
"Ah, tidak, Paman. Aku hanya tidak menyangka saja, ternyata di kampung ini terdapat cukup banyak orang," jawab Zhang Fei sambil berusaha mengendalikan dirinya.
Ia memandang orang tua itu dengan tatapan menyelidik. Mulai dari atas sampai bawah.
Orang yang baru saja bicara tersebut mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya angker, apalagi wajah tua itu dihiasi dengan luka-luka codet di seluruh bagiannya.
Tidak hanya itu saja, bahkan Zhang Fei pun bisa merasakan ada hawa pembunuh yang sangat pekat, yang keluar dari tubuhnya.
"Tempat ini memang banyak penghuninya. Tapi kebanyakan dari mereka, jarang keluar rumah masing-masing. Kecuali dalam keadaan tertentu saja,"
"Apakah contohnya dalam keadaan seperti sekarang?" tanyanya sambil mengangkat alis.
"Ehmm, bisa dibilang demikian," orang tua itu menganggukkan kepala.
"Tapi yang memulai pertarungan ini bukan aku, melainkan kedua orang itu,"
Zhang Fei menunjuk kepada dua orang yang dimaksud. Mereka pun tidak bicara, keduanya hanya diam tanpa kata.
"Aku tahu,"
"Dan aku hanya membela diri saja. Tidak lebih dari itu,"
"Aku mengerti,"
"Terimakasih. Kalau begitu, sekarang juga aku ingin pamit. Masih ada urusan yang harus diselesaikan. Maafkan apabila aku kurang berlaku sopan, Paman," dia langsung membungkuk memberikan hormat.
Zhang Fei berjalan mendekati kudanya. Tapi baru saja dia hendak melompat, tiba-tiba orang tua itu bicara lagi.
"Aku tahu dan aku mengerti. Tapi bukan berarti kau bisa pergi begitu saja," katanya melanjutkan lagi.
"Maksud Paman?"
"Setidaknya kau harus merangkak dan meminta pertolongan kepadaku,"
Bicara orang tua itu mulai semakin tinggi. Sepertinya dia mulai mengeluarkan wibawanya.
"Hemm, kalau aku tidak mau?"
"Maka semua orang yang ada di sini, pasti akan menyerangmu. Mereka akan membunuh dan bahkan menyantap dirimu,"
"Hahaha ..." Zhang Fei tertawa cukup lantang. Entah kenapa, dia merasa sedikit geli saat mendengar ucapan barusan.
"Kenapa kau tertawa?"
"Aku hanya merasa lucu saja,"
"Kau tidak percaya dengan ucapanku?"
"Tidak, tidak. Aku percaya, Paman," Zhang Fei berusaha berkata serius. Meskipun dalam hatinya, dia tetap ingin tertawa.
"Kau tahu mereka ini siapa?" tanya orang tua itu lebih lanjut.
"Aku hanya tahu bahwa mereka adalah penghuni di kampung ini,"
"Benar," ucapnya sambil menganggukkan kepala. "Tapi lebih tepatnya lagi, semua orang-orang ini adalah pendekar aliran hitam yang dibuang kemari,"
"Oh, jadi itu alasan kenapa tempat ini, diberi nama Kampung Hitam?"
"Ternyata kau cukup cerdas juga," kata si orang tua seraya tersenyum.
Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia sudah menduga hal ini sejal awal. Jadi dirinya tidak terlalu kaget.
"Paman, bolehkah aku bertanya kepadamu?" tanyanya.
Dia mempunyai satu pertanyaan yang sejak tadi membuatnya merasa penasaran. Dan pertanyaan itu, hanya berlaku bagi orang tua yang sejak tadi bicara tersebut.
"Tanyakan saja," katanya dengan santai.
"Apakah Paman ini, berasal dari Partai Panji Hitam,?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius.
Orang yang ditanya sepertinya tidak menyangka dengan pertanyaan tersebut. Tapi dengan dia pun langsung menjawabnya.
"Benar. Aku salah satu bagian dari Partai Panji Hitam. Aku dikirim khusus kemari oleh partaiku,"
"Untuk apa?"
"Untuk menjadi pemimpin di tempat ini!"
Suaranya tegas dan penuh wibawa. Semilir angin dingin berhembus. Seolah-olah angin itu ingin membawa suara barusan.
"Kalau kau ingin tahu siapa aku. Panggil saja si Golok Ampuh Ho Nan,"
Dia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Setelahnya, ia segera bicara lagi.
