Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Obrolan di Restoran


"Hemm ..." pria tua berjubah merah itu kemudian melirik ke sisinya. "Benarkah yang dia katakan itu, anak Mei?" tanyanya dengan dingin.


"Aku ... aku hanya diajak saja, Ayah," jawabnya sambil menundukkan kepala karena takut ayahnya marah.


"Kau selalu saja membuat masalah. Lain kali, jangan pernah bertindak gegabah atau melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Ayah,"


"Baik, Ayah. Aku mengerti,"


Pria berjubah merah itu malu memandang lagi ke arah Orang Tua Aneh Tionggoan. Dia pun melirik sekilas ke arah Zhang Fei.


"Siapa dia?"


"Dia pendekar muda yang membantuku," katanya menjawab dengan jujur.


"Bagus. Suatu saat kita akan berjumpa lagi,"


Selesai berkata seperti itu, dirinya langsung membalikkan tubuh. Satu kali kakinya menjejak tanah, ia dan anaknya sudah melesat pergi dari tempat tersebut.


Melihat kedua musuhnya pergi, Zhang Fei pun sudah bersiap untuk mengejarnya. Untunglah hal itu segera diketahui oleh Orang Tua Aneh Tionggoan. Dengan cepat ia pun menahan niatnya.


"Jangan dikejar. Biarkan mereka pergi," ucapnya sambil memegangi lengan Zhang Fei.


"Tapi ..."


"Jangan banyak membantah," potongnya dengan cepat.


"Baiklah,"


Karena tidak mau menambah masalah, akhirnya mau tak mau dia harus menuruti ucapan Kai Luo.


Suasana di hutan tersebut kembali hening. Orang yang hidup hanya ada mereka berdua. Sedangkan sisanya sudah berubah menjadi mayat.


Wushh!!!


Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya. Dia langsung pergi dari sana tanpa memikirkan para tokoh yang menjadi korban.


Tidak mau ketinggalan, Zhang Fei juga segera melakukan hal serupa. Ia mengikuti orang tua itu di belakangnya.


Dua bayangan manusia berlari dengan kencang seperti angin. Beberapa waktu kemudian, keduanya telah keluar dari hutan dan mulai memasuki gerbang kota.


Di atas gerbang yang megah dan terbuat dari baja murni itu, ada sebuah tulisan besar.


"Selamat Datang di Kota Changsha,"


Kai Luo dan Zhang Fei berhenti ketika tiba di depan gerbang. Dua orang penjaga segera memeriksanya. Beberapa saat kemudian, mereka baru diizinkan masuk ke dalam sana.


Sekarang, kedua orang itu tidak lagi berlari dengan mengandalkan ilmunya. Mereka memilih berjalan sambil menikmati keindahan dan keramaian kota.


Sejak awal, Zhang Fei tidak pernah bicara. Kai Luo pun tidak mengajaknya bicara. Mereka berdua tetap diam sambil menutup mulut.


Pada saat tiba di pusat kota, orang tua itu berjalan ke arah restoran besar. Karena keadaan di lantai paling bawah sangat ramai, maka akhirnya dia pun memilih lantai di bagian atas.


Seorang pelayan membawa keduanya ke tempat tujuan. Mereka duduk di bangku belakang yang berdekatan dengan jendela.


Dari tempatnya sekarang, kedua orang itu bisa menikmati pemandangan Kota Changsha lebih jelas lagi.


Jauh di depan sana, ada banyak sekali bangunan dan gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di bawah langit biru.


Zhang Fei memandangi semua hal yang ada. Dia sangat menyukai pemandangan seperti ini.


Di depannya, Kai Luo sedang menuangkan arak ke dalam cawan.


"Mari bersulang," ucapnya.


Anak muda itu mengangguk. Mereka mengangkat cawan secara bersamaan, lalu meminumnya sampai habis.


"Karena ... karena dulu, Tuan juga pernah menolongku," jawabnya sedikit gugup.


Pada dasarnya, ketika pertarungan di tengah hutan tadi berlangsung, Kai Luo memang tidak terlihat begitu terdesak.


Dirinya memang sengaja mengalah dan ingin mengimbangi kelima orang musuhnya. Dengan kemampuannya yang sudah mencapai taraf tinggi, bagaimana mungkin dia bisa mati dengan mudah?


Walaupun benar musuhnya tangguh, tapi rasanya kemampuan gabungan mereka masih berada di bawah kemampuan Orang Tua Aneh Tionggoan sendiri.


