Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Hampir Terbunuh


Sepuluh jurus sudah lewat. Si Biksu Merah terus mencecar Zhang Fei tanpa pernah berhenti. Tasbih itu menggulung-gulung. Ia menyerang dari segala arah.


Setiap serangannya mengandung ancaman yang tidak main-main. Sedikit saja melakukan kesalahan, niscaya nyawa yang akan menjadi jaminan.


Zhang Fei sendiri tidak berani gegabah. Ia terus berkelit ke sana kemari sambil berusaha melancarkan serangan balasannya.


Tusukan dan tebasan pedang yang cepat lagi dahsyat sudah dilancarkan sejak tadi. Walaupun ia berada di posisi bertahan, tapi sedikit pun dirinya tidak terlihat kewalahan.


Justru setiap kali lawan menyerang, maka dengan cepat pula ia akan melayangkan serangan balasan.


Pertarungan di antara keduanya benar-benar berlangsung sengit. Si Biksu Merah tidak menyangka bahwa pendekar muda itu rupanya mempunyai kemampuan tinggi.


'Pantas saja muridku bisa tewas di tangannya. Ternyata kecepatan anak ini sungguh diluar diatas rata-rata,' batinnya memuji kehebatan Zhang Fei.


Bersamaan dengan hal tersebut, tiba-tiba tasbihnya bergerak lebih cepat. Serangan yang datang jauh lebih dahsyat lagi.


Untungnya Zhang Fei sudah bisa membaca situasi. Dia pun sudah memperkirakan hal ini sebelumnya.


Maka dari itu, begitu jurus pamungkas lawan digelar, dalam waktu yang hampir bersamaan, ia juga telah mengeluarkan jurus terakhir dari Kitab Pedang Dewa.


Wutt!!! Trangg!!!


Suara nyaring terdengar puluhan kali. Kilatan cahaya putih keperakan bergerak-gerak menciptakan gulungan sinar terang. Hawa pembunuh telah menyatu dengan hawa pedang, hal itu membuat si Biksu Merah sedikit kewalahan.


Senjata tasbih yang dia andalkan dalam ini, telah dibuat hancur berantakan. Butiran tasbih itu berterbangan di tengah udara, ada pula yang jatuh berserakan di atas tanah.


Bukan main marahnya si Biksu Merah. Didorong oleh nafsu dan dendam yang sudah membara, tiba-tiba dia membentak nyaring. Suaranya menggelegar seperti guntur.


Kedua tangannya tiba-tiba didorong ke depan.


Wushh!!!


Angin berhembus datang bergulung-gulung membawa hawa pembunuh. Hawa panas bercampur pula dalam deru angin tersebut.


Zhang Fei tercekat, dia tahu bahwa itu adalah jurus pukulan jarak jauh yang kedahsyatannya tidak perlu diragukan lagi.


Karena tidak mau mengalami musibah, dengan cepat anak muda itu melompat mundur ke belakang. Ia berjumpalikan di tengah udara sambil berusaha mencari tempat aman.


Beberapa saat kemudian, sambaran angin tadi telah lewat tepat di bawah kaki Zhang Fei. Tidak lama setelahnya segera terdengar ledakan yang cukup keras hingga memekakkan telinga.


Blarr!!!


Beberapa batang pohon cukup besar yang berada di belakang sana tahu-tahu sudah hancur berkeping-keping. Rumput liar yang tumbuh di sisinya langsung mengering.


Zhang Fei sempat menengok sebentar ke arah saja. Dan dia langsung kaget begitu melihat hasilnya.


'Benar-benar jurus yang dahsyat. Ternyata apa yang diucapkan Orang Tua Aneh Tionggoan dulu memang benar,' batinnya berkata.


"Anak muda, semua ini belum apa-apa. Yang sebenarnya justru baru akan dimulai," ucap Biksu Merah secara tiba-tiba.


Suara yang dia keluarkan tidak terlampau keras. Tapi Zhang Fei bisa merasakan dengan jelas bahwa dalam suara itu ada satu kekuatan yang seolah-olah mempunyai daya magnet besar sehingga tidak bisa ditolak.


Setelah selesai mendengar suara barusan, Zhang Fei merasa tubuhnya seperti sulit untuk dikendalikan. Ia memandang ke arah Biksu Merah, kali menatap sepasang matanya.


Degg!!!


Jantungnya seketika berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran tanpa bisa dibendung. Dalam waktu satu helaan nafas, Zhang Fei segera merasakan seluruh tenaganya hilnag tanpa jejak.


