Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Si Tua Tempat Informasi


Karena tidak mau membuang waktu lebih lama, akhirnya Zhang Fei dan Yao Mei pun langsung duduk di kursi yang telah tersedia.


Dari dalam pintu ruangan, tiba-tiba ada seorang gadis yang berjalan masuk. Usianya masih belia. Mungkin baru berumur sekitar lima belas tahun. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir dua.


Wajah gadis itu masih menggambarkan anak-anak yang dipenuhi keceriaan. Kedua pipinya memerah seperti tomat.


Ia datang sambil membawa nampan berisi arak dan hidangan ringan. Dengan cekatan si gadis meletakan nampan itu di atas meja. Kemudian dia langsung membuka segel arak dan menuangkannya ke dalam cawan.


"Silahkan diminum, Tuan Muda dan Nona Muda," katanya seraya tersenyum.


Suaranya nyaring dan penuh kegembiraan. Setelah mendapat anggukan dari dua orang tamunya, dia segera memundurkan diri. Gadis itu diam di pojok ruangan.


"Jangan sungkan-sungkan, minum saja dulu. Anggap saja kita ini adalah orang sendiri," kata orang tua itu seraya tertawa.


Dia kemudian mengambil cawan arak yang ada di depannya.


"Mari bersulang arak," ajaknya.


Karena merasa tidak enak, Zhang Fei dan Yao Mei akhirnya menuruti ucapan si orang tua. Mereka bertiga bersulang arak.


Beberapa saat kemudian, orang tua itu mulai berbicara lagi.


"Perkenalkan, namaku Ho Tong. Kalian bisa memanggilku si Tua Tempat Informasi. Aku sudah menggeluti profesi ini kurang lebih selama sepuluh tahun berselang. Selama ini, sudah ada banyak para tamu dari berbagai macam kalangan yang datang kemari. Mereka menanyakan berbagai macam hal, dan hasilnya tidak mengecewakan. Informasi yang aku berikan kepada setiap orang itu, benar-benar terbukti nyata," katanya memperkenalkan diri dengan jelas.


Zhang Fei dan Yao Mei mengangguk. Sepertinya mereka tidak salah mendatangi orang tua ini.


"Ehmm ... Tuan, kira-kira, apakah kau tahu berbagai informasi tentang dunia persilatan?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.


"Hahaha ..." si Tua Tempat Informasi tertawa cukup lantang. Setelah luas, dia berkata lagi. "Tentu saja aku banyak tahu. Apalagi, di masa muda dulu, aku pernah berkelana dalam dunia persilatan,"


Dia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Informasi tentang tokoh siapa yang ingin Tuan Muda tanyakan? Apakah Empat Datuk Dunia Persilatan aliran putih? Atau Empat Datuk Dunia Persilatan aliran hitam? Ataukah ... Tuan Muda ingin bertanya tentang partai-partai persilatan yang ada di negeri Tionggoan?"


"Ah, tidak. Kebetulan aku hanya ingin bertanya tentang suatu peristiwa yang baru saja berlangsung beberapa hari ini," jawab Zhang Fei sambil memberikan senyuman.


"Oh? Apakah tentang keadaan dunia persilatan yang sekarang? Tentang situasi politiknya? Atau tentang perebutan benda pusaka yang terjadi di Gunung Lima Jari?"


Dua muda-mudi itu kembali saling pandang satu sama lain. Mereka merasa kagum kepada si Tua Tempat Informasi. Meskipun belum bertanya apa-apa, tapi dari bicaranya saja, mereka sudah percaya bahwa orang tua itu memang gudangnya informasi.


"Tepat sekali, Tuan. Kedatangan kami kemari adalah ingin bertanya-tanya tentang perebutan benda pusaka itu," kata Yao Mei ikut berbicara.


"Baiklah. Aku siap memberikan informasi seputar peristiwa itu. Tapi dengan syarat kalian berani membayar harga yang aku berikan,"


"Kami sanggup," kata Zhang Fei dengan cepat. "Berapa harga yang Tuan tawarkan?"


"Satu jawaban seharga dengan seratus tahil perak," tegasnya. "Apakah Tuan Muda sanggup?" ia melirik sekilas ke arah Zhang Fei menggunakan ekor matanya. Seolah-olah dia ingin melihat ekspresi dari anak muda itu.


