
Keadaan di rumah makan pada saat itu tampak sepi sunyi. Seolah-olah di sana tidak terdapat seorang manusia pun.
Namun ketika masuk lebih dalam lagi, terlihat bahwa di sana ada dua puluhan orang yang sedang berkumpul di satu ruangan. Tiga orang duduk di kursi, sisanya berdiri mengelilingi.
Ketika menyadari ada orang yang datang, sontak saja mereka langsung kaget setengah mati. Bahkan tiga orang yang tadi duduk pun, tiba-tiba bangkit berdiri karenanya.
"Siapa kalian?" tanya salah satu orang yang sejak awal berdiri.
"Kami adalah orang-orang dari Organisasi Pedang Cahaya," jawab Zhang Fei dengan tenang dan santai.
"Mau apa kalian kemari?"
"Tentu saja untuk mencabut nyawa kalian,"
"Cuih!" Orang bertubuh tinggi tiba-tiba meludah ke tanah. Begitu air liurnya menyentuh lantai, seketika lantai tersebut langsung retak. Asap putih segera mengepul. "Apakah ucapanmu ini tidak terlampau sombong?" tanyanya dengan sengit.
"Ilmu racun yang sangat tinggi. Kalau aku tidak salah, kau pasti adalah si Racun Hijau Gak Long, bukan?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum penuh arti.
Orang yang diajak bicara terlihat sedikit kaget. Namun dengan cepat dia menutupi kekagetan tersebut. "Benar-benar mata yang sangat tajam. Aku tidak menyangka, ternyata ada orang asing yang juga mengenalku," katanya tersenyum bangga.
"Hahaha ... senang bisa bertemu denganmu, Tuan Long," Zhang Fei membungkukkan badan. Dia bersikap seolah segan terhadapnya. "Aku dengar, kau mampu mengeluarkan racun dari seluruh tubuh, ya? Hemm ... jika hal ini terbukti, tentu kau sangat hebat,"
"Aih, kau juga tahu tentang hal itu?" ia mengangkat kedua alisnya. Lagi-lagi, Gak Long dibuat terkejut oleh Zhang Fei. "Hal itu memang benar. Karenanya, tidak ada orang yang berani menyentuh tubuhku secara langsung,"
"Benar-benar kemampuan yang hebat,"
"Tentu saja," ia semakin senang setelah mendapat pujian tersebut. "Jadi, sekarang bagaimana? Apakah kau masih mau melanjutkan tujuan awal?"
"Itu sudah pasti. Walaupun kemampuan racunmu sangat hebat, tetapi kami tidak perlu khawatir. Sebab kami sudah mempersiapkan segalanya,"
Zhang Fei berkata sepatah demi sepatah. Wajahnya tampak sangat serius. Hal itu membuat lawan bicaranya terheran-heran.
Sementara itu, sepanjang percakapan di antara mereka berlangsung, terlihat anggota lawan yang lainnya sudah mulai mengepung pihak Zhang Fei. Tidak hanya itu saja, bahkan masing-masing dari mereka juga sudah mencabut goloknya.
"Bunuh mereka!" sebuah suara yang berat tiba-tiba terdengar cukup keras. Suara itu langsung menurunkan perintah tegas.
Begitu mendengarnya, tujuh belas anggota yang sudah mengepung, secara serempak segera melancarkan serangan.
"Kita keluar!" kata Zhang Fei kepada yang lain.
"Baik,"
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan bayangan manusia melesat bersamaan. Dalam waktu singkat saja, orang-orang itu sudah tiba di halaman depan rumah makan yang cukup luas.
Sesaat kemudian, pertempuran pun langsung pecah.
Sebelas anggota Organisasi Pedang Cahaya segera menyambut serangan yang diberikan oleh lawan. Dentingan nyaring langsung terdengar saat itu juga.
"Zhu Yun, kau lawan si Ruyung Angin Topan. Paman Goan, lawanmu adalah si Racun Hijau," kata Zhang Fei memberikan perintah.
"Baik, Ketua. Kami mengerti,"
Mereka kemudian melompat dan berdiri di hadapan calon lawannya masing-masing. Sementara Zhang Fei, dia berjalan dengan tenang dan santai. Ia menghampiri seorang pria tua yang sejak tadi mengawasi dirinya.
"Dan aku adalah calon lawanmu, Pendekar Gelandangan," katanya begitu dia tiba tepat di hadapan orang yang dimaksud.
"Hemm ... rupanya kau juga sudah mengetahui siapa aku," ucap orang tua itu sambil menarik muka.
