Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Hasil yang Memuaskan


Wushh!! Wushh!!!


Zhang Fei kembali bergerak. Gerakannya sangat cepat. Secepat kilat menyambar di tengah malam. Seperti setan gentayangan yang sedang mengejar mangsanya.


Beberapa pohon sebesar paha yang berada di halaman belakang, kembali dibuat tumbang oleh Pedang Raja Dewa. Bekas tebasan pedang masih sama rapi seperti sebelumnya.


Semakin jauh dia bergerak, semakin lama dia bermain pedang, maka semakin cepat pula gerakannya tersebut.


Senyuman di bibirnya semakin mengembang. Sedikit demi sedikit, secara tidak langsung, pada akhirnya Zhang Fei mulai mengerti terkait jurus pedang yang barunya tersebut.


Malam semakin larut. Rembulan juga semakin berada di atas kepala. Udara bertambah dingin. Kesunyian pun semakin menjadi.


Di tengah-tengah halaman belakang itu, Zhang Fei masih terus berlatih ilmu pedang. Ia tidak pernah berhenti walaupun hanya sesaat.


Jika benar dirinya berhenti bergerak, maka pada saat itu, dia pasti seneng berusaha mengingat jurus-jurusnya kembali.


Zhang Fei tidak menyadari bahwa di sebuah sudut, ada beberapa pasang mata yang sejak awal menyaksikannya.


Wushh!!! Brugg!!!


Suara yang jauh lebih berat kembali terdengar. Suara riuh burung di atas pohon itu langsung terdengar. Tidak lama kemudian, beberapa ekor burung tampak terbang di tengah kegelapan karena tempat tinggalnya roboh.


Pohon yang sedikit lebih besar dari semua pohon tadi, telah berhasil ditumbangkan hanya dalam dua tebasan saja.


Dalam waktu satu malam, setidaknya ada belasan pohon yang tumbang karena ulah Zhang Fei.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengakhiri hidup kalian begitu saja. Aku melakukan hal ini karena terpaksa. Sebab aku, mempunyai tujuan yang jauh lebih penting daripada kehidupan kalian," gumamnya sambil menatap pohon-pohon yang telah ia tumbangkan.


Zhang Fei menghembuskan nafas berat. Dia mengambil guci arak yang berada di pinggangnya. Ketua Dunia Persilatan menenggak guci arak tersebut beberapa kali.


Setelah rasa hausnya hilang, dia segera duduk bersila. Zhang Fei kemudian memejamkan matanya untuk menyerap tenaga dalam dan hawa murni yang sudah banyak terbuang.


Dia berada dalam posisi bersila dan proses meditasi itu dalam waktu kurang lebih lima belas menit.


"Hahh ..." dia menghembuskan nafas panjang sambil membuka kedua matanya. "Aku rasa latihan malam ini cukup sampai di sini saja. Besok malam, aku akan melanjutkannya lagi,"


Zhang Fei segera bangkit berdiri. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan untuk melakukan istirahat.


Selama tiga malam berturut-turut, dia terus melakukan latihan seperti itu. Akibatnya, pohon-pohon yang dia tumbangkan sudah bertambah banyak.


Meskipun Zhang Fei merasa benar-benar lelah, tapi dia tetap tidak mau berhenti.


Zhang Fei tahu, untuk mencapai hasil maksimal, maka dibutuhkan proses yang setimpal. Perjuangan yang keras, akan mendapatkan hasil yang memuaskan.


Pepatah seperti itu tidak salah. Malah teramat benar.


Kalau kita sedang memperjuangkan sesuatu, maka kita harus benar-benar memperjuangkannya semaksimal mungkin. Jika tidak mau berjuang keras, bagaiamana mungkin akan mendapatkan hasil?


Jika tidak mengingat tanggungjawab dan tugas yang berada di pundaknya, mungkin Zhang Fei tidak akan mau 'menyiksa' dirinya seperti itu.


Bagaimana tidak? Siang hari, dia banyak mengurus tugas-tugasnya sebagai Ketua Dunia Persilatan. Berbagai macam masalah berat terus-menerus menghampiri.


Sedangkan malam harinya, dari pertama rembulan memunculkan diri dan malam menyapa alam mayapada, ia sudah mulai berlatih ilmu pedang.


