Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bertarung Bersama II


Wutt!!! Wungg!!! Wungg!!!


Suara mendengung terdengar dari setiap gerakan kedua tangannya. Zhang Fei dan Yao Mei kembali berusaha mengimbangi gerakan lawan. Mereka memainkan pedangnya dengan jurus masing-masing.


Ketiga mendapatkan kesempatan yang empuk, tiba-tiba Zhang Fei berteriak sangat lantang. Ia lalu mengeluarkan jurus Murka Pedang Dewa!


Wutt!!!


Pedangnya bagaikan kilat. Walaupun dia tahu tubuh lawan telah berubah menjadi kebal, tapi ia tidak perduli soal itu.


Zhang Fei hanya berpendapat dalam hatinya, bahwa setebal-tebalnya kulit manusia, pasti masih jauh tebal lapisan bumi.


Lalu, benarkah tubuh si Biksu Merah itu, lebih tebal dari bumi?


Suara dentingan nyaring terus terdengar. Ia mencecar lawannya tanpa mengenal kata henti. Yao Mei juga mengambil langkah sama.


Jurus pedang pamungkas miliknya telah digelar. Kelebatan cahaya terang mengurung tubuh si Biksu Merah.


Menghadapi dua serangan dahsyat itu, lama-kelamaan biksu sesat tersebut merasa kewalahan juga.


Memang benar sampai saat ini tubuhnya masih belum mempan oleh dua senjata lawan. Tapi sepasang matanya terasa pusing tujuh keliling. Hal itu terjadi karena dia harus terus-menerus mengikuti ke mana lawannya bergerak.


Di tengah pertarungan yang sedang berjalan sengit tersebut, tiba-tiba Zhang Fei menyadari sesuatu.


Mendadak dirinya meningkatkan kecepatan. Pedangnya semakin tidak bisa dilihat dengan jelas. Si Biksu Merah hanya mampu merasakan deru angin tajam yang terus berusaha merobek kulit tubuhnya.


Wutt!!!


Pedang Raja Dewa menusuk ke depan dengan gerakan tiba-tiba. Tusukan itu bukan mengarah ke dada ataupun tenggorokan.


Melainkan ke arah mata! Sepasang mata si Biksu Merah menjadi sasaran utamanya!


Slebb!!!


Usaha Zhang Fei berhasil. Pedang pusaka miliknya benar-benar menembus mata lawan!


"Nona Mei, rusuk bola matanya yang satu lagi," ucapnya sambil berteriak.


"Baik,"


Yao Mei melompat ke depan. Dia pun segera menusuk mata si Biksu Merah yang satunya lagi.


"Ahh ... mataku ..."


Tokoh sesat itu berteriak keras. Dia berusaha mencabut dua batang pedang yang menusuk matanya sampai tembus ke belakang.


Sayang sekali, usaha itu tidak membuahkan hasil. Tepat sebelum kedua tangannya memegang batang pedang, tiba-tiba dia merasakan seluruh tenaganya hilang sirna.


Si Biksu Merah langsung terkulai tak berdaya. Seolah-olah tulang di tubuhnya sudah berubah menjadi lunak.


"Pukulan Tanah Merah!"


"Telapak Bulan Purnama!"


Wushh!!! Wutt!!!


Dua pendekar muda itu menyerang secara bersamaan. Dua macam jurus tangan kosong mengenai dada si Biksu Merah. Ia langsung terlempar jauh.


Begitu tubuhnya ambruk ke tanah, nyawanya sudah melayang.


Pertarungan sengit melawan tokoh kelas atas dari negeri Tibet itu akhirnya selesai dalam waktu sekitar empat puluh jurus.


Setelah kematian si Biksu Merah, Zhang Fei dan Yao Mei terlihat beridri di tempat masing-masing. Keduanya sama-sama melamun.


Mereka heran, kenapa serangan terakhir barusan bisa dilancarkan secara bersamaan? Padahal sebelumnya tidak ada rencana sama sekali.


Apakah kejadian itu kebetulan? Ataukah ada sesuatu dibalik semuanya?


Suasana di tengah hutan itu langsung hening. Seolah-olah di sana tidak ada lagi manusia hidup.


Mereka baru tersadar dari lamunannya setelah ada angin dingin yang berhembus.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Zhang Fei segera berlari ke arah si Putih. Ia berharap kuda kesayangannya itu belum mati.


Sayangnya, kuda itu memang sudah benar-benar mati!


"Hahh ..." Zhang Fei menghela nafas berat.


Dia segera menggali tanah untuk menguburnya. Dengan bantuan tenaga dalam, pekerjaan yang harusnya membutuhkan waktu lama itu, bisa jadi sebentar.


