
"Aku melakukannya karena alasan lain," lanjutnya tanpa mengindahkan perkataan Zhang Fei.
"Apakah karena kau telah menjadi anak buah bangsa asing itu?"
"Tidak, bukan itu. Aku dan mereka tak lebih hanya menjalin hubungan biasa,"
"Lalu?"
"Aku melakukannya karena memang ingin bertatap muka denganmu. Ada beberapa hal yang harus aku katakan kepadamu,"
"Kalau benar begitu, mengapa kau tidak langsung menemuiku saja? Mengapa kau harus bertarung dulu dengan dua orang gadis muda dan bahkan harus membunuh salah satu dari mereka?"
Suaranya kembali meninggi. Kali ini, Zhang Fei merasakan seluruh tubuhnya seperti dibakar di atas tungku api. Darahnya seolah-olah mendidih karena saking marahnya.
Setiap kali dia membayangkan bagaimana kematian Yu Yuan, dia pasti akan merasakan hal seperti ini.
Entah kenapa, dia sendiri tidak tahu alasannya.
Mungkinkah karena pertemanan yang mereka jalin? Ataukah karena dibalik ini, ada perasaan lain?
Pendekar Pedang Perpisahan tidak berbicara. Malah terkesan tidak menanggapi ucapan Zhang Fei.
"Apa sebenarnya alasanmu mencariku?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
"Pertama aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu,"
"Pertanyaan apa?"
"Apa hubunganmu dengan si Pedang Kilat Zhang Xin?"
"Ia adalah Ayahku," katanya menjawab jujur.
"Sungguh?"
"Aku tidak berbohong,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk beberapa kali. Kemudian dia bicara lagi. "Kalau begitu, tidak salah selama ini aku mencarimu. Asal kau tahu saja, dulu Ayahmu masih mempunyai persoalan denganku. Dia telah membunuh muridku satu-satunya. Ketika mendengar kabar kematiannya, aku langsung keluar dari tempat mengasingkan diri dan berniat untuk mencari Ayahmu. Sayangnya, sebelum aku berhasil, ternyata si Pedang Kilat juga sudah mampus,"
Datuk sesat itu menghela nafas berat. Walaupun peristiwa tersebut sudah berlangsung cukup lama, tapi dia masih belum merelakan kepergian muridnya.
"Jadi, kau ingin membalas dendam?"
"Bisa dibilang begitu. Ada satu pepatah yang mengatakan, 'hutang darah dibayar darah. Hutang nyawa dibayar nyawa'. Walaupun si Pedang Kilat sudah tiada, tapi ternyata masih ada keturunannya yang tersisa. Jadi, rasanya tidak salah kalau aku mempunyai niat ingin membunuhmu,"
Cara bicara Pendekar Pedang Perpisahan tidak terburu-buru. Walaupun saat ini amarahnya sudah bergemuruh, tapi ia tetap tampil tenang seperti air di tengah danau.
Perlu diketahui, dendam orang-orang persilatan itu pada umumnya sangat nyata dan abadi. Setiap pendekar yang mempunyai dendam kepada pendekar lainnya, dia pasti akan berusaha membalasnya sampai tuntas.
Tidak perlu apakah orang yang bersangkutan masih hidup atau tidak. Asalkan keturunannya masih ada, maka dendam tersebut pasti akan terus berlanjut.
Kalau diibaratkan, mungkin dari sepuluh orang pendekar, paling-paling hanya satu atau dua orang saja yang mau membereskan persoalan dendam dengan perdamaian.
Zhang Fei cukup lama menutup mulut. Kalau benar cerita orang tua itu, maka dia tidak menyalahkannya.
Apalagi, saat ini dia pun sedang merasakan hal yang sama.
Dendamnya kepada Partai Panji Hitam sudah sangat melekat. Bahkan dendam itu tidak akan bisa dihilangkan walau dengan cara apapun juga.
"Apakah hanya itu saja alasanmu mencariku?" tanya Zhang Fei beberapa saat kemudian.
"Masih ada alasan lain," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan cepat.
"Apa itu?"
"Di samping persoalan barusan, aku juga sengaja mencarimu karena ingin berduel. Sudah lama aku mendengar bahwa kau mempunyai ilmu pedang yang sangat luar biasa. Menurut kabar yang beredar luas, bahkan kau sudah cukup banyak membunuh tokoh-tokoh dunia persilatan,"
Lagi-lagi karena alasan itu!