"Bukan hanya itu saja. Bahkan aku sudah mengetahui juga tujuan dan asal kalian,"
"Oh, benarkah? Sepertinya menarik,"
"Baiklah. Mari kita mulai bermain-main," kata orang tua itu seraya tertawa.
Zhang Fei membalas tawanya. Sedetik kemudian, mereka berdua sudah melesat ke depan secara serempak.
Pertempuran kembali pecah. Malam itu, di halaman rumah makan tersebut akan terjadi pembantaian yang cukup mengerikan.
Sebelas orang anggota Organisasi Pedang Cahaya mulai memperlihatkan kemampuan mereka masing-masing. Meskipun sebagian ada yang bertarung melawan dua orang musuh sekaligus, tetapi di antara mereka tidak ada satu pun yang memperlihatkan rasa takut.
Trangg!!! Trangg!! Trangg!!!
Benturan antar senjata pusaka mulai terdengar tanpa berhenti. Percikan bunga api yang dihasilkan persis seperti sekuntum bunga yang terbang dihembus angin.
Suara teriakan yang membangkitkan semangat juga ikut terdengar. Masing-masing pihak saat ini sudah mengeluarkan kemampuannya tersendiri.
Di sisi sebelah sana, Zhu Yun terlihat sedang mencecar si Ruyung Angin Topan. Pedangnya yang panjang dan tajam itu berkilat memberikan tebasan beruntun ke seluruh tubuh.
Si Ruyung Angin Topan mengerutkan kening. Dia cukup terkejut setelah mengetahui kemampuan lawannya.
Setelah beberapa jurus bertarung, dia mulai mengeluarkan jurus-jurus ruyungnya yang aneh dan keji. Ruyung itu berputar-putar sangat cepat. Sampai-sampai Zhu Yun sendiri tidak mampu melihatnya dengan jelas.
Untuk menjaga keselamatannya, terpaksa dia harus melompat ke sana kemari sambil mencari-cari celah kosong.
Wutt!!! Wutt!!!
Sambaran ruyung itu semakin cepat. Hampir saja punggung Zhu Yun terkena serangannya. Untung pada saat itu ia mampu bergerak sedikit lebih cepat, sehingga nyawanya masih selamat.
Krakk!!!
Sebatang pohon yang terkena sabetan ruyung seketika hampir roboh. Melihat itu, Zhu Yun tampak terkejut.
'Hebat. Tenaga dalam orang ini benar-benar tinggi. Aku harus lebih waspada lagi,' batinnya sambil melirik ke pohon yang menjadi korban salah sasaran tersebut.
Sementara itu, si Ruyung Angin Topan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depannya. Saat melihat Zhu Yun sempat melamun, detik itu juga dia langsung menyerangnya dengan salah satu jurus andalan.
Wutt!!! Wutt!!!
Zhu Yun tiba-tiba merasakan adanya tekanan yang begitu hebat. Begitu melihat, rupanya ruyung lawan sudah ada di depan matanya. Buru-buru dia menarik tubuh ke belakang.
Tapi dengan cepat pula ruyung tersebut kembali mengancamnya. Deru angin kencang yang tercipta dari setiap gerakannya mampu menerbangkan daun-daun kering di sekitar.
Daun-daun kering tersebut menggulung di atas dan membentuk sebuah pusaran yang cukup besar.
Tidak salah lagi, inilah kemampuan dia yang sebenarnya!
Wutt!!! Bukk!!!
Setelah beberapa kali melancarkan serangan beruntun, akhirnya si Ruyung Angin Topan berhasil dengan usahanya. Ruyung tersebut mengenai tulang rusuk Zhu Yun cukup telak. Dia segera terlempar ke samping sejauh beberapa langkah.
Tulang rusuk itu seketika retak. Untuk beberapa saat dia tidak bisa melanjutkan pertarungannya lagi. Dalam waktu yang singkat tersebut, Zhu Yun mencoba menyalurkan hawa murni miliknya.
Setelah rasa ngilu yang tadi dirasa mulai mereda, dengan segera ia memberikan serangan balasan.
Wushh!!!
Pedangnya menusuk dengan cepat. Serangan yang pertama gagal karena lawan sudah mengetahuinya. Tetapi, dia tidak berhenti sampai di situ saja.
Zhu Yun segera melanjutkan lagi dengan tebasan pedang yang tidak kalah cepat. Bersamaan dengan itu, sesekali tangan kiri dan kakinya juga ikut memberikan serangan susulan.
Si Ruyung Angin Topan memasang wajah makin serius. Dia terus berusaha mengimbangi setiap gerakan lawannya.