Walaupun Zhang Fei hanya melakukannya dalam waktu tiga hari, tapi hal itu jelas sangat menguras tenaganya.


Namun ternyata, dari perjuangannya tersebut, Zhang Fei benar-benar mendapatkan hasil maksimal. Sesuai dengan apa yang dia inginkan sebelumnya.


###


Suasana masih sama seperti biasanya. Sepi dan dicekam oleh kesunyian. Udara malam ini pun terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari salah satu arah terlibat ada lima bayangan manusia yang berkelebat secepat kilat.


Tanpa bertanya pun, Zhang Fei tahu bahwa lima bayangan tersebut pasti adalah para Datuk Dunia Persilatan.


"Ketua Fei, bagaiamana? Apakah kau berhasil menguasai jurus itu?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan ketika ia sudah tiba di depannya.


"Ya, aku rasa ... aku sudah menguasainya Tuan Wu," jawab Zhang Fei sambil tersenyum girang.


"Wah ... ternyata Ketua kita sudah mempunyai jurus baru. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya lagi," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum menggoda.


Zhang Fei hanya tersenyum menanggapi ucapan orang tua itu. Ketika yang lain masih terdiam, terdengar Pendekar Pedang Perpisahan kembali bicara.


"Ketua Fei, bagaimana kalau aku sendiri yang ingin mencoba kehebatan jurus barumu?" tanyanya penuh harap.


"Tapi, Tuan Wu ... aku takut akan berakibat fatal," jawab Zhang Fei dengan serius.


Dia tahu, jurus barunya ini bukan sesuatu untuk dipamerkan. Lagi pula, ia tidak bisa memperlihatkannya sesuka hati.


Sebab kalau hal itu sampai terjadi, maka akibatnya pasti akan fatal!


Baik Pendekar Pedang Perpisahan maupun yang lainnya, mereka pun mengerti akan hal tersebut.


Jadi, satu pun tidak ada yang berani menganggap bahwa Zhang Fei sedang bercanda.


"Ketua Fei, aku tahu. Tapi supaya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, maka aku sarankan supaya kita tidak menggunakan pedang sungguhan," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan cepat. "Melainkan menggunakan ranting pohon. Bagiamana, apakah Ketua setuju?"


Zhang Fei berpikir sebentar. Kemudian dia menjawab, "Baiklah. Aku rasa, itu bukan ide yang terlalu buruk,"


Datuk sesat itu melemparkan senyuman. Ia kemudian berjalan untuk mencari ranting. Setelah menemukannya, dia langsung kembali dan memberikan satu buah ranting kepada Zhang Fei.


Kini, dua orang pendekar pedang itu sudah berdiri saling berhadapan. Masing-masing dari mereka sudah memegang ranting pohon. Keduanya hanya terpaut dalam jarak sekitar lima langkah.


Empat Datuk Dunia Persilatan yang lain berdiri di pinggir. Mereka pun sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana hasil latihan Zhang Fei selama tiga hari belakangan.


"Ketua Fei, jangan tanggung-tanggung. Serang dia dengan kemampuanmu yang sebenarnya," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Benar, Ketua Fei. Aku juga setuju," sahut datuk sesat itu seraya mengangguk.


Karena mendapat desakan dari tokoh angkatan tua itu, akhirnya mau tak mau Zhang Fei harus menurut juga.


"Baiklah," katanya setuju.


Dua orang yang akan terlibat kemudian mempersiapkan dirinya. Mereka menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni. Bukan hanya ke seluruh tubuh, melainkan juga ke ranting pohon yang berada dalam genggaman tangan.


Wushh!!!


Pendekar Pedang Perpisahan bergerak lebih dulu. Dia langsung melancarkan jurus pedang miliknya.


Meskipun hanya menggunakan ranting pohon, tapi kecepatan dan keganasan jurus tersebut tetap tidak boleh dipandang ringan.


Zhang Fei bisa melihat adanya ancaman maut yang bisa datang kapan saja.


Ranting itu bergerak seperti kilat, menusuk ke beberapa titik sekaligus. Zhang Fei segera mengambil tindakan. Dia menangkisnya dengan gerakan yang tidak kalah cepat.