Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ketegangan di Ruang Pertemuan II


Pendekar Pedang Perpisahan sendiri tidak menyangkal. Sebagai orang yang sudah mengenyam asam manisnya kehidupan, tentu dia sendiri mengerti akan hal tersebut.


Untuk beberapa saat lamanya, keadaan di ruangan itu menjadi sepi hening. Seolah-olah di sana tidak terdapat seorang manusia pun.


Dalam keadaan seperti itu, kalau ada sebatang jarum yang jatuh ke lantai pun, pasti dapat terdengar dengan jelas.


Empat Datuk Dunia Persilatan memandangi Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan secara bergantian. Masing-masing dari mereka sedang menunggu jawaban.


Baik itu dari Ketua Dunia Persilatan, maupun dari datuk sesat itu sendiri.


"Kau benar, Kiang Cen," setelah sekian lama menutup mulut, akhirnya orang tua itu menjawab juga. "Tapi, kali ini aku tidak sedang berbohong. Aku tahu, kalian masih belum percaya terkait apa yang terjadi terhadapku. Tapi, sebagai orang yang sudah banyak pengalaman, coba perhatikan baik-baik, apakah ada raut kebohongan di wajahku?"


Keempat orang tua itu belum ada yang bicara lagi. Tapi di antara mereka juga setuju bahwa Pendekar Pedang Perpisahan memang tidak sedang berbohong.


"Wen Wu, sebenarnya apa yang membuatmu berubah?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menatapnya lekat-lekat.


"Aku sendiri tidak tahu," ia menjawab sambil tertawa. "Tapi percayalah, yang membuatku seperti ini adalah Ketua Dunia Persilatan kita,"


"Benarkah?"


"Ya, benar. Dia telah membuatku sadar akan arti kepedulian terhadap tanah air sendiri. Dia pun telah membuatku lebih paham apa yang dimaksud dengan memanusiakan manusia. Dulu, aku belum mengetahui itu semua. Tapi setelah terjadinya duel yang kedua kali itu, aku banyak merenung. Dan hasilnya, seperti yang kalian lihat sekarang ini,"


Pendekar Pedang Perpisahan berbicara dengan jujur. Yang membuatnya berubah, yang membuatnya sadar akan rasa bela kepada tanah air, adalah Zhang Fei.


Di dunia ini, hanya dia saja yang mampu mengubahnya sedemikian rupa.


"Aku sungguh tidak menyangka dengan hal ini," Pendekar Tombak Angin menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dalam ucapannya, meskipun terkandung rasa kaget, tapi bisa diketahui juga bahwa dia mulai percaya terhadap apa yang terjadi saat ini.


"Jangankan kalian, aku sendiri tidak menyangka bahwa diriku akan menjadi seperti ini," Pendekar Pedang Perpisahan tertawa. Tawanya lepas. Meskipun memang masih terlihat kaku.


"Baiklah. Kalau kau telah berubah, aku sangat bersyukur. Tapi ingat, kalau apa yang kau lakukan ini hanya siasat busuk, aku pastikan kepalamu akan menggelinding jatuh ke tanah," Dewi Rambut Putih yang sejak tadi diam, pada akhirnya kini mulai bicara.


Tokoh sesat tersebut tidak bicara. Dia hanya tertawa sebagai jawabannya.


"Jadi, apakah kau akan sekalian berpindah menjadi tokoh aliran putih?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali.


"Hahaha ..." Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu tertawa. Sebelum menjawab, dia lebih dulu minum arak yang sudah sejak tadi tersedia di atas meja. Begitu arak sudah habis masuk ke perut, dia baru bicara, "Terkait masalah ini, aku tidak bisa memastikannya,"


Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lagi, "Seperti yang tadi kau katakan, berpindah dari satu dunia ke dunia yang lain itu bukanlah perkara mudah. Hal ini sangat sulit sekali. Tapi untuk sementara waktu ini, aku pastikan bahwa diriku akan berpihak kepada kalian. Setidaknya, sampai gejolak ini benar-benar selesai,"


Ruang pertemuan kembali dicekam oleh keheningan. Setelah beberapa saat selanjutnya, Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara lagi.


