
Setelah berhasil melumpuhkan dua orang penjaga tersebut, Yang Shen segera melesat lebih jauh lagi. Tapi sebelum dirinya benar-benar berhasil masuk ke dalam daerah terlarang, tiba-tiba dari berbagai penjuru mata angin, muncul sepuluh orang lain yang mengenakan pakaian serba hitam.
Mereka mengepung Yang Shen dengan memegang goloknya masing-masing. Orang-orang itu mempunyai sepasang mata yang sangat tajam. Bahkan tajamnya seolah-olah melebihi ketajaman golok itu sendiri.
Wushh!!!
Sekelebat bayangan kebiruan tiba-tiba muncul bagaikan kilat. Tahu-tahu Zhang Fei sudah ada di sana dan berdiri di sisi Yang Shen.
"Paman Shen, kau pergilah ke dalam duluan. Masalah sepuluh orang ini, serahkan saja kepadaku," kata Zhang Fei bicara setengah berbisik di telinganya.
"Kau yakin mampu menghadapinya?"
"Jangankan hanya sepuluh orang. Bahkan kalau ditambah sepuluh lagi pun, aku rasa masih sangat mampu," jawabnya penuh rasa percaya diri.
"Hemm ... baiklah. Aku akan menuruti ucapanmu, Fei. Tapi aku akan melakukannya apabila situasinya sudah tepat,"
"Baik. Sekarang aku akan mencoba memancing emosi mereka,"
Dua orang pendekar itu bicara dengan tenang. Terhadap sepuluh orang yang kini sedang mengepungnya, mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
"Dua manusia dari mana yang berani mencari mati di tempat ini? Apakah mata kalian buta, sehingga tidak bisa membaca papan tulisan yang tergantung di depan sana?" tanya salah seorang dari mereka dengan nada tinggi.
"Memangnya, tulisan apa yang berada di papan gantung tersebut?" Zhang Fei bertanya dengan nada polos. Seolah-olah dia tidak mengerti terhadap apa yang dikatakan oleh orang tersebut.
"Jadi, kau tidak melihat tulisan besar tersebut? Kalau begitu, aku rasa kau benar-benar buta, anak muda," katanya sambil tersenyum dingin.
"Aku melihatnya. Tapi, aku tidak sempat membacanya,"
"Tidak sempat membaca, atau memang tidak bisa membaca?"
"Ah, kalau itu sih, terserah apa katamu saja," ujar Zhang Fei sambil tertawa ringan. "Tapi menurutku, tidak bisa membaca masih mending, daripada tidak sadar akan kemampuan diri," ia melanjutkan ucapannya sambil memberikan senyuman ejekan.
Sontak saja orang serba hitam tersebut merasa marah. Dia benar-benar geram setelah mendengar perkataan Zhang Fei barusan.
"Cih, benar-benar bocah yang sombong,"
Orang itu kemudian melirik ke arah sembilan rekannya. Setelah dipastikan bahwa mereka sudah berada dalam keadaan siap, tiba-tiba dia pun berseru memberikan perintahnya.
"Hajar dua setan ini," katanya dengan tegas.
"Baik,"
Sepuluh orang itu langsung mengambil sikap kuda-kuda. Satu tarikan nafas kemudian, mereka semua sudah melompat menerjang secara bersamaan.
"Paman Shen, sekarang!" teriak Zhang Fei.
Wushh!!!
Tanpa bicara sepatah kata pun, Ou Yang Shen langsung melesat lewat celah-celah sepuluh orang tersebut. Ketika mengetahui usahanya saat itu berhasil, dengan gerakan kilat ia langsung meluncur masuk ke daerah yang lebih dalam lagi.
"Aku serahkan mereka kepadamu, Zhang Fei," ujarnya berteriak lantang.
"Tenang saja. Bagiku, mereka hanya sekawanan tikus," jawabnya sengaja sambil memancing emosi lawan.
Bersamaan dengan semua hal tersebut, sepuluh orang serba hitam tadi sudah tiba di depan muka. Mereka langsung mengirimkan serangan menggunakan golok tajamnya.
Bacokan dan tusukan golok datang dari setiap penjuru mata angin. Kilatan cahaya kehitaman bergerak dengan bebas dan leluasa.
Zhang Fei menyambut serangan lawan dengan tenang. Keduanya tangannya bergerak cepet. Ia menangkis sepuluh batang golok tersebut dan dibenturkan dengan senjata rekannya masing-masing.
