
"Sebelum aku tiba di desa sebelumnya, apakah kau sudah lebih dulu tiba di sana?"
"Ya," pria bercadar hitam itu mengangguk membenarkan. "Setelah aku tahu ke mana tujuan Ketua Fei, aku sudah lebih dulu di sana,"
"Apa yang kau lakukan setelahnya?"
"Yang pasti, aku memeriksa tempat-tempat yang mungkin akan didatangi oleh Ketua,"
Tujuan orang tersebut jelas! Dia berusaha untuk memastikan keselamatan Zhang Fei. Maka dari itu, sebelum dirinya riba, dia sudah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
"Apakah kau menemukan kecurigaan?"
"Aku tidak menemukan apapun, Ketua. Semuanya baik-baik saja,"
"Hemm ..." Zhang Fei mendehem. Dia segera berpikir beberapa saat. Setelah itu, ia mengeluarkan robekan kain yang didapat dari hasil penyelidikan tadi. "Kau tahu lambang ini?" tanyanya sambil menyimpan robekan kain itu di atas meja.
"Itu adalah lambang Partai Iblis Sesat," katanya menjawab cepat. "Dari mana Ketua mendapatkannya?"
"Aku mendapatkannya dari rumah paling besar di desa tadi. Ini merupakan hasil penyelidikanku,"
Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei segera menceritakan apa yang dia lakukan sebelumnya. Orang itu mendengarkan dengan seksama. Ia terlihat serius memperhatikan Zhang Fei.
"Aneh ..." katanya bergumam keheranan.
"Apanya yang aneh?" tanya Zhang Fei yang sama merasa penasaran.
"Aku rasa, di desa tadi tidak ada markas cabang dari Partai Iblis Sesat. Bahkan di sana tidak ada cabang partai mana pun, kecuali hanya satu,"
"Partai apa itu?"
"Itu adalah cabang Partai Pengemis,"
"Kau yakin di sana hanya ada markas scabang Partai Pengemis?"
"Sangat yakin, Ketua. Apalagi, aku sudah mendapatkan informasi tentangnya dari mata-mata yang lain,"
"Hemm ... berapa orang mata-mata yang mengikutiku dalam perjalanan ini?" tanyanya lebih jauh.
"Sekitar tiga orang, Ketua,"
"Apakah termasuk juga dirimu?"
"Benar," pria bercadar hitam yang ternyata adalah seorang mata-mata Ketua Dunia Persilatan itu kembali menganggukkan kepalanya.
"Lalu, ke mana dua orang lagi? Apakah kalian sengaja berpisah?"
Zhang Fei terus bertanya lebih lanjut. Alasannya adalah karena dia merasa curiga. Entah kenapa, tapi firasatnya mengatakan bahwa semua yang terjadi ini tidak sesederhana yang terlihat oleh mata kepalanya sendiri.
"Aku rasa tidak, Ketua. Ketika tiba di desa sebelumnya, kami selalu bersama. Kalau pun berpisah, itu juga masih dalam jarak jangkauan. Memangnya, kenapa Ketua menanyakan hal ini?"
Mata-mata itu juga merasa heran. Karena tidak biasanya Zhang Fei bertanya lebih jauh tentang mereka. Dalam hati, dia pun sudah merasa curiga. Hanya saja dia tidak tahu atas dasar apa kecurigaan tersebut.
"Aku merasa ada yang aneh,"
"Anehnya?"
Zhang Fei meminum arak di dalam caranya. Ia minum sebanyak empat kali. Setelah itu, dia berkata lagi, "Kalau benar kalian tidak berpisah dalam jarak yang begitu jauh, seharusnya semua mata-mata bisa mendengar panggilanku tadi. Tetapi ternyata, yang datang menghadap justru hanya kau seorang. Bukankah ini sedikit aneh?"
Zhang Fei menatap pria di hadapannya lekat-lekat.
Perlu diketahui, suitan tadi merupakan panggilan khusus yang sengaja dia buat untuk memanggil mata-mata Gedung Ketua Dunia yang selalu melindunginya dari jarak tertentu.
Dengan pengerahan tenaga dalam yang besar, seharusnya tiga orang mata-mata itu segera langsung menghadap ketika mendengarnya.
Tapi, mengapa yang datang hanya satu orang? Ke mana dua orangnya lagi?
Diam-diam, Ketua Dunia Persilatan semakin yakin bahwa sesuatu telah menimpa mereka.
