
Pendekar Kipas Terbang, Ratu Jarum dan Niu Niu berdiri mematung. Mereka bertiga sama-sama memandangi Zhang Fei dengan tatapan heran. Ketiga tokoh tua itu tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya terhadap diri Ketua Dunia Persilatan.
Namun kalau melihat dari sorot matanya yang bertambah tajam, mereka sudah bisa menebak bahwa Zhang Fei telah mendapat kekuatan baru.
"Bagaimana mungkin dia bisa pulih? Padahal sebelumnya, kondisi anak muda itu sudah sekarat. Tidak! Ini tidak mungkin," Pendekar Kipas Terbang menggelengkan kepala beberapa kali.
Dia seolah-olah tidak bisa menerima kenyataan ini.
Sudah jelas-jelas, tadi Ketua Dunia Persilatan hampir kalah, bahkan hampir tewas. Tapi, mengapa sekarang dia tiba-tiba berubah?
Bukan hanya sorot matanya saja, bahkan tenaga dalam yang mampu ia keluarkan pun turut mengalami perubahan.
"Sepertinya dia baru saja memahami sesuatu," uca Ratu Jarum menduga.
"Sesuatu apa?" Niu Niu melirik ke arahnya. Dia ingin tahu sesuatu apa yang dimaksudkan tersebut.
Hanya saja, beberapa saat kemudian wanita tua itu terlihat kecewa ketika tidak mendapat jawaban sesuai dengan apa yang diinginkannya.
"Aku tidak tahu pasti. Namun, sesuatu itu akan berakibat buruk bagi kita,"
"Aih, kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Niu Niu tampak cemas.
Meskipun dia belum percaya penuh dengan ucapan tersebut, tapi kalau melihat dari ekspresi wajah Ratu Jarum, mau tak mau dia harus tetap mempercayainya.
"Apa lagi? Tentu saja kita harus lebih dulu memulainya sebelum terlambat," jawab Pendekar Kipas Terbang.
"Kau benar. Kalau begitu, mari kita lakukan itu sekarang juga,"
Ratu Jarum langsung mengambil kuda-kuda. Begitu juga dengan dua orang lainnya.
Kini, mereka bertiga sudah berada dalam keadaan siap. Satu tarikan nafas kemudian, tiga orang tokoh angkatan tua itu sudah melesat dari tempatnya masing-masing.
Sama seperti sebelumnya, mereka berniat untuk menggabungkan jurus dan menyerang dari tiga titik yang berbeda.
Tiga bayangan tubuh manusia berkelebat dengan cepat bagaikan kilat. Namun dalam waktu yang bersamaan, dari depan sana, Zhang Fei ternyata juga sudah siap menyambutnya.
Wushh!!!
Ia menjejakkan kedua kakinya ke atas tanah. Tubuhnya langsung meluncur deras seperti anak panah yang dilepaskan.
Kecepatan Ketua Dunia Persilatan jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Sebelum ketiga orang musuh mengambil tempat masing-masing, nyatanya ia sudah bisa lebih dulu tiba di hadapan mereka.
Wutt!!!
Zhang Fei melancarkan serangan lebih dulu. Serangan itu sangat cepat bagaikan kilat. Gerakannya tidak bisa diduga. Lebih tepatnya, gerakan tersebut tidak bisa dilihat sama sekali.
Kilauan cahaya putih keperakan yang mirip bayangan, terus menerjang ketiga orang tokoh angkatan tua itu. Tidak lama kemudian, jeritan ngeri segera terdengar.
Si Ratu Jarum terlempar belasan langkah ke belakang. Begitu tubuhnya menubruk tiang mimbar, nyawanya sudah tidak tetolong lagi.
Dia mengalami luka tebasan pedang tepat di bagian dada. Luka itu memanjang dari samping kanan dan kiri. Bekasnya juga sangat rapi, seolah-olah itu adalah pahatan dari seorang ahli.
Peristiwa itu berlangsung singkat. Meskipun di sana ada banyak pendekar yang hadir, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menyaksikannya dengan jelas.
Tidak terkecuali dengan dua orang lawan sisanya.
Selesai membunuh Ratu Jarum, Zhang Fei segera mengganti incarannya. Dia mencecar Niu Niu dengan jurus yang sama. Jurus yang aneh. Namun juga jurus yang sangat mematikan.
Benturan antar senjata terdengar beberapa saat. Setelah itu, semuanya langsung lenyap!
