
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang telah dibuat oleh Tuan muda Zhang, mari kita pergi sekarang," ajak Lien Hua kepada yang lainnya.
"Tapi ..."
"Tidak ada kata tapi-tapian," ucap wanita itu memotong perkataan Duan Dao.
"Aku sungguh tidak punya muka untuk bertemu dengan orang luar," Mo Bian berkata dengan ekspresi wajah bersalah.
Bagaimanapun juga, apa yang diperintahkan oleh Zhang Fei ini sangat bertolak belakang dengan hatinya. Dengan jalan hidupnya.
Maka dari itu, wajar apabila mereka merasa serba salah.
"Jangan bicara macam-macam dulu. Aku yakin, dia punya alasan lain terkait menyuruh kita untuk pergi," sahut Lien Hua.
Sebenarnya dia sendiri merasakan hal yang sama seperti dua orang rekan di sisinya itu. Tetapi apa boleh buat, ini sudah perintah. Perintah dari pemimpinnya.
Dalam hal ini, pemimpin mereka adalah Zhang Fei. Maka dari itu, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus tetap mematuhi perintahnya.
Pada akhirnya, karena tidak punya pilihan lain lagi, mereka bertiga pun kemudian melesat pergi dari kediaman Hartawan Wang dengan membawa berbagai macam perasaan di benaknya masing-masing.
Wushh!!!
Dalam waktu singkat, ketiganya sudah menghilang ditelan oleh kegelapan malam.
Sementara itu di halaman belakang, tiga orang tua dengan senjata berbeda, saat ini masih bertempur sengit melawan Zhang Fei. Mereka bahu-membahu untuk merobohkan atau bahkan membunuh anak muda tersebut.
Tetapi sayangnya, keinginan itu tidak bisa terwujud dengan begitu mudah. Nyatanya Zhang Yi bukan lawan yang enteng untuk dihadapi. Anak muda itu mempunyai serangkaian jurus ilmu pedang yang sangat dahsyat.
Bahkan ketiga orang tua itu pun merasa kesulitan. Jangankan untuk membunuh, sampai sekarang pun bahkan mereka belum melukai sama sekali.
Dua puluh lima jurus sudah berlalu kembali. Kedua belah pihak yang terlibat mulai merasa lelah. Walaupun belum mencapai ratusan jurus, tapi selama ini mereka sudah mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuannya masing-masing.
Maka dari itu, semakin lama bertarung, maka semakin cepat dan hebat pula hasilnya.
Sedangkan Zhang Fei sendiri, saat ini dia sudah mengeluarkan tenaga sampai delapan bagian. Dia pun masih menggunakan jurus Empat Tangan Gerakkan Pedang.
Menurut pendapatnya, untuk sementara waktu, jurus itu masih bisa menanggulangi serangan lawan yang datang secara bergantian tersebut.
Malam semakin larut. Pertarungan pun semakin seru. Para penjaga dan prajurit yang dimiliki oleh Hartawan Wang mulai banyak yang hadir di sekitar area pertarungan.
Meskipun mereka tidak ikut campur dalam pertempuran, tapi setiap dari orang-orang itu sudah berada dalam keadaan siap siaga.
Apabila pertarungan berhenti dan anak muda itu kalah, maka mereka sudah siap untuk segera membekuknya.
Perlu diketahui, alasan kenapa Zhang Fei menyuruh Lien Hua dan yang lainnya pergi, tak lain adalah karena ia tidak mau membuat ketiganya tewas hanya karena urusan ini.
Dia tahu, kalau sampai mereka kalah, maka tidak ada jaminan lagi untuk hidup lebih lanjut. Sudah pasti Hartawan Wang akan menghukum, atau bahkan membunuhnya.
Maka dari itu, Zhang Fei lebih baik menyuruh mereka pergi dengan alasan bahwa tiga orang tua itu masih mempunyai tanggungjawab besar yang lain.
Contohnya saja Lien Hua, dia adalah Ketua Perguruan Teratai Putih. Banyak anak murid yang masih memerlukan bimbingannya, banyak pula orang lain yang memerlukan bantuannya.
Kalau dia sampai ikut menjadi korban dalam masalah ini, bukankah secara tidak langsung, Zhang Fei sudah melakukan kesalahan besar?
