
"Kau tidak papa?" tanya orang itu kepada Tang San.
"Tidak, Ketua. Terimakasih karena sudah menyelamatkan aku," jawabnya dengan hormat.
Orang yang telah menyelamatkan Tang San itu ternyata adalah Pendekar Empat Pedang, Ketua Dunia Persilatan dari Kekaisaran Zhou.
Sekarang, ia sedang berjalan dengan langkah tenang. Dirinya baru berhenti setelah terpaut tujuh langkah dengan Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Ternyata kalian ini benar-benar keras kepala. Padahal sudah tahu terkepung dan tidak ada jalan keluar lagi. Tapi rupanya, kalian masih nekad ingin melawan kami," ucap Pendekar Empat Pedang dengan nada dingin.
"Ketahuilah!" Orang Tua Aneh Tionggoan segera menjawab dengan cepat. "Kami semua bukan manusia pengecut. Jadi kamu lebih memilih mati daripada harus menyerah kepada lawan,"
"Oh, benarkah? Hebat juga. Rupanya kau adalah orang tua yang tidak takut mati,"
"Mati itu sesuatu yang pasti. Mengapa pula aku harus takut?"
"Bagus, bagus sekali. Kalau begitu, mari kita mulai pertempuran yang sesungguhnya!"
Pendekar Empat Pedang bersiul keras. Suara siulan itu terdengar sangat nyaring dan menggetarkan gendang telinga.
Bersamaan dengan hal tersebut, tiba-tiba dari setiap penjuru yang, terlihat ada ratusan anak panah yang dilepaskan secara bersamaan.
Semua anak panah itu melesat dengan sangat cepat. Selain anak panah tersebut, ada pula beberapa jenis senjata rahasia lainnya. Semuanya datang bersamaan. Semuanya membawa kabar dari Malaikat Maut!
Para tokoh utama dari dunia persilatan Kekaisaran Song tidak tinggal diam. Sebelum semua senjata rahasia itu tiba, dengan segera mereka mengambil tindakannya masing-masing.
Mereka melompat tinggi ke angkasa. Bersamaan dengan itu, masing-masing segera melakukan gerakan dengan mengandalkan jurusnya.
Semua senjata rahasia yang datang itu, tiba-tiba terpental kembali ke tempatnya semula. Meskipun ada yang berhasil sampai, tapi tidak ada satu pun dari senjata rahasia itu yang dapat mengenai tubuh para tokoh tersebut.
Suara nyaring terdengar beberapa kali. Decitan angin tajam juga ikut mengiringi. Dalam waktu singkat saja, keadaan di sana langsung berubah total.
Halaman hutan yang tadinya tenang dan damai, kini telah berubah menjadi ajang pertempuran berdarah yang sangat menegangkan!
Pada saat itu, Yao Mei dan Yin Yin tiba-tiba ikut mengambil bagian. Kedua gadis cantik itu melesat cepat di antara ratusan senjata rahasia yang terus berdatangan.
Keduanya segera mencabut pedang masing-masing. Mereka lalu menyerang setiap musuh yang terdapat di dekatnya.
Jeritan ngeri terdengar silih berganti. Darah segar yang menyembur ke tengah udara, sebagian ada yang membasahi pakaian Yao Mei dan Yin Yin.
Sepak terjang keduanya benar-benar membuat ciut nyali lawan. Hanya beberapa kejap saja, mereka telah berhasil membunuh puluhan orang.
Sementara di tempat lain, Empat Datuk Dunia Persilatan Kekaisaran Song saat ini juga sudah bertarung melawan musuhnya tersendiri.
Tidak hanya mereka saja, bahkan Pendekar Pedang Perpisahan yang merupakan datuk sesat pun tidak ingin ketinggalan.
Begitu turun tangan, dia langsung berhadapan dengan dua orang pendekar kelas satu dari Kekaisaran Jin.
Pertempuran para tokoh utama itu benar-benar menegangkan. Jurus-jurus kelas atas yang jarang terlihat dalam dunia persilatan, sekarang justru sangat sering terlihat.
Bentakan nyaring dan benturan keras terus terjadi seiring berjalannya waktu. Berbagai macam senjata pusaka langka pun telah dikeluarkan.
Dalam sejarah Tionggoan, rasanya pertempuran pada malam itu akan menjadi salah satu pertempuran yang sangat menegangkan.
Apalagi orang-orang yang terlibat di sana merupakan para tokoh utama dari masing-masing Kekaisaran.
