
Untuk beberapa saat, Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Dia tidak mengambil tindakan apapun. Bahkan tidak bergerak walau hanya sedikit.
Entah kenapa, tiba-tiba saja hatinya merasa ragu. Pikirannya jadi membayangkan hal-hal yang mengerikan.
'Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk masuk ke sana,' batinnya berkata sambil mengawasi keadaan.
Sementara itu, malam semakin larut. Sedikit lagi rembulan akan tiba di atas kepala. Suara lolongan anjing dan serigala terdengar keras di kejauhan sana. Hal tersebut menambah keangkeran yang datang dari hutan di depannya.
"Ah, sudahlah. Lebih baik besok saja aku masuk ke sana," gumamnya.
Zhang Fei memutuskan tidak jadi masuk ke dalam hutan tersebut. Saat ini hatinya telah ragu. Tidak mantap seperti sebelumnya.
Bukan karena dia takut menghadapi musuh. Bukan pula karena takut akan kematian.
Kematian adalah suatu hal pasti yang akan menimpa setiap makhluk bernyawa. Dia bisa datang kapan saja. Siap tidak siap, kalau waktunya sudah tiba, siapa pun tidak akan mampu menghindar dari yang namanya kematian.
Setiap saat, Zhang Fei selalu menyerahkan mati hidupnya kepada langit. Jadi untuk apa dia masih takut menghadapi kematian?
Hanya saja, dia tidak mau mati sebelum semua tugasnya selesai. Karena itulah setiap melakukan sesuatu, Zhang Fei pasti akan selalu bertindak sangat hati-hati. Setiap hal yang dia lakukan selalu didasari dengan niat teguh dan keyakinan penuh.
Baginya, semua itu adalah modal yang paling utama.
Tapi sekarang, semua modal utama tersebut lenyap begitu saja. Jadi sudah tentu dia tidak mau melakukan tindakannya.
Akhirnya Zhang Fei menghela nafas panjang dan berat. Ia berjalan mendekati sebuah pohon yang berukuran besar. Begitu memandang ke atas, rupanya pohon tersebut mempunyai banyak dahan.
"Lebih baik aku tidur di sini saja," katanya perlahan sambil naik ke atas.
Setelah menemukan tempat yang aman untuk beristirahat, tanpa berlama-lama lagi ia langsung memejamkan kedua matanya.
Malam itu Zhang Fei tertidur sangat pulas. Ia baru bangun setelah wajahnya terkena sorotan sinar mentari pagi.
"Pagi yang mendung. Sepertinya hari ini akan turun hujan," katanya sambil memandang ke atas langit.
Saat itu cuaca memang sedikit mendung. Di langit banyak gumpalan awan hitam yang terbawa perlahan oleh hembusan angin.
Namun meskipun demikian, hal tersebut bukanlah suatu halangan untuk Zhang Fei melanjutkan tekadnya. Sekarang tubuhnya sudah terasa lebih segar, semangatnya berkobar dan kepercayaannya telah kembali.
Saat ini ia sedang berdiri menghadap ke hutan. Zhang Fei menghembusnya nafas panjang supaya tubuhnya lebih tenang.
Setelah selesai, ia langsung masuk ke sana dengan langkah ringan.
Walaupun di pagi hari, rupanya keadaan di hutan yang katanya kecil itu masih tetap terasa menyeramkan. Keangkeran yang semalam ia rasakan, sampai saat ini masih belum sirna.
Zhang Fei mulai berjalan menelusuri hutan tersebut. Sekitar sepuluh menit kemudian, dirinya sudah berhasil melewati pertengahan hutan.
Semakin jauh masuk ke dalam, semakin terasa pekat pula hawa dingin yang menusuk tulangnya. Nafasnya mulai terasa berat, seolah-olah di dalam hutan itu tidak tersedia banyak oksigen.
Namun ia tidak berhenti. Zhang Fei tetap melangkah sambil meningkatkan kewaspadaannya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dirinya mencium bau yang tidak sedap.
Bau itu sangat menyengat dan mirip seperti bau bangkai.
"Pagi hari saja sudah seseram ini, apalagi kalau malam hari," ujarnya sambil terus melangkah.
Pada saat itu, tiba-tiba saja kaki kanannya menginjak sesuatu yang dingin. Dingin sekali.
