
Orang tua yang baru saja bicara itu usianya kurang lebih sudah mencapai tujuh puluh tahun. Ia memelihara janggut panjang sampai ke bagian dada. Rambutnya digelung ke atas.
Wajahnya terkesan berwibawa. Kedua alis matanya tebal. Orang tua itu juga mempunyai mata yang teliti. Seolah-olah tidak ada sesuatu apapun yang bisa disembunyikan darinya.
Dengan pakaian dan jubah warna emas, ditambah lagi warna tongkat yang sama, sekilas pandang dia sangat mirip seperti manusia emas.
"Apakah aku sedang berhadapan dengan Dewa Tongkat Emas?" tanyanya sambil memandang tajam.
"Tidak aku sangka. Ternyata kau telah mengetahui siapa aku," jawab orang tua itu tersenyum hambar sambil memperlihatkan deretan giginya yang mulai ompong.
"Kau adalah tokoh angkatan tua yang dulu juga pernah berkunjung ke Tionggoan. Ilmu tongkatmu sudah sangat tinggi, dengan semua itu, bagaiamana mungkin aku tidak bisa mengenalmu?" Pendekar Tombak Angin tertawa. Tapi matanya tetap menatap dengan lekat.
"Lalu, apakah yang ada di hadapanku sekarang ini, adalah Pendekar Tombak Angin?"
"Hahaha ... benar. Rupanya matamu masih tajam juga,"
"Walaupun seandainya aku buta, tapi aku tetap akan dapat mengenalimu. Di masa lalu, kau pernah membunuh cukup banyak anak buahku ketika terjadi pertempuran dalam dunia persilatan,"
"Jadi karena dendam itulah kau bisa mengetahui aku dengan cepat?" tanya Pendekar Tombak Angin memotong ucapannya.
"Sepertinya begitu," ujar Dewa Tongkat Emas tidak menampik. "Tidak aku sangka, kita dipertemukan lagi di dalam pertempuran," lanjutnya.
"Ya, aku pun tidak pernah menyangka akan hal ini,"
Dewa Tongkat Emas menarik muka sambil melemparkan senyuman dingin. Kemudian dia berkata lagi, "Sekarang, aku harap urusan di antara kita bisa diselesaikan,"
"Ya, aku juga berharap begitu,"
Setelah berkata demikian, Pendekar Tombak Angin langsung memberikan aba-aba kepada para prajurit untuk menyingkir lebih jauh dari tempat sekitarnya.
Dia tahu, tidak lama lagi duel dendam di masa lalu akan terulang. Dan Pendekar Tombak Angin tidak mau prajurit Kekaisaran ikut menjadi korbannya.
"Kalian pergi dari sini. Hadapi saja prajurit yang lain. Masalah Dewa Tongkat Emas, serahkan saja kepadaku. Aku rasa, aku bisa menghadapinya seorang diri," ucapnya penuh keyakinan.
"Hahaha ... seyakin itukah dirimu? Kau pikir, selama banyak tahun belakangan, aku tidak berlatih dan memperdalam lagi ilmu tongkatku?" Dewa Tongkat Emas terlibat seperti tidak terima ketika mendengar ucapan Pendekar Tombak Angin. Karena itulah dia langsung menyindirnya.
"Itu terserah kepadamu saja. Hanya yang penting, aku tidak berkata seperti itu," balasnya dengan nada hambar.
"Oh, benarkah? Sekarang, coba tahan tongkatku ini!"
Wutt!!!
Ucapannya belum selesai diutarakan, bayangan tongkatnya malah sudah menyapu ke depan.
Trangg!!!
"Walaupun gerakanmu sangat cepat, tapi aku tetap bisa menahannya," kata Pendekar Tombak Angin sambil mementalkan senjata lawan.
Sebelum Dewa Tongkat Emas melanjutkan serangan berikutnya, ia telah lebih dulu mengambil kesempatan tersebut.
"Kemarahan Raja Tombak Kematian!"
Wutt!!!
Tanpa tanggung-tanggung lagi, dia langsung mengeluarkan salah satu jurus andalannya. Dalam jurus tersebut, Pendekar Tombak Angin juga mengerahkan tenaga sebanyak delapan bagian.
Jadi tidak heran kalau hasilnya sangat luar biasa.
Dewa Tongkat Emas langsung merasakan adanya hawa tombak yang terus menusuk-nusuk seluruh tubuhnya. Rasa sakit muali menerpa. Tapi dia berusaha untuk tetap bertahan.
Dua orang tokoh dunia persilatan itu bertarung sengit. Masing-masing dari mereka sedang berusaha untuk membunuh lawannya dengan cepat.
