Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Panggilan Rahasia


Keenam tokoh dunia persilatan tersebut segera melakukan persiapan. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka telah berkumpul kembali di ruang pertemuan.


Selanjutnya, Zhang Fei bersama yang lain langsung berjalan keluar gedung. Beberapa orang petugas tampak sudah menunggu di depan halaman.


Masing-masing dari mereka memegang satu ekor kuda jempolan yang siap untuk berlari kencang.


"Paman Cu, terpaksa aku harus merepotkanmu lagi," kata Zhang Fei kepada A Cu yang berdiri di sisinya.


"Ketua Fei tidak perlu berbicara seperti itu. Ini sudah menjadi kewajibanku," jawab A Cu seraya tersenyum penuh hormat.


"Kau benar-benar orang baik. Aku berjanji, jika semua masalah ini sudah selesai, maka aku akan memberikan sesuatu kepadamu," katanya sambil memegangi pundak orang tua itu.


"Terimakasih, Ketua Fei,"


Keenam tokoh tersebut langsung naik ke atas punggung kuda. Setelahnya, masing-masing dari mereka segera memacu kuda jempolan itu sekencang mungkin.


Suara ringkik dan derap kaki kuda terdengar kencang. Kepulan debu menutupi pandangan mata.


Para tokoh itu hilang dari pandangan mata, tepat setelah matahari sore tenggelam di ufuk sebelah barat.


Jarak ke Kota Sichuan itu cukup jauh. Mungkin akan memakan waktu sekitar satu minggu lamanya. Apalagi, kota tersebut cukup berdekatan dengan Kotaraja.


Tetapi sejauh apapun itu, Zhang Fei tetap akan menuju ke sana. Apapun yang terjadi, dia harus tiba di Kota Sichuan tepat waktu!


"Haa ..."


"Haa ..."


"Hayohh lari kencang!"


Mereka menggeprak tali kekang kuda. Masing-masing kuda jempolan itu segera berlari lebih kencang lagi.


###


Satu minggu sudah berlalu. Zhang Fei bersama Lima Datuk Dunia Persilatan tiba di Kota Sichuan tepat ketika hari masih pagi-pagi buta.


Saat itu, mentari baru saja muncul di ufuk sebelah timur. Langit masih kemerahan. Udara juga masih terasa dingin menusuk tulang.


Zhang Fei tiba-tiba menghentikan kudanya. Yang lain pun segera melakukan hal serupa.


"Ada apa, Ketua Fei?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan tepat setelah kudanya berhasil dihentikan.


"Udara terasa dingin sekali. Bagaimana kalau kita mencari rumah makan lebih dulu?" tanyanya meminta pendapat.


"Setuju," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Kita cari arak keras supaya tubuh terasa hangat,"


"Pagi-pagi begini sudah minum arak. Lebih baik kita cari saja teh hangat," sahut Dewi Rambut Putih kurang setuju.


"Ah, soal itu urusan belakangan. Yang jelas, kita harus mencari rumah makan dulu," ucap Zhang Fei menengahi.


"Setuju, Ketua Fei," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Baiklah. Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan lagi,"


Zhang Fei langsung menyuruh kudanya berlari. Begitu juga dengan para tokoh yang lain. Keenam ekor kuda kembali berlari, suara ringkik kaki kuda memecahkan keheningan di tengah pagi-pagi buta.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berhasil menemukan rumah makan yang dimaksud. Kebetulan, orang-orang itu langsung tiba di perbatasan pusat kota.


Sehingga mereka tidak perlu lagi melakukan perjalanan.


Enam ekor kuda sudah ditaruh di tempatnya. Para tokoh itu sendiri segera masuk ke dalam rumah makan. Kebetulan, rumah makan yang mereka kunjungi berukuran besar. Sehingga ruangan di dalamnya juga terhitung mewah.


Karena suasana di lantai bawah cukup ramai, maka Zhang Fei dan yang lainnya memilih ruangan lantai dua.


Zhang Fei segera memesan menu makanan, komplit dengan arak keras dan teh hangat. Selagi menunggu pesanan datang, mereka sempat melakukan pembicaraan.


Namun sebelum berbicara lebih jauh, tiba-tiba Zhang Fei berjalan ke jendela. Ia mengeluarkan pemantik sekaligus kembang api dari saku baju. Setelah sumbu kembang api menyala, ia kemudian mengangkat tangannya ke atas.


