
Sementara itu, kini kedua tokoh dunia persilatan yang terlibat tersebut sudah kembali ke tempat di mana kubunya berada. Pertarungan pertama sudah selesai. Pemenangnya adalah Ketua Dunia Persilatan Tang San dari Kekaisaran Zhou.
Suara riuhnya tepuk tangan terdengar dari tenda di mana orang-orang Kekaisaran Zhou tinggal. Mereka pun bersorak sorak karena perwakilannya sudah berhasil memenangkan pertarungan.
Di sudut lain, terlihat Pendekar Tangan Bayangan berjalan sambil didampingi oleh seorang pria yang usianya di bawah dia sedikit.
Begitu tiba di tenda, tempat di mana Kaisar Qin berada, orang tua itu segera berlutut sembari berkata.
"Maaf, Kaisar, aku telah gagal memenangkan pertarungan ini. Aku benar-benar minta maaf dan siap untuk dihukum," katanya sungguh-sungguh.
Kaisar Qin tersenyum hangat kepada Pendekar Tangan Bayangan. Setelah itu, dia baru menjawab. "Tidak perlu seperti itu. Tenang saja, Tuan. Lagi pula, yang terpenting untuk memenangkan Pertarungan Empat Kekaisaran ini bukanlah pihak kita, melainkan pihak Kekaisaran Song. Aku sudah mempercayakan semuanya kepada mereka,"
Pendekar Tangan Bayangan langsung mengangkat wajah dan memandang Kaisarnya untuk beberapa saat. Dia terlibat sedikit kaget dengan jawaban barusan.
Bukan hanya dia, bahkan orang lain yang ada di dalam tenda pun segera memperlihatkan ekspresi yang sama.
Namun terhadap hal tersebut, Kaisar Qin tampak tidak terlalu perduli. "Nanti aku akan menceritakan semuanya kepada kalian," ucap Kaisar kepada semua orang-orangnya.
Sementara itu, Penasihat Mu terlihat sudah berdiri lagi di tengah arena. Petugas tadi juga ada di sisinya.
Ia kemudian mengambil kertas di dalam wadah dengan acak, setelahnya orang tua itu segera berkata dengan keras.
"Dewa Arak Tanpa Bayangan, perwakilan dari Kekaisaran Song,"
"Pendekar Tongkat Setan, perwakilan dari Kekaisaran Jin,"
Sembari berkata demikian, Penasihat Mu juga sempat memandang ke arah tenda Kekaisaran di mana calon peserta berada.
Begitu namanya dipanggil tadi, Dewa Arak Tanpa Bayangan tampak kaget. Namun sedetik kemudian dia langsung tertawa ringan.
"Rupanya kini bagianku," kata orang tua itu kepada yang lain.
"Semangat, Tuan Kiang. Aku yakin kau bisa menang," ucap Zhang Fei.
"Kau harus mengalahkannya, setan arak. Jika tidak, maka urutan nomor satu Datuk Dunia Persilatan akan jatuh ke tanganku," bisik Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tersenyum dingin.
"Kalian tenang saja, aku akan menghabisi lawanku dengan cepat," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Orang tua itu pun akhirnya melangkahkan kakinya ke depan dengan tenang dan santai. Di tengah langkahnya menuju ke arena, tidak lupa juga dia menenggak araknya sebanyak dua kali.
Bersamaan dengan itu, Pendekar Tongkat Setan yang merupakan perwakilan dari Kekaisaran Jin juga terlihat sudah melangkah. Dia malah tiba sedikit lebih dulu dari Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Penasihat Mu kepada dua tokoh dunia persilatan itu.
"Aku siap,"
"Aku juga,"
"Baiklah, mulai!" Penasihat Mu langsung melompat setelah berkata seperti itu.
Namun ternyata, walaupun pertarungan sudah resmi dimulai, dua tokoh tersebut masih tetap diam di tempatnya masing-masing. Mereka belum ada yang bergerak. Keduanya masih saling pandang dengan tajam.
"Aku sepertinya pernah bertemu denganmu," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan nada dingin.
"Benarkah?" Pendekar Tongkat Setan mengangkat kedua alis. Dia pun terlihat memberikan senyuman sinis.
Sementara itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak langsung menjawab. Dia berpikir untuk beberapa saat. Begitu teringat, ekspresi terkejut langsung terpampang jelas di wajahnya.