Dewa Tongkat Emas memainkan senjatanya dengan lincah. Meskipun tongkat di tangannya mempunyai berat yang tidak ringan, tapi dia sama sekali tidak terganggu.
"Cahaya Emas Berpijar di Bukit Hijau!"
Wutt!!!
Tongkat pusaka itu langsung berkelebat ke depan. Sapuan dan sodokan tongkat datang silih berganti. Ia sedang berusaha mencari titik lemah di tubuh lawannya.
Tapi sayang usaha itu tidak semudah yang ia duga. Meskipun jurus pamungkas sudah digelar, tapi nyatanya Pendekar Tombak Angin masih bisa bertahan. Bahkan bisa dilihat bahwa orang tua itu sedikit pun tidak merasa kewalahan.
Duel dendam di masa lalu itu didasari oleh hawa amarah yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Karenanya tidak heran apabila pertarungan yang berlangsung, semakin lama malah semakin seru dan menegangkan lagi.
Keduanya melompat ke depan. Senjata kembali bertemu di entah udara. Adu telapak tangan dan tendangan tidak terhindarkan.
Puluhan puluhan jurus sudah berlalu. Mencapai jurus keempat puluh, Pendekar Tombak Angin mendadak membentak nyaring.
Tombaknya menusuk dari depan. Tangan kirinya juga melepaskan serangan jarak jauh.
Blarr!!!
Dewa Tongkat Emas menahan serangan jarak jauh tersebut. Tenaga dalam berbenturan di tengah jalan dan menciptakan gelombang kejut. Tongkatnya menempel dengan tombak lawan.
Untuk beberapa saat, mereka terus berada dalam posisi itu. Detik berikutnya, Pendekar Tombak Angin menarik lebih dulu senjatanya. Lalu menyerang lagi dengan gerakan yang berbeda.
Semua itu dilakukan dengan gerakan yang benar-benar cepat.
Duel sengit kembali terjadi. Tapi kali ini tidak sampai puluhan jurus. Paling-paling hanya membutuhkan waktu sebanyak sembilan jurus.
Tahu-tahu, tombak pusaka itu sudah menusuk jantung Dewa Tongkat Emas.
Pendekar Tombak Angin akhirnya berhasil membunuh musuhnya. Walaupun dia sendiri terluka parah karena serangan lawan yang terakhir, tapi hal itu masih mending daripada harus kehilangan nyawa.
"Kau telah melakukan satu kesalahan!" katanya dengan nada dingin.
"A-apa itu?" tanya Dewa Tongkat Emas dengan susah payah.
"Kau terlalu menganggap enteng kemampuanku,"
Selesai berkata seperti itu, dia langsung mencabut tombaknya dari jantung lawan. Dewa Tongkat Emas seketika ambruk ke atas tanah dengan kondisi sudah tidak bernyawa.
Sesaat setelah kematian musuh besarnya, Pendekar Tombak Angin pun langsung jatuh berlutut. Untunglah dia lebih dulu menancapkan senjatanya, kalau tidak, mungkin saat ini dirinya juga sudah terkapar di tanah.
Serangan terakhir lawan telah berhasil mematahkan enam tulang rusuk miliknya. Tidak hanya itu saja, bahkan ia juga mengalami luka dalam parah karena sapuan tongkat emas tadi telah menghantam ulu hatinya dengan telak.
"Kalau ingin sembuh total dari luka ini, sepertinya aku pasti harus beristirahat total cukup lama," gumamnya sambil memejamkan mata.
Tidak lama kemudian, beberapa orang prajurit Kekaisaran Song datang menghampiri. Mereka langsung membawa Pendekar Tombak Angin ke tempat pengobatan yang sudah disediakan.
Sorak-sorai para prajurit menggema di udara ketika dirinya lewat. Walaupun peperangan belum selesai secara keseluruhan, tapi mereka tetap merasa bersyukur karena salah satu musuh tangguh kembali berhasil dihabisi.
Teriakan tersebut sekaligus juga membangkitkan semangat rekan seperjuangan. Sedangkan di sisi lain, teriakan barusan secara tidak langsung telah membuat mental lawan jatuh.
Pada saat-saat seperti itu, tiba-tiba guntur menggelegar di atas langit. Gemuruh itu terus terdengar sampai pada akhirnya hujan deras pun turun membasahi bumi.
Cahaya kilat dan hembusan angin ikut hadir bersama datangnya hujan. Peperangan yang berlangsung di padang rumput itu akhirnya jadi lebih mencekam lagi!