
"Apa maksud Ketua Fei?" tanya salah satu pria bertopeng dengan jubah merah terang.
"Jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu kau mengerti maksudku," Zhang Fei berkata dengan nada hambar.
Sepasang matanya masih tetap memandang mereka dengan tajam.
"Ketua Fei ... aku ... aku benar-benar tidak mengerti. Coba jelaskan lebih lanjut," pria itu menjawab seperti kebingungan. Seolah-olah dia memang belum mengerti ucapan Zhang Fei.
Namun sayangnya, Zhang Fei justru sudah tahu bahwa orang tersebut sedang berpura-pura.
"Hemm ... sudahlah. Tidak perlu bersandiwara lagi. Katakan saja semuanya, aku paling tidak suka berhadapan dengan orang yang banyak sandiwara,"
"Hahaha .."
Pria tersebut tiba-tiba tertawa lantang. Kelima orang pria bertopeng lainnya segera ikut melakukan hal yang serupa.
Dalam waktu sekejap mata, hutan tersebut telah dipenuhi oleh gelak tawa. Suara tawa yang gembira. Mirip seperti tawa seorang Jenderal ketika pasukannya berhasil memenangkan peperangan.
Zhang Fei bertanya-tanya dalam hati. Kira-kira, siapa sebenarnya mereka?
Ia masih tetap diam di posisinya. Ketua Dunia Persilatan belum berbicara lagi. Walaupun sejak awal dirinya telah mempunyai dugaan, namun Zhang Fei tetap tidak ingin berkata lebih jauh sebelum waktunya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan memberitahu siapa kami sebenarnya. Anggap saja ini hadiah terakhir bagi dirimu,"
Begitu selesai berkata, pria tersebut langsung membuka jubah dan topengnya. Tidak lama kemudian, lima orang lainnya juga segera melakukan hal yang sama.
Kini, Zhang Fei bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk wajah mereka. Tapi sangat disayangkan, meskipun demikian, dia tetap tidak tahu siapa saja orang-orang tersebut.
"Dilihat dari pakaian, aku rasa kalian ini berasal dari kalangan dunia persilatan," katanya dengan dingin.
"Hahaha ... benar, tepat sekali," pria itu mengangguk puas. "Kami memang berasal dari kalangan dunia persilatan. Tetapi bukan dari Kekaisaran Song,"
"Lalu?"
"Kami berasal dari Kekaisaran Zhou dan Jin," jawabnya dengan tegas
Sementara itu, diam-diam Zhang Fei tampak terkejut setelah mendengar pengakuannya. Dia tidak menyangka bahwa keenam orang itu ternyata berasal dari dua Kekaisaran yang selama ini berselisih dengan tanah airnya.
'Hemm ... dua Kekaisaran itu berulah lagi,'
Amarah di dalam tubuhnya telah meluap. Namun Zhang Fei berusaha untuk tetap bersikap tenang sambil mencari jalan keluar dari masalah yang menimpanya.
"Kau pasti penasaran siapa kami ini, bukan?"
"Hemm ..." Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya mendengus dingin.
"Baiklah, supaya kau tidak penasaran, perkenalkan, kami ini adalah sebagian Datuk Dunia Persilatan aliran sesat dari negeri masing-masing,"
Degg!!!
Jantung Zhang Fei berdegup lebih kencang dari biasanya. Kenyataan ini benar-benar diluar dugaan. Bahkan dia sendiri tidak pernah membayangkannya sama sekali.
Datuk Dunia Persilatan aliran sesat? Pantas saja Zhang Fei merasa ada sesuatu yang aneh sejak awal pertemuannya ketika di Restoran Kayu Hitam.
Naas sekali, dia tidak bisa mengetahui lebih lanjut terkait sesuatu apa pastinya.
"Apakah ucapanmu itu bisa dipercaya?" tanya Zhang Fei setelah berhasil menenangkan diri.
"Terserah, aku tidak memaksamu untuk percaya," jawab pria itu dengan ringan. "Tapi kau harus ingat! Tidak sembarangan orang bisa menjebakmu sehingga kau bisa berada dalam kondisi seperti saat ini,"
Ucapan pria tersebut sangat masuk di akal. Memang, sekelas pendekar pilih tanding seperti Zhang Fei, tidak mudah terjatuh ke dalam jebakan musuhnya.
Buktinya saja, walaupun selama ini dia sering dijebak oleh berbagai macam cara, tapi ia tetap bisa melepaskan dirinya.
