Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ketua Dunia Persilatan II


Ditanya demikian, Zhang Fei tidak menjawab. Bukan karena dia merasa takut atau tidak berani bicara. Lebih tepatnya adalah karena dia merasa lidahnya kelu. Dalam tenggorokannya seolah-olah ada sesuatu yang menyumbat.


Ia tidak mampu berbuat apa-apa lagi, kecuali hanya menelan ludah.


Peluh sebesar biji kacang kedelai semakin banyak yang keluar.


Ketua Dunia Persilatan masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Sepertinya dia sedang menunggu jawaban.


Karena anak muda itu tidak kunjung bicara juga, akhirnya Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Ceng bangkit berdiri.


"Sebelumnya mohon maaf, Ketua," ujarnya penuh rasa hormat. "Anak muda ini mempunyai marga Zhang, ia sendiri bernama Fei. Dia datang kemari karena diajak olehku dan juga Orang Tua Aneh Tionggoan," lanjutnya.


Ketua Beng Liong mengalihkan pandangan matanya. Ia menatap ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Maaf kalau kami berdua sudah lancang. Tapi apabila Ketua tidak memperkenankan dia ada di sini, sekarang juga aku bisa menyuruhnya untuk keluar,"


"Tidak perlu," jawabnya dengan cepat. "Tapi, aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, Tuan Kiang,"


Orang tua itu tidak segera bicara. Dia melirik sekilas ke arah sahabatnya, seolah-olah ingin meminta pertimbangan. Setelah mendapat anggukan dari Orang Tua Aneh Tionggoan, maka dirinya langsung menyambung kembali.


"Sebenarnya, anak muda ini adalah keturunan terakhir dari Keluarga Zhang yang terkenal. Ia adalah anak si Pedang Kilat Zhang Xin, dan Zhang Liong adalah Kakeknya sendiri,"


Ketua Dunia Persilatan terlihat mengerutkan keningnya ketika mendengar penjelasan tersebut. Beberapa kali dirinya melirik ke arah Zhang Fei yang sejak tadi masih menundukkan kepala.


"Dari mana Tuan mengetahui riwayat saudara muda ini?"


"Sebab aku sudah membuktikannya sendiri, Ketua. Aku juga pernah melihat kalung warisan Keluarga Zhang," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan ikut nimbrung.


Ketua Beng Liong yang berjuluk Pendekar Dewa Langit itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Ia tentu saja percaya kepada ucapan dua orang tua tersebut. Di sisi lain, dia pun sangat mengenal baik si Pedang Kilat Zhang Xin, bahkan dirinya mengetahui pula cerita tentang keluarga itu.


"Baiklah kalau begitu. Demi menghormati Keluarga Zhang, biarkan saudara Fei ini tetap ada di sini dan mendengar semuanya,"


Hubungan antara Ketua Beng Liong dan Empat Datuk Dunia Persilatan terbilang sangat erat. Dia pun sudah tahu bagaimana sifat dan karakter masing-masing dari mereka.


Karenanya, apabila ia membawa orang lain ke dalam pertemuan khusus ini, bisa dipastikan bahwa orang tersebut bukan sembarangan. Walaupun usianya masih muda, tapi dia yakin semuanya tidak sesederhana yang dilihat.


"Saudara Fei ..." katanya setelah lama terdiam. "Maaf apabila aku sempat curiga kepadamu,"


"Ketua jangan terlalu sungkan. Aku yang muda ini justru merasa bersalah, karena tidak seharusnya aku berada di sini," jawba Zhang Fei dengan hormat.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kau bisa tetap di sini. Hitung-hitung mewakili Keluarga Zhang,"


"Terimakasih atas kemurahan hati Ketua,"


"Tuan sekalian, apa yang aku sampaikan ini sebenarnya berhubungan erat dengan kondisi di negeri kita. Terutama sekali dengan dunia persilatan yang saat ini sedang mengalami kekacauan besar,"


"Seperti yang kita ketahui, pergerakan partai aliran hitam semakin menjadi. Di setiap tempat, pasti ada bagian dari mereka yang dengan sengaja membuat kekacauan. Karena itulah, aku ingin meminta bantuan kepada kalian semua," ucapnya dengan nada serius.


"Kami siap membantu dan mengorbankan nyawa demi masalah ini, Ketua," jawab mereka secara serempak.


