
Sekitar lima menit berikutnya, terlihat dari dalam kuil ada puluhan anak murid yang berlarian keluar. Mereka langsung mengepung Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan ketika sudah mencapai di pintu gerbang.
Suasana yang tadinya sepi sunyi, sekarang telah ramai akibat kehadiran mereka.
"Ketua Fei, bagaiamana ini? Apakah kita harus melawan mereka? Ataukah kita tetap diam seperti ini?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan sambil melirik ke arah Zhang Fei.
"Lawan saja mereka. Tapi jangan sampai melukainya. Kita hanya sebatas memberi seidkit pelajaran, sekaligus juga berusaha memancing para petinggi Kuil Seribu Dewa ini keluar,"
"Baiklah. Aku mengerti,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk. Sekarang sepasang matanya yang tajam itu memandang ke arah para biksu muda secara bergantian.
Dengan sorot mata seperti itu, tentu saja para biksu tersebut dibuat gentar. Tanpa sadar mereka semakin mundur sedikit demi sedikit.
"Ayo serang kedua orang ini!" salah seorang biksu penjaga tadi berteriak memberikan isyarat.
Puluhan anak murid Kuil Seribu Dewa langsung menyerbu ke depan setelah mendengarnya.
Puluhan orang menyerang ke arah Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan. Walaupun kemampuan mereka hanya setara dengan pendekar kelas rendah, tapi ceritanya akan lain kalau jumlahnya sebanyak ini.
Kedua tokoh dunia persilatan itu ikut bergerak. Mereka menyambut puluhan biksu muda itu. Benturan antara tongkat dan tulang mulai terdengar.
Zhang Fei melayani mereka dengan tangan kosong. Baru beberapa menit pertempuran digelar, belasan tongkat sudah patah menjadi dua bagian. Sedangkan pemiliknya sendiri terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Pendekar Pedang Perpisahan yang tidak berada jauh dari posisi Zhang Fei juga melakukan hal yang sama. Dia terus mematahkan tongkat kayu itu tanpa memberikan luka kepada pemiliknya masing-masing.
Menghadapi tokoh kelas atas seperti keduanya, puluhan murid itu makin lama makin sadar, bahwa pihak mereka berada di posisi yang tidak menguntungkan.
Dengan sendirinya, para murid tersebut berlompatan mundur beberapa langkah dan berusaha menjauh.
Ketika pertempuran sedang berjalan sengit, salah satu murid kembali masuk ke dalam kuil. Kalo ini, dia akan melaporkan kejadian yang sedang berlangsung kepada petingginya.
Tidak lama kemudian, murid tadi sudah kembali lagi dengan membawa tiga orang biksu berusia sekitar enam puluhan tahun.
"Berhenti semua!" seorang biksu yang berada di tengah-tengah berteriak. Meskipun mulutnya tidak terbuka lebar, namun suaranya justru bisa didengar oleh semua orang.
Dari sini, siapa pun tahu bahwa dia telah menggunakan tenaga dalamnya ketika berkata barusan.
Pertempuran di depan gerbang langsung berhenti seketika. Para murid semuanya sudah mundur. Walaupun begitu, mereka tetap mengepung Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan.
"Oh, rupanya yang datang adalah Pendekar Pedang Perpisahan," kata biksu tua tadi. "Ada angin apakah yang membuat Tuan Wu datang kemari?"
Walaupun ucapannya terdengar bersahabat, tapi dalam pada itu, sebenarnya dia pun tetap berlaku waspada. Apalagi dirinya tahu siapa orang yang sedang diajaknya bicara saat ini.
"Aku ingin bertemu dengan Ketua kalian. Kedatanganku kemari bukan untuk berniat jahat," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan ekspresi wajah serius.
"Bohong! Dia bohong, guru. Buktinya saja, dua orang manusia laknat ini sudah memberikan perlawanan," seorang biksu muda tiba-tiba bicara lantang. Sepertinya dia masih menaruh dendam terhadap kejadian barusan.
Untunglah si biksu tua segera memberikan isyarat, sehingga dia tidak berani bicara lagi.
"Ketua sedang meditasi. Untuk sementara ini, beliau tidak boleh diganggu," jawabnya lebih serius. "Hemm ... siapa yang datang bersama Tuan Wu ini?" tanya si biksu tua kembali sambil melirik ke arah Zhang Fei.