Karena beberapa alasan yang sangat mendasar itulah, dirinya memilih untuk menyuruh mereka pergi.
Apalagi dalam rencana ini, Zhang Fei berlaku sebagai pemimpin.
Memangnya, pemimpin mana yang ingin anak buahnya tewas?
Baginya, ini adalah bentuk sebuah pengorbanan. Pengorbanan bagi seorang pemimpin, pengorbanan bagi sesama manusia!
Di tengah pertarungan itu, si nenek tua tiba-tiba bicara sambil tetap melanjutkan serangan menggunakan tongkatnya.
Suara nenek tua itu cempreng. Seperti kaleng rombeng. Wajahnya juga sudah penuh dengan keriput. Belum lagi deretan giginya yang sudah menghitam.
Sekilas pandang, dia tampak seperti setan tua yang baru bangkit dari kubur.
"Asal kau tahu saja, bocah ingusan. Selama ini, Tiga Bandit Tua tidak pernah melepaskan musuhnya hidup-hidup," sambung si pria tua yang menggunakan senjata tombak bermata dua.
"Mari kita cincang tubuh bocah ini sekarang juga," sahut rekannya.
Setelah obrolan mereka selesai, ketiganya mendadak mengambil langkah mundur. Namun sedetik kemudian, mereka sudah datang kembali.
Datang dengan serangan yang baru dan mematikan!
"Formasi Segitiga Hitam!"
Wushh!!!
Ketiganya berteriak secara bersamaan. Sesaat kemudian tiba-tiba terlihat ada gulungan sinar hitam yang datang dari tiga penjuru.
Tombak bermata dua, tongkat dan pedang datang dengan serangan yang mematikan.
Perubahan ini terlampau mendadak. Zhang Fei sendiri dibuat kaget setengah mati. Akibatnya dia jadi tidak waspada.
Wutt!!!
Sabetan pedang lawan hampir merobek perutnya. Ujung tongkat hampir mengenai ulu hati. Dan tusukan tombak hampir saja menembus jantungnya.
Semua itu berlangsung sangat cepat sekali. Mungkin hanya beberapa tarikan nafas saja.
Kalau orang lain, mungkin sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.
Untunglah Zhang Fei bukan orang lain. Dia berhasil menghindari semua serangan maut itu dengan serangan yang sulit untuk digambarkan.
Sekarang anak muda itu telah melayang mundur. Walaupun berhasil menyelamatkan diri dari maut, tapi tetap saja ia merasakan hal lain.
Seluruh tubuhnya tergetar cukup hebat. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh.
Dia baru sadar, ternyata dibalik serangan barusan, ada sihir yang berkekuatan tinggi dan sulit untuk ditolak.
Batin anak muda itu terkena serangan dengan telak.
Sesaat kemudian, Zhang Fei sudah tidak punya kekuatan lagi. Dia langsung jatuh berlutut dengan menopang pedangnya.
Sementara itu, melihat lawan sudah terkena pengaruh sihir akibat serangan barusan, Tiga Bandit Tua tersebut langsung mengurung Zhang Fei.
Tiga batang senjata sudah menempel di tubuhnya. Tinggal digerakkan sedikit, niscaya anak muda itu akan tewas.
"Hehehe ... sekarang kau sadar bukan, bagaimana hebatnya Tiga Bandit Tua?" si kakek tua yang pertama kali bertempur dengannya tersenyum menyeringai.
Wajahnya saat itu terlihat sangat menyebalkan. Zhang Fei sendiri walaupun sudah berada dalam keadaan lemas, namun ia masih bisa melihat keadaan di sekitarnya.
Maka dari itu, dalam hatinya anak muda tersebut merasa sangat kesal. Kalau saja dia tidak terkena pengaruh ilmu sihir lawan, mungkin saat ini wajah tua itu sudah remuk dipukul olehnya.
"Tidak tahu malu, kalian yang sudah tua ternyata hanya berani mengeroyok yang masih muda," katanya sambil tersenyum dingin.
"Cih, bocah yang pintar membalikkan fakta. Bukankah kau sendiri yang menginginkan seperti ini?" kata si nenek tua merasa tidak terima dengan ucapan Zhang Fei.
"Sudahlah, jangan membuang waktu lagi. Mari kita habisi dia," kata pria tua yang menggunakan tombak.