Yang terdengar hanya jeritan melengking tinggi layaknya suara burung elang di tengah angkasa.
Niu Niu telah tewas! Tewas dengan luka di bagian leher.
Darah segar mengucur menggenangi tubuhnya yang sudah terkapar di atas tanah. Wanita tua itu memperlihatkan ekspresi terkejut, tepat sebelum tiba kematiannya.
Kejadian kedua, terjadi tidak terpaut jauh dari kejadian yang sebelumnya.
Suara riuhnya bisikan-bisikan segera terdengar di kerumunan pendekar. Kebanyakan dari mereka merasa takjub dengan apa yang telah disuguhkan oleh Zhang Fei.
Namun, tidak sedikit juga yang merasa ngeri sekaligus penasaran.
Kira-kira, jurus apa yang telah digunakan oleh Ketua Dunia Persilatan untuk membunuh kedua tokoh wanita tua itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya?
Sementara itu, saat ini pertarungan sudah berhenti. Zhang Fei belum lagi melanjutkan usahanya. Itu karena dia merasa tenaganya banyak berkurang.
Ternyata, jurus sakti yang baru saja ia dapatkan itu benar-benar menguras tenaga.
Seluruh pakaian Zhang Fei sudah dibasahi oleh keringat dingin. Peluh sebesar biji kacang mengucur dari kening dan pelipisnya.
"Apakah kau masih ingin melanjutkan lagi pertarungan ini, Tuan Bi?" tanya Zhang Fei dengan tenang.
Pendekar Kipas Terbang menggertak gigi. Walaupun Ketua Dunia Persilatan bertanya dengan nada seperti pada umumnya, tapi ia tahu betul, dibalik itu ada ejekan yang tidak bisa dimaafkan lagi.
Tanpa sadar, tangan kirinya mengepal kencang. Pertanda bahwa dia benar-benar marah.
"Ketua Fei, sihir apa yang baru saja kau gunakan untuk membunuh Ratu Jarum dan Nyonya Niu Niu?" tanyanya cukup segan.
"Apa? Sihir? Kau bilang ... aku menggunakan sihir?" Zhang Fei mengerutkan kening. Ia kemudian tertawa dengan lantang. "Hahaha ... apakah kau tidak bisa membedakan mana sihir atau bukan? Mengapa kau bisa berkata seperti itu?"
Ia terlihat sedikit malu. Namun dengan cepat, rasa malu itu segera berganti menjadi senyuman sinis.
"Karena aku tahu, hanya sihir saja yang mampu melakukan hal-hal seperti tadi,"
"Maksudmu, aku sudah berlaku curang, begitu, bukan?"
"Sepertinya begitu," ia tertawa sinis karena yakin bahwa Zhang Fei akan kalah dalam debat mulut itu.
"Baiklah. Jika demikian, aku akan menunjukkannya kepada dirimu. Aku harap, kau mampu melihatnya dengan jelas,"
Zhang Fei segera menggenggam Pedang Raja Dewa lebih erat dari sebelumnya. Dalam satu kedipan mata, tiba-tiba saja dia kembali melancarkan sebuah serangan.
Serangan yang sangat cepat. Dahsyat. Dan tidak bisa dihalau lagi!
Wutt!!! Srett!!!
Darah segar seketika menyembur ke tengah-tengah udara. Percikan darah itu kemudian terbang terbawa hembusan angin.
"Apakah kau masih menganggap bahwa itu adalah sihir?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum dingin.
"Bu-bukan. Itu bukan sihir. Itu ... itu adalah jurus pedang yang sangat dahsyat," jawab Pendekar Kipas Terbang dengan susah payah.
Matanya kemudian melotot besar. Kipas pusaka miliknya jatuh ke atas tanah. Kedua lengan itu kemudian memegangi leher yang hampir putus tersebut.
Sesaat kemudian, dia langsung jatuh dalam posisi berlutut, lalu tubuhnya ambruk ke tanah.
Pendekar Kipas Terbang akhirnya tewas menyusul dua orang yang lain.
"Bagus, Ketua Fei,"
"Hebat,"
"Benar-benar jurus pedang yang sangat dahsyat sekali,"
"Luas biasa,"
"Pertarungan yang sangat menarik,"
Lima Datuk Dunia Persilatan memberikan pujiannya masing-masing. Mereka gembira karena Zhang Fei bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Dan mereka lebih gembira lagi katana Ketua Dunia Persilatan telah mendapat jurus baru yang sangat sakti.