Dua orang muda itu belum menjawab. Mereka sepertinya sedang berpikir-pikir lebih dulu.


"Tuan Muda jangan khawatir. Jawaban yang akan aku berikan nanti tidak singkat seperti yang dipikirkan. Kalau memang ada penjelasan, aku pasti akan menjelaskannya dengan rinci. Lagi pula, aku pastikan Tuan Muda tidak akan menyesal karena telah bertanya kepada si Tua Tempat Informasi," ujarnya berusaha meyakinkan tamunya tersebut.


"Baiklah. Aku setuju," jawab Zhang Fei dengan cepat setelah dia berpikir beberapa saat.


Si Tua Tempat Informasi tersenyum. Senyuman yang cukup aneh. Tapi, tidak ada yang bisa melihat senyuman itu. Pun tidak ada yang mengetahui apa artinya.


"Baiklah. Dimulai dari sekarang. Pertanyaan apa yang ingin Tuan Muda tanyakan?"


Zhang Fei berpikir kembali. Sebab dalam benaknya sekarang, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan. Namun mana bisa ia mengajukan semua pertanyaan tersebut.


Bukankah itu akan memakan terlalu banyak biaya?


"Biarkan aku yang bertanya dulu," ujar Yao Mei kepadanya.


"Hemm, baiklah,"


Gadis cantik itu tersenyum. Setelah mengalihkan pandangan, dia langsung bertanya.


"Sebenarnya barang pusaka apa yang ada di dalam kotak hitam itu?"


"Isi dari kotak hitam itu beda-beda. Yang satu berupa kitab pusaka. Kitab itu sendiri berisi tentang intisari ilmu silat dari beberapa partai di masa lalu. Sedangkan yang satu lagi merupakan benda pusaka. Dalam dunia persilatan, benda itu disebut Bunga Mawar Tengah Malam. Konon katanya, bunga itu sangat langka. Mungkin kemunculannya hanya terjadi dalam kurun waktu seratus tahun sekali,"


Zhang Fei dan Yao Mei terbengong ketika mendengar jawaban tersebut. Kalau begitu, tidak heran apabilw banyak sekali pendekar yang rela mempertaruhkan nyawa demi bisa mendapatkannya.


Tapi di antara dua pusaka tersebut, yang paling membuat mereka terkejut adalah tentang bunga itu.


Benarkah di dunia ini ada Bunga Mawar Tengah Malam? Kira-kira bagaimana bentuknya dan apa manfaat dari bunga itu?


Karena merasa penasaran, tanpa sadar akhirnya Zhang Fei menanyakan tentang hal tersebut.


"Bunga Mawar Tengah Malam benar adanya. Tokoh-tokoh angkatan tua dunia persilatan pasti tahu akan hal ini. Bentuk dari bunganya sendiri, hampir mirip dengan bunga mawar pada umumnya. Hanya saja, Bunga Mawar Tengah Malam ini terbilang mempunyai ukuran yang lebih besar dengan warna merah menyala,"


"Kegunaan bunga tersebut adalah, apabila ada orang memakannya, niscaya dia akan mendapatkan tenaga dalam yang setara dengan latihan puluhan tahun. Ditambah lagi, orang tersebut akan kebal terhadap segala macam racun,"


Kedua pendekar muda itu menganggukkan kepala. Mereka percaya dengan ucapan si Tua Tempat Informasi. Sebagai orang persilatan, tentu saja mereka juga tahu bahwa dalam rimba hijau memang banyak terdapat benda-benda pusaka yang memiliki khasiat luar biasa.


Tetapi, tidak setiap pendekar bisa memiliki benda-benda tersebut. Mungkin hanya mereka yang beruntung saja, yang dapat memilikinya.


"Lalu, siapa pemilik dari dua benda pusaka itu?" tanya Zhang Fei lebih jauh.


"Dia berasal dari Kekaisaran lain. Aku tidak berani menyebutkan namanya, karena hal ini terlalu berisiko,"


"Meskipun dengan harga yang lebih tinggi?"


Zhang Fei semakin penasaran setelah mendengar jawaban tersebut. Karena dia yakin, dalang utama dalam perebutan benda pusaka itu pasti ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang lain.