Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Air Mata Penyesalan


Ketika matahari sudah sedikit lewat dari atas kepala, Zhang Fei baru saja tiba di tempat tujuannya. Ia telah berada di seberang sungai.


Si tukang perahu membawanya mendarat ke tempat yang lumayan ramai.


Setelah perahu berhenti, anak muda itu pun segera turun.


"Ini uang untukmu," katanya sambil melemparkan beberapa uang perak.


"Tidak usah, Tuan Muda. Tidak usah," kata si tukang perahu sambil mengembalikan uang tersebut.


"Jangan menolak rezeki. Ambil saja sedikit uang itu. Siapa tahu bisa membantu keperluanmu di rumah," ujar Zhang Fei sambil tersenyum.


"Tapi ..."


"Apa masih kurang?"


"Tidak, Tuan Muda. Tidak," katanya menggelengkan kepala beberapa kali. "Ini malah sudah lebih dari cukup,"


Tukang perahu itu mengambil nafas dulu. Setelahnya segera berkata lagi. "Aku malah merasa malu," ucapnya.


Dia menundukkan kepala sedalam mungkin. Seolah-olah dia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya beberapa saat lalu.


"Malu, kenapa kau merasa malu?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.


Dia berlaku seakan tidak mengerti dengan ucapan si tukan perahu. Anak muda itu ingin melihat kesungguhan dari ucapan barusan.


"Aku malu terhadapmu, Tuan Muda. Beberapa saat yang lalu, aku bahkan ingin membunuhmu. Tapi sekarang ... sekarang kau justru malah begini baik kepadaku. Aku sungguh menyesal ..."


Zhang Fei tersenyum mendengarnya. Dari raut wajah orang itu, ia tahu bahwa si tukang perahu sedang bicara serius.


"Sudahlah. Jangan terlalu berlebihan seperti ini,"


"Aku ... aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi kebaikan ini,"


Anak muda itu tersenyum lebih lebar. Dia kembali mengambil sedikit uang. Seraya memberikan kepada si tukang perahu, dia berkata lagi.


"Kalau benar kau ingin membalas budi kebaikanku ini, cukup kembali ke jalan yang benar saja, maka itu semua sudah lebih daripada cukup,"


Tidak memberikan waktu bicara untuknya, saat itu Zhang Fei langsung segera pergi. Begitu si tukang perahu mengangkat kepala, ternyata anak muda itu sudah berada cukup jauh dari tempat sebelumnya.


Ia memandang ke arah perginya Zhang Fei untuk beberapa waktu. Tukang perahu itu tidak bergerak. Seolah-olah ia sudah berubah menjadi patung.


Dirinya juga tidak bicara. Hanya ada dua tetes air mata saja yang jatuh menetes membasahi pipinya.


Bagi orang lain, dua titik air mata mungkin tidaklah berarti. Tetapi bagi tukang perahu itu, dua titik air mata tersebut justru sangat berarti.


Sebab itu adalah titik air mata penyesalan! Penyesalan terhadap sesuatu yang sudah dia lakukan!


Di dunia ini, semua orang pasti pernah atau bahkan sering melakukan kesalahan.


Di dunia ini pula, banyak orang yang tidak pernah menyesal atas semua kesalahan yang telah dilakukan olehnya.


Maka dari itu, apabila ada orang yang benar-benar merasa menyesal atas kesalahannya, maka orang itu adalah manusia yang luar biasa!


"Sungguh anak muda yang luar biasa. Aku yakin, dia pasti mempunyai masa depan yang cerah," gumamnya sambil tersenyum.


Tidak lama setelah itu, si tukang perahu pun segera kembali naik ke atas perahu.


Perahu mulai berlayar lagi. Dia mengemudikan perahu sambil memikirkan berbagai macam hal.


###


Saat ini Zhang Fei sedang berada di atas punggung kuda. Kuda jempolan itu berlari dengan sangat cepat sekali. Kepulan debu mengepul tinggi setiap kali kudanya melewati jalanan yang berdebu.


Anak muda itu mulai memasuki daerah pelosok. Ketika bertemu dengan orang-orang sekitar, Zhang Fei kembali menanyakan lagi terkait di mana kah Gunung Awan Putih berada.


"Benar, Paman. Di mana letak gunung itu?"


