Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Keadaan Aneh di Warung Arak


Hawa amarah dalam benaknya kembali tersulut. Zhang Fei merasakan tubuhnya terasa sangat panas. Panas seperti dibakar api.


Wutt!!! Blarr!!!


Dalam keadaan yang sudah tidak stabil itu, tanpa sadar dirinya melepaskan pukulan jarak yang ke arah sebatang pohon. Pohon yang menjadi sasarannya berukuran cukup besar.


Namun begitu pukulan tersebut mengenainya, tiba-tiba sebuah ledakan besar terdengar. Pohon besar itu langsung hancur berkeping-keping. Serpihan kayu berterbangan terbawa hembusan angin.


Untuk beberapa saat, Zhang Fei tidak melakukan gerakan apapun lagi. Dia tetap diam memandangi wajah Yu Yuan yang pucat pasi.


Kematian gadis cantik itu sepertinya membawa perasaan ngeri. Hal tersebut bisa dilihat dari raut mukanya.


Entah sudah berapa lama waktu yang terlewatkan. Hanya saja begitu Zhang Fei merasa mulai tenang, dengan segera dirinya membuat lubang kuburan bagi Yu Yuan.


Setelah berhasil membuatnya, dengan cepat ia menguburkan jasad gadis tersebut.


"Nona Yuan, beristirahatlah dengan tenang. Kalau aku sudah mengetahui siapa orang yang telah membuat dirimu tewas, aku bersumpah akan membalaskan dendam ini,"


Zhang Fei berkata di depan kuburan Yu Yuan. Meskipun suaranya perlahan, tapi nada bicaranya terdengar sangat tegas. Tegas dan penuh wibawa.


Kalau di sana ada orang lain yang dapat mendengar ucapannya, niscaya orang itu akan merasakan keseriusan dalam ucapannya barusan.


Beberapa saat kemudian, ia mulai bangkit berdiri. Rasa lapar yang tadi dirasakan, sekarang telah hilang begitu saja.


Semua perasaan yang sempat timbul dalam benaknya, kini telah digantikan dengan amarah yang tidak bisa ditahan lagi!


Wushh!!!


Ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kembali. Hanya dalam waktu singkat, Zhang Fei sudah berada jauh dari jarak semula.


Tujuannya sekarang adalah mencari petunjuk terkait kematian Yu Yuan. Dia masih ingat, ketika bicara tadi, gadis itu menunjuk ke satu arah.


Jari telunjuk tersebut mengarah ke pemukiman warga. Merasa yakin dengan hal itu, maka dengan cepat saja ia melesat ke sana.


Sekitar lima menit kemudian, Zhang Fei sudah tiba di tempat tujuannya. Perkampungan itu lumayan besar, banyak para warga yang berlalu-lalang hilir mudik. Tidak hanya itu saja, bahkan di sana pun terdapat pasar kecil.


Karena ia telah kehilangan petunjuk, maka Zhang Fei kemudian memutuskan untuk mencari sebuah warung arak. Kebetulan, tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang terdapat warung arak yang ramai dikunjungi orang.


Tidak mau membuang waktu lebih lama, buru-buru dia masuk ke sana.


"Pesan arak dua guci," katanya kepada pemilik warung.


Setelah memesan minuman, dia lalu duduk di satu kursi yang masih kosong. Di depannya ada seorang pria yang berusia sekitar empat puluhan tahun.


Suasana dalam warung arak lumayan ramai. Ada sekitar sepuluh orang pengunjung yang sedang minum bersama kawan-kawannya.


Zhang Fei mengawasi seluru meja. Tiba-tiba saja ia mendapati keganjilan.


'Aneh, mengapa orang-orang ini seperti tidak mempunyai selera minum? Apakah di sini telah terjadi sesuatu?'


Zhang Fei bertanya-tanya dalam hatinya. Meskipun bagi orang lain mungkin hal ini biasa, namun baginya justru sangat aneh.


Ia adalah setan arak. Setiap singgah di sebuah tempat, dirinya pasti akan mampir di warung arak. Dan dari setiap tempat itu, Zhang Fei mendapati satu persamaan.


