Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mendesak Lawan


Wushh!!!


Wanita tua itu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Karena sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bermain-main, maka begitu turun tangan, dia langsung mengeluarkan pedang lemas yang merupakan senjata andalannya.


Begitu pedang tersebut keluar dari sarung, hawa dingin yang menusuk tulang pun langsung menyebar luas.


Sebelum Tuan Yi menyerang, Dewi Rambut Putih telah berhasil mendahuluinya. Berbagai macam jurus pedang yang dahsyat dan sulit menemukan tandingan sudah digelar secara sempurna.


Pria tua yang dipanggil Tuan Yi tampak terkejut begitu menyaksikan jurus yang dikeluarkan oleh Dewi Rambut Putih.


Akibatnya dia sedikit lrmgsu, sehingga hampir saja tubuhnya menjadi sambaran ujung pedang lawan. Masih untung dia bisa selamat karena buru-buru melompat ke belakang.


Andai saja ia terlambat satu atau dua tarikan nafas, niscaya darah segar akan langsung menyembur keluar dari dalam tubuhnya.


Apalagi datangnya serangan Dewi Rambut Putih saat itu benar-benar cepat dan tidak disangka.


"Hebat juga wanita tua ini. Aku harus lebih berhati-hati lagi," gumamnya sambil memandangi Datuk Dunia Persilatan tersebut.


Wushh!!!


Tuan Yi bergerak. Ia langsung mengeluarkan pedang pendek yang disimpan di pinggangnya. Karena tidak mau kalah dari lawan, ia pun segera mengeluarkan jurus pedang yang selama ini telah mengangkat namanya dalam dunia persilatan.


Adu jurus pedang seketika terjadi. Benturan nyaring terdengar memekakkan telinga. Percikan bunga api juga tampak merona di tengah kegelapan malam.


Dua pendekar pedang itu terus bertukar jurus. Pertarungan mereka berjalan dengan sengit. Kadang-kadang Dewi Rambut Putih berada di posisi menyerang. Tidak jarang pula, Tuan Yi berhasil mendesaknya.


Saat ini puluhan pasang mata sedang menyaksikan pertarungan keduanya. Masing-masing piha merasa tegang.


Sampai sejauh ini, siapa pemenang dari pertarungan itu rasanya masih sulit untuk ditentukan. Hal tersebut terjadi karena mereka tampak seimbang.


Wutt!!! Wutt!!!


Tubuh Dewi Rambut Putih bergerak ke sana kemari. Ia tampak seperti gulungan angin yang bebas berhembus ke mana saja.


Pedang lemas di tangannya masih bergerak dengan cepat. Ia terus menyerang ke titik lemah yang terdapat pada tubuh lawannya.


Tuan Yi mulai terdesak. Tapi beberapa tarikan nafas kemudian, dia terlihat kembali berada di posisi semula.


Tiba-tiba Dewi Rambut Putih melayangkan serangan secara mendadak. Pedangnya menusuk dengan cepat mengarah ke bagian jantung.


Trangg!!!


Benturan terjadi. Tuan Yi rupanya mampu menangkis serangan tersebut. Dewi Rambut Putih pun melompat mundur sejauh tujuh langkah.


Ia lalu diam sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Jadi itu titik lemahnya, ya," gumam wanita tua itu sambil melemparkan senyuman luas.


Wushh!!!


Dia kembali bergerak. Kali ini, Dewi Rambut Putih sudah mengeluarkan jurus Pedang Inti Es yang menjadi jurus andalannya selama ini.


Hawa dingin tiba-tiba menyebar lebih luas dan lebih terasa dari sebelumnya. Setelah dia mengeluarkan jurus tersebut, Tuan Yi langsung terlihat kaget setengah mati.


Matanya melotot besar. Ia berdiri mematung di tempatnya seolah-olah terkesima melihat gerakan dari jurus tersebut.


Wutt!!! Srett!!! Srett!!!


Dewi Rambut Putih tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Melihat pihak lawan mulai terkena ilusi dari jurusnya, dia segera mencecarnya dengan tebasan pedang yang datang tidak pernah berhenti.


Darah segar segera keluar cukup deras. Wajah orang tua itu terlihat pucat pasi. Ia baru menyadari posisinya setelah darah yang keluar mulai membasahi seluruh tubuh.


"Tuan Yi, minggir!" sebuah seruan keras tiba-tiba terdengar.


Begitu diperhatikan, ternyata sosok tersebut bukan lain adalah Tang San adanya.