Selama proses penggalian tersebut, Zhang Fei tetap fokus pada pekerjaannya. Dia tidak lagi menghiraukan keadaan di sekitar, bahkan Yao Mei yang sejak tadi berdiri di belakangnya pun tidak bisa ia rasakan.


"Sudah?" tanya gadis itu setelah Zhang Fei bangkit berdiri.


"Sudah," jawabnya singkat. "Eh, aku kira Nona Mei sudah pergi,"


"Sejak tadi aku berdiri di belakangmu,"


"Jadi ... kau ingin aku pergi? Baik, aku akan pergi sekarang juga,"


Yao Mei langsung membalikkan tubuhnya. Dia berniat untuk benar-benar pergi.


Siapa sangka, sebelum kakinya menjejak tanah, Zhang Fei sudah berkata.


"Jangan pergi dulu, Nona Mei. Aku ... aku ingin bicara denganmu," katanya sedikit gugup.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya sambil menoleh.


"Apa saja,"


"Hemm ..."


Yao Mei tidak bicara lagi. Ia hanya berjalan menuju ke sebuah pohon rindang yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Gadis itu kemudian duduk di bawahnya.


Melihat hal tersebut, Zhang Fei juga segera mengikutinya. Ia pun duduk di sisi Yao Mei.


"Nona Mei, aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah menolongku," katanya setelah beberapa saat kemudian.


"Sudah aku katakan tadi, kau tidak perlu berterimakasih. Aku juga tidak berniat untuk menolongmu," jawabnya hambar.


"Eh?" Zhang Fei mengerutkan kening. Ia sedikit bingung. "Kalau tidak ada niat menolong, lalu ... lalu kenapa kau membebaskan aku dari pengaruh sihir si Biksu Merah? Bukankah itu artinya, Nona Mei sudah menolong dan menyelamatkan aku dari kematian?"


"Apa kurang jelas? Aku tidak menolongmu," katanya sedikit kesal. "Apa yang aku lakukan tadi hanya karena tidak ingin kau mati di tangannya,"


"Me-memangnya kenapa?"


"Karena aku belum membalaskan kekalahan saat bertarung melawanmu di Kampung Hitam," ucapnya dengan nada serius.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian," Yao Mei memotong ucapan Zhang Fei.


"Baiklah," jawabnya sambil menghela nafas berat.


Ternyata benar apa yang diucapkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan beberapa hari lalu. Wanita itu memang susah dimengerti.


'Apakah semua wanita di dunia ini, benar-benar mempunyai perangai yang sama?' batinnya bertanya-tanya.


Kedua pendekar muda itu masing-masing menutup mulut. Lewat beberapa waktu kemudian, Zhang Fei bicara lagi untuk memecahkan keheningan.


"Nona Mei, ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di sini? Apakah kau juga akan ikut melibatkan diri dalam perebutan benda pusaka nanti?"


"Begitulah. Ayah menyuruhku untuk datang kemari. Kau sendiri, bagaimana?" tanyanya sambil menoleh.


Sekarang nada bicara gadis itu tidak dingin seperti tadi. Nadanya malah terdengar ramah. Seolah-olah dia sedang bicara dengan sahabat lamanya.


Zhang Fei sedikit heran atas kejadian ini. Tapi dengan cepat ia mengingat kembali ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Aku juga sama sepertimu, Nona Mei. Di satu sisi, aku ingin menambah pengalaman,"


"Kau datang seorang diri?"


"Tentu saja. Aku kan sudah tidak punya siapa-siapa lagi,"


"Ke mana gurumu?"


"Semua guruku sudah tiada,"


"Apakah termasuk juga kedua orang tuamu?"


"Begitulah," katanya lirih.


Yao Mei menganggukkan kepala beberapa kali. "Maaf, aku tidak berniat membuatmu sedih,"


"Tidak apa," ucap Zhang Fei tersenyum. "Nona Mei sendiri, datang bersama siapa?"


"Aku juga seorang diri,"


"Ke mana Ayah dan gurumu?"


"Guruku adalah Ayahku sendiri," Yao Mei tertawa pelan. Tawa itu membawa kesejukan dan keanggunan. Seperti bunga yang mekar di musim semi. Zhang Fei sendiri sempat dibuat terpukau karenanya.


"Beliau sedang banyak urusan. Jadi aku berangkat sendiri," lanjutnya setelah dia selesai tertawa.


###


Novel yang baru sudah up lagi, ya. Kalau tidak ada halangan, setiap hari juga akan dua bab.


Oh iya, novel itu genre-nya xianxia. Jangan lupa baca dan tambahkan ke favorit ya, semoga kalian suka.


Terimakasih ...