"Ah, aku ingat sekarang! Jadi ... kau adalah salah satu orang yang telah membuat anak Fei hampir mati," katanya dengan suara bergetar.
"Anak Fei? Siapa itu?"
"Oh, ya. Aku masih ingat," katanya sambil menarik muka. "Kalau memang aku salah satu pelakunya, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Maka aku akan membunuhmu!"
Wushh!!!
Angin langsung berhembus kencang mengibarkan jubah kedua tokoh tersebut.
Pendekar Tongkat Sakti kaget. Dalam hati, dia sungguh tidak menyangka bahwa ternyata orang tua itu bisa ingat kejadian yang lalu.
Tetapi karena semuanya sudah terlanjur, maka dia tidak dapat menutupinya lagi.
"Kau jangan bermimpi, tua bangka. Sampai kapan pun, kau tidak akan sanggup membunuhku!"
Wushh!!!
Pendekar Tongkat Setan meluncur deras bagaikan sebatang anak panah yang dilepaskan dengan sekuat tenaga. Serangannya benar-benar berbahaya. Apalagi walaupun baru pertama turun tangan, dia langsung mengeluarkan salah satu jurus tongkatnya yang dahsyat.
Melihat betapa musuhnya langsung bersikap serius, Dewa Arak Tanpa Bayangan pun tidak mau lagi main-main. Sebelum serangan lawan mendarat di tubuhnya, dia sudah menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
Tubuh orang tua itu langsung terbang cukup tinggi. Hampir bertepatan dengan itu, tahu-tahu tongkat lawannya juga sudah lewat tepat di bawah kaki.
Mengetahui serangan pertama gagal, Pendekar Tongkat Setan tidak mau berhenti sampai di situ saja. Tongkat tersebut tiba-tiba berganti gerakannya.
Ia menyodok Dewa Arak Tanpa Bayangan dari bawah. Serangan itu mengincar bagian dagu.
Orang yang diserang tidak terkejut. Karena dia sudah menduganya lebih dulu.
Wutt!!!
Dia berjumpalikan di tengah udara sebanyak tiga kali. Dewa Arak Tanpa Bayangan mendarat beberapa langkah di depan, begitu kakinya kembali menginjak tanah, dia langsung membalikkan tubuh dan melancarkan pukulan beruntun.
Wutt!!! Wutt!!!
Kedua tangannya bergerak cepat bagaikan kilat. Benturan antara tangan dan tongkat langsung terjadi seketika. Dewa Arak Tanpa Bayangan merasa pergelangan tangannya ngilu setiap kali terjadi benturan.
Sebagai tokoh yang sudah banyak pengalaman, tentu Dewa Arak Tanpa Bayangan pun segera tahu bahwa kemampuan lawannya tidak berada jauh dari dirinya sendiri.
Diam-diam, dia segera menyalurkan hawa murninya supaya bisa mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dari setiap benturan.
Bersamaan dengan kejadian tersebut, kedua tangannya masih saja melancarkan pukulan atau tamparan keras yang mengandung tenaga sakti tinggi.
Pertarungan mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir di sana. Puluhan atau mungkin ratusan pasang mata, saat ini sedang terfokus ke pertarungan tersebut.
Kebanyakan dari mereka yang melihatnya merasa kagum sekaligus ngeri ketika melihat gerakan dari dua tokoh besar tersebut.
Apalagi, semuanya tahu bahwa setiap serangan mereka benar-benar berbahaya. Salah sedikit saja, nyawa bisa menjadi taruhannya.
Wutt!!!
"Amarah Dewa Arak Tanpa Bayangan!"
Orang tua itu berteriak dengan keras. Kedua tangannya kemudian mendorong ke depan. Segulung tenaga sakti langsung menggempur ke arah Pendekar Tongkat Setan.
Ia sangat kaget dengan langkah yang diambil oleh lawannya tersebut. Karena kesalahan kecil itu, maka dengan segera dorongan tenaga sakti tadi mengenai tubuhnya secara telak.
Pendekar Tongkat Setan terlempar belasan langkah. Ia sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk. Untung saja tubuhnya tidak sampai keluar arena. Kalau hal tersebut terjadi, maka detik itu pula dia akan dinyatakan kalah!
Sedangkan di satu sisi, melihat usahanya membuahkan hasil, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera memburu ke depan sana. Kedua telapak tangannya kembali siap melancarkan serangan susulan!