
"Benar, aku juga setuju, Ketua Fei," kata Pendekar Pedang Perpisahan menjawab dengan cepat sambil menganggukkan kepala.
"Ya, hal itu memang masuk akal," Dewa Arak Tanpa Bayangan juga ikut menyambung.
Sementara itu, setelah menduga hal tersebut, sesaat kemudian Zhang Fei segera berjongkok. Ia langsung memeriksa jasad Biksu Sembilan Nyawa Kong Bai.
Seperti biasa, Zhang Fei ingin mencari petunjuk. Dia berharap bisa menemukan sesuatu di tubuh tokoh sesat itu.
Sayangnya, Zhang Fei tidak berhasil menemukan petunjuk apapun juga.
"Ia tidak membawa apa-apa di tubuhnya," ucap Ketua Dunia Persilatan sambil melirik kepada yang lain.
"Baiklah, kalau begitu mari kita kembali saja ke Gedung Ketua Dunia Persilatan," ajak Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Setuju, mari kita kembali,"
Wushh!!! Wushh!!!
Enam bayangan manusia langsung melesat dari sana. Hanya satu kedipan mata saja mereka telah menghilang dari pandangan mata.
Suasana di sana kembali sepi hening. Tidak terlihat ada seorang pun manusia hidup yang terdapat di tempat itu.
Yang ada hanyalah jasad. Jasad manusia yang bernasib malang!
Beberapa saat kemudian, para tokoh tadi sudah kembali tiba di Gedung Ketua Dunia Persilatan. Mereka sempat berbincang-bincang beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing.
###
Keesokan harinya, kota di mana tempat Gedung Ketua Dunia Persilatan berdiri mulai dipadati oleh tokoh-tokoh rimba hijau. Semua penginapan yang ada di sana hampir penuh oleh para pemdekar yang datang dari berbagai daerah.
Suasana di pagi hari semakin bertambah ramai. Warung yang menyediakan makanan juga dipenuhi oleh orang-orang tersebut.
Semua orang yang hadir itu, semakin hari semakin bertambah banyak. Para pedagang di kota tersebut benar-benar kebanjiran rezeki.
Sementara di Gedung Ketua Dunia, seperti biasanya, enam tokoh besar itu sekali berkumpul di ruangan rapat. Mereka banyak membicarakan berbagai macam hal yang menyangkut dengan keadaan negerinya sendiri.
"Sepertinya, para pendekar yang kalian undang mulai memenuhi kota ini," ucap Zhang Fei mengawali pembicaraan.
"Benar, Ketua Fei. Mereka yang datang lebih dulu, rata-rata berasal dari daerah sekitar. Nanti saat waktunya telah tiba, para pendekar yang hadir itu pasti akan jauh lebih banyak lagi," sahut Dewi Rambut Putih menimpali dengan cepat.
"Hemm ... baiklah. Kita tunggu saja hari itu,"
###
Tanpa terasa, tiga hari sudah berlalu kembali. Benar kata Dewi Rambut Putih sebelumnya, ketika waktunya tiba, maka para pendekar yang hadir di sana akan jauh lebih banyak lagi.
Dan hal itu benar-benar terbukti sekarang!
Walaupun mentari baru memunculkan dirinya, meskipun ia baru menyinari alam mayapada, namun keadaan di kota itu sudah sangat ramai. Para pendekar telah bangun dari tidurnya.
Semua warung makan telah dipenuhi oleh orang-orang yang melangsungkan sarapan.
Tidak hanya keadaan di kota saja, bahkan keadaan di Gedung Ketua Dunia Persilatan pun tidak berbeda jauh. Semua penghuninya sudah bangun. Termasuk juga Zhang Fei dan yang lain.
Pada saat itu, Ketua Dunia Persilatan sedang berdiri di pinggir jendela. Ia sedang melihat keadaan di kota dari lantai dua.
Sedangkan kelima tokoh yang lain, mereka berada di belakangnya. Para tokoh tersebut sedang menikmati teh hangat dan makanan ringan.
Dewa Arak Tanpa Bayangan segera bangkit berdiri. Dia berjalan ke arah di mana Zhang Fei berada.
