Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Latihan yang Tidak Sia-sia


Serangan yang diberikan oleh Zhang Fei tidak pernah berhenti. Seiring berjalannya waktu, serangan heran bahkan bertambah hebat dan berbahaya lagi.


Kilatan warna putih yang keluar terlihat semakin banyak. Suara mendengung yang menusuk telinga terus terdengar setiap waktu.


Selama kurang lebih sepuluh jurus, Pendekar Pedang Perpisahan terus berada di bawah angin. Posisinya tidak pernah kembali seperti semula.


Selama itu, entah sudah beberapa kali dirinya hampir tewas di tangan lawan. Untung saja dia telah mengantongi banyak pengalaman di masa lalunya. Sehingga keberuntungan masih berpihak kepada dirinya.


Dalam pada itu, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Pendekar Pedang Perpisahan. Tidak bisa dipungkiri lagi, saat ini dia merasa gentar dengan semua serangan yang diberikan oleh Zhang Fei.


"Pedang Kematian Menerpa Bumi!"


Pendekar Pedang Perpisahan membentak. Bersamaan dengan itu tubuhnya juga menerjang ke depan. Pedang pusaka yang dia genggam ditebaskan dari setiap arah yang ada.


Dua buah jurus maut saat ini telah bertemu di tengah jalan. Percikan api yang tercipta tampak semakin banyak.


Keduanya berada di posisi bergantian. Mereka terus saling serang satu sama lain.


Empat Datuk Dunia Persilatan memandangi duel itu lebih serius dari sebelumnya. Sepanjang jalannya pertarungan, di antara mereka belum ada yang berbicara.


Mereka tetap berdiri dalam diam dengan anggapannya masing-masing.


Tanpa terasa, duel itu sudah berlangsung lebih dari seratus jurus. Sampai sejauh ini, rasanya masih sulit untuk menentukan siapakah yang lebih unggul.


Alasannya karena gerakan mereka terlampau cepat. Ditambah lagi dengan masing-masing jurusnya yang mempunyai kekurangan dan kelebihan satu sama lain.


Jurus milik Pendekar Pedang Perpisahan itu terlihat lamban dan berat. Tetapi jangan salah, dibalik itu justru mengandung sebuah tekanan tenaga yang sulit dijelaskan.


Sedangkan jurus Murka Pedang Dewa milik Zhang Fei selalu mengandalkan kecepatan. Saking cepatnya sampai-sampai yang terlihat hanya bayangan putih keperakan saja.


Menurut pepatah, lambat harus dilawan dengan cepat. Begitu juga sebaliknya. Jadi, tidak perlu heran kalau duel tersebut benar-benar sengit.


Pemandangan semacam ini bisa dibilang sangat langka dan jarang terjadi dalam dunia persilatan.


Meskipun Pendekar Pedang Perpisahan berasal dari aliran sesat, tapi sampai sejauh ini, dia tidak melakukan sedikit kecurangan sekali pun.


Dia bertarung dengan jujur dan adil!


"Sepertinya duel ini akan berlangsung lebih dari dua ratus jurus," kata Orang Tua Aneh Tionggoan memberikan pendapatnya.


"Tidak. Sebentar lagi malah akan berakhir," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.


"Oh, benarkah?"


"Tentu,"


"Mengapa Tuan Kiang bisa mengatakan hal itu?" tanya Dewi Rambut Putih penasaran.


"Coba perhatikan dengan seksama, duel ini sebenarnya sudah tidak seimbang. Kalau memperhatikan dengan benar, aku rasa kalian juga akan menyadari bahwa Pendekar Pedang Perpisahan sebenarnya sudah kelelahan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan menjelaskan secara singkat.


Tiga orang tokoh di sisinya tidak ada yang menjawab. Mereka langsung melihat ke tengah-tengah arena pertarungan. Masing-masing meningkatkan kewaspadaan matanya.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan memang benar, saat ini gerakan Pendekar Pedang Perpisahan mulai melambat.


Walaupun hanya sedikit, tapi hal itu sudah terlihat cukup jelas. Bahkan juga bisa mendatangkan kerugian besar bagi dirinya pribadi.


