku belum mengalami hal itu,"


"Siapa bilang? Justru kau akan mengalaminya sekarang juga. Dan aku harap, kau tidak akan menyesal dengan keputusan itu,"


"Tenang saja, aku tidak akan pernah menyesalinya,"


"Bagus. Sekarang, lihat ini!"


Wushh!!!