Selama negeri Tionggoan berdiri, rasanya baru kali ini saja hal itu dapat terjadi!
Ketika bertarung di Istana Kekaisaran Song, Dewa Arak Tanpa Bayangan masih membatasi tenaganya karena tidak ingin melakukan hal secara berlebihan. Namun di tempat ini lain lagi.
Begitu bertemu dengan Pendekar Tongkat Maut, tanpa berpikir panjang lagi dia langsung mengeluarkan jurus-jurus pamungkas yang telah dikuasainya secara sempurna.
Dengan kedudukannya sebagai Datuk Dunia Persilatan nomor satu, dengan pengalamannya yang sudah sangat banyak, tentu bukan hal sulit baginya untuk bisa mendesak lawan.
Apalagi dia sudah bisa membaca diri lawan sebelumnya.
Maka dari itu, walaupun pertarungan mereka berdua baru berjalan selama dua puluh jurus, namun ia sudah berhasil membuat Pendekar Tongkat Maut berada dalam posisi yang tidak memungkinkan lagi.
Posisi tokoh sesat itu semakin berada di ujung tanduk. Tongkat sakti yang dia gunakan selama ini tidak mampu memberikan bantuan apa-apa. Walaupun dia sudah mengeluarkan jurus tongkat andalannya, tapi hal itu tetap percuma.
Dewa Arak Tanpa Bayangan bahkan berani membenturkan kedua tangannya tanpa merasa ragu. Hebatnya lagi, setiap benturan yang terjadi itu seolah-olah tidak memberikan efek apapun kepada dirinya.
Lain halnya dengan Pendekar Tongkat Maut. Ketika melihat semua hal itu, dia langsung terperanjat kaget. Tokoh dunia persilatan Kekaisaran Zhou tersebut hampir tidak menyangka dengan apa yang disaksikan oleh matanya.
"Sekarang aku tidak akan mengampunimu lagi," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil membentak keras.
Dia kemudian melanjutkan lagi serangannya. Jurus Dewa Arak Mabuk Berat sudah digelar. Gerakannya menjadi berubah tidak karuan.
Setiap gerakan atau serangan yang ia peragakan tidak bisa dibaca oleh pihak lawan. Pendekar Tongkat Maut semakin terdesak hebat.
Jurus tongkatnya sudah benar-benar tidak berfungsi. Bahkan sekitar sepuluh jurus kemudian, benturan yang keras terdengar lagi.
Tongkat miliknya seketika patah setelah berbenturan dengan Guci Arak Murni milik Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Begitu tongkatnya patah, maka patah juga semangatnya.
Seorang pendekar yang menggunakan senjata, apabila senjatanya itu bisa dipatahkan atau dilemparkan lawan, maka sudah pasti ia akan merasa kalah telak.
Begitu juga dengan Pendekar Tongkat Maut. Saat menyadari hal tersebut, ia langsung pasrah. Pasalnya karena dia tidak terlalu ahli jika bertarung hanya mengandalkan kedua tangannya saja.
Bukk!!!
Sebuah pukulan terakhir tiba di tubuhnya. Dada Pendekar Tongkat Maut menjadi sasaran telak! Ia langsung terlempar sepuluh langkah ke belakang.
Setelah tubuhnya berhenti bergulingan, pada saat itu pula nafasnya ikut berhenti.
Ia tewas! Tewas dengan luka dalam yang sangat parah.
Sementara itu, pertempuran tersebut masih terus berlanjut. Pasukan yang dibawa oleh dua orang Kaisar itu sudah banyak yang terkapar di tanah.
Mereka tewas dengan berbagai macam luka dan kondisi. Darah segar sudah membanjiri area sekitar. Bau amis darah juga tercium begitu jelas.
Semua hal tersebut menjadi hal yang biasa terjadi dalam sebuah pertempuran. Ketika sebuah pertempuran terjadi, maka hilangnya anggota tubuh atau bahkan hilangnya nyawa merupakan sesuatu yang lumrah.
Setiap pendekar yang selalu bertempur pasti akan mengalaminya. Meskipun memang tidak ada yang tahu perihal kapan ia akan mengalami.
Di satu sisi, Yao Mei dan Yin Yin terlihat masih gencar memberikan serangan-serangan ganas kepada setiap pasukan musuh yang ada di dekatnya.
Walaupun dua gadis itu sudah mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, tetapi mereka tampak tidak terganggu sama sekali.
Mereka menganggap semua luka itu tidak ada. Yang ada hanyalah dendam membara!