Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dua Bulan Kemudian


Waktu terus berjalan. Hari demi hari terlewati digantikan dengan minggu. Minggu pun terus berjalan, sampai tiba di bulan.


Satu bulan setelah kedatangan tiga Kaisar, keadaan masih aman-aman saja. Semua titik yang dulunya rawan terjadi peperangan, sekarang sudah aman sentosa.


Pihak Kekaisaran lain ternyata telah menarik semua pasukan mereka. Hal ini sangat menggembirakan hati semua orang. Sebab memang itulah yang diinginkannya.


Kehidupan di seluruh masyarakat Kekaisaran Song menjadi damai dan kembali seperti sedia kala. Para pedagang mulai bisa menjalankan usahanya dengan tenang.


Begitu juga dengan para petani, mereka bisa bekerja setiap hari bekerja di sawah ladangnya tanpa merasa takut sedikit pun.


Saat ini, merupakan saat-saat paling tenteram dalam kurun waktu dua tahun terakhir.


Yang aman dan damai bukan hanya kehidupan di kalangan masyarakat biasa, bahkan di kalangan dunia persilatan pun tidak jauh berbeda.


Para pendekar rimba hijau bisa hidup dengan nyaman. Kekacauan atau masalah-masalah yang biasanya menumpuk, kini telah jauh berkurang.


Para pendekar aliran hitam tidak lagi banyak bermunculan seperti waktu dulu. Walaupun sekarang masih ada, namun jumlahnya sangat berbeda jauh dari sebelumnya.


Di antara semua orang yang ada, rasanya hanya dua manusia saja yang melewati hari-harinya dengan sangat serius.


Dua manusia yang dimaksud itu bukan lain adalah Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Kedua tokoh dunia persilatan tersebut, setiap harinya harus berlatih.


Waktu yang biasa digunakan untuk bersantai, sekarang telah diisikan dengan kegiatan-kegiatan penting. Seperti berlatih tanding, melatih ilmu, atau bahkan bermeditasi di tempat-tempat terpencil.


Para tokoh yang selalu bersama mereka tidak ada yang berani mengganggunya. Bahkan Yao Mei dan Yin Yin yang tidak bisa jauh dari Zhang Fei pun, sekarang terpaksa harus menjaga jarak.


Mereka tidak berani mendekatinya, kecuali hanya untuk hal-hal tertentu. Kalaupun masih ada waktu untuk berkumpul, hal tersebut tidak hanya menyempatkan diri saja.


Zhang Fei melakukannya supaya hubungan di antara mereka tidak menjadi renggang. Baik itu dengan dua gadis cantiknya, maupun dengan para tokoh dunia persilatan lainnya.


Pada suatu waktu, secara tiba-tiba Kaisar Song telah mengadakan kunjungan ke Gedung Ketua Dunia. Kedatangan Kaisar itu sangat mengejutkan semua tokoh yang terdapat di sana.


Sebab pada dasarnya, Kaisar tidak memberitahukan terlebih dahulu bahwa dia akan datang.


Kedatangannya ke Gedung Ketua Dunia Persilatan tersebut bukan lain adalah untuk membahas panjang lebar terkait pertarungan yang sebentar lagi akan berlangsung.


Tidak hanya itu saja, bahkan Kaisar pun memberikan sesuatu berharga kepada Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Ia telah membawakan keduanya sebuah tanaman langka yang dipercaya telah berusia ratusan tahun.


Tanaman itu berfungsi untuk meningkatkan tenaga dalam secara cepat. Tidak hanya itu saja, bahkan tanaman tersebut pun berguna untuk menjaga daya tahan tubuh supaya lebih kuat dari sebelumnya.


Setelah bicara panjang lebar, Kaisar pun segera kembali lagi. Itu adalah kunjungan sekaligus pertemuan terakhir para tokoh dunia persilatan dengan Kaisar Song Kwi Bun.


###


Tanpa terasa, dua bulan telah berlalu kembali. Kalau dihitung, saat itu tepat tiga puluh hari setelah kedatangan tiga Kaisar ke negerinya.


Itu artinya, Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan hanya mempunyai waktu selama satu bulan lagi.


