Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Nenek Bungkuk Beracun I


Zhang Fei tersenyum dingin ke arahnya. Setelah itu, dia langsung menjawab, "Sayang sekali, Ibuku sudah lama meninggal,"


"Hahaha ..." si nenek tua tiba-tiba tertawa. Suara tawanya cempreng. Sangat tidak enak didengar telinga. "Aku tahu, dia mati pasti karena menyesal telah melahirkanmu tanpa seorang Ayah, bukan?"


Diejek begitu rupa oleh nenek tua yang tidak dikenalnya, amarah Zhang Fei langsung meluap detik itu juga.


Sejak dahulu, dia paling tidak terima kalau ada yang berani menghina orang-orang yang disayangi. Dalam hati, ia sudah berjanji, siapa pun yang berani menghina, maka dia harus mau menanggung akibatnya.


Selapis hawa pembunuhan tiba-tiba keluar dari setiap inci tubuh Zhang Fei. Hawa pembunuh itu sangat pekat. Sampai-sampai dua orang di depannya merasa sedikit kaget.


Namun, dengan cepat mereka menutupi kekagetan tersebut.


"Tarik kembali ucapanmu, nenek tua! Kalau tidak, aku akan memenggal kepalamu sekarang juga!" kata Zhang Fei dengan nada dingin.


Nenek tua itu tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menatap Zhang Fei lekat-lekat


Tidak bisa dipungkiri, hatinya sedikit tergetar setelah mendengar ancaman barusan. Hanya saja, dia berusaha untuk menghilangkan rasa gentar itu dengan cara tersenyum sinis.


"Hemm ... aku tidak akan menarik kata-kataku kembali. Sebaliknya, aku ingin lihat, dengan cara bagaimana kau akan membunuhku?"


Bukannya jera, dia malah menantang balik!


Ditantang demikian, tentu saja Zhang Fei tidak akan mundur. Apalagi, sejak dulu dia tidak pernah menolak tantangan orang lain.


"Apakah kau sedang menantangku?" tanyanya menegaskan.


"Bisa dibilang, iya,"


"Baik. Aku terima tantangan itu. Dalam waktu kurang dari empat puluh jurus, aku pastikan kepalamu telah berpindah tempat,"


"Hahaha ... bocah bermulut besar. Nenek Bungkuk Beracun bukanlah manusia sembarangan. Aku ingin lihat, benarkah kau sanggup menepati ucapan itu?" tanya nenek tua yang mengaku berjuluk Nenek Bongkok Beracun tersebut.


"Kalau aku berani berbicara, berarti aku sanggup untuk membuktikannya," jawab Zhang Fei dengan tegas.


Pada dasarnya, ia adalah orang yang sangat teliti. Semakin bertambahnya pengalaman, seiring berjalannya waktu, Zhang Fei telah berubah menjadi sosok yang penuh perhitungan.


Dalam hal apapun, dia tidak pernah bertindak gegabah.


Setiap tindakan yang ia lakukan, pasti telah melewati perhitungan yang sangat matang.


Karena itulah, selama ini dia tidak pernah gagal. Karena hal itu pula, Zhang Fei bisa bertahan hidup sampai detik ini!


"Tutup mulutmu, bocah tengik!" bentak Nenek Bongkok Beracun. Dia kemudian melirik ke arah rekannya dan berita, "Fu Wei, kau diam lah dulu. Jangan ikut campur masalah ini. Tapi, kau juga jangan pergi," katanya sambil melirik.


"Tenang saja. Tanpa kau minta pun, dia tidak akan pernah bisa pergi dari sini, walaupun itu hanya satu jengkal,"


Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar. Sesat kemudian segera muncul para Datuk Dunia Persilatan. Pendekar Pedang Perpisahan pun ada di sana.


Nenek Bongkok Beracun dan Fu Wei tampak terkejut. Mereka berdua baru sadar bahwa di sekitar sana ternyata sudah bertamvah lima orang yang baru.


"Oh, jadi kalian pun ikut hadir? Aih ... kalau begitu, suasana malah bertambah ramai," katanya mengeluh. Seolah-olah ia sangat menyayangkan sekali.


"Nenek keriput," seru Zhang Fei mengejeknya. "Mau bertarung atau tidak? Kalau tidak, lebih baik kau merangkak dan minta maaf kepadaku karena telah berkata kasar,"


"Sialan! Berani sekali kau mencaci diriku,"


"Sudahlah. Kita mulai saja pertarungan ini," ucap Zhang Fei seraya mengibaskan tangan. "Oh, apakah kau ingin menyerah?"


