
Zhang Fei terus berlari dengan sekuat tenaga. Dia tidak tahu di mana dirinya berada saat ini. Ia hanya tahu bahwa di sekitarnya tidak terdapat lagi rumah-rumah sederhana seperti di Kampung Hitam.
Yang ada di sekelilingnya saat ini hanyalah pepohonan rimbun yang menjulang tinggi. Pada malam hari seperti sekarang, semua pohon-pohon itu tampak seperti raksasa yang menakutkan.
Kegelapan malam semakin menambah keseraman di tempat tersebut.
Hawa dingin mulai menusuk tulang. Rembulan semakin bergeser ke arah barat.
Setelah cukup lama berlari, akhirnya pemuda itu berhenti. Ia duduk tepat di bawah pohon yang cukup besar.
Zhang Fei duduk bersila. Matanya dipejamkan. Ia mulai bersemedi untuk mengembalikan tenaga dalam, dan juga mengobati luka yang diderita.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zhang Fei sudah selesai bersemedi. Sekarang tenaganya telah pulih seperti semula. Walaupun luka-luka itu belum sembuh sepenuhnya, tapi setidaknya sekarang sudah tidak terasa sakit seperti tadi.
Dia kemudian bangkit berdiri. Zhang Fei menengadah ke atas, memandangi malam yang kelam.
Tanpa sengaja, matanya menatap pula ke depan sana.
Ternyata tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, ada sebuah gunung besar yang berdiri kokoh. Gunung itu seolah-olah sedang memandang ke arahnya.
"Apakah itu Gunung Awan Putih?"
Ia bertanya kepada diri sendiri. Seolah-olah juga sedang memastikannya.
Di sana tidak ada gunung yang besar lagi. Kecuali hanya gunung itu sendiri. Gunung yang kokoh. Di atasnya seperti ada awan dengan warna putih.
"Tidak salah lagi, itu pasti Gunung Awan Putih," ucapnya kemudian.
Zhang Fei tersenyum girang. Api semangat di dalam tubuhnya kembali berkobar.
"Aku harus menuju ke sana sekarang juga. Aku harus membalaskan kekalahan ini," ujarnya bertekad.
Setelah itu, dia langsung berlari kembali. Menuju ke Gunung Awan Putih.
Sepanjang perjalanan menuju ke sana, hati Zhang Fei sebenarnya tidak merasa tenang. Lebih tepatnya, ia merasa malu. Malu karena telah lari dari medan pertarungan.
Untunglah pelariannya yang sekarang, tidak sama seperti pelarian Pendekar Pedang Emas Gan Li beberapa waktu silam.
Orang tua itu lari karena rasa takut. Lari karena tidak mau mati.
Sedangkan Zhang Fei, dia lari karena tidak boleh mati. Tugasnya masih banyak, perjalanannya masih panjang. Bagaimana mungkin dia boleh mati sekarang?
Karena itulah, dia harus lari. Tapi bukan lari karena takut mati! Dia lari karena harus hidup supaya bisa membalaskan semua dendamnya!
Jangan samakan pelarian Zhang Fei dengan Pendekar Pedang Emas!
Kalau orang tua itu lari dan tidak kembali, maka ia lari justru untuk kembali lagi!
Bayangan tubuhnya semakin ditelan oleh rimbunnya hutan. Pakaian biru tua yang ia kenakan, seolah-olah telah menyatu dengan alam dan kegelapan.
###
Pagi hari telah tiba. Anak bernama Zhang Fei itu, sudah tiba di atas Gunung Awan Putih. Sekarang dia sedang beristirahat di pinggir tebing yang curam.
Tubuhnya terasa sedikit lelah. Peluh sebesar biji kacang kedelai telah membasahi keningnya.
Saat ini dia sedang memandang ke bawah. Nun jauh di sana, terdapat sawah ladang seperti hamparan permadani hijau yang membentang luas. Indahnya bukan alang kepalang.
Melihat lebih jauh lagi, ada pula deretan pegunungan yang berjajar rapi dengan warna hijau tua.
"Hahh ..."
Dia menghirup nafas panjang, lalu membuangnya sekaligus.
Udara pagi ini terasa sangat segar. Sinar mentari pagi, menyorot ke tubuhnya dan memberikan kehangatan.