Sekarang dirinya baru mengerti, ternyata menjadi seorang pendekar itu tidak selalu enak. Apalagi kalau sudah mempunyai kemampuan yang tinggi.
Sebab secara tidak langsung, semakin tinggi kemampuannya, maka semakin banyak orang yang akan mengujinya. Semakin banyak melakukan tindakan yang luar biasa, semakin banyak pula orang-orang yang bakal mencarinya.
Hal semacam ini pasti pernah atau bahkan sering dialami oleh setiap pendekar dunia persilatan.
Buktinya saja, Zhang Fei sering mengalami hal tersebut. Entah sudah berapa kali dan berapa banyak ada pendekar yang ingin bertarung hanya karena pernah mendengar sepak terjangnya.
"Tuan Wu, semua berita itu sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan. Aku sendiri tidak merasa punya kemampuan hebat. Kemampuanku malah masih sangat jauh jika dibandingkan dengan dirimu," ujar Zhang Fei merendah.
Tokoh sesat itu tiba-tiba tersenyum dingin sambil terus menatap ke arahnya.
"Benar atau tidak, itu bukan urusanku. Yang jelas, saat ini aku menantangmu untuk berduel,"
Ditantang oleh lawan sepertinya, tentu saja Zhang Fei merasa kebingungan sendiri. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Kalau tantangan itu diterima, dia sendiri tidak punya keyakinan untuk menang. Tapi kalau tantangan Pendekar Pedang Perpisahan ditolak, dia justru akan kehilangan harga dirinya sebagai seorang pendekar.
Jadi, jawaban mana yang harus dia berikan?
Keadaan kembali sepi hening. Zhang Fei masih belum bicara. Pendekar Pedang Perpisahan juga masih menunggu jawaban dari anak muda itu.
Tetapi, semakin lama kesabarannya mulai hilang. Maka dengan cepat dia bicara.
"Anak muda, bagiku diam tandanya iya. Sekarang, cabut pedangmu!"
Bersamaan dengan ucapan tersebut, tokoh sesat itu juga langsung mencabut sebatang pedang pusaka yang tersimpan di punggungnya.
Sringg!!!
Pedang itu kini telah dikeluarkan. Hawa pedang dan hawa pembunuh bercampur menjadi satu. Kilatan cahaya putih keperakan sempat terlihat walau hanya sesaat.
Datuk Dunia Persilatan itu sudah siap untuk melangsungkan duelnya!
Sementara di satu sisi, sepertinya Zhang Fei sudah tidak mempunyai pilihan lagi. Mau tidak mau, dia harus menerima tantangan dari Pendekar Pedang Perpisahan.
Sringg!!!
Ia pun mencabut Pedang Raja Dewa dari punggungnya.
"Walaupun aku tidak yakin bisa keluar sebagai pemenang, tapi aku juga tidak mau menjadi pengecut. Aku lebih baik mati daripada lari dari medan pertarungan!" kata Zhang Fei sungguh-sungguh.
"Hahaha ... bagus, bagus sekali. Tidak malu kau menjadi anak si Pedang Kilat. Apa yang ada dalam diri Ayahmu, rupanya kini juga ada di dalam dirimu," ia tertawa senang.
Setelah suara tawanya selesai, tiba-tiba Pendekar Pedang Perpisahan mulai melancarkan serangan pertamanya.
Wushh!!!
Tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandangan mata. Sesaat kemudian dia sudah berada di hadapan Zhang Fei. Pedang pusaka miliknya siap menusuk ke arah jantung!
Baru serangan pertama saja sudah sehebat itu. Lalu bagaiamana dengan serangan berikutnya?
Trangg!!!
Benturan keras terjadi. Zhang Fei terpaksa menahan serangan itu karena dia sadar sudah tidak ada jalan keluar lagi.
Begitu benturan terjadi, seketika lengannya langsung terasa pegal. Malah Pedang Raja Dewa hampir saja tekeepas dari genggaman.
Untunglah Zhang Fei bisa menguasai diri dengan cepat. Sehingga dia masih bisa mempertahankan senjatanya.
Sedangkan di sisi lain, ketika serangan tadi berhasil ditangkis, dengan gerakan cepat Pendekar Pedang Perpisahan kembali melancarkan serangan selanjutnya.
Pedang yang ia genggam berkelebat melancarkan tebasan dari arah kanan. Ia mengincar leher Zhang Fei!
Dengan jarak sedekat itu, rasanya kesempatan untuk menghindari serangan sangat sedikit sekali. Bahkan hampir tidak ada!