Namun, terkait alasan kenapa Zhang Fei memutuskan untuk membantunya, tak lain adalah karena ia telah terdorong oleh rasa kemanusiaan dan keadilan.


Dia paling tidak suka melihat ada orang yang menyerang dengan cara mengeroyok. Baginya, hal itu sangat memalukan.


Di satu sisi, alasan kenapa dia membantunya, tak lain juga karena orang tua itu, dulu pernah menyelamatkan selembar nyawanya.


Apa yang dilakukan oleh Kai Luo tempo hari, bagi Zhang Fei sangatlah berharga. Ia bahkan beranggapan tidak mampu membayarnya walau dengan cara apapun.


Bukankah di dunia ini, yang paling penting dan berharga adalah nyawa?


"Aku pernah menolongmu?" dia mengerutkan kening sambil berusaha mengingat-ingat.


Sayang sekali, walau pikirannya dipaksa pun, dia tetap tidak berhasil mengingatnya. Lagi pula, Kai Luo merasa asing dan baru bertemu dengan pendekar muda di depannya itu.


Jadi, bagaiamana mungkin dia pernah menolongnya?


"Benar, Tuan. Peristiwa itu sudah berlangsung kurang lebih dua tahun lalu. Apakah Tuan masih ingat akan anak muda yang dikeroyok oleh para petinggi Partai Gunung Pedang bersama rekannya, di markas Organisasi Bulan Tengkorak?"


"Hemm ... ya, aku masih ingat,"


"Nah, akulah pemuda yang Tuan tolong itu," katanya sambil tersenyum hangat.


"Oh, jadi kau pemuda yang dulu hampir mati itu?"


"Benar, Tuan," jawab Zhang Fei sambil tersenyum getir.


"Hahaha ... ya, ya. Aku ingat sekarang. Bukankah kau adalah Zhang Fei?"


"Ehmm, begitulah,"


"Aih, tak kusangka kemampuanmu sudah meningkat pesat," ia tertawa lagi. Seolah-olah dirinya merasa senang akan kemajuannya. "Zhang Fei, bukankah benar perkataanku dulu? Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Tapi mungkin dalam situasi yang berbeda, dekatnya kau percaya akan ucapan itu?"


"Ya, aku percaya sekarang," ucap anak muda itu sambil mengangguk.


Dia masih ingat dengan ucapan tersebut. Tidak disangka, ternyata perkataan Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo benar-benar terbukti.


Ketika sedang asyik bicara, tiba-tiba keduanya melihat dua orang pelayan restoran yang sedang berjalan ke arahnya.


Pelayan itu membawa nampan berisi makanan dan beberapa guci arak berkualitas tinggi.


Setelah semua menu pesanan tersedia di atas meja, tanpa banyak mengulur waktu, mereka segera menyantapnya dengan lahap.


Sekitar lima belas menit berikutnya, semua makanan tadi telah habis masuk ke perut. Kini yang masih utuh hanyalah arak. Dengan cepat pula, keduanya membuka segel arak dan menikmati hidangan penutup.


Sambil minum arak, terdengar Kai Luo mengajak bicara lagi.


"Beberapa waktu belakangan, aku pernah mendengar kabar tentang nama Zhang Fei yang sering disebut-sebut oleh orang persilatan," ucapnya tiba-tiba.


"Benarkah, Tuan? Apa yang dibicarakan oleh orang-orang itu?" tanya Zhang Fei mulai penasaran.


"Cukup banyak. Tapi yang paling aku ingat, adalah ketika kau menyerang markas cabang Partai Panji Hitam dan membunuh beberapa tokoh sesat angkatan tua," Kai Luo memandang Zhang Fei dengan selidik. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan lagi ucapannya. "Sekarang aku baru sadar, ternyata orang yang dibicarakan itu, tak lain adalah kau,"


Mendengar cerita barusan, pemuda itu menjadi salah tingkah. Ia merasa gugup. Zhang Fei hanya bisa tersenyum hangat kepadanya.


"Sebenarnya aku tidak pernah berharap menjadi bahan perbincangan banyak orang. Apa yang aku lakukan itu, tak lebih hanya melakukan tugas dan menunaikan kewajiban sebagai seorang pendekar. Seperti yang diajarkan oleh Kakek dan guru," ujar Zhang Fei dengan ekspresi wajah serius.