Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sambutan


Benturan jurus kelas atas terjadi. Kedua orang yang terlibat di dalamnya langsung terdorong mundur ke belakang. Tangan mereka terasa kesemutan setelah benturan berlangsung.


Melihat dua orang rekannya sudah menyerang, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Dewi Rambut Putih tidak bisa tinggal diam lagi.


Mereka juga ikut menerjang ke depan secara bersamaan. Keduanya tidak memperdulikan posisi atau bahkan keselamatan Zhang Fei.


Dua orang tokoh besar tersebut menyerang seolah-olah mereka sedang menghadapi musuh-musuhnya. Serangan yang datang bagaikan uluran tangan Malaikat Maut.


Kalau tidak waspada dan kurang perhatian, bukan mustahil nyawa sendiri yang akan menjadi jaminannya.


Zhang Fei sendiri sangat menyadari akan hal tersebut. Walaupun Empat Datuk Dunia Persilatan tidak menyerang dengan segenap tenaga dan kemampuan, tapi dia tahu akibat macam apa yang bisa ditimbulkan dari setiap serangan itu.


Peristiwa seperti ini sangat mirip dengan kejadian ketika dia baru saja selesai berlatih sekaligus akan menghadapi ujian kemampuan di Istana Kekaisaran.


Bedanya, serangan keempat orang tokoh tua yang sekarang, jauh lebih hebat daripada sebelumnya.


Pertarungan sengit terus berlangsung di depan goa itu. Empat Datuk Dunia Persilatan masih gencar dalam menjalankan usahanya. Mereka menyerang Zhang Fei secara bergantian.


Setiap saat adalah detik-detik penentuan. Kalau Zhang Fei melakukan sedikit kesalahan, bisa dipastikan nyawanya akan terancam.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, mereka sudah bertarung selama hampir lima puluh jurus. Beberapa saat berikutnya, sebuah ledakan besar akibat benturan jurus kembali terdengar.


Lima bayangan tubuh manusia terpental ke belakang. Mereka kembali ke tempatnya masing-masing.


"Hahaha ... kemajuanmu ternyata sangat pesat, anak Fei," Dewa Arak Tanpa Bayangan tertawa lantang. Dia adalah orang yang pertama kali bicara.


"Tidak sia-sia kau berlatih selama dua tahun. Kagum, kagum sekali," puji Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Sekarang bahkan kau mampu menangkis jurus Pedang Inti Es milikku," kata Dewi Rambut Putih sambil tersenyum bangga.


"Ketua Fei memang tidak mengecewakan," orang yang terakhir bicara itu adalah Pendekar Tombak Angin.


Dia juga tertawa lantang karena saking senangnya dengan kemajuan Zhang Fei.


Suasana di sana langsung hangat. Keakraban di antara mereka segera terasa begitu kental.


"Terimakasih, aku benar-benar banyak berhutang budi kepada kalian. Kalau saja tidak ada kalian orang tua di sisiku, mungkin aku tidak akan berada di posisi sekarang," kata Zhang Fei sungguh-sungguh. Dia membungkukkan badan lalu memberikan hormat kepada mereka.


Penghormatan itu sangat tulus. Setulus kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.


Zhang Fei sadar, kalau Empat Datuk Dunia Persilatan tidak ada di sisinya, dia tidak mungkin berada di posisi sekarang. Semua pencapaian yang berhasil diraih olehnya, sedikit banyak juga akibat bantuan mereka.


Maka dari itu, hutang budinya kepada mereka sudah tidak bisa diperhitungkan lagi.


"Hahaha ... jangan terlalu banyak membual. Mari, kita kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan sekarang juga," ajak Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Mari,"


Kelima tokoh rimba hijau itu langsung berjalan menuju ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Sepanjang jalan, mereka terus bercanda tawa.


Begitu tiba di tempat tujuan, Zhang Fei segera merasakan sambutan yang begitu hangat dari para penghuni gedung. Suasana langsung meriah.


Bahkan Zhang Fei juga merasa terharu karena hal tersebut.


Mereka kemudian masuk ke dalam. Di sana juga terlihat ada orang-orang Gedung Ketua Dunia Persilatan yang sudah siap menyambutnya.