"Aku ..."
Dua orang biksu tua tersebut seketika menampilkan ekspresi kaget.
"Tunggu dulu, jadi, dia ini adalah .... Ketua Dunia Persilatan? Kedua Fei?"
"Ya, benar. Dia adalah Ketua Fei,"
Keduanya kemudian melirik ke arah Zhang Fei. Seolah-olah mereka sedang memastikan hal itu.
"Benar, aku Zhang Fei," sambil berkata, dia juga langsung membuka topeng penutup wajah yang dikenakan olehnya.
Semua biksu yang ada di sana langsung terkejut setengah mati. Walaupun kebanyakan dari mereka belum pernah bertemu dengan Zhang Fei, tetapi semua orang sudah mengetahui bagaimana bentuk tubuh dan wajahnya.
Hal itu terjadi karena pada saat menyebarkan surat resmi Ketua Dunia Persilatan yang baru, pihak Kekaisaran juga melukis bentuk tubuh berikut mukanya.
Sehingga, hampir semua orang di Kekaisaran Song bisa mengenalnya.
Suasana di sana langsung hening untuk beberapa saat. Mereka seperti terhipnotis oleh sosok anak muda yang tampan dan sangat berwibawa itu.
"Ketua Fei, maafkan kami yang sudah kencang. Maafkan kami. Kami ... kami berdua patut untuk mendapat hukuman darimu. Kami tidak bisa mendidik anak murid sehingga tidak mampu mengenali Ketua Dunia Persilatan,"
Dua orang biksu tua itu langsung bersujud di hadapan Zhang Fei. Mereka bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya ke atas tanah.
Puluhan murid yang ada di sana hanya mampu berdiri dalam diam. Di antara mereka tidak ada yang berani berbicara.
Sementara Zhang Fei, dengan cepat dia membangunkan kedua biksu barusan. Ia kemudian berkata dengan nada hangat.
"Sudahlah, ini hanya salah paham saja. Tidak perlu berlebihan seperti itu," Zhang Fei tersenyum kepada keduanya. "Sekarang bagaiamana, apakah kami boleh masuk ke dalam?"
"Terimakasih, Ketua Fei. Terimakasih," jawab biksu itu sangat senang. Setelah berganti nafas, dia segera menjawab kembali. "Tentu, tentu saja. Mari, Ketua Fei, Tuan Wu, silahkan masuk,"
Keempat orang tersebut lali berjalan masuk ke dalam kuil. Puluhan murid segera membubarkan diri dan melanjutkan kegiatannya masing-masing.
Beberapa waktu kemudian, Zhang Fei dan yang lainnya sudah tiba di ruangan penerima tamu. Mereka duduk di atas lantai dengan beralaskan kain.
Seorang biksu muda datang sambil membawa teh hangat.
"Seperti yang kami katakan, saat ini Ketua sedang bermeditasi. Namun tidak lama lagi, beliau pasti akan segera keluar,"
"Oh, baiklah. Tidak masalah," kata Zhang Fei sambil tersenyum.
Dua orang biksu itu kemudian memperkenalkan dirinya masing-masing. Yang satu itu ternyata bernama Lo Jit, sedangkan yang satunya lagi bernama Lo Han.
Mereka adalah termasuk ke dalam petinggi yang terdapat di Kuil Seribu Dewa.
Perlu diketahui, Kuil Seribu Dewa itu merupakan salah satu partai dunia persilatan terbesar yang terdapat di Kekaisaran Song. Anak murid mereka mencapai ribuan banyaknya. Di setiap tempat, pasti ada anggota dari kuil tersebut.
Alasan kenapa Kuil Seribu Dewa dianggap sebagai partai dunia persilatan, bukan lain adalah karena kuil itu sering terlibat dalam berbagai persolan dalam rimba hijau.
Mereka juga ikut menjaga keamanan dan kedamaian dunia persilatan. Sehingga, tidak heran kalau Kuil Seribu Dewa disegani oleh banyak kalangan.
Jika dibandingkan, mungkin Kuil Seribu Dewa ini memiliki murid yang hampir menyamai jumlah anggota dari Partai Pengemis.