Menyadari usahanya ditangkis dengan begitu mudah, pemimpin mereka menjadi marah besar. Tanpa menarik mundur tubuhnya, dia sudah meningkatkan lagi tenaga dalam serangannya.
Wungg!!!
Golok itu bergerak dengan cepat. Serangkaian jurus golok segera digelar dengan sempurna. Setiap gerakannya menciptakan suara mendengung yang menusuk gendang telinga.
Zhang Fei sempat dibuat terkejut. Untungnya hal itu hanya terjadi sebentar. Detik berikutnya, dia sudah berhasil menguasai dirinya kembali.
Karena tidak mau menambah resiko untuk diri sendiri, akhirnya ia berusaha mencari kesempatan yang empuk. Setelah mendapat apa yang dicari, seketika Zhang Fei langsung mencabut Pedang Raja Dewa keluar dari sarungnya!
Sringg!!!
Pedang itu mengeluarkan bunyi nyaring. Tanpa berlama-lama lagi, Zhang Fei kemudian segera melayani jurus golok yang diberikan oleh pihak lawan.
Benturan langsung terdengar. Orang itu merasakan tangannya ngilu dan sakit. Dalam waktu yang bersamaan, dia pun dibuat terkejut.
'Rupanya kemampuan bocah ini tidak rendah. Pantas saja dia berani memandang ringan diriku,' batinnya berkata sambil terus melancarkan jurus-jurus golok miliknya.
Kini, setelah menyadari bagaimana tingginya kemampuan anak muda tersebut, orang serba hitam akhirnya memilih untuk tidak selalu membenturkan goloknya. Sebisa mungkin, dia terus berusaha menghindari terjadinya benturan.
Jurus golok yang dia keluarkan mulai beragam. Gerakannya juga bertambah cepat dan berbahaya.
Zhang Fei bisa menyaksikan perubahan itu semua. Namun dia tidak terlalu ambil pusing. Karena setelah diamati lebih jauh, rupanya kemampuan musuh-musuhnya tidaklah terlalu tinggi.
Dari sepuluh orang itu, sembilan di antaranya merupakan pendekar kelas dua. Sedangkan khusus untuk orang yang sejak awal banyak bicara, setidaknya dia termasuk ke dalam jajaran pendekar kelas satu.
Dengan begitu, ia tidak perlu khawatir lagi dalam menghadapi mereka.
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wutt!!!
Jurus keempat dari Kitab Pedang Dewa langsung ia gelar dengan dorongan tenaga lima bagian. Seketika itu juga, semuanya langsung berubah.
Sembilan orang yang sejak tadi berusaha untuk terus menggempur dan memojokkan Zhang Fei, sekarang mereka langsung terlihat kewalahan. Semua serangan goloknya bisa dihalau dengan mudah. Dalam pada itu, sembilan orang tersebut juga merasakan adanya kekuatan tak kasat mata yang seolah-olah menahan setiap usahanya.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring terjadi beberapa kali. Detik selanjutnya, sembilan batang golok yang mereka genggam langsung patah menjadi dua bagian. Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei melanjutkan kembali serangannya.
Dia mengirimkan tebasan pedang ke arah mereka. Jeritan kesakitan langsung menggema ke tengah udara.
Sembilan orang itu kini sudah terkapar di atas tanah. Walaupun tidak langsung tewas, tapi keadaan mereka juga bisa dibilang tidak ringan.
Sementara satu orang sisanya, ia benar-benar kaget menyaksikan bagaiamana serangan balasan yang diberikan oleh Zhang Fei.
Karena hal tersebut, rangkaian jurus golok yang dia lancarkan terlihat menjadi sedikit tidak beraturan.
Memanfaatkan kesempatan itu, tiba-tiba Zhang Fei membentak nyaring. Dia langsung melompat ke depan dan mulai membalas serangannya.
Cahaya putih keperakan menyelimuti tubuh lawan. Hawa pedang yang tercipta langsung menekan hawa golok. Bayangan pedang semakin rapat. Gulungan cahaya putih terus memburu ke arahnya.
Hanya dalam waktu lima jurus saja, Zhang Fei telah berhasil mendesak lawan. Beberapa saat berikutnya, Pedang Raja Dewa tahu-tahu sudah mendarat di leher orang tersebut.
Luk tebasan yang cukup panjang dan mendalam terlihat. Orang itu langsung tewas seketika.