Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tanda yang Mencurigakan


Penunggang kuda itu melarikan kudanya dengan sangat cepat. Terhadap keadaan Zhang Fei dan Ou Yang Shen, dia sama sekali tidak perduli.


Baru beberapa jarak saja, tubuh dua orang pendekar itu sudah dipenuhi oleh debu-debu jalanan yang tebal. Dalam waktu singkat, penampilan mereka yang tadinya gagah dan perkasa, sekarang telah berubah menjadi layaknya seorang pengemis.


Kalau yang ada di posisi seperti itu adalah orang biasa, mungkin sudah sejak tadi ia tewas. Apalagi jalanan yang dilewati oleh rombongan Wali Kota Lu Hong tidak selalu mulus.


Kadang kala mereka melewati jalanan yang tidak rata dan dipenuhi oleh batu-batu kerikil yang tajam.


Untungnya sejak awal, Zhang Fei dan Ou Yang Shen sudah mempersiapkan dirinya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, keduanya telah menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh.


Hal tersebut dilakukan supaya mereka terlindung dari luka-luka yang bisa saja tercipta akibat diseret dengan kasar.


"Paman Shen, bagaiamana keadaanmu?" tanya Zhang Fei dengan ringan.


"Aku baik-baik saja. Hanya tubuhku yang mulai terasa pegal," Yang Shen menjawab pertanyaannya sambil tertawa. "Bagaimana dengan keadaanmu sendiri, Fei?"


"Aku malah menikmati perjalanan kali ini. Bagiku, ini adalah pengalaman baru,"


Zhang Fei juga menjawab sambil tertawa. Terhadap apa yang sedang menimpanya sekarang, mereka seolah-olah sangat menikmatinya.


Hal itu bisa dilihat dari ekspresi wajahnya. Sepanjang jalan, tak jarak mereka tertawa sendiri seperti orang bodoh.


Sementara itu, tanpa terasa rombongan kuda sudah tiba di jalan raya yang besar. Orang-orang yang pada saat itu berada di pusat kota, seketika langsung minggir dan berdiri menyaksikan rombongan kuda yang lewat.


Ketika melihat ada dua orang yang diseret dengan sangat kasar, mendadak dalam benak semua orang timbul beberapa pertanyaan yang sama.


Siapa dua orang tersebut? Mengapa mereka diseret seperti itu? Kesalahan apa pula yang telah dilakukan oleh keduanya?


Semua orang menahan nafas. Mereka merasa prihatin kepada Zhang Fei dan Ou Yang Shen.


"Kasihan sekali dua orang itu," kata salah seorang di antara kerumunan.


"Ya, aku pun demikian. Menurutku, tidak lama lagi mereka akan mati,"


"Tentu saja. Lagi pula, manusia mana yang bisa bertahan lama apabila diperlakukan seperti itu?"


Bisik-bisik di antara mereka terus terdengar. Hampir semua orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa khawatir dengan nasib keduanya.


Sekitar belasan menit kemudian, rombongan kuda mulai memasuki pintu gerbang. Mereka baru berhenti setelah tiba di halaman depan yang sangat luas.


Di ujung halaman itu ada sebuah bangunan yang sangat megah dan mewah. Puluhan prajurit berseragam lengkap tampak sedang berjaga-jaga.


Setelah tiba di tempat tujuan, penunggang kuda tadi segera melepaskan ikatan Zhang Fei dan Ou Yang Shen dari kudanya.


Kemudian dia langsung membawa mereka ke tengah mimbar yang sudah tersedia.


Sementara Wali Kota Lu Hong sendiri, ia langsung berjalan menghampiri seorang tua yang sedang berdiri di pintu utama.


"Buatkan surat pengumuman untuk semua warga kota. Besok saat tengah hari, di halaman ini akan diadakan hukuman mati," katanya dengan nada serius.


"Baik, Tuan. Perintah akan segera dilaksanakan," jawab orang tua itu.


Dia langsung membalikkan tubuh dan masuk ke dalam ruangan tempat kerjanya. Sedangkan Wali Kota Lu Hong sendiri, dia pun segera masuk ke dalam sana.


