
Pertarungan itu baru berlangsung beberapa jurus. Tapi apa yang disuguhkannya telah berhasil membuat orang terpukau.
Ketegangannya bisa dirasakan dengan jelas. Keseruannya juga dapat dilihat secara nyata!
Tiga tokoh angkatan tua itu menggertak gigi. Setelah usaha pertama mereka mengalami kegagalan, kini ketiganya semakin sadar bahwa Zhang Fei memang bukan lawan yang mudah.
Akibat dari hal itu, masing-masing sudah ada niat dalam hati bahwa mereka akan mengeluarkan segenap tenaga dan kekuatan.
Meskipun tidak ada perencanaan sebelumnya, namun hati mereka bertiga seolah-olah sudah sinkron. Masing-masing sudah berniat untuk mengubah pertarungan ini!
Pertarungan ini tidak akan berhenti sebelum jatuh korban jiwa!
Ketiganya saat ini masih berdiri di tempat masing-masing. Diam-diam mereka menyalurkan tenaga dan hawa murni sampai ke titik maksimal.
Zhang Fei bisa melihat dan merasakan hal tersebut. Tidak hanya itu saja, bahkan firasatnya juga mengatakan bahwa ketiga lawannya mempunyai niat buruk terhadap dirinya sendiri.
'Hemm ... aku akan mencoba mengikuti kemauan mereka,' katanya dalam hati.
Wushh!!!
Sekelebat bayangan manusia tiba-tiba bergerak secepat kilat. Sesaat kemudian bayangan tersebut sudah tiba di depan mata.
Bayangan itu ternyata adalah Niu Niu!
Wanita tua tersebut saat ini sudah menggelegar jurus-jurus pamungkas miliknya. Dua batang pedang kembar yang ia genggam seolah-olah telah berubah menjadi dua ekor naga yang sangat ganas.
Serangannya sangat brutal. Seluruh tubuh Zhang Fei menjadi sasaran utama. Hawa pedang yang dihasilkan juga tidak main-main. Bahkan hawa pedang itu hanya selisih sedikit dari hawa pedang milik Pendekar Pedang Perpisahan.
Zhang Fei sangat terkejut akan hal tersebut. Rupanya pihak musuh telah menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.
Sementara di sisi lain, hampir dalam waktu yang bersamaan, Pendekar Kipas Terbang juga telah melakukan hal serupa.
Kipas yang tadi berada di pinggangnya, kini telah dicabut. Kipas itu mempunyai ujung yang runcing dan terbuat dari baja murni. Saking tajamnya ujung kipas tersebut, rasanya kulit pun bisa ditembus dengan mudah.
Orang tua itu mengeluarkan jurus-jurus kipas yang sangat dahsyat. Setiap ayunan kipasnya mendatangkan angin besar yang mampu menerbangkan segala sesuatu.
Tidak mau kalah dari yang lain, si Ratu Jarum pun segera bertindak.
Dia melompat tinggi ke atas udara. Sesaat kemudian ia langsung mengayunkan kedua tangannya sambil memutarkan tubuh.
Ratusan jarum datang dari segala penjuru mata angin. Jarum-jarum itu seperti hujan deras! Dan memang, nama jurusnya pun adalah Hujan Jarum!
Sehingga tidak ada satu pun tempat yang dekat dijadikan pelindung.
Posisi Zhang Fei langsung berubah. Dalam waktu singkat saja ia telah berada di bawah angin. Untunglah ketika mendapat kesempatan, ia sudah sempat mencabut Pedang Raja Dewa.
Sehingga akibat yang diterima tidak terlalu mengerikan. Namun meskipun begitu, tetap saja nyawanya terancam.
Bahkan harapan untuk bebas dari ketiga jurus itu pun hampir tidak ada sama sekali!
Para Datuk Dunia Persilatan tercekat. Mereka sangat khawatir akan keselamatan Zhang Fei.
Tetapi, orang-orang itu pun tidak bisa mengambil tindakan. Hatinya ingin memberikan bantuan, tapi hal itu tidak bisa diwujudkan.
Alasannya adalah karena menyangkut perjanjian sebelumnya! Dan kalau sampai mereka mengingkari janji sendiri, maka hal ini tentu akan berakibat sangat fatal. Apalagi di sana ada banyak pendekar yang hadir.