Sambutan yang diberikan oleh mereka tidak terhitung mewah. Tapi rasanya hal itu sudah lebih daripada cukup.


Orang-orang tersebut lalu melangsungkan makan dan minum arak arak bersama. Acara penyambutan tersebut baru selesai setelah hari mulai masuk sore.


Saat rangkaian acara benar-benar rampung, Empat Datuk Dunia Persilatan segera mengajak Zhang Fei ke ruang pribadinya.


Zhang Fei mendengar semua cerita itu dengan seksama. Dia tidak memotong bicara tokoh rimba hijau tersebut.


Suasana di dalam ruangan hening, yang terdengar hanya suara Dewa Arak Tanpa Bayangan saja.


Setelah beberapa saat kemudian, orang tua itu telah selesai bercerita. Dia langsung minum arak untuk menghilangkan dahaga di kerongkongannya.


"Syukurlah kalau semaunya mulai terkendali. Sekali lagi, aku sangat berterimakasih kepada kalian semua," ucap Zhang Fei sungguh-sungguh.


"Anak Fei, dari cerita barusan, ada satu hal paling penting yang belum disampaikan kepadamu," kata Orang Tua Aneh Tionggoan secara tiba-tiba.


"Hal penting apa itu, Tuan Kai?"


"Dari minggu yang lalu, Pendekar Pedang Perpisahan telah datang kemari,"


"Apa? Dia datang kemari?" Zhang Fei langsung terlihat kaget setelah mendengar laporan barusan.


"Benar," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan menganggukkan kepala.


"Apa yang dia inginkan?"


"Dia ingin bertemu denganmu, anak Fei," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan. "Katanya ada hutang dan janji yang akan ditagih kepadamu,"


Zhang Fei berpikir sebentar. Dia sedang memikirkan maksud dari kata-kata Pendekar Pedang Perpisahan.


"Ah, aku tahu," seru anak muda itu. "Mungkin dia akan menagih janji lama di antara kita. Singkatnya, Pendekar Pedang Perpisahan ingin berduel kembali denganku,"


Dia masih ingat tentang pertarungan sekaligus kata-kata Pendekar Pedang Perpisahan ketika berada di Rawa Iblis beberapa waktu yang lalu.


Zhang Fei yakin, kedatangan orang tua itu ke Gedung Ketua Dunia Persilatan, pasti menyangkut persoalan tersebut.


"Kalau benar hal itu yang dia inginkan, apa yang akan kau lakukan nanti?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap tajam ke arahnya.


"Aku akan menerima tantangannya!" jawab Zhang Fei sepatah demi sepatah.


"Apakah kau serius?"


"Ya, aku serius, Tuan Kiang,"


"Kau yakin mampu mengalahkannya? Bukankah kau juga tahu, apa kedudukan Pendekar Pedang Perpisahan dalam dunia persilatan?"


"Jujur saja, keyakinanku belum seratus persen," jawab Zhang Fei dengan serius. "Tapi, aku rasa itu pun sudah lebih daripada cukup,"


Walaupun dulu dia hampir mati di tangan datuk sesat itu, tapi sekarang Zhang Fei sudah mempunyai sedikit keyakinan apabila bertarung lagi dengannya.


"Ya, aku tahu posisinya. Tapi jangan lupa, sekarang aku juga sudah punya posisi yang tidak kalah darinya,"


"Hahaha ... bagus, bagus, anak Fei. Kalau kau merasa yakin, hadapi saja tua bangka itu. Jika dia berani macam-macam, kami juga tidak akan tinggal diam," tukas Dewa Arak Tanpa Bayangan mendukung langkah yang akan diambil oleh Zhang Fei.


Dia tersenyum menanggapi ucapan tersebut. "Kira-kira, kapan dia akan datang kemari lagi?"


"Aku rasa, sebentar lagi dia akan segera datang," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Bagus. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya,"


Zhang Fei langsung terdiam. Ia mencoba menyerap tenaga dalamnya yang telah hilang akibat latih tanding tadi.


Diluar sana, matahari sore sudah hampir tenggelam dibalik bukit-bukit hijau nun jauh di sana. Cahaya kemerahan telah menyapa alam mayapada.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba dari kejauhan sana terlihat ada seseorang yang sedang berjalan dengan langkah ringan dan cepat.