Sekarang, Zhang Fei dan Ou Yang Shen sedang diikat di sebuah tiang di tengah-tengah mimbar. Saat ini kedua kaki mereka tidak diikat lagi. Yang diikat hanya keduanya tangannya saja.


Setelah penjagaan di sana mulai longgar, tiba-tiba Ou Yang Shen mengajukan sebuah pertanyaan kepada Zhang Fei.


"Sebenarnya, apa rencanamu, Fei?" tanyanya sambil menoleh.


Kalau hanya membongkar suatu rahasia, hampir semua orang mungkin bisa melakukannya.


Tetapi, cara apa yang akan diambil oleh pendekar muda tersebut?


"Saat ini, aku sendiri masih belum bisa menentukannya. Tetapi jujur saja, aku merasa sangat curiga terhadap Wali Kota Lu Hong," kata Zhang Fei setelah beberapa saat terdiam.


"Apa yang membuatmu curiga kepadanya?"


"Aku merasa dia bukan manusia biasa,"


"Maksudmu?"


"Menurutku, Wali Kota Lu Hong sebenarnya adalah orang persilatan. Aku bisa mengatakan itu karena melihat salah satu tanda yang ada pada dirinya,"


"Tanda? Tanda apa yang kau maksud?"


Rasa penasaran dalam diri Ou Yang Shen semakin menjadi. Apalagi setelah dia mendengar perkataan Zhang Fei barusan.


"Apakah Paman Shen sempat melihat tatapan mata Wali Kota Lu Hong?"


"Ya, aku sempat melihatnya," kata Yang Shen sambil mengangguk.


"Sekarang aku tanya, bagaimana tatapan mata para pendekar dalam dunia persilatan yang mempunyai kemampuan tinggi?"


"Biasanya mereka memliki tatapan mata setajam pisau. Dalam setiap tatapannya itu mengandung ancaman yang sulit untuk dijelaskan,"


Sebagai orang-orang rimba hijau, tentu saja Ou Yang Shen juga mengetahui akan hal tersebut. Karena itulah dia berani menjawab tanpa adanya rasa ragu.


"Nah, apakah kau pun menyadari bahwa tatapan mata Wali Kota Lu Hong sama seperti layaknya orang-orang rimba hijau?"


Zhang Fei melirik ke arahnya sambil menatap dengan ekspresi wajah serius.


Ditatap demikian, Ou Yang Shen terlihat tidak ambil perduli. Sepasang matanya menatap ke atas langit yang hitam kelam. Saat itu, ribuan bintang sudah bertaburan di atas langit. Rembulan juga bersinar dengan warnanya yang sedikit pucat.


"Ah, kau benar," serunya setelah beberapa saat mengingat-ingat. "Sekarang aku baru sadar. Saat pertama kali Wali Kota Lu Hong menatap kita, tatapan matanya persis seperti apa yang kau sebutkan,"


Zhang Fei tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya tersenyum penuh arti kepada Ou Yang Shen.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan nantinya?"


"Apa lagi? Tentu saja kita akan mencari tahu siapa dia sebenarnya. Karena menurutku, dia sangat tidak pantas untuk menjadi seorang Wali Kota," kata Zhang Fei mengutarakan pendapatnya.


Ou Yang Shen langsung terdiam. Dia pun turut memikirkan tentang orang tersebut.


Setelah beberapa lama berpikir, apa yang dikatakan oleh Zhang Fei ternyata memang tidak terlalu salah.


Seharusnya, seorang Wali Kota tidak mempunyai tatapan mata setajam itu. Biasanya mereka yang memangku jabatan tidak terlalu pandai atau bahkan tidak mengerti sama sekali tentang ilmu silat.


Orang-orang seperti mereka pada umumnya hanya dijaga dan dilindungi oleh para pendekar saja


Tapi khusus untuk Wali Kota Lu Hong sendiri, ia justru tampil berbeda dari orang-orang sejenisnya.


Bukankah secara tidak langsung, hal ini mendatangkan kecurigaan yang sangat besar?


Ou Yang Shen menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sekarang dia mulai memahami jalan pikiran Zhang Fei.


"Kau benar. Apalagi dengan bentuk tubuh segagah itu. Daripada menjadi Wali Kota, dia lebih pantas menjadi seorang pendekar dunia persilatan," katanya beberapa saat kemudian.