Ketua Beng Liong menganggukkan kepala. Dia mulai menceritakan banyak hal terkait dunia persilatan. Dan isinya hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada Orang Tua Aneh Tionggoan beberapa waktu lalu.


Di dunia persilatan Tionggoan saat ini, rupanya sudah banyak bermunculan tokoh-tokoh sesat yang dulu pernah mengasingkan diri. Ada pula para pendekar dari negeri asing yang berdatangan secara bertahap.


"Entah apa tujuan mereka sebenarnya. Tapi yang jelas, aku merasa semua ini ada sangkut pautnya dengan Kekaisaran," kata Ketua Dunia Persilatan.


"Sepertinya memang begitu, Ketua. Apalagi kita sendiri tahu bahwa pemerintahan saat ini tidak bisa lagi dipercaya. Semua lini sudah dikuasai oleh para pengkhianat. Yang mana hal tersebut menyebabkan kesengsaraan kepada rakyat bawah," sambung Dewi Rambut Putih.


"Di satu sisi, hal ini juga menimbulkan gejolak besar. Aku yakin, sebagian dari para tokoh sesat itu, ada yang sudah menjalin hubungan dengan Kekaisaran lain. Mereka berniat untuk melakukan pemberontakan atau bahkan meruntuhkan menguasai negeri kita," kata Pendekar Tombak Angin ikut bicara.


"Benar sekali. Aku juga berpendapat demikian. Maka dari itu, niatku mengundang kalian, salah satu tujuannya adalah untuk menyatukan lagi para pendekar aliran putih yang ada di negeri kita,"


"Tapi, dengan cara apa kita menyatukan mereka, Ketua? Bukankah Ketua juga tahu, bahwa di antara mereka sudah tidak ada lagi kepercayaan dan kepedulian terhadap sesamanya? Aku merasa, alasan kenapa dunia persilatan kita bisa diobrak-abrik oleh para manusia iblis itu, sedikit banyaknya karena hal ini," tukas Dewa Arak Tanpa Bayangan mengemukakan pendapatnya.


Dalam hal apapun, kepercayaan dan kepedulian adalah nomor satu. Dua hal itu yang paling utama.


Apabila dalam sebuah kelompok ataupun negara sudah tidak ada lagi kedua hal tersebut, niscaya dalam waktu yang tidak lama, malapetaka pasti akan menimpanya.


Begitu pula yang saat ini sedang terjadi di Tionggoan.


Dulu, ketika para pendekar masih saling peduli dan percaya satu sama lain, kekecauan seperti ini tidak pernah terjadi. Kalaupun memang ada, pasti hal itu akan dengan cepat bisa diatasi.


Sayangnya, semua itu adalah kejadian di masa lalu. Bukan masa sekarang.


"Apa yang Tuan katakan itu memang benar. Semua ini diakibatkan karena hilangnya kepedulian dan kepercayaan," ucap Ketua Dunia Persilatan membenarkan. "Terkait bagaiamana mengembalikan kedua hal itu, aku yakin kalian mempunyai cara tersendiri. Lagi pula, kebanyakan para pendekar bukanlah orang buta dan tuli. Sedikit banyaknya mereka pasti melihat dan mendengar persoalan ini,"


"Maaf, Ketua," Zhang Fei yang sejak tadi diam, secara tiba-tiba memberanikan dirinya untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan. "Menurut pendapatku, dalam hal ini setidaknya harus dipimpin langsung oleh Ketua. Karena ketua adalah orang nomor satu dalam dunia persilatan. Kalaupun menyerahkan hal ini kepada Empat Datuk Dunia Persilatan, setidaknya mereka harus dibekali suatu tanda supaya para pendekar percaya, bahwa para orang tua ini adalah suruhan langsung dari Ketua,"


"Tentu saja, saudara Fei. Usulmu itu sepertinya bagus. Baiklah, kalau pembicaraan ini sudah selesai, aku akan memberikan kalian lencana khusus," ujarnya menyatakan setuju.


Empat Datuk Dunia Persilatan yang ada di sana diam-diam merasa kagum kepada Zhang Fei. Tidak mereka sangka, ternyata dibalik usianya yang masih muda, ia bisa berbicara seperti itu.


###


Selamat malam Minggu, jangan lupa seduu kopi ... hehehe ...