Apabila ada banyak orang minum arak di sebuah tempat, pasti mereka akan berisik. Entah itu hanya bercanda dan tertawa terbahak-bahak, atau bahkan bercerita tentang banyak hal. Semua itu adalah pemandangan yang sudah biasa ia temukan.


Tapi, mengapa hal-hal semacam itu tidak dia ditemukan di warung arak ini? Bukankah ini adalah suatu hal yang sangat aneh?


Ia terus memandang berkeliling. Semakin lama, makin terlihat jelas pula raut wajah orang-orang itu. Setiap wajah mereka jelas menggambarkan kengerian yang sulit dibayangkan.


Lebih daripada itu, Zhang Fei juga menemukan satu hal baru.


Sementara itu, pemilik warung telah datang ke mejanya sambil membawa nampan berisikan guci arak. Setelah membuka segel arak dan minum beberapa kali, ia berniat untuk bertanya kepada pria tua yang duduk di hadapannya.


"Paman, maaf, bolehkah aku bertanya?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum ramah.


"Oh, boleh, silahkan. Apa yang ingin kau tanyakan, anak muda?" tanya balik pria tua itu setelah ia selesai minum araknya sendiri.


"Sebelumnya perkenalkan, aku yang muda ini bermarga Zhang dengan nama Fei," katanya memperkenalkan diri.


"Kalau aku, panggil saja Paman Yan,"


"Baiklah, Paman Yan," Zhang Fei menganggukkan kepala. Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh. "Paman Yan, apakah kau berasal dari dunia persilatan?"


"Begitulah," orang tua yang ingin dipanggil Paman Yan itu tertawa ringan. "Aku rasa kita berasal dari dunia yang sama,"


Kedua orang tersebut tertawa. Setelah mengetahui asal masing-masing, mereka lalu bersulang arak. Hal ini dilakukan supaya hubungan di antara keduanya menjadi lebih akrab lagi.


"Paman Yan, aku merasa ada yang aneh di warung arak ini,"


"Benarkah? Apa itu?" Paman Yang berlagak seolah dia tidak mengerti arah bicara Zhang Fei.


"Yang aku tahu, biasanya dalam warung arak itu selalu ramai. Tapi, mengapa di tempat ini sangat sepi?"


"Memangnya kenapa? Bukankah hal ini biasa saja?"


"Tidak, tidak," Zhang Fei menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku rasa Paman Yan juga sudah mengerti ke mana arah bicaraku,"


Orang tua itu tidak berkata. Dia hanya menganggukkan kepala saja.


"Kalau boleh tahu, mengapa di warung arak ini sangat sepi? Sesuatu apa yang sebenarnya telah terjadi?"


Paman Yan menghela nafas. Setelah beberapa saat kemudian, dia baru menjawab pertanyaan Zhang Fei.


"Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Adik Fei memang tidak salah. Di tempat ini sempat terjadi sesuatu," kata Paman Yan dengan perlahan.


"Di dalam warung arak ini?"


"Tidak," ujarnya menggeleng. "Peristiwa itu terjadi di halaman depan sana," ia menunjuk ke halaman depan warung arak.


"Oh?" Zhang Fei cukup terkejut. Kalau begitu kebenarannya, maka tidak heran apabila keadaan di dalam warung arak itu sepi hening seperti tidak ada orang.


"Apa yang telah terjadi, Paman Yan?"


"Sebuah pertarungan telah terjadi,"


"Pertarungan? Siapa saja yang terlibat dalam pertarungan itu?"


"Aku tidak tahu dengan pasti. Hanya saja pertarungan tersebut melibatkan dua orang pendekar wanita,"


Degg!!!


Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Zhang Fei mulai merasakan gejolak di dalam tubuhnya. Tapi dengan cepat ia berusaha menekan perasaan tersebut.


"Apakah dua pendekar wanita itu masih muda?"


"Benar," jawab Paman Yang. "Usia keduanya mungkin tidak berbeda jauh denganmu, Adik Fei,"


"Ah ..." Zhang Fei mengeluh tertahan. Ia diam untuk beberapa saat. Setelah berhasil menenangkan diri, ia mulai berbicara lagi dan menyebutkan ciri-ciri Yu Yuan dan Yin Yin.


"Benar, benar sekali, Adik Fei. Kedua pendekar wanita itu memang mempunyai ciri-ciri yang kau sebut barusan,"