Selama dua bulan belakangan, keduanya terus melakukan latihan tanpa berhenti. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan. Kemajuan yang mereka alami terhitung luar biasa. Hal ini sudah diketahui secara langsung oleh orang-orang terdekatnya.


Kebetulan, pada saat itu hari telah masuk sore. Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sedang berada di halaman belakang Gedung Ketua Dunia Persilatan.


"Anak Fei, kemampuanmu yang sekarang benar-benar meningkat pesat. Aku tidak menyangka sama sekali," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan memujinya dengan tulus.


"Ah, Tuan Kiang terlalu memuji," Zhang Fei menyahut sambil tersenyum simpul. "Justru yang mengalami kemajuan pesat itu adalah Tuan Kiang sendiri. Semakin bertambahnya hari, aku justru semakin tidak sanggup untuk bertahan lebih dari sepuluh jurus,"


"Hahaha ..." orang tua itu tertawa cukup lantang. "Kau pun seperti itu, anak Fei. Semakin kesini, aku makin merasa bahwa semua jurus yang kau miliki itu bertambah sempurna. Seranganmu lebih dahsyat, begitu juga dengan pertahananmu. Kalau sampai tidak berhati-hati, mungkin aku bisa kalah olehmu,"


Zhang Fei hanya tersenyum menanggapi ucapan tersebut. Seperti biasa, kalau ada orang yang memujinya sampai sejauh itu, maka dia pasti akan merasa bingung harus menjawab apa.


Untuk beberapa saat lamanya, keadaan di halaman belakang itu menjadi hening. Masing-masing di antara mereka tidak ada yang bicara.


Angin berhembus lirih. Udara mulai terasa dingin.


Tiba-tiba, sekelebat bayangan warna hitam melesat dari dalam hutan.


Kecepatannya tidak bisa digambarkan. Bahkan kasarnya, kecepatan bayangan itu mungkin jauh lebih cepat daripada kedipan mata seseorang.


Wutt!!! Crapp!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangkat tangannya ke atas. Bersamaan dengan itu, bayangan hitam tadi tahu-tahu sudah terjepit di antara dua jari tangannya.


Ternyata bayangan hitam tersebut bukan lain adalah sebatang anak panah! Tepat di tengah-tengah batangnya, ada sebuah surat yang terbuat dari kain warna putih.


"Tuan Kiang, surat apa itu?" tanya Zhang Fei sambil memandangi surat yang dimaksud.


"Entahlah, anak Fei. Aku belum tahu,"


"Kalau begitu, coba lihat apa isinya,"


"Baik,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. Ia kemudian membuka tali sekaligus surat tersebut. Begitu terbuka, dia segera melihat adanya tulisan. Orang tua itu kemudian membacan isi surat cukup keras supaya Zhang Fei bisa mendengarnya.


"Malam nanti, aku akan menunggu Tuan Kiang dan Ketua Fei di Restoran Kayu Hitam, tepatnya di meja nomor enam, lantai dua."


Dua tokoh tersebut seketika saling pandang sambil mengerutkan kening setelah selesai membaca isi surat.


"Tuan Kiang, kira-kira menurutmu, lawan atau kawan yang telah mengirim surat ini?" tanya Zhang Fei.


"Entahlah, Ketua Fei. Aku tidak tahu,"


Orang tua itu pun sama bingung. Biasanya, dia bisa mengetahui siapa yang telah mengirimkan surat hanya dari isinya saja.


Tetapi untuk surat yang satu ini, Dewa Arak Tanpa Bayangan benar-benar dibuat bingung. Ia tidak bisa membedakan pengirimnya apakah lawan atau kawan.


Sebab isi dari surat tersebut bisa dibilang netral. Tidak mencerminkan lawan, tidak juga mencerminkan lawan.


"Begini saja, biar aku dulu yang nanti datang ke sana untuk mengecek terkait siapakah yang telah mengirim surat itu. Nantinya, aku akan memberi kabar kepada Tuan Kiang," ujar Zhang Fei mengambil keputusan.


"Tapi, Ketua Fei ... kenapa kita tidak langsung datang berdua saja? Bukankah hal ini jauh lebih baik?"