"Siapa sudi yang ingin menyerah kepadamu? Aku lebih baik mampus daripada harus melakukan hal itu!" katanya berteriak keras.


"Kalau begitu bagus,"


Wushh!!!


Nenek Bungkuk Beracun tiba-tiba memutarkan tubuhnya satu kali. Bersamaan dengan gerakan tersebut, dia juga mengibaskan tangan kirinya ke depan.


Wutt!!!


Puluhan jarum hitam mendadak melesat secepat kilat. Semua jarum hitam itu mengarah ke seluruh tubuh Zhang Fei.


Ternyata, keahliannya dalam melemparkan senjata rahasia memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Zhang Fei harus mengakui bahwa kali ini dia mendapat lawan yang cukup tangguh.


Terkait serangan jarum hitam tadi, dengan cepat dua mendorong kedua tangannya ke depan. Gulungan angin yang tercipta dari dorongan tenaga dalam langsung memburu ke depan.


Semua jarum hitam tadi langsung terlempar ke segela arah.


Kejadian itu berlangsung dalam waktu yang sangat singkat!


Nenek Bungkuk Beracun tersentak kaget karena serangannya bisa ditahan dengan cukup mudah.


Namun, kekagetan itu hanya berlangsung sebentar. Karena pada detik berikutnya dia kembali melepaskan serangan susulan.


Tongkat yang ia genggam diputarkan beberapa kali. Dari setiap putaran tongkat itu menciptakan gulungan angin bertenaga dahsyat.


Setelah beberapa saat melakukannya, ia langsung menghantamkan tongkatnya ke depan.


Serangan susulan telah datang dalam waktu satu kedipan mata!


Namun untuk yang kedua kalinya, Zhang Fei mampu menghindari serangan itu cukup mudah. Dia hanya perlu mendorong kedua telapak tangannya sembari mengeluarkan jurus Telapak Dewa Maut.


Benturan keras langsung terjadi. Gulungan angin tadi sirna seketika setelah berbenturan dengan jurus milik Ketua Dunia Persilatan.


"Menarik! Ternyata Ketua Dunia Persilatan yang masih belia pun sudah mempunyai kemampuan lumayan," ejek Nenek Bungkuk Beracun sambil tersenyum dingin.


Karena sadar lawan mudanya bukan orang sembarangan, maka orang tua itu segera mengganti rencananya.


Dia tidak ingin lagi melepaskan serangan jarak jauh. Sebab menurutnya, sehebat dan sedahsyat apapun serangan jarak jauh yang dia berikan, pada dasarnya Ketua Dunia Persilatan pasti akan mampu menangkisnya.


Maka dari itu, Nenek Bungkuk Beracun langsung melompat tinggi dan menerjang ke depan.


Tongkat yang selama ini dia andalkan mulai memberikan serangan. Tongkat itu menghantam dan menyodok dari tengah udara.


Serangan yang datang tidak hanya satu atau dua kali saja. Melainkan datangnya berkali-kali!


Zhang Fei menahan setiap serangan tongkat itu menggunakan kedua tangannya. Benturan antara kayu dan tulang segera terjadi.


Untunglah Ketua Dunia Persilatan sudah menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuh. Sehingga rasa sakit yang ditimbulkan dari setiap benturannya bisa diminimalisir.


Tongkat itu masih bergerak. Hantaman datang dari arah kanan dan kiri. Setiap pergantian gerakannya juga sangat cepat. Pendekar kelas satu mustahil bisa menangkisnya.


Belum lagi ditambah dengan tendangan kaki kanan yang datang tanpa diduga-duga.


Semua itu mengincar tubuh Zhang Fei!


Nenek Bungkuk Beracun tidak memberikan waktu baginya untuk memberikan perlawanan. Dia terus menyerang tanpa mengenal kata berhenti.


Akibat dari itu, terpaksa Zhang Fei harus berada di posisi bertahan. Untuk sementara waktu, ia hanya mampu menangkis setiap serangan yang datang ke arahnya.


Pertarungan sengit segera berlangsung di jalan setapak tepi hutan itu. Nenek Bungkuk Beracun terus berusaha merobohkan Zhang Fei dengan jurus-jurus tongkatnya yang selama ini dia andalkan.


Deru angin yang dihasilkan dari setiap gerakannya membawa bau busuk. Walaupun bau busuk itu tidak terlalu menyengat, namun Zhang Fei tetap harus waspada.