"Tentu saja, Ketua Fei. Siang hari nanti, keramaian itu akan berpindah ke Gedung Ketua Dunia Persilatan ini," sahutnya.
"Ya, kau benar, Tuan Kiang,"
"Ketua ..." orang tua itu menjawab secepatnya. "Para pendekar itu akan berkumpul di sini tepat ketika matahari berada di atas kepala. Mereka akan berkumpul di halaman depan. Pada saat itu, aku sarankan supaya kau mempersiapkan diri sebaik mungkin,"
Ia berhenti sebentar sambil melirik ke arah Zhang Fei. Seolah-olah dirinya ingin memastikan bahwa Ketua Dunia Persilatan sedang mendengarkan ucapannya.
Setelah memastikan hal itu, ia segera melanjutkan kembali ceritanya. "Aku mempunyai firasat, bahwa nanti tidak semua pendekar yang hadir akan langsung setuju dengan rencana kita ini. Setidaknya, akan ada penolakan-penolakan yang bisa menimbulkan masalah,"
Zhang Fei mengangguk perlahan. Dia pun cukup tahu akan hal ini. Maka dari itulah ia menjawab, "Ya, aku mengerti, Tuan Kiang. Sebenarnya, aku juga sudah menduga akan hal tersebut,"
"Syukurlah kalau kau memang sudah menyadarinya,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian menghembuskan nafas panjang. Mereka berdua segera kembali ke bangku masing-masing.
Keenam tokoh dunia persilatan itu melanjutkan lagi kegiatan sarapan pagi sambil sesekali melakukan candaan untuk melepas ketegangan di dalam ruangan tersebut.
###
Siang hari telah tiba. Halaman depan Gedung Ketua Dunia Persilatan yang luas itu mulai dipenuhi oleh para pendekar yang sengaja datang dari berbagai penjuru.
Para penjaga Gedung Ketua Dunia Persilatan segera menjalankan tugasnya masing-masing. Mereka mengatur para pendekar itu supaya berdiri dengan rapi dan menjaga sikap.
Mata-mata yang dimiliki oleh Gedung Ketua Dunia Persilatan juga tidak ketinggalan. Mereka berdiam di tempat-tempat tersembunyi untuk mengawasi keadaan setiap saat.
Tidak hanya itu saja, bahkan puluhan prajurit yang sengaja didatangkan oleh Kekaisaran pun turut hadir di sana. Sama seperti yang lain, mereka juga bertugas untuk menjaga keamanan.
Belum lagi ada beberapa orang Pendekar Elit Istana Kekaisaran. Dengan kehadiran orang-orang seperti itu, rasanya iblis pun tidak berani menciptakan masalah.
Apalagi, jika ditambah dengan tokoh-tokoh utama dari Gedung Ketua Dunia Persilatan itu sendiri.
Kini, para pendekar sudah menempati posisinya masing-masing. Mereka berdiri sejajar. Orang-orang itu sedang menunggu kedatangan para tokoh utama.
Walaupun siang hari ini cuaca sangat panas, namun hal itu tidak menyurutkan tekad dan maksud para pendekar. Panasnya matahari tidak mereka rasakan.
Rasa panas itu kalah dengan semangat yang telah menggelora.
Tidak lama kemudian, Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan terlihat berjalan keluar dari dalam gedung. Mereka baru berhenti setelah tiba di mimbar yang tersedia di sana.
Orang-orang itu kemudian duduk di kursi yang telah disediakan sebelumnya.
Begitu melihat kedatangan mereka, para pendekar yang telah hadir itu secara tiba-tiba bersorak dengan nyaring. Suaranya terdengar kompak. Seolah-olah mereka telah mendapat komando sebelumnya.
Padahal, tidak ada seorang pun yang memberikan komando. Mereka bersorak secara spontan!
Tapi, mengapa begitu kompak? Apakah kekompakan yang selama ini hilang, akan kembali datang?
Tidak ada yang mengetahui akan hal tersebut. Namun yang pasti, harapan para tokoh utama dunia persilatan memang seperti itu.
Seorang petugas kemudian berjalan ke depan mimbar. Dia memberikan isyarat menggunakan tangannya supaya para pendekar berhenti bersorak.
Seketika, para pendekar itu pun langsung berhenti! Berhentinya juga secara bersamaan!