Untuk sesaat ia tampak memperhatikan gerakan Dewi Rambut Putih. Setelah satu tarikan nafas kemudian, dia langsung menyerang dengan ganas.


Benturan antara dua batang senjata kembali terjadi. Tapi kali ini, tokoh yang terlibat dalam pertarungan itu tidak berhenti. Mereka terus melanjutkan usahanya dengan cara masing-masing.


Dewi Rambut Putih masih menggelegar jurus Pedang Inti Es. Di awal pertarungan, dia masih bisa mendesak pihak lawan. Tapi setelah berjalan selama dua puluh jurus, posisi wanita tua itu mulai terancam.


Tang San mulai mendesaknya dengan jurus-jurus yang sulit dibaca. Dia pun sesekali melancarkan tendangan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian lawan.


Bukk!!!


Salah satu tendangan yang ia berikan akhirnya berhasil mengenai tulang rusuk Dewi Rambut Putih. Wanita tua itu langsung terlempar ke samping dan sempat bergulingan di tanah sebanyak tiga kali.


Tang San tidak ingin menunggu lebih lama. Pada saat menyaksikan Dewi Rambut Putih yang tidak berdaya, buru-buru dia melompat ke arahnya dan bersiap untuk mengakhiri pertarungan tersebut.


Namun siapa sangka, tepat sebelum ia tiba di dekat Dewi Rambut Putih, tiba-tiba satu bayangan lain kembali berkelebat.


Plakk!!!


Tangan kanannya terpelanting keras. Seseorang telah memukul tangan itu dengan dorongan tenaga dalam. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Untunglah Tang San bisa segera menyeimbangkan diri, sehingga posisinya bisa kembali sempurna.


"Kau pikir hanya dirimu saja yang boleh mengganggu pertarungan orang lain?" Orang Tua Aneh Tionggoan berkata dengan nada dingin.


Dia terlihat sangat muak terhadap orang di depannya tersebut.


"Tua bangka, jangan ikut campur. Lebih baik kau pulang saja," ucap Tang San sambil tersenyum mengejek.


"Hehehe ... benar-benar orang yang sombong. Aku jadi ingin tahu sampai manakah kemampuanmu yang sebenarnya,"


"Kau yakin mampu mengalahkan aku?" Tang San menarik muka. Dari setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, siapa pun tahu bahwa saat itu ia sedang merendahkan Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Kau ingin aku membuktikannya?" tanya orang tua itu sambil berusaha untuk bersikap tenang.


"Kalau memang kau mampu, cobalah,"


"Baik, terima ini,"


Wushh!!!


Orang Tua Aneh Tionggoan langsung melancarkan serangan pertamanya. Dia memberikan serangkaian pukulan keras yang mengandung tenaga sakti tingkat tinggi.


Rangkaian pukulan itu bukan jurus biasa. Itu adalah salah satu jurus yang selama ini dia andalkan.


Semakin lama dia menyerang, maka semakin dahsyat pula serangan dan tenaga yang terkandung di dalamnya.


Tang San mulai terpojok. Dia tidak bisa lagi mempertahankan posisi sebelumnya. Selama belakangan ini, ia hanya mampu menghindari setiap serangan yang datang.


Dia sudah tidak berani lagi menangkis serangan itu secara langsung. Pasalnya karena setiap kali terjadi benturan, maka dia akan merasa tangannya sakit dan pegal yang luar biasa.


Seumur hidup, baru kali ini dia menemukan lawan setangguh Orang Tua Aneh Tionggoan.


Walaupun senjatanya masih digenggam di tangan, tapi ternyata senjata itu tidak mampu memberikan banyak bantuan.


Lima belas jurus sudah berlalu kembali. Selama itu, Tang San selalu berada di posisi terdesak. Dia terus diserang dengan jurus yang bervariasi.


Seluruh tubuhnya telah menjadi bulan-bulanan Orang Tua Aneh Tionggoan. Sehingga tanpa ia sadari, luka lebam dan luka dalam yang cukup parah sudah tercipta.


Sekitar lima jurus kemudian, sebuah pukulan keras tahu-tahu mendarat tepat di dadanya. Dia terlempar jauh ke belakang.


Untung pada saat itu ada seseorang yang bergerak cepat untuk menahan luncuran tubuhnya. Kalau tidak, mungkin tubuh Tang San akan berhenti meluncur setelah menubruk pohon berukuran besar.