
Kaisar berhenti sebentar, dia minum arak sebanyak tiga kali, setelah itu baru melanjutkan lagi.
"Kalau kau bertanya apa yang boleh dilakukan oleh Ketua Dunia Persilatan, maka aku jawab, apapun boleh. Bahkan jika dirimu ingin meruntuhkan gunung atau langit pun, selama itu demi keamanan dunia persilatan, aku rasa hal tersebut tidak ada salahnya,"
"Yang terpenting adalah keamanan dunia persilatan benar-benar terjamin. Tetapi apabila kondisi negara kita sedang berada di posisi sekarang, maka ceritanya lain lagi. Mau tidak mau, kau sangat wajib membantu negara untuk mengembalikan kedamaiannya,"
Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Pengetahuannya tentang jabatan tersebut semakin bertambah lagi.
"Apakah kau sudah mulai paham?" tanya Kaisar lagi.
"Ya, aku sudah paham sekarang,"
"Bagus. Selebihnya bisa kau bertanya kepada Empat Datuk Dunia Persilatan, mereka akan membantumu,"
Tanpa banyak bicara, Zhang Fei segera menoleh ke arah mereka. Sebelum dia mengajukan pertanyaan, Dewa Arak Tanpa Bayangan malah sudah berbicara lebih dulu.
"Keuntungan yang paling utama bagi Ketua Dunia Persilatan adalah dia bisa mempelajari semua ilmu dari berbagai partai dan aliran. Kitab-kitab pusaka yang terdapat di Perpustakaan Gedung Ketua Dunia Persilatan, semuanya bisa kau pelajari. Selama kau merasa mampu untuk menguasainya, maka lakukanlah," katanya memberitahu.
"Benarkah? Wah, kalau begitu aku bisa terus berlatih," kata Zhang Fei berseru kegirangan.
Dia adalah anak muda yang sudah 'gila' akan ilmu bela diri. Tentu saja dirinya sangat senang ketika mendengar hal tersebut.
Zhang Fei baru mengetahui akan hal ini. Jadi wajar kalau dia kaget bercampur gembira.
"Tentu saja itu benar, anak Fei," kata Orang Tua Aneh Tionggoan menyambung bicara. "Itu adalah salah satu alasan mengapa banyak sekali orang yang ingin menjadi Ketua Dunia Persilatan. Karena itu pula, sejak dulu, tidak sembarangan orang bisa menduduki posisi Ketua. Bayangkan saja, kalau Ketua Dunia Persilatan itu berasal dari aliran hitam, apa jadinya dunia ini?"
"Benar juga, ya," Zhang Fei setuju dengan ucapan orang tua itu.
Kalau saja Ketua Dunia Persilatan berasal dari golongan sesat, bisa dipastikan dia akan berlalu seenaknya. Bukan hal mustahil pula kalau dirinya akan merebut jabatan Kaisar.
Dengan kekuatan yang ada, dengan ilmu silat terhebat yang tersedia, memangnya apa yang tidak bisa dia lakukan?
Di zaman ini, yang terkuat adalah pemenangnya. Kekuatan itu adalah sumber dari segalanya!
"Dengan bakat dan kecerdasan yang kau miliki, aku rasa kau bisa jauh lebih hebat dari mendiang Ketua Beng Liong, anak Fei," sahut Dewi Rambut Putih. "Asal kau tahu saja, di Perpustakaan Gedung Ketua Dunia Persilatan itu terdapat semua kitab pusaka,"
"Kalau begitu, apakah Kitab Dewa Pedang warisan keluargaku, juga tersedia di Perpustakaan Gedung Ketua Dunia Persilatan?" tanyanya semakin penasaran.
"Soal ini aku kurang tahu. Tetapi kalau kitab yang kau pelajari dulu belum sempurna, aku rasa sebagiannya memang ada di sana,"
Raut wajah Zhang Fei semakin cerah setelah mendengarnya. Dia sangat berharap di sana masih ada kitab-kitab pusaka lain yang merupakan warisan dari keluarganya.
"Setelah mendengar penjelasan dari semuanya, apakah sekarang kau menyesal menjadi Ketua Dunia Persilatan?" tanya Pendekar Tombak Angin yang sejak tadi menutup mulut.
"Tentu saja aku tidak menyesal, Tuan Cao," jawab Zhang Fei sambil tersenyum penuh makna.
"Cih! Dulu saja kau berusaha menolak jabatan ini," katanya sambil mencibir.