Berbeda dengan saat ini, walaupun sejak tadi telah berusaha, tetapi Zhang Fei tetap tidak mampu menemukan jalan keluar.
Alasan kenapa sejak tadi dia tinggal diam, adalah karena seluruh tenaganya telah hilang begitu saja. Baik itu tenaga luar, maupun tenaga dalam.
Dia tetap merasa lemas tak bertenaga!
Menyadari akan kondisinya saat ini, tanpa sadar Zhang Fei telah merasa panik. Meskipun biasanya dia selalu tampil tenang, tapi kali ini lain.
Apalagi dalam waktu yang bersamaan, dia pun banyak memikirkan berbagai macam hal.
"Sebenarnya apa mau kalian? Kalau memang ada masalah, lebih baik kita selesaikan saja dengan pertarungan. Jangan dengan cara seperti ini. Aku paling benci kepada manusia pengecut," katanya sambil menahan marah.
"Hahaha ... sayangnya kami tidak mau menempuh cara itu," kata pria lain sambil tersenyum dingin. "Kami justru ingin melihatmu seperti sekarang, bahkan lebih parah lagi. Dengan demikian, kau tidak akan bisa ikut dalam pertandingan nanti,"
Mendengar ucapan itu, seketika Zhang Fei menjadi tersadar. Otaknya langsung berputar cepat dan merangkai semua kejadiannya.
Setelah beberapa saat kemudian, dia segera berkata. "Oh, pantas saja. Sekarang aku mengerti,"
"Apa yang baru kau mengerti?"
"Aku tahu, kalian mengundangku untuk makan, hal itu hanya siasat semata. Tujuannya adalah supaya rencana busuk ini bisa berjalan dengan lancar,"
"Hahaha ... akhirnya kau paham juga, Ketua Fei yang terhormat," katanya dengan nada mengejek.
"Tapi aku heran, dari mana kalian bisa yakin bahwa aku akan memenuhi undangan itu?"
"Sebab kami sudah mengetahuinya sejak awal,"
"Bagaimana kalau aku tidak datang?"
"Tidak mungkin! Kau pasti datang, apapun yang terjadi, kau pasti akan memenuhi undangan itu,"
Zhang Fei tidak banyak berkata lagi. Dia hanya menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Perlu kau tahu, sebenarnya sejak satu bulan terakhir, ada seorang mata-mata yang sengaja kami utus untuk mencari informasi tentang dirimu,"
"Oh, benarkah? Tapi, belakangan ini aku jarang keluar dari Gedung Ketua Dunia Persilatan,"
"Ya, aku tahu. Karena itulah, untuk mendapatkan informasi tentang dirimu, kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tapi untungnya semua perjuangan itu tidak sia-sia," pria tersebut mengakhiri ucapannya dengan senyuman sedingin es.
"Hemm ... apakah Kaisar kalian yang telah memerintahkannya?"
"Begitulah," jawabnya dengan jujur.
"Oh, baiklah," Zhang Fei mengangguk. Setelah mengambil nafas, dia kembali bertanya. "Apakah dia hanya memerintahkan untuk menjebakku saja? Tidak dengan Dewa Arak Tanpa Bayangan?"
"Tidak," ucapnya sambil menggelengkan kepsla. "Walaupun tua bangka itu mempunyai kemampuan tinggi, tapi dia masih sedikit lebih mudah jika dibandingkan dengan dirimu,"
"Hahaha ... Kaisar kalian terlalu meremehkannya,"
"Cukup! Kau sudah terlalu banyak bicara, Zhang Fei," tokoh sesat lainnya berkata sambil memberikan isyarat dengan tangannya. "Sekarang, katakan apa ucapan terakhirmu?"
"Apakah harus ada ucapan terakhir?"
"Ya, harus ada,"
Zhang Fei berpikir sebentar. Setelah menemukan kata-kata yang cocok, dia langsung bersuara.
"Walau dengan cara apapun, aku tetap tidak akan bisa dihentikan. Cobaan seperti ini tidak akan bisa menghentikanku untuk mencapai puncak tertinggi!"
Zhang Fei berkata dengan tegas dan penuh wibawa.
Pada saat itulah, hampir dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba ada segulung angin kencang yang menerjang.
Blarr!!!
Suara ledakan keras seketika terdengar bagaikan letusan gunung berapi.