"Tuan Muda hanya tinggal mengikuti saja jalanan ini. Nanti kalau menemukan perempatan, Tuan Muda belok ke arah kanan. Saat memasuki kota, silahkan tanya saja kepada setiap orang. Pasti mereka akan menunjukkan jalannya,"


"Apakah jarak untuk ke Gunung Awan Putih masih jauh, Paman?"


"Tidak, Tuan Muda. Sudah cukup dekat,"


"Oh, terimakasih kalau begitu. Aku pamit,"


Zhang Fei membungkuk memberikan hormat. Setelah itu, dia pun langsung kembali melanjutkan perjalanannya lagi.


Sesuai dengan petunjuk si petani tua, dia terus menelusuri jalan lebar berdebu itu sampai dirinya menemukan sebuah perempatan.


Ia pun langsung belok ke arah kanan. Setelahnya, Zhang Fei kembali menyusuri jalan itu sampai menemui kota.


Dia tiba di kota yang dimaksud saat hari sudah masuk sore. Setelah beberapa kali bertanya kepada orang yang ditrmui, ternyata jarak untuk ke gunung itu sudah semakin dekat.


"Kalau Tuan Muda ingin melanjutkan perjalanan ke sana sekarang, mungkin sebelum tengah malam sudah tiba di kaki gunung. Di sana ada sebuah kampung. Namanya Kampung Hitam, kampung tersebut berada tepat di bawah kaki Gunung Awan Putih," kata seorang pedagang tua menjelaskan kepada Zhang Fei.


Anak muda itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengerti.


Hanya saja dari penjelasan barusan, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Paman, kenapa kampung itu diberi nama Kampung Hitam?" tanyanya sungguh penasaran.


"Karena ..." pedagang tua itu tidak melanjutkan bicaranya lagi.


Dia sempat menengok ke kanan dan kiri. Seperti sedang mengawasi keadaan. Seolah-olah juga dirinya sedang berharap tidak ada orang yang mengetahui perkataannya barusan.


"Tuan Muda, jalan untuk menuju ke Gunung Awan Putih sangat berliku dan penuh bahaya. Lebih baik, Tuan Muda batalkan saja niat itu," ucapnya lebih jauh.


Zhang Fei semakin mengerutkan kening. Rasa penasaran di hatinya semakin bertambah.


Apalagi setelah mendengar ucapan pedagang tua barusan. Apa yang dia katakan dengan sebelumnya sangat bertolak belakang.


Saat pertama kali menjelaskan, dia tidak menemukan suatu keanehan sama sekali. Tapi setelah dirinya bertanya tentang Kampung Hitam, Zhang Fei mulai menemukan keganjilan.


Terutama sekali dari raut wajah pedagang tua tersebut!


Bagaimanapun dia menutupi sesuatu di dalamnya, Zhang Fei tetap bisa mengetahuinya!


"Paman, kenapa ucapanmu sangat berbeda denga yang sebelumnya?"


Anak muda itu menatapnya cukup tajam. Hal tersebut membuat si pedang tua salah tingkah. Ia tampak semakin gelisah.


"Ah, itu ... itu hanya perasaan Tuan Muda saja," katanya berusaha menutup-nutupi.


"Hemm ... baiklah. Kalau begitu terimakasih atas petunjukmu, Paman,"


Tanpa menunggu jawaban dari pedagang tua itu, Zhang Fei pun langsung pergi kembali.


Kepulan debu lagi-lagi tercipta. Kuda itu berlari kencang menuju ke arah yang sudah ditentukan.


Sepanjang jalan yang cukup besar itu, banyak orang-orang ditemui olehnya. Deretan rumah dan toko yang cukup besar juga tampak berjejer cukup rapi.


Tanpa terasa, hari sudah berganti malam. Zhang Fei masih melanjutkan perjalanannya.


Tetapi karena belum menemukan ciri-ciri yang disebutkan oleh si pedagang tua tadi, maka ia tidak pernah berhenti. Zhang Fei terus melarikan kudanya sampai menemukan tanda yang dimaksud.


Setelah rembulan berada di titik cukup tinggi, mendadak pemuda tampan itu menghentikan kuda miliknya.


Kuda itu meringkik keras. Kedua kakinya diangkat cukup tinggi ke atas.