"Tuan Kiang benar, dari segi pengalaman, mungkin tua bangka itu pemenangnya. Tapi kalau dari segi tenaga luar, dia jelas kalah jika dibandingkan dengan anak Fei,"


Tenaga dalam Pendekar Pedang Perpisahan mungkin sangat tinggi. Tapi kalau bicara tenaga luar, itu lain lagi ceritanya.


Kejadian seperti ini adalah manusiawi. Setiap manusia yang hidup di muka bumi, pasti akan mengalami hal tersebut.


"Nah, itu artinya, anak Fei mempunyai kesempatan untuk keluar sebagai pemenang. Tinggal bagaimana dia bisa memanfaatkan keadaan ini atau tidaknya," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan yang segera mendapat anggukan dari tiga tokoh di sisinya.


Kini di tengah arena, duel di antara mereka tampak semakin sengit lagi. Duel itu mulai mencapai puncak keseruannya.


Pendekar Pedang Perpisahan terus berusaha mencecar Zhang Fei dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Sayang sekali, anak muda itu mampu menahan setiap serangannya dengan bantuan jurus-jurus baru yang dia dapatkan saat melatih diri kemarin.


"Hiatt!!!"


Zhang Fei berteriak lantang. Bersamaan dengan itu, Pedang Raja Dewa terlihat menebas dari sisi kanan ke kiri. Pedang itu mengalami benturan keras dengan senjata lawan.


Pada waktu yang bersamaan, Zhang Fei juga melancarkan serangan menggunakan telapak tangan kirinya. Serangan tersebut dengan telak mengenai ulu hati Pendekar Pedang Perpisahan.


Tokoh sesat itu mengeluh tertahan. Tubuhnya meluncur ke belakang dengan sangat cepat.


Zhang Fei tidak tinggal diam di tempatnya, dia langsung mengejar. Beberapa saat kemudian tubuh Pendekar Pedang Perpisahan terbentur dengan dinding pembatas, luncurannya seketika berhenti.


Saat itu, Zhang Fei juga sudah berdiri tegak di depannya.


Ujung Pedang Raja Dewa dijulurkan. Pedang itu hampir menembus tenggorokan lawan. Jarak yang terpaut hanya sekitar satu buku jari.


Sayangnya, Zhang Fei tidak meneruskan langkah tersebut. Ia menghentikan pedangnya pada saat yang tepat.


Dua pasang mata saling tatap dengan tajam. Di antara mereka tidak ada yang bicara.


Sesaat kemudian, Zhang Fei kembali menyarungkan Pedang Raja Dewa. Lalu dia membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan Pendekar Pedang Perpisahan.


Peristiwa tersebut disaksikan oleh Empat Datuk Dunia Persilatan. Mereka langsung bersorak pada saat mengetahui bahwa Zhang Fei keluar sebagai pemenang.


"Bagus, Ketua Fei!"


"Kau hebat,"


Seruan demi seruan terdengar. Zhang Fei menanggapi semua itu dengan senyuman hangat.


"Latihan tertutup yang kau lakukan benar-benar tidak mengecewakan," kata Orang Tua Aneh Tionggoan ketika Zhang Fei sudah berada di sisinya.


"Benar. Hal itu terbukti sekarang," sambung Pendekar Tombak Angin.


Sementara itu, untuk beberapa saat Pendekar Pedang Perpisahan masih terpaku di posisinya. Dia memandangi pedang yang masih digenggam di tangan kanan dengan tatapan tidak percaya.


Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Yang jelas, siapa pun bisa melihat bahwa ekspresi wajahnya sedikit berubah.


Seperti ada rasa kecewa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seperti ada juga rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami barusan.


Beberapa menit berikutnya, tiba-tiba dia bangkit berdiri. Setelah pedangnya disarungkan, Pendekar Pedang Perpisahan segera berjalan ke arah Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan.


Baik cara berjalan maupun tatapan matanya masih sama. Tapi ekspresi wajahnya sudah jauh berbeda.


Dia berhenti ketika jarak yang tersisa tinggal tujuh langkah. Keadaan di sana masih hening, mereka belum berbicara.


"Hutang dan janji di antara kita sudah lunas, Ketua Fei," kata Pendekar Pedang Perpisahan setelah beberapa saat kemudian.


"Apakah tidak ada lagi hal-hal lain yang masih bersangkutan?" tanya Zhang Fei sambil mengangkat alis.