"Baiklah. Terimakasih karena sudah mau berpihak kepada kami. Kehadiranmu ini, pasti akan membawa sesuatu yang besar. Hanya saja, aku punya satu permintaan,"


"Permintaan apa?"


Dengan ucapan seperti itu, secara tidak langsung Empat Datuk Dunia Persilatan sudah mempercayai dan menganggap bahwa Pendekar Pedang Perpisahan sudah berada di pihaknya.


Hanya saja terkait para pendekar diluar sana, dia tidak bisa memastikan sama sekali.


Dan untuk menjaga terjadinya kesalahpahaman serta hal-hal yang tidak diinginkan lainnya, Dewa Arak Tanpa Bayangan menganggap bahwa itulah cara satu-satunya.


"Baik. Aku setuju. Lagi pula, aku pun sudah ada niat seperti itu," katanya menjawab dengan mantap.


"Bagus. Kalau begitu, mari kita bersulang arak untuk merayakan hal ini,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan memanggil pelayan yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. Meskipun ia tahu di sana ada orang lain, tapi dirinya tidak takut bahwa kabar ini akan menyebar.


Perlu diketahui, setiap orang yang bekerja di Gedung Ketua Dunia Persilatan itu sudah disumpah untuk selalu setia sampai mati.


Jadi, mereka tidak perlu khawatir lagi akan hal tersebut!


Beberapa saat kemudian, suara gelak tawa di ruang pertemuan segera terdengar menggema ke empat dindinh ruangan. Suara cawan arak yang masuk ke tenggorokan, terus terdengar tanpa berhenti.


Suasana yang tadinya sering dihampiri oleh keheningan, sekarang telah berubah menjadi hangat.


Pesta arak itu berlangsung setidaknya selama setengah jam. Begitu hari masuk siang, pesta arak tersebut akhirnya selesai juga.


Setelah itu, para tokoh yang hadir mulai berbicara lebih serius lagi.


"Anak Fei, apakah kau sudah tahu, mengapa kami menyuruhmu untuk kembali Gedung Ketua Dunia Persilatan ini?" tanya Dewi Rambut Putih mulai bicara serius.


"Ya, sedikit banyaknya aku sudah tahu, Nyonya Ling," jawab Zhang Fei dengan cepat.


"Syukurlah kalau begitu. Memang, undangan kita ini masih dengan tema yang sama. Kita akan membahas terkait keadaan negeri ini,"


Zhang Fei mengangguk. Ia sedang menunggu Dewi Rambut Putih berbicara kembali. Namun tentunya, yang bicara berikutnya bukanlah dia. Melainkan Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Anak Fei, keadaan dunia persilatan saat ini sudah diluar kendali kita. Pertempuran selalu terjadi di setiap titik yang dulu kita khawatirkan. Lebih daripada itu, beberapa daerah perbatasan juga telah berhasil dikuasai oleh pihak musuh,"


"Pihak Kekaisaran sendiri sudah menurunkan cukup banyak prajurit tangguh. Namun, mereka tidak kuasa untuk menahan gejolak ini. Hal itu terjadi karena dari pihak musuh ada banyak tokoh-tokoh kelas atas yang ikut serta di dalamnya. Ditambah lagi, yang sudah berkuasa juga bukan dari satu Kekaisaran. Melainkan dari Tiga Kekaisaran sekaligus,"


"Jadi, Kekaisaran Zhou, Kekaisaran Jing dan Kekaisaran Qin juga sudah menurunkan lebih banyak orang-orangnya?"


"Benar, terutama sekali adalah Kekaisaran Zhou dan Kekaisaran Jin,"


"Lantas, bagaimana dengan Kekaisaran Qin?"


"Untuk Kekaisaran Qin sendiri, orang-orangnya yang sudah datang tak lebih hanya beberapa tokoh saja. Itu pun disebar di beberapa titik. Terkait yang satu ini, aku rasa Kaisar masih bisa melakukan negosiasi politik. Mengingat bahwa hubungan dengan Kekaisaran Qin tidak seburuk dengan Kekaisaran lainnya,"