Sekarang, tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan kecuali hanya mendoakan keselamatan Zhang Fei!
Sementara di tengah-tengah arena pertarungan, ketiga tokoh angkatan tua itu terus menggempur Zhang Fei tanpa berhenti. Mereka menyerang dari tiga titik berbeda.
Perpaduan serangan itu pun sangat sempurna. Dari jarak dekat, ada Niu Niu yang menyerang menggunakan pedang kembarnya.
Yang mana dirinya selalu mengayunkan tangan ketika si Ratu Jarum melancarkan jurus. Tujuannya adalah supaya luncuran jarum-jarum tersebut bisa lebih cepat dari yang seharusnya.
Diserang seperti itu, tentu siapa pun akan kewalahan. Jangankan Zhang Fei, Dewa Arak Tanpa Bayangan pun mungkin akan sedikit kerepotan.
Saat ini, Ketua Dunia Persilatan sudah mengeluarkan jurus pedang pamungkas miliknya. Jurus Pedang Raja Dewa telah mengeluarkan taring. Pedangnya menjadi terlihat sangat banyak. Gerakannya juga tidak perlu diragukan lagi.
Namun sayangnya, hal itu saja seperti masih belum cukup. Zhang Fei tetap merasa kewalahan akibat gabungan ketiga serangan itu.
Srett!!! Slebb!!!
Sebatang pedang tahu-tahu telah menggores pangkal lengan sebelah kanannya. Disusul kemudian dengan tiga batang jarum yang menyentuh dada.
Gerakan Zhang Fei menjadi melambat. Posisinya semakin terdesak sangat hebat. Serangan dari lawannya terus bersarang di tubuh.
Blamm!!!
Suara yang keras dan berat terdengar. Tubuh Zhang Fei terlempar sejauh sepuluh langkah ke belakang. Ia bergulingan tujuh kali. Sesaat kemudian, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.
Apakah ia telah tewas?
Para Datuk Dunia Persilatan semakin cemas. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di pihaknya.
Sedangkan Pendekar Kipas Terbang dan yang lain, mereka berdua tampak girang. Ketiganya tersenyum sinis saat melihat Zhang Fei yang sudah seperti tidak bernyawa lagi.
Suasana menjadi hening. Semua pasang mata saat ini sedang menatap ke arah Zhang Fei.
"Ketua, kalau kau tidak bangun dalam hitungan sepuluh, maka kau telah dianggap kalah," kata Pendekar Kipas Terbang dengan suara lantang.
Ucapannya itu segera disambut oleh protes dari banyak orang. Namun dia tidak peduli sama sekali.
"Satu ..." ia malah mulai menghitung.
"Dua ..."
"Tiga ..."
Hitungan terus berlanjut. Sementara Zhang Fei masih tetap tidak bergerak.
Pada saat itu, sebenarnya dia belum tewas. Alam bawah sadarnya sedang mengingat semua pesan-pesan terkait Dewa Pedang yang dulu pernah disampaikan oleh Zhang Liong ketika ia berguru kepadanya.
Ingatan-ingatan itu sedikit demi sedikit mulai bermunculan. Zhang Fei segera memfokuskan hati dan pikirannya.
Ia tidak menghiraukan hitungan atau keadaan di sekitar. Ia terus berfokus untuk memahami setiap pesan tersirat yang dulu diberikan oleh Zhang Liong.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Zhang Fei merasa seluruh tubuhnya seperti dialiri oleh aliran listrik. Tenaganya tiba-tiba kembali pulih.
Wushh!!!
Tubuhnya mencelat ke tengah udara. Dia langsung bangkit dan turun dengan sikap sempurna.
Pedang Raja Dewa telah dihunus ke depan. Ia menatap ke arah tiga lawannya dengan tatapan yang jauh lebih tajam daripada tadi.
Peristiwa itu membuat semua orang terkejut. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi kepadanya. Tapi, semua orang tersebut bisa merasakan adanya tekanan tenaga dalam dengan jumlah cukup besar yang berasal dari tubuh Zhang Fei.
"Bagus! Akhirnya anak Fei telah berhasil memahami makna pesan-pesan dari Tuan Zhang Liong," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Dia tampak girang sekali setelah menyadari keadaan Zhang Fei.
"Sepertinya, Dewa Pedang Dari Selatan sudah benar-benar dilahirkan," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.