Karena pada dasarnya, suitan tadi bisa dibilang merupakan panggilan wajib bagi seorang mata-mata. Apapun yang terjadi, meskipun sedang dalam keadaan genting, mereka harus segera datang secepatnya.
Mustahil kalau mereka tidak mendengar. Apalagi, setiap mata-mata sudah diatur bahwa mereka harus mengintai dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Apa yang dikatakan oleh Ketua itu ada benarnya. Sekarang, aku semakin yakin bahwa hal buruk pasti sudah menimpa keduanya," kata mata-mata itu menegaskan.
"Kalau begitu, pergi dan cari di mana mereka sekarang. Jika kau sudah bisa menemukannya, panggil aku dengan kode yang sudah dibuat," ucap Zhang Fei memberi perintah tegas.
"Baik, Ketua. Sekarang juga aku berangkat,"
Mata-mata itu langsung bangkit berdiri. Dalam waktu tiga tarikan nafas saja, dia sudah pergi dari warung arak tersebut.
Zhang Fei menghembuskan nafas berat setelah kepergiannya. Ia bergumam sendiri, "Semakin lama, situasinya benar-benar semakin tidak terkendali,"
Pikirannya langsung bercabang. Berbagai macam hal yang terkait dengan keamanan negerinya segera bermunculan di kepala.
Meskipun semuanya sudah menemui titik terang, tetapi rupanya masih ada saja hal-hal yang terjadi diluar dugaan.
Inilah yang menjadi salah satu faktor utamanya! Hal ini juga yang selalu membuatnya repot.
"Daripada menghadapi beberapa pihak seperti ini, kalau disuruh memilih, lebih baik aku menghadapi satu pihak yang tangguh sekalian,"
Menghadapi beberapa pihak itu baginya sangat merepotkan sekali. Sebab setiap pihak yang ada, pasti mempunyai tujuan dan rencana yang berbeda-beda.
Lain lagi dengan menghadapi satu pihak. Tujuan mereka hanya satu. Rencananya juga tidak terlalu banyak perbedaan.
Setangguh-tangguhnya musuh, kalau hanya satu, pasti jalan keluarnya bisa ditemukan dengan cukup mudah.
"Hahh ... benar-benar merepotkan," gumamnya sembari menghembuskan nafas.
Beberapa saat kemudian, Zhang Fei segera keluar dari warung arak tersebut. Dia langsung pergi dengan menunggangi kudanya menuju ke perbatasan desa.
Zhang Fei berhenti tepat di bawah pohon besar. Ia turun dari punggung kuda dan segera duduk di sana. Sembari menunggu hasil dari mata-mata tadi, dirinya memilih untuk menikmati malam yang sepi sunyi itu.
Cuaca malam ini terhitung cerah. Di langit, rembulan bersinar hampir secara sempurna. Cahaya kuning keemasan yang menyapu alam mayapada itu terasa dingin menusuk tulang. Seperti juga udaranya.
Bintang-bintang bertaburan. Di ufuk sebelah timur, di sana terlihat ada sebuah bintang yang paling terang.
Melihat Bintang Timur itu, tiba-tiba Zhang Fei menjadi teringat kepada Yao Mei. Sekilas pandang, bola mata gadis cantik itu juga sangat mirip dengan Bintang Timur tersebut.
Terang dan menenangkan.
"Nona Mei, di mana kau sekarang? Apakah kau masih hidup?" tanpa sadar dia bergumam sendiri.
Entah kenapa, terkadang Zhang Fei merindukan Yao Mei secara tiba-tiba. Dia sendiri tidak tahu apa alasannya.
Namun yang pasti, dia yakin bahwa semua itu menyangkut dengan perasaan hatinya!
Yang jadi pertanyaannya, apakah Yao Mei juga seperti itu? Apakah sesekali, gadis cantik tersebut juga merindukannya?
Zhang Fei tidak tahu!
Ia hanya tahu bahwa secara tiba-tiba, di sebelah utara sana terdengar ada suitan yang berbunyi sebanyak dua kali.
Dengan cepat dia langsung menaiki kudanya dan pergi ke arah asal suitan tadi. Hanya beberapa saat saja, Zhang Fei sudah berhasil tiba di lokasi.
Rupanya, mata-mata tadi sudah ada di tempat tersebut. Ia sedang berdiri tegak sambil memandang ke arahnya. Di sisinya, ada dua orang manusia terlentang yang sudah tidak bergerak lagi.