Begitu memandang ke bawah, ke tempat yang diinjak oleh kakinya barusan, rupanya itu bukan tanah padat. Melainkan lumpur hitam yang bercampur dengan air.
Zhang Fei terkejut. Dia belum sadar dari apa yang ada di alaminya barusan. Sepasang matanya yang tajam menatap ke depan.
"Ah, ini sebuah rawa," ujarnya terperanjat.
Ternyata rawa yang di hadapannya tersebut tidak sama dengan rawa pada umumnya. Rawa itu dipenuhi dengan rumput ilalang yang cukup tinggi dan tanaman bunga teratai yang memenuhi seluruh bagiannya.
Di bawah rawa tidak hanya ada air yang dingin saja. Melainkan ada juga lumpur hitam. Setelah diamati lebih jauh, rupanya bau yang menyengat tadi itu berasal dari lumpur tersebut!
"Apakah ini yang dimaksud Rawa Iblis?" Zhang Fei bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Ia masih bingung. Surat yang ditulis diatas kain merah itu bertuliskan Rawa Iblis, Zhang Fei yakin, di sini lah tempat di mana Yin Yin berada.
Tetapi, mengapa ia belum menemukan tanda-tanda adanya manusia lain? Apakah si penulis surat itu sedang membohongi dirinya?
Di tengah kebingungan itu, mendadak Zhang Fei mendengar adanya suara manusia yang sedang berbicara. Suara itu cukup banyak, tapi terasa jauh sekali.
"Ah, ternyata benar. Di sini memang ada manusia lain," ujarnya berseru girang.
Zhang Fei yakin, dirinya tidak salah dengar!
Setelah menemukan petunjuk baru, semangatnya terasa lebih berkobar. Apalagi, suara orang-orang yang sedang berbicara itu semakin sering terdengar di telinganya.
"Aku rasa suara itu berasal dari sana," Zhang Fei bergumam sambil memandang ke depan. Di ujung rawa itu terdapat rumpun bambu yang tinggi. Walaupun tidak bisa melihat lebih jauh, tapi Zhang Fei yakin dugaannya tidak salah.
Sekarang, yang harus dia lakukan adalah memikirkan bagaimana cara menyeberangi rawa tersebut.
Zhang Fei coba mencari jalan lain supaya tidak harus melewati Rawa Iblis. Sayangnya, ia tidak berhasil menemukannya.
Mau tidak mau, dia harus menempuh bahaya!
Sebelum melangkah lebih jauh, kebetulan di sisinya ada sebatang kayu dengan panjang sekitar tiga meter. Zhang Fei mengambil kayu itu lalu dimasukannya ke dalam rawa. Niatnya untuk mengecek sedalam apa rawa tersebut.
"Aih, dalam sekali rawa ini," serunya tertahan.
Kayu panjang tersebut masuk seluruhnya. Malah Zhang Fei merasa masih kurang.
"Kalau begini ceritanya, bagaiamana mungkin aku bisa menyeberangi rawa ini?"
Dia kembali kebingungan. Tapi Zhang Fei tidak mau menyerah begitu saja. Tanpa sadar ia telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh dan mulai melangkah ke rawa.
Sepasang kakinya menginjak tanaman bunga teratai dan rumput ilalang. Awalnya Zhang Fei cukup kesulitan, tapi setelah beberapa saat kemudian, dia mulai terbiasa.
Secara perlahan ia terus melangkah. Sekarang dirinya sudah berada di tengah-tengah rawa. Baru saja ingin melangkah lebih jauh, mendadak terdengar suara bergemuruh yang berasal dari bawah.
Air yang bercampur lumpur hitam tiba-tiba mengeluarkan gelembung cukup banyak. Tidak lama setelah itu, kurang lebih ada sepuluh ekor buaya berukuran besar yang muncul secara bersamaan!
Kawanan buaya itu menyerang Zhang Fei dengan kompak! Mereka membuka mulutnya lebar-lebar dan memperlihatkan gigi taring yang sangat tajam.
Untunglah pada saat itu Zhang Fei sudah siap dengan segala kondisi. Sehingga sebelum serangan sepuluh ekor buaya itu mengenai tubuhnya, dia sudah melompat mundur ke belakang.