Blarr!!!


Kembang api meledak dengan keras. Percikan bunga api warna kemerahan segera terlihat di tengah angkasa. Ledakan tersebut terdengar sampai tiga kali.


Setelah selesai menyalakan kembang api, Zhang Fei segera kembali lagi ke tempat duduknya semula.


Ia mengajak yang lain untuk bersulang. Setelah itu, mereka langsung menyantap makanan yang telah tersedia.


Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba Zhang Fei melihat ada dua orang yang berdiri di ambang pintu masuk. Setelah diperhatikan seksama, ternyata kedua orang itu adalah Zhu Yu dan Tio Goan


"Eh, ternyata kalian. Kemarilah, Tuan Goan, Zhu Yu. Mari bergabung bersama kami," kata Zhang Fei sambil mengajak mereka berdua.


"Terimakasih, Ketua. Kebetulan, kami berdua sudah sarapan," jawab Tio Goan mewakili.


"Jangan begitu, Tuan Goan. Ayolah, kita masih orang sendiri. Jadi, jangan merasa sungkan seperti itu,"


"Benar," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengangguk. "Ayo cepat, kemari. Kebetulan kami juga baru mau makan,"


Karena mendapat sedikit paksaan, akhirnya kedua orang itu mau tak mau harus menuruti ucapannya. Mereka segera berjalan mendekat dan duduk di kursi yang masih kosong.


"Kenapa kalian hanya datang berdua? Mana yang lainnya?" tanya Zhang Fei kembali.


"Yang lain sedang melakukan penjagaan, Ketua. Jadi mereka tidak bisa datang kemari,"


"Oh, baiklah. Biar nanti aku bawakan makanan untuk mereka. Sekarang, kita makan saja dulu,"


Orang-orang itu kemudian melanjutkan kembali sarapannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, setelah selesai melakukan sarapan pagi, Zhang Fei segera memulai kembali pembicaraannya.


Tetapi sebelum dirinya berkata, Pendekar Pedang Perpisahan malah lebih dulu bersuara. "Oh, jadi kembang api tadi adalah panggilan rahasia dari Organisasi Pedang Cahaya?"


"Benar sekali, Tuan Wu. Maka dari itu, mereka segera datang ke tempat di mana kembang api itu muncul," jawab Zhang Fei membenarkan.


"Hemm, menarik juga,"


Datuk sesat itu tertawa ringan. Dia memuji kecerdasan Zhang Fei. Dengan panggilan rahasia seperti itu, pasti siapa pun tidak akan ada yang pernah menyangkanya.


"Ketua, kapan Ketua dan Tuan-tuan ini tiba?" tanya Tio Goan mengawali pembicaraan.


"Kami baru saja tiba di sini, Tuan Goan,"


"Oh, benarkah? Maaf kalau kami tidak sempat menyambut kedatangan kalian,"


"Tidak perlu repot-repot. Toh kami bukan orang-orang dari Kekaisaran," Zhang Fei tertawa ramah. Dia kemudian meneruskan dengan pertanyaan lain. "Bagaimana situasi saat ini?"


"Sekarang masih terhitung aman, Ketua. Sudah tiga hari ini, belum ada lagi kejadian seperti yang aku laporkan," kata Tio Goan menjelaskan situasi di pusat Kota Shicuan.


"Hemm ... apakah peristiwa itu tidak berlangsung setiap hari?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan yang sudah merasa penasaran.


"Benar, Tuan Kai. Peristiwa itu memang tidak terjadi setiap hari. Kadang dua hari sekali, kadang juga tiga hari. Kita tidak bisa memprediksi kapan terjadinya. Namun ketika terjadi, siapa pun tidak akan ada yang menyangkanya,"


Mendengar penjelasan itu, para tokoh dunia persilatan tersebut saling pandang. Di satu sisi mereka merasa kesal. Tapi di sisi lain, mereka juga semakin penasaran.


"Persoalan ini pantas untuk diusut sampai tuntas," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan tegas.


"Benar, Tuan Kiang. Kami menduga bahwa jika dibiarkan lebih lama, maka mereka akan semakin menjadi," kata Zhu Yu merasa setuju.