"Itu ... itu karena aku belum tahu semuanya," Zhang Fei berkata sambil menggaruk kepala dan tersenyum getir.
"Sudah, sudah. Sekarang kita fokus saja kepada kinerjanya," tukas Kaisar menengahi keduanya.
Enam orang tersebut kembali bicara serius. Mereka membahas beberapa hal. Salah satunya adalah membahas keadaan Kekaisaran Song dan bagaimana cara menghadapi serangan-serangan dari pihak luar.
Pertemuan tersebut selesai setelah kentongan ketiga dibunyikan di kejauhan sana.
Tiga hari kemudian, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan meminta pamit undur diri kepada Kaisar. Mereka berniat untuk pergi ke Gedung Ketua Dunia Persilatan dan mulai menjelaskan tugasnya sebagai Ketua.
Kaisar Song Kwi Bun mengantar kepergian lima tokoh rimba hijau itu sampai di pintu halaman depan.
"Ketua, kalau kau memerlukan bantuan, katakan saja. Aku pasti akan membantumu dengan segera," katanya kepada Zhang Fei.
"Baik, Kaisar. Aku pasti akan memberikan laporan kalau membutuhkan bantuan,"
"Baik. Aku percaya,"
Mereka kemudian memberikan hormat kepada Kaisar. Setelah itu segera berjalan ke tengah-tengah halaman.
Di sana sudah ada lima orang pegawai Istana Kekaisaran yang sedang berdiri sambil memegangi kuda jempolan.
Sebenarnya Kaisar ingin mengantarkan Zhang Fei menggunakan kereta kuda yang mewah. Akan tetapi dia menolaknya dengan alasan ingin sekalian mengontrol beberapa titik yang diduga belakangan ini sering menjadi arena pertempuran.
Karena dia sudah bersikeras, maka Kaisar pun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sekarang, Zhang Fei dan yang lain sudah mulai melarikan kuda masing-masing. Para prajurit Istana Kekaisaran tampak memberikan hormat pada saat mereka lewat di depannya.
Saat waktu masuk siang, tanpa terasa kelimanya sudah berada cukup jauh dari Istana Kekaisaran.
Sekarang mereka sedang melarikan kuda di sebuah jalan raya sepi di belakang kota besar. Jalanan tersebut berdebu, setiap tapak kaki kuda selalu mengepulkan debu tinggi ke atas langit.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah perbatasan antar kota. Kebetulan saat itu, di depan sana terlihat ada belasan kereta kuda petani yang sedang antri.
Mereka sedang menunggu giliran pemeriksaan yang dilakukan oleh para penjaga.
Dari atas kuda, Zhang Fei mengawasi lekat-lekat wajah para petani itu. Dia cukup terkejut setelah menyadari adanya keganjilan.
"Kita harus ke sana," ucapnya kepada yang lain.
Tanpa menunggu jawaban, Zhang Fei langsung melarikan kudanya menuju ke gerbang perbatasan tersebut.
Melihat kedatangannya, dua orang penjaga itu langsung memandangi Zhang Fei dengan lekat.
"Beliau adalah Ketua Dunia Persilatan, mengapa kalian tidak memberikan hormat dan ucapan selamat kepadanya?" Orang Tua Aneh Tionggoan bicara dengan nada hambar. Dua orang penjaga terkejut, namun mereka buru-buru melakukan apa yang diperintahkan.
"Terimakasih, Paman berdua. Silahkan berdiri lagi," kata Zhang Fei sambil tersenyum hangat. Setelah kedua penjaga kembali berdiri tegak, dia segera mengajukan pertanyaan.
"Siapa mereka ini?" tanyanya sambil menoleh ke arah belasan petani tersebut.
"Mereka adalah para petani dari kota sebelah, Ketua. Orang-orang ini mengatakan ingin menjual hasil sawah ladangnya di sini," jawab salah satu penjaga.
"Lalu, mengapa pemeriksaan mereka seidkit lebih lama daripada yang lainnya?"
"Itu karena para petani ini tidak mau menunjukkan kartu identitasnya. Mereka hanya bisa menjawab, tanpa memberikan bukti,"
"Hei, apakah itu masih kurang? Kami sudah menjawab setiap pertanyaan yang kalian ajukan, tapi mengapa kalian masih mempersulit kami?" salah seorang petani merasa tidak terima.
Sembari berkata demikian, dia juga melompat turun dari kereta kuda miliknya.