"Sekarang kau sudah tahu bukan, siapa aku dan dari mana asalku?"
"Benar. Aku sudah tahu,"
"Tidak," tegas Zhang Fei.
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan untuk itu,"
"Hemm ..."
Orang tua bernama Ho Nan itu memandang Zhang Fei dengan tatapan tajam. Selama ini, belum ada satu pun orang yang berani membantah atas perintahnya.
Sekarang, ada seorang pemuda yang dengan tegas menyatakan menolak perintah yang ia berikan, bagaimana mungkin dia akan menerima hal itu begitu saja.
"Anak muda. Kau sudah tidak takut mati?"
"Aku lebih baik mati, daripada harus tunduk kepada Partai Panji Hitam,"
Zhang Fei tidak mau kalah. Dia pun ikut naik darah. Apalagi setelah tahu siapa orang tua tersebut.
"Apakah kau tidak suka kepada partaiku?"
"Bukan hanya tidak suka. Aku bahkan ingin menghancurkan partai sesat itu. Termasuk juga, aku ingin membunuhmu!"
Ucapan anak muda itu sangat tajam. Seolah-olah perkataan barusan diungkapkan diluar kesadarannya.
Memang, saat ini Zhang Fei sedang menahan amarahnya yang sudah mencuat ke ubun-ubun kepala. Hal tersebut timbul akibat dia mendengar nama Partai Panji Hitam!
Partai yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Partai yang telah membuat negerinya kacau-balau!
"Hahaha ... ucapanmu terlampau besar, anak muda," ujar si Golok Ampuh Ho Nan sambil tertawa.
"Aku bisa membuktikannya!"
"Baik, kalau begitu, coba buktikan sekarang juga!"
Si Golok Ampuh Ho Nan memberikan tantangan langsung. Walaupun mulutnya berkata seperti itu, tapi ia masih tetap berdiri dengan tenang dan santai.
Di sisi lain, karena dirinya ditantang, maka tentu saja Zhang Fei tidak bisa tinggal diam lagi. Apalagi dia tahu bahwa yang menantang itu adalah salah satu anggota dari musuh besarnya!
Wushh!!!
Ia melesat secepat kilat. Jurus pukulan tangan kosong sudah disiapkan dengan sempurna.
Awalnya gerakan anak muda itu mulus. Tapi begitu dirinya hampir tiba di depan target sasaran, mendadak puluhan orang yang ada di sana, langsung menyambutnya secara serempak.
Wushh!!!
Puluhan bayangan manusia bergerak. Puluhan macam serangan, baik yang menggunakan senjata ataupun ataupun kosong, juga sudah menanti dirinya.
Zhang Fei terkejut setengah mati. Buru-buru dia melompat mundur ke belakang. Dia ingin bicara beberapa patah kata lagi.
Tapi ternyata pihak musuh tidak mau memberikan kesempatan tersebut.
Orang-orang yang baru saja bergerak, kini sudah melanjutkan usahanya lagi.
Mereka menyerang secara bersamaan!
"Cih!" Zhang Fei mencibir. Dia tidak menduga orang-orang itu akan mengeroyoknya.
Tetapi karena sudah kepalang tanggung, maka dia pun tidak mau mundur. Dengan cepat Pedang Raja Dewa dicabut keluar.
Sringg!!!
Cahaya putih keperakan tampak merona di bawah gelapnya malam. Sebelum semuanya terlambat, dia sudah menerjang maju ke depan.
"Empat Tangan Gerakan Pedang!"
Wutt!!!
Jurus ketiga langsung digelar. Bayangan pedang segera menyebar luas ke setiap penjuru mata angin.
Zhang Fei sudah berlaku serius!
Puluhan orang itu kaget. Tapi karena jumlah mereka jauh lebih banyak, maka tidak ada satu pun yang mengambil langkah mundur.
Semuanya langsung menyerang dengan jurus masing-masing!
Trangg!!! Trangg!!!
Suara dentingan nyaring mulai terdengar dengan jelas. Di bawah gelapnya malam, seorang pendekar muda tampak sedang berjuang melawan puluhan pendekar aliran sesat.
Keadaan di tempat itu langsung kacau. Pertarungan tersebut benar-benar seru. Apalagi lawannya adalah pemuda yang masih mencari pengalaman.
Zhang Fei menyerang siapa pun yang berada di dekatnya. Pedang Raja Dewa segera menunjukkan taringnya kepada setiap lawan!