Setelah beristirahat kurang lebih satu jam, kembali dia melanjutkan langkahnya. Kali ini, Zhang Fei semakin bersemangat. Apalagi, jarak untuk ke puncak Gunung Awan Putih semakin dekat.
Wushh!!!
Sepanjang perjalanan itu, alam benar-benar menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Di kanan kiri terdapat pepohonan yang berdiri tegak. Ada pula batu-batu cadas besar yang telah disediakan oleh alam.
Lebih jauh ke sana, ada aliran sungai kecil yang berair jernih. Di dalamnya terdapat pula ikan-ikan dengan ukuran cukup besar.
Zhang Fei mengetahui semua hal itu. Sebenarnya dia ingin menikmati semua suguhan alam ini. Sayangnya, untuk sekarang dia tidak bisa melakukannya.
Sebab ada urusan yang lebih penting dari apapun juga!
Tepat pada siang hari, akhirnya ia telah sampai ke tempat tujuannya. Zhang Fei telah tiba di puncak Gunung Awan Putih!
Di sana ada halaman yang membentang luas. Batu-batu besar berjejer tidak karuan. Tapi semua itu, justru malah menambah keindahan dan kealamian yang ada.
Zhang Fei mulai berjalan ke depan. Di sana, terdapat lagi sebuah hutan kecil. Di depannya terdapat dua batu sebesar gubuk.
Kedua batu besar itu berjejer di kanan kiri. Seolah-olah menjadi pintu masuk ke dalam hutan.
Ketika anak muda itu hampir memasuki 'pintu masuk', tiba-tiba dirinya merasakan ada angin yang berhembus dengan cukup kencang.
Wushh!!!
Ia kaget. Untunglah dirinya buru-buru melompat ke samping. Sehingga angin barusan tidak sampai mengenai tubuhnya.
Grrr!!!
Roarr!!!
Suara binatang buas mendadak terdengar jelas di telinganya. Tidak lama setelah itu, dari dalam 'pintu masuk' tiba-tiba keluar dua ekor hewan dengan ukuran cukup besar.
Kedua hewan itu adalah seekor harimau dan seekor monyet putih.
Zhang Fei lebih terkejut setelah keduanya berdiri dengan gagah di tengah halaman.
Ternyata ukuran kedua hewan tersebut jauh lebih besar daripada hewan pada umumnya. Wajah mereka juga menggambarkan kemarahan.
"Hemm, pergilah. Aku tidak mengganggu kalian. Jadi aku harap, kalian pun tidak menggangguku," katanya seolah-olah ia sedang berhadapan dengan manusia.
Grrr!!!
Roarr!!!
Dua hewan itu mengeluarkan lagi suaranya yang besar dan menyeramkan. Tidak hanya itu, bahkan mereka juga menyeringai dan memperlihatkan taring yang panjang serta sangat tajam.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua ekor binatang buas tersebut tiba-tiba melompat. Menerjang ke arah dirinya dari sisi kanan dan sisi kiri.
Harimau berniat untuk menerkam dirinya. Sedangkan monyet putih berniat mencakar tubuhnya sampai koyak.
Melihat hal itu, Zhang Fei tentunya tidak bisa tinggal diam lagi. Dia langsung mengambil tindakan keras!
Ia pun melompat. Menyambut dua serangan yang dilancarkan oleh dua binatang buas itu.
Serangkaian pukulan bertenaga besar segera dia berikan kepada keduanya. Namun siapa sangka, ternyata harimau dan monyet itu justru bisa menghindarinya dengan mudah.
Padahal sejatinya, pukulan barusan sudah cukup cepat. Zhang Fei yakin betul bahwa dua hewan itu akan terkena serangannya dengan telak.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat kenyataan yang terjadi. Lebih daripada itu, yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah kenyataan bahwa dua binatang buas itu mengerti tentang ilmu silat.
Bagaimana mungkin binatang bisa bersilat? Siapa pula yang telah mengajari mereka?
Benaknya langsung bertanya-tanya. Dia sungguh penasaran.
Tapi, hal itu tidak bisa berlanjut. Sebab sekarang ini, dua ekor binatang tersebut telah berada di dekatnya. Mereka menyerang dengan ganas dan brutal!