Kejadian di hari lalu terulang lagi!


"Gawat, dia mengeluarkan ilmu sihirnya," gumamnya perlahan.


Zhang Fei langsung berusaha mengembalikan konsentrasi dan ketenangannya. Apa yang dulu pernah diucapkan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan pada saat dirinya melawan si Mata Serigala, sekarang sudah dilakukan.


"Cabut pedangmu!" katanya dengan nada tinggi.


Tiba-tiba tangan Zhang Fei terangkat lalu mencabut Pedang Raja Dewa yang tadi sempat disarungkan kembali setelah berhasil menghancurkan tasbih lawannya.


"Bagus," ucapnya sambil menganggukkan kepala.


Si Biksu Merah berjalan dengan langkah tenang ke arahnya. Ia tampak tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Untuk membunuhku bukanlah perkara mudah. Kalau ingin, sebenarnya aku bisa membunuhmu sejak tadi. Hanya saja, aku ingin main-main dulu sebentar denganmu,"


Biksu sesat itu semakin sombong ketika melihat Zhang Fei sudah terkena pengaruh ilmu sihirnya.


Anak muda itu sendiri sebenarnya masih dapat mendengar apa yang diucapkan olehnya. Hanya saja dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali hanya berharap ada keajaiban yang terjadi.


"Asal kau tahu saja, bocah keparat," kata si Biksu Merah kembali bicara. "Aku ini sebenarnya bukan orang asli Tionggoan. Aku berasal dari Tibet. Jadi, ilmu sihir yang aku gunakan untuk melumpuhkanmu, jauh lebih hebat dari ilmu sihir yang banyak ditemui di Tionggoan,"


Dia kembali melangkahkan kakinya sehingga semakin dekat dengan Zhang Fei. Setelah terisi tiga langkah, dia kembali bicara.


"Kau tahu alasannya? Itu karena sebenarnya, ilmu sihir berasal dari negeriku, bukan negerimu,"


Sorot matanya semakin tajam. Beberapa saat kemudian, dia langsung menurunkan perintah terakhir kepada Zhang Fei.


"Tebas lehermu sendiri!" katanya dengan suara lantang.


Wutt!!!


Pedang Raja Dewa langsung melesat dengan kecepatan kilat. Pedang itu benar-benar menuju ke leher tuannya sendiri!


Kalau sampai pedang pusaka tersebut mengenai leher Zhang Fei, sudah tentu ia akan tewas pada saat itu juga.


Apabila hal itu benar-benar terjadi, mungkin di kemudian hari, nama pusaka itu akan diganti. Nantinya bukan Pedang Raja Dewa lagi, melainkan Pedang Kutukan Dewa!


Untunglah hal yang mengerikan itu tidak terbukti. Karena tepat di detik terakhir, tiba-tiba ada sekelebat cahaya keperakan yang dengan cepat menahan luncuran Pedang Raja Dewa sampai membuatnya lepas dari genggaman Zhang Fei.


Trangg!!!


Pedang pusaka itu segera mengancam di atas tanah! Seluruh batang pedang masih bergetar. Pertanda betapa kerasnya benturan yang terjadi barusan.


Kejadian itu berlangsung sangat singkat. Si Biksu Merah sendiri tidak percaya dengan apa yang dia saksikan.


"Siapa kau?" tanyanya kepada sosok yang kini telah berdiri di pinggir Zhang Fei.


"Siapa pun aku tidaklah penting," jawab sosok tersebut yang ternyata mempunyai suara halus namun terdengar sangat dingin.


Ia mengenakan cadar penutup wajah. Pakaiannya merah muda. Rambut panjang itu diikat oleh kain sutera dengan warna yang sama.


Walaupun penampilannya cukup misterius, tapi di Biksu Merah pun tahu bahwa sosok itu adalah seorang wanita.


Tapi, siapa dia? Kenapa berani sekali mencampuri urusannya?


"Tidak perlu banyak bicara. Aku sarankan supaya kau segera pergi dari sini sebelum aku juga akan membunuhmu," tegasnya memberikan ancaman.


"Kau pikir aku takut?"


Tiba-tiba gadis bercadar itu berjalan menghampiri Pedang Raja Dewa yang masih menancap. Ia mencabutnya lalu memberikan pedang itu kepada Zhang Fei.


"Ini pedangmu!"


Bersamaan dengan itu, dia pun menotok beberapa titik di tubuhnya dengan gerakan cepat. Hebatnya lagi, totokan tersebut ternyata mampu membuat Zhang Fei kembali seperti sedia kala.