
Para petinggi Partai Panji Hitam saling pandang satu sama lain. Satu tarikan nafas kemudian, mereka menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa tidak ada, Ketua," jawab Wakil Ketua Partai Panji Hitam.
"Baiklah," Dewa Sesat Tiada Tanding mengangguk kembali.
Ia kemudian minum arak beberapa cawan. Setelahnya, tokoh sesat itu berkata lagi.
"Kita sudah terlanjur turun ke lapangan, kita juga sudah terlanjur bergerak dan menjalankan rencana yang telah disusun sejak awal ini. Partai kita pun terlanjur hancur. Maka dari itu ... aku akan mengambil sebuah keputusan!"
Perkataannya tiba-tiba berhenti. Dia menatap ke arah para petinggi yang ada di dalam ruang pertemuan tersebut.
Seolah-olah Dewa Sesat Tiada Tanding ingin melihat reaksi dari wajah orang-orang tersebut.
"Aku memutuskan ... bahwa kita akan menyerang ke Gedung Ketua Dunia Persilatan!"
Ia berkata dengan tegas. Suaranya juga terdengar keras. Sampai-sampai seisi ruangan itu dipenuhi oleh getaran suaranya.
"Apa?"
Para petinggi benar-benar terkejut mendengar ucapannya. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Dewa Sesat Tiada Tanding ternyata akan mengambil keputusan tersebut.
Setiap orang yang ada di sana, saat ini mempunyai pendapat yang sama!
Keputusan yang diambil oleh Ketuanya terlalu berisiko. Bahkan bisa dibilang, hal itu sama saja dengan bunuh diri!
Menyerang ke Gedung Ketua Dunia Persilatan itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Bisa dipastikan, Partai Panji Hitam akan hancur lebur dan rata dengan tanah.
Suasana di ruang pertemuan itu hening untuk beberapa waktu. Tidak ada seorang petinggi pun yang berani angkat bicara.
Dewa Sesat Tiada Tanding juga masih menutup mulut. Sepasang matanya terus menatap para petinggi secara bergantian.
"Mengapa kalian terlihat begitu terkejut?" tanyanya setelah beberapa saat kemudian. "Apakah ada yang salah dengan keputusanku?"
Ia menatap lebih tajam. Tatapan yang dalam dan mengandung banyak makna.
"Tidak ada yang salah dengan keputusan itu, Ketua," ucap seorang petinggi memberanikan diri untuk berbicara. "Hanya saja, menurutku keputusan itu terlalu berisiko tingg,"
"Benar, Ketua," sambung Wakil Ketua ikut menyampaikan pendapatnya. "Hal ini sama saja dengan mempertaruhkan Partai Panji Hitam kita. Gedung Ketua Dunia Persilatan itu tempatnya tokoh-tokoh kelas atas. Di sana ada banyak pendekar berkemampuan tinggi yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Kalau memaksa menyerang ke sana, aku rasa ... kemenangan tidak akan berpihak kepada kita,"
Meskipun sebenarnya dia tidak berani berbicara seperti itu, tapi mau tak mau, si Wakil Ketua tetap harus menyampaikannya. Sebab hal ini sangat penting dan menyangkut nyawa banyak orang.
"Ya, ya. Aku tahu. Tapi seperti yang aku katakan tadi, kita ini sudah terlanjur. Jadi menurutku, lebih baik kita menyerang langsung ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Berhasil atau tidak, itu urusan nanti. Setidaknya, dengan menyerang ke sana, kita bisa membunuh sebagian tokoh-tokoh kelas atas yang terdapat di gedung itu,"
"Walaupun mustahil untuk bisa membunuh semua pendekar di sana, tapi setidaknya dendam kita akan sedikit terbalas. Untuk ambisi ini, biarlah orang-orang di pihak kita saja yang melanjutkannya,"
Dewa Sesat Tiada Tanding bicara dengan nada dalam. Dibalik setiap patah kata yang ia ucapkan itu, mengandung banyak arti dan perasaan.
Hati kecilnya saat itu merasa sakit. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Bagaiamana? Apakah kalian setuju dan mau menjalankan keputusanku ini?" tanyanya kembali dengan nada tegas.
Para petinggi yang ada di dalam ruangan tidak langsung menjawab. Mereka menundukkan kepala, seolah-olah sedang bertanya kepada diri sendiri.
"Sejak awal, kita sudah bersama. Susah senang bersama, bahkan mendirikan partai ini dari kecil sampai besar pun, juga bersama. Maka dari itu, kita pun harus berjuang bersama. Bahkan jika harus mati, kita juga harus mati bersama!"
Kebersamaan!
Kebersamaan itu tidak sesederhana yang orang-orang bayangkan. Kebersamaan itu sangat luas dan mendalam.
Di dunia saat ini, rasanya cukup sulit menemukan orang yang seperti itu.
Karenanya, kalau sudah menemukan orang yang mau diajak bersama-sama, maka jangan pernah menyia-nyiakannya!
Sebab kalau sampai menyia-nyiakannya, maka kau akan menyesal seumur hidup!
"Setuju!"
"Ya, kami siap melaksanakan keputusan itu!"
"Aku akan berjuang bersamamu, Ketua,"
Ucapan Wakil Ketua Partai Panji Hitam segera mendapat persetujuan dari para petinggi lain. Mereka menganggap bahwa apa yang telah disampaikan barusan itu, sangat benar dan telah mewakili perasaannya.
Dewa Sesat Tiada Tanding seperti kaget melihat reaksi para petingginya. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia langsung tertawa. Tertawa dengan sangat lantang sekali.
"Hahaha ... kalian benar-benar orang yang sangat setia. Tidak menyesal aku bisa mengenal dan menganggap kalian sebagai keluarga sendiri,"
Suara tawa kembali menggelegar. Setelah mendengar jawaban itu, penderitaan dan kesedihan yang sejak tadi ia rasakan, kini seolah-olah telah sirna begitu saja.
Bagi tokoh sesat tersebut, hari ini adalah salah satu hari paling membahagiakan seumur hidupnya!
"Hari ini, kita harus minum sampai benar-benar mabuk. Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini, kecuali hanya dengan cara berjalan merangkak. Kalian setuju?" tanya Dewa Sesat Tiada Tanding kepada semua orang.
"Kami setuju!" seru si Wakil Ketua.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan langsung terdengar. Beberapa orang anggota segera masuk ke dalam sambil membawa guci arak dan daging segar.
Selama seharian penuh, mereka terus bepresta arak sampai menghabiskan belasan guci berukuran besar.
###
Zhang Fei dan para tokoh yang lain sudah kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Hari ini, adalah hari kesepuluh setelah peristiwa di Kota Sichuan.
Setelah menyelesaikan urusan di sana, para tokoh tersebut belum lagi turun ke lapangan.
Berbagai macam masalah lain yang bermunculan, semuanya telah berhasil diatasi oleh para pendekar aliansi.
Sampai sejauh ini, kondisi dunia persilatan Kekaisaran Song agaknya bisa dibilang masih terkendala. Hal itu terjadi karena setiap terjadinya pertempuran, mereka selalu pulang dengan membawa kemenangan.
Menurut laporan yang disampaikan oleh petugas, pendekar aliansi yang masih hidup sampai detik ini hanya tinggal tujuh puluh lima orang saja.
Itu artinya, dua puluh orang dari mereka telah tewas menjadi korban pertempuran.
Tetapi, tewasnya orang-orang itu tidaklah sia-sia. Mereka mati sebagai pendekar dan pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya!
Bahkan untuk menghargai jasa para pendekar tersebut, Kaisar Song Kwi Bun secara sengaja telah memberikan lahan yang sangat luas.
Nantinya, lahan itu akan dijadikan tempat pemakaman para pahlawan yang akan diceritakan dari generasi sampai ke generasi berikutnya.
Di sisi lain, pihak Kekaisaran juga sudah memberikan pesangon kepada mereka yang gugur di medan perang.
Dari dahulu kala sampai di masa yang akan datang, peperangan yang melibatkan banyak orang pasti akan berujung seperti itu. Kalau bukan kau yang tewas, maka aku yang mati!
Hal tersebut sudah menjadi risiko. Risiko yang tidak bisa diubah kembali.
Namun walaupun demikian, rasanya mereka yang gugur juga tidak akan menyesal. Sebab mereka mati dalam keadaan